Nyaman Belum Tentu Aman Renungan Harian 13 Desember 2018

13 December 2018

Bacaan : Amos 6 : 1 – 8  |  Pujian: KJ 84
Nats: “Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tentram di gunung Samaria” [ayat 1]

Sporty shoes atau sneakers adalah sepatu yang menjadi trend akhir-akhir ini. Sepatu ini terbuat dari material yang nyaman dan kuat.Tetapi siapa sangka kenyamanan ini tidak selalu baik. Terlalu banyaknya bantalan juga membuat syaraf kaki menjadi mati. Transfer sinyal antara syaraf kaki dan otak melemah sehingga kita mulai merasakan “kesulitan” memahami medan yang dipijak dan membuat kita gampang jatuh. Situasi nyaman belum tentu aman.

Amos menyebut/mengkritik  dua tempat yang cukup dikenal oleh bangsa Israel dan Yehuda yakni Sion dan Samaria. Yesus mengkritik orang-orang yang merasa aman di Sion dan gunung Samaria, mereka yang hanyut dalam kenikmatan dunia yang digambarkan berbaring di tempat tidur yang terbuat dari gading, memakan makanan lezat sambil mendengar bunyi-bunyian gambus, minum anggur dari bokor dan berurap minyak yang paling baik itu. Mereka itu percaya bahwa Allah tidak akan mendatangkan penghukuman karena mereka adalah bangsa pilihan. Padahal mereka keliru.

Justru dalam dua tempat dan dalam kondisi itulah Amos mengatakan celakalah. Situasi  yang sangat bertolak belakang.  Mengapa? Rupanya kesombongan mereka itulah yang dikritik oleh Amos.  Sebab kesombongan  menjadi tanda manusia mulai tidak membutuhkan Allah dan mulai abai dengan situasi  nyata yang terjadi di sekeliling mereka.

Dalam Masa Advent ini, kita diingatkan untuk menyambut  kedatangan Tuhan bukan hanya dalam kemeriahan dan gemerlap kegiatan atau acara. Sukses tidaknya menyambut Tuhan bukan dengan  besarnya anggaran yang terpakai atau acara yang berjalan sukses, tetapi Tuhan juga  menghendaki kita untuk  bertobat.Yang nyaman belum tentu aman.Sebab itulah yang menyukacitakan dan memberi rasa tentram yang sejati. Bukan rasa tentram yang berasal dari  luar diri. Kekayaan, kekuasaaan, jabatan dan sumber kemelekatan kita yang lain, tetapi rasa tentram lahir dari dalam diri. Hati yang dekat dengan Allah, hati yang penuh pertobatan dan semangat perubahan.  [nw]

“Semakin tinggi suatu pohon, semakin banyak angin yang menerpa”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak