Merengkuh Derita Bersama-Nya Khotbah Minggu 17 Maret 2019

4 March 2019

Minggu Pra – Paskah II
Stola Ungu

 

Bacaan 1 : Kejadian 15:1-13, 17-18
Bacaan 2 : Filipi 3:17-4:1
Bacaan 3 : Lukas 13:31-35

Tema liturgis : Kedaulatan, Cinta, dan keadilan Allah berjalan seiring dan indah   pada waktu-Nya.
Tema Khotbah : Merengkuh Derita Bersama-Nya

KETERANGAN BACAAN
(tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 15:1-13, 17-18

Abram adalah sosok yang percaya sekaligus ragu pada saat yang sama. Semula Abram percaya tatkala Tuhan Allah mengajaknya pergi meninggalkan kenyamanan Ur-Kasdim dan menjanjikan untuk menjadikan keturunannya sebagai bangsa yang besar. Namun dalam ayat kedua, Abram tampak ragu dan mempertanyakan janji Tuhan Allah, “Ya Tuhan Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak…,” demikian sanggahnya. Bagaimana mungkin keturunan Abram dapat menjadi bangsa yang besar, jika nyatanya ia tak memiliki seorang anak?!.Agaknya hal itulah yang membuat Abram merasa perlu untuk mengambil jalan sendiri dan berinisiatif mengawini Hagar, hambaisterinya. Melalui Hagar ia pun memiliki anak. Namun di dalam ayat keempat, Tuhan Allah menolak pilihan Abram. Ismael, anak hasil perkawinan dengan hambanya, dikatakan Tuhan bukan menjadi ahli waris Abram, “melainkan anak kandungmu (Ishak), dialah yang akan menjadi yang akan menjadi ahli warismu.” Tuhan meyakinkan bahwa janji-Nya untuk membuat keturunan Abram sebanyak bintang di langit akan terpenuhi.

Tanda atas janji Tuhan kepada Abrammewujud melalui terang obor/suluh serta perapian yang muncul di gelap gulita yang mengerikan (ayat 12) dan kurban persembahan Abram yang diterima Tuhan (ayat 17). Lalu Abram pun kembali percaya. Menariknya,di dalam ayat keenam Tuhan memperhitungkan kepercayaan Abram sebagai kebenaran. Sehingga orang yang benar dapat ditafsirkan sebagai orang yang menaruh dan mempercayakan masa depannya secara total di dalam tangan kuasa Tuhan, walaupun segala sesuatu tampak gelap gulita dan tak terdapat kepastian sedikitpun.

Filipi 3:17-4:1

Surat Paulus yang diperuntukkan bagi jemaat di Filipi tergolong surat yang terasa ramah ketimbang surat-surat lainnya, walaupun tetap terdapat nada tegas di dalamnya.Di pasal kedua, Paulus mengajak orang kristen untuk meneladani semangat pengosongan diri dan kerendahan hati Allah Bapa di dalam Kristus Yesus. Kemudian secara khusus dalam Filipi 3:18, Paulus mengkritik orang-orang yang disebutnya sebagai “seteru salib.” Agaknya yang Paulus sebut sebagai seteru salib ialah golongan yang mengajarkan bahwa untuk dapat menerima keselamatan, seorang kristen harus secara ketat menjalankan hukum makanan halal/haram dan melakukan sunat. Secara simbolis ayat 19 mengacu pada perkara tersebut.

Filipi adalah koloni Romawi. Warga Filipi banyak mendapat keuntungan finansial dan kebebasan sebagai koloni kekaisaran. Paulus mengingatkan bahwa orang kristen sejatinya merupakan warganegara kerajaan sorga. Orang kristen adalah bagian dari koloni sorgawi yang menyembah Kristus Yesus, yang menurut kuasa-Nya dapat menaklukkan segala sesuatu pada diri-Nya (ayat 21). Maka, orang kristen haruslah berdiri teguh di dalam Tuhan (4:1) dan membangun acuan hidup semata-mata berdasarkan kasih karunia keselamatan Allah Bapa di dalam Kristus Yesus dan bukan sekadar melalui acuan legal hukum halal/haram hasil rumusan manusia.

Lukas 13:31-35

Di dalam bacaan, beberapa orang Farisiseolah-olah ingin melindungi Gusti Yesus. Walaupun sikap Farisi lebih tepat jika dikatakan mengusir-Nya. Dengan menebarkan ancaman bahwa Herodes sang serigala akan membunuh Gusti Yesus, Farisi menyuruh-Nya untuk pergi, menyingkir dari Yerusalem. Namun Gusti Yesus bergeming. Dia berkata bahwa, “Pada hari yang ketiga Aku akan selesai.” Kata “selesai” bukan sekadar merujuk pada kebangkitan, melainkan lebih pada terpenuhinya tujuan (bahasa Yunani: telos).

Di dalam ayat ke 33, Gusti Yesus menjelaskan bahwa tujuan-Nya terpenuhi bukan dengan cara lari menyelamatkan diri dan menghindar dari ancaman kematian, melainkan justru sebaliknya. Di dalam peristiwa transfigurasi/perubahan rupa dan wujud (Lukas 9:28-36) Gusti Yesus memperlihatkan kesejatian identitas-Nya selaku Tuhan Allah, dan sebagai Tuhan, tujuan yang diemban Gusti Yesus, justru terpenuhi ketika Ia mati di Yerusalem.Selanjutnya di dalam ayat ke-34, Gusti Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai induk ayam yang rindu merentangkan sayap dan mengumpulkan anak-anak di bawah sayap-Nya. Gusti Yesus rindu melindungi anak-anak-Nya dari keganasan serigala. Sang induk ayam pada gilirannya mati oleh serigala dan anak-anaktercerai berai, karena enggan bernaung di bawah sayap-Nya.

Benang merah ketiga bacaan

Janji penyertaan Tuhan bagi Abram juga berlaku untuk kita. Kristus Yesus memperlihatkan bahwa janji penyertaan Tuhan tidak membuat kita bebas dari derita dan kesengsaraan. Namunsebagai warga kerajaan Allah, kita diundang untuk teguh berpegang pada kasih karunia Kristus Yesus dan mempercayakan hidup di tangan Allah.

RANCANGAN KOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Mari sejenak berimajinasi.Pertama, jika jalanan yang hendak Anda lalui berlubang dan rusak, apakah yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan tetap melaluinya atau menghindar dan mencari jalan yang lebih mulus dan lebih baik? Kedua, jika pada suatu ketika Anda terpaksa dihadapkan dengan pilihan antara mengantre seharian penuh dengan peluh bercucuran dan penuh kesengsaraan atau menggunakan jalan pintas tanpa mengantre—melalui uang sogokan atau uang pelicin, maka manakah yang Anda pilih?Tetap sengsara mengantre atau menggunakan jalan pintas? Ketiga, manakah yang Anda pilih; memiliki pasangan yang sehat, cantik/ganteng, mapan,yang sesuai ekspektasi/harapan atau memiliki pasangan yang sakit-sakitan, buruk rupa, dan miskin pula? Tentupilihan dijatuhkan kepada pasangan yang sesuai dengan harapan kita bukan?!Namun, rangkaian perjalanan hidup tak dapat diduga.Bisa jadi pasangan yang semula sesuai dengan harapan kita, seketika berubahmenjadi jauh lebih buruk; awalnya sehat dan menarik, kini menjadi sakit-sakitan dan lusuh.Semula langsing atau tegap dan penuh perhatian, kini menjadi gemuk, cuek dan uring-uringan. Nah, jika hal semacam itu terjadi, maka apakah yang Anda lakukan? Akankah Anda tetap setia atau lari menghindar dan mencari pasangan baru?

Isi

Faktanya adalah tidak ada seorang pun yang memilih untuk mendapatkan hal yang buruk di dalam hidupnya. Secara alamiah kitamemiliki kecenderungan untuk menghindar dari segala hal yang menyengsarakan dan tidak menyenangkan. Di dalam kitab Kejadian, Tuhan Allah menjanjikan Abram untuk memiliki keturunan. Namun ketika janji Tuhan Allah tak kunjung terwujud, Abram tampak kehilangan kesabaran dan memilih untukmencari jalan sendiri. Bagi seorang laki-laki yang hidup dalam konteks Mediterania, kondisi tanpa anak merupakan aib yang menyengsarakan dan sama sekali tak menyenangkan. Itulah alasan yang mendasari inisiatif Abram untuk mengambil Hagar, hamba istrinya, sebagai gundik yang melahirkan anak baginya. Abram berupaya menghindar dari hal yang tak menyenangkan. Ia berusaha lari dari penderitaan dan berinisiatif mencari jalan keluarnya sendiri.Selain itu,Abram juga dilanda keraguan. Semula ia percaya pada pimpinan Tuhan Allah yang mengajaknya keluar dari Ur-kasdim menuju tanah yang dijanjikan Tuhan, tetapi kemudian ia meragukan janji-Nya, “Ya Tuhan Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak…,” demikian gugatnya.

Di dalam Injil, hal yang berbeda diperlihatkan oleh Kristus Yesus. Dikisahkan bahwa orang Farisi yang ingin mengusir Gusti Yesus dari Yerusalem, memilih menggunakan logika teror dan menebar ancaman bahwa Gusti Yesus akan dibunuh oleh Herodes,yang disebut-Nya sebagai sang serigala. Orang Farisi mengandaikan bahwa melalui teror yang mereka tebar, Gusti Yesus akan takut, memilih lari, menjauh, dan menghindar dari Yerusalem demi menyelamatkan diri. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Gusti Yesus yang telah memperlihatkan kesejatian identitas-Nya selaku Tuhan dalam Lukas 9:28-36,  justru menolak lari dan menghindar dari kesengsaraan. Gusti Yesus menyatakan bahwa tujuan yang diemban-Nya justru terpenuhi ketika Ia mati di Yerusalem. Sang Mesias yang mulia justru harus menderita dan mati, sebab dengan merengkuh sengsara kematian, tujuan kedatangan-Nya yang diabdikan untuk menghidupkan dan menyelamatkan dunia dapat terpenuhi (ayat 32-33).

Selaku warga kerajaan surga (Filipi 3), kita tidak bebas dari permasalahan. Sangat mungkin “serigala-serigala” dalam beragam bentuk datanguntuk mencabik dan menorehkan luka yang menyengsarakan kehidupan kita. Status sebagai warga kerajaan surga tidak begitu saja membuat kita bebas dari keringkihan dan rasa tak-berdaya. Gusti Yesus sang induk ayam saja mengalami kematian di kayu salib,apalagi kita selaku anak-anak-Nya. Kita juga rentan tergolek lemah tak berdaya dan mengalami kekalahan saat diperhadapkan dengan bengisnya taring serigala. Akan tetapi, mari kita belajar untuk tidak menghilangkan pengharapan. Kristus Yesus yang kita sembah, adalah pribadi yang kedaulatan-Nya mengatasi semuanya dan kuasa-Nya dapat menaklukkan segala sesuatu pada diri-Nya (ayat 21).Sehingga, manakala jalan yang terhampar di hadapan kitalekat dengan derita, dan penuh lubang derita, maka jangan pernah takut untuk menjalaninya.

Penutup

Tatkala pilihan untuk melakukan hal yang baik dan benar justru tampak menyengsarakan diri kita,tetapbertekunlah dan jangan melarikan diri darinya.Jangan sekadar mengikut hukum atau logika hasil rumusan manusia melainkan teguhdan berpeganglah pada kasih karunia serta janji keselamatan Allah Bapa di dalam Kristus Yesus (Filipi 4:1).Akhirnya, setialah dengan pasangan Anda apa pun yang terjadi. Pilihlah mengantre sebagai jalan cinta dan keadilan yang harus dilalui, ketimbang melanggengkan kebiasaan menyuap. Ketika semua pengharapan baik kita seolah urung terwujud, ingatlah kisah Abram, yang mengajarkan bahwa orang yang benar ialah orang yang menaruh dan mempercayakan masa depannya secara total di dalam tangan kuasa Tuhan, walaupun segala sesuatu tampak gelap dan tak terdapat kepastian sedikitpun, sebab semuanya indah pada waktu-Nya. Amin.


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Mangga ngangen-angen sawatawis: sepisan, menawi margi ingkang badhe panjenengan langkungi jeglong-jeglong lan risak, menapa ingkang badhe panjenengan tindakaken? Menapa panjenengan tetep badhe langkung ing ngriku utawi nginggati lan pados margi ingkang alus, rata lan sae? Kalih, menawi ing satunggaling wegdal panjenengan kedah milih antawisipun ngantri sedinten muput ngantos kringeten gobyos lan rekaos; utawi ngginakaken margi sanes tanpa ngantri -srana arta sogokan, pundi ingkang panjenengan pilih? Tetep rekaos ngantri utawi ngginakaken margi sanes (pintas)? Tiga, pundi ingkang panjenengan pilih: nggadhahi sisihan ingkang sehat, ayu/ nggantheng, mapan, selaras kaliyan pangajeng-ajeng; utawi nggadhahi sisihan ingkang lara-laraen, awon tur mlarat? Tamtu sadaya milih sisihan ingkang selaras kaliyan pangajeng-ajeng, ta? Nanging, lampahing pigesangan menika boten saged dipun jangka, sok boten kenyana-nyana. Saged kelampahan bilih sisihan ingkang sakawit selaras kaliyan pangajeng-ajeng kita, dumakan ewah dados awon, sakawit sehat lan nengsemaken, samangke sakit-sakiten lan lusuh. Sakawit langsing lan jejeg sarta gemati, samangke dados lemu ginuk-ginuk, boten gemati sarta uring-uringan. Menawi kawontenan kados mekaten menika kelampahan, menapa ingkang badhe panjenengan tindakaken? Menapa badhe tetep setya utawi minger pados sisihan enggal?

Isi

Mesthi boten wonten tiyang ingkang milih pikantuk prekawis awon ing gesangipun. Sampun limrah menawi kita nggadhahi pepinginan nginggati sadaya prekawis ingkang nyengsarakaken lan boten ngremenaken. Ing kitab Purwaning Dumadi Gusti Allah prasetya bilih Bapa Abram badhe nggadhahi anak turun. Nanging sareng prasetyanipun Allah menika boten enggal kasembadan, Abram kecalan kasabaran lan milih pados margi piyambak. Tumraping tiyang jaler ing tlatah Mediterania, kawontenan boten nggadhahi anak dados kawirangan ingkang nyangsarakaken lan babar pisan boten ngremenaken. Pramila saking menika, Abram mundhut Hagar, abdining garwanipun, dados selir ingkang nglairaken putra kagem Abram. Abram nyobi endha saking prekawis ingkang boten ngremenaken. Piyambakipun nyobi mlajar saking kasangsaran (kawirangan) lan pados margining pangluwaran piyambak. Kejawi menika, Abram ugi ketingal mangu-mangu. Sakawit Abram pitados dhateng tuntunanipun Allah kesah saking Ur-Kasdim tumuju dhateng tanah ingkang kajanjekaken dening Gusti, nanging selajengipun Abram kirang yakin dhateng janjinipun Allah, “Dhuh Gusti Allah, menapa ingkang badhe Paduka paringaken dhateng kawula, awit kawula badhe pejah kanthi tanpa nggadhahi anak…” mekaten panutuhipun.

Wonten ing kitab Injil, prekawis ingkang benten katedahaken dening Gusti Yesus. Kacariyosaken bilih tiyang Farisi ingkang kepengin nundhung Gusti Yesus saking Yerusalem, milih ngginakaken cara teror (ngajrih-ajrihi) lan ngumbar pangancam bilih Gusti Yesus badhe dipun sedani dening Herodes, ingkang dening Gusti Yesus dipun sebut sang asu ajak. Tiyang Farisi menggalih bilih teror menika badhe damel Gusti Yesus ajrih, lajeng milih mlajar tebih saking Yerusalem murih njagi kaslametaning dhiri. Nanging ingkang kelampahan malah kosokwangsulipun. Gusti Yesus ingkang sampun nedahaken jatining dhirinipun minangka Gusti ing Injil Lukas 9:28-36, malah nampik mlajar nginggati kasangsaran. Panjenenganipun malah nyatakaken bilih sedyanipun dados kasembadan samangsa Panjenenganipun seda ing Yerusalem. Sang Mesih ingkang mulya malah kedah nandhang sangsara lan seda, awit srana ngrengkuh sangsaraning pepejah, sedyaning rawuhipun kangge mitulungi rahayu donya menika saged kasembadan (ayat 32-33).

Minangka warganing kraton swarga (Filipi 3), kita boten uwal saking pakewed. Para “asu ajak” srana maneka wujud saged kemawon nyakar lan nyathek temah damel tatu ingkang nyangsarakaken gesang kita. Jatining warga kraton swarga boten adamel kita uwal saking karingkihan lan raos tanpa daya. Gusti Yesus Sang Babon ayam kemawon ngalami seda ing kajeng salib, menapa malih kita selaku kuthuk-kuthukipun (anak ayam) Gusti. Kita ugi gampil gumlethak ringkih tanpa daya lan ngalami kawon samangsa aben ajeng kaliyan landheping siyung asu ajak. Ewasamanten, sumangga sami mbudidaya supados sampun ngantos kecalan pangajeng-ajeng. Gusti Yesus sesembahan kita dados pribadi ingkang wasesanipun (kedaulatan) ngungkuli samukawis lan pangwasanipun saged nelukaken samukawis ing ngarsa pangrehipun (ayat 21). Pramila, menawi margi ingkang gumelar ing ngajengan kita kebak kasangsaran, kebak jeglongan, sampun ngantos kita ajrih anglangkungi.

Panutup

Menawi pilihan kangge nindakaken prekawis ingkang sae lan leres malah katingal nyengsarakaken, swawi tetep taberi (tekun) lan tanggon sarta sampun mlajar. Sampun namung anut dhateng wewaton lan nalar budinipun manungsa, nanging teguh lan gondhelan dhateng sih rahmat lan prasetya karahayonipun Allah Sang Rama wonten ing Sang Kristus (Fil. 4:1). Pungkasanipun, swawi tansah setya kaliyan sisihan panjenengan menapaa kemawon ingkang kelampahan. Sami miliha ngantri minangka margining katresnan lan kaadilan ingkang kedah dipun lampahai, tinimbang nglanggengaken pakulinan nyogok. Menawi sedaya pangajeng-ajeng kita kados-kados wurung kasembadan, sami engeta dhateng lelampahanipun Abram, ingkang mulangaken bilih tiyang ingkang leres menika masrahaken sawetahing gesangipun ing tembe kanthi pitados dhumateng astanipun Gusti ingkang kebak pangwaos, nadyan samukawis katingal peteng lan boten ketingal mesthi, awit samukawis pinanggih endah ing titi wancinipun Gusti. Amin. [terjemahan st]

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak