Pekan Pemuda/ Minggu Biasa
Stola Hijau
Bacaan 1 : Ayub 42:1-6
Bacaan 2 : Ibrani 7:23-28
Bacaan 3 : Markus 10:46-52
Tema Lituris : Siap Dipanggil dan Diutus Membawa Pengharapan
Tema Kotbah : Iman yang Menyelamatkan
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan kotbah).
Ayub 42:1-6
Perikop ini merupakan klimaks Kitab Ayub. Diceritakan tentang titik balik pemahaman iman Ayub dan disusul dengan pemulihan keadaan Ayub. Memang selama ini Ayub sudah terhitung sebagai orang saleh dan jujur. Bahkan dalam penderitaannyapun ia tidak berdosa terhadap Allah. Tetapi salah pengertian dan keluhannya terhadap Allah telah membuatnya nyaris sombong dan meragukan kesempurnaan Allah (baca Ayub 31:1-40). Pada pasal 31 itu Ayub membeberkan perbuatan-perbuatan baiknya dan mengemukakan argumen-argumennya bahwa ia tidak bersalah. Ia bahkan mempertanyakan kemahatahuan, kemahaadilan dan kemahakuasaan Allah.
Namun Ayub kemudian sadar atas kelancangannya. Itu terjadi setelah ia memahami jawaban Allah, “FirmanMu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan?; FirmanMu: Dengarlah, maka Aku akan berfirman, Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.” (ayat 3,4; selengkapnya lihat pasal 38). Ayub lalu mengerti bahwa selama ini ia hanya mengenal Allah dari kata orang. Namun selanjutnya ia bisa memandang Allah dengan mata kepalanya sendiri. Sejak itu Ayub semakin memiliki kerendahan hati dan semakin percaya pada kesempurnaan kuasa Allah, sehingga keadaannya dipulihkan 2 kali lipat dari sebelumnya.
Ibrani 7:23-28
Perikop ini memberikan kesaksian dan penegasan tentang kedudukan dan peran Tuhan Yesus sebagai Imam Besar. Kedudukan Tuhan Yesus sebagai Imam Besar lebih tinggi dari pada Harun dan lebih tinggi dari peraturan penetapan Imam berdasarkan Hukum Taurat. Di sini kedudukan Tuhan Yesus sebagai Imam besar, dikaitkan dengan Melkisedek raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi (bdk. 7:1). Melkisedek tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, tidak berawal, tidak berakhir sebagai penggambaran Anak Allah dan imam yang abadi (bdk ay 3).
Sesuai peran imam yakni sebagai Pengantara antara Allah dan Manusia, Tuhan Yesus juga lebih unggul dibanding imam-imam besar yang lain. Kalau imam-imam besar yang lain setiap hari masih harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan baru sesudah itu untuk dosa orang lain, tidak begitu dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus saleh tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa. Ia tidak perlu berulang-ulang mempersembahkan korban melainkan satu kali untuk selama-lamanya melalui diriNya sendiri yang dikorbankan. Dengan demikian keabsahan kedudukan Tuhan Yesus sebagai Imam tidak perlu diragukan, bahkan dalam peranNya sebagai pengantara antara manusia dengan Bapa terbukti lebih dapat diandalkan.
Markus 10:46-52
Perikop ini memberikan kesaksian tentang iman Bartimeus yang mengalami kuasa kesembuhan dari Tuhan Yesus. Sebagai orang buta ia tentu sangat menderita sebab orang yang buta tidak dapat bebas bergerak dan mengekspresikan diri. Kebutaan juga merupakan penghalang bagi seseorang untuk melihat dan meraih kesempatan yang ada. Oleh sebab itu ia menjadi pengemis dan hanya duduk di pinggir jalan menanti belas kasihan. Bagi Bartimeus, kesembuhan ini membuka peluang untuk menatap masa depan dengan lebih baik.
Bartimeus berseru: “Yesus, Anak Daud …”. Hal ini menunjukkan bahwa ia sudah mengenal Tuhan Yesus sebagai Mesias dan ia memohon pertolongan dengan dilandasi keyakinan imannya itu. Bartimeus memanggil Tuhan Yesus dengan “berseru” atau dengan suara keras. Semakin dilarang, ia semakin keras berseru. Ini menunjukkan keinginan hatinya yang kuat untuk mengharapkan pertolongan. Ketika Tuhan Yesus berkenan memanggilnya, ia bergegas datang dengan menanggalkan jubahnya. Jubah bagi orang miskin juga berfungsi sebagai selimut dan alas tidur sehingga menanggalkan jubah berarti bersiap untuk bangkit dan menyambut Tuhan Yesus.
Rabuni adalah istilah bahasa Aram “rabbouni” juga dipakai oleh Maria Magdalena ketika Tuhan Yesus bangkit (Yoh 20:16). Istilah ini mengungkapkan rasa hormat yang tinggi, bentuk penyangatan dari “rabi” yang mengandung arti Guru dan Tuhan. Dengan menyebut “Rabi” berarti permohonan Bartimeus disertai dengan keyakinan yang kuat pada kuasa Tuhan. Akhirnya Bartimeus sembuh karena diselamatkan oleh iman yang ia miliki, “… imanmu telah menyelamatkan kamu” (ay 52).
Benang Merah Tiga Bacaan
Ayub memberikan kesaksian bahwa kesempurnaan kuasa Allah sudah terbukti dan teruji sehingga tidak perlu diragukan lagi. Kesempurnaan itu juga juga dimiliki oleh Tuhan Yesus sebagai Imam Besar pengantara manusia dengan Allah. Jika sungguh-sungguh percaya kepadaNya dan mau memohon pertolongan kepadaNya maka manusia akan diselamatkan.
RANCANGAN KOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, sila dikembangkan sesuai konteks jemaat)
Pendahuluan
Kisah nyata Andrea Hirata yang difilmkan dengan judul Laskar Pelangi menggambarkan peran motivasi dan keinginan kuat yang membuahkan keberhasilan. Andrea Hirata adalah salah seorang murid SD terpencil di Bangka Belitung. Keluarganya tidak kaya, tetapi ia mempunyai semangat dan keyakinan yang besar bahwa suatu hari nanti, ia akan berhasil keluar dari kemiskinan dan menjadi orang yang sukses. Semangat dan keyakinan tersebut membawanya berjuang mewujudkan impian. Selepas SMA, ia bisa mengenyam pendidikan tinggi dan berhasil menjadi penulis novel yang hebat.
Isi
Semangat, keyakinan, dan kemauan berjuang juga dimiliki oleh Bartimeus. Ia adalah seorang pengemis buta yang hampir setiap hari duduk di pinggir jalan di dekat Yerikho. Keberadaan dirinya yang selalu ada di tempat publik menjadikan Bartimeus mendengar sepak terjang Tuhan Yesus Kristus yang berkuasa menyembuhkan orang sakit. Yesus menjadi harapannya untuk sembuh. Maka berdasar harapan itu, ia berteriak memanggil: „Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!“ Ia pasti sadar bahwa karena begitu banyak orang di sekitar Yesus, teriakannya bisa hanya akan sia-sia. Tetapi ia tidak mau menyerah pada pikiran tersebut. Ia mau mewujudkan harapannya. Ia mau Tuhan Yesus memperhatikannya.
Benar! Usahanya menarik perhatian Yesus berbuah teguran orang banyak. Siapakah yang dimaksud „orang banyak“ oleh Injil Markus ini? Orang banyak ini bisa orang-orang yang ikut berbondong-bondong bersama Yesus. Artinya lingkaran luar. Namun bisa juga mereka ini termasuk para murid. Lingkaran dalam. Mengapa Bartimeus ditegur? Ada banyak kemungkinan. Kemungkinan pertama, karena Yesus dan rombongan akan segera ke Yerusalem untuk menjalankan kebaktian di Bait Allah. Mungkin para murid berpikir bahwa dengan meladeni orang buta ini, mereka bisa terlambat datang ke kebaktian. Kedua, mungkin karena status sosial pengemis ini yang menjadikan para murid dan orang-orang tersebut mencegahnya menarik perhatian Tuhan Yesus. Kemungkinan ketiga, orang Yahudi selalu mengaitkan kecacatan dan malapetaka yang terjadi pada seseorang sebagai tanda bahwa orang tersebut berdosa. Bartimeus dicegah datang kepada Yesus karena ia berdosa. Mereka mungkin berpikir bahwa orang yang dianggap berdosa, seperti Bartimeus ini, tidak boleh mendekati Yesus. Hal tersebut untuk menjaga wibawa Tuhan Yesus dan kelompok mereka di mata masyarakat Yahudi.
Demikianlah, halangan ada di depan Bartimeus. Halangan dari lingkaran luar Tuhan Yesus, maupun dari dalam.Tetapi ia tidak mau menyerah. Semakin ditegur untuk tidak berteriak, Bartimeus semakin menguatkan suaranya. Tekadnya untuk disembuhkan oleh Tuhan Yesus sudah bulat. Akhirnya Bartimeus berhasil! Tuhan Yesus mendengarkan teriakannya dan dia disembuhkan dari kebutaannya. Ia kembali bisa melihat. Tuhan Yesus berkata: „ Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!“
Bartimeus menjadi memiliki pengalaman seperti Ayub. Dari hanya mendengar tentang Tuhan dengan segala kasihNya menjadi mengalami sendiri kasih luar biasa itu. Ia memandang Tuhan dengan mata kepala sendiri. Tuhan Yesus Kristus, Anak Daud, Sang Imam Agung menghargai usahanya dan memberikan kepadanya, apa yang diinginkannya.
Penutup
Semangat, keyakinan, dan kemauan berjuang merupakan modal yang harus ada untuk mewujudkan impian. Pasti akan ada halangan-halangan. Halangan itu bisa datang dari diri sendiri dan orang lain. Seandainya Ayub dan Bartimeus menuruti perasaannya: arogan, rendah diri, pesimis, takut, dll, pasti mereka tidak bisa meraih apa yang menjadi harapannya. Dengan menuruti perasaan-perasaan yang menghalangi semangat dan keyakinan, perubahan tidak akan dirasakan.
Perubahan bisa terjadi karena ada semangat dan keyakinan. Para pengikut Kristus Yesus termasuk para pemuda/i-nya harus menjadi agen-agen perubahan. Untuk itu semangat, kerja keras, wawasan, kepercayaan diri, ketangguhan dan keyakinan pada kasih Tuhan akan menjadi modal mewujudkan impian dan harapan. Tuhan memberkati. Amin
Nyanyian: KJ. 445
—
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Cariyos gesangipun Andrea Hirata ingkang dipun angkat ing film kanthi judul Laskar Pelangi nggambaraken niat ageng ingkang nguwohaken asil. Andrea Hirata menika salah satunggaling murid SD ing Bangka belitung. Brayatipun boten sugih, nanging piyambakipn nggadhahi semangat lan kapitadosan ageng bilih piyambakipun badhe saged dados lare ingkang sukses. Semangat lan kapitadosan menika mbeta piyambakipun berjuamg mujudaken cita-cita. Sasampunipun SMA, piyambakipun saged sinau ngantos perguruan tinggi lan dados penulis novel ingkang kondhang.
Isi
Semangat, kapitadosan, lan purun berjuang menika ugi dipunduweni dening Bartimeus. Bartimeus menika tiyang ngemis ingkang wuta, ingkang saben dinten ngemis ing pinggir margi celak Yerikho. Amargi asring ing sakiwa tengenipun tiyang kathah, Bartimeus saged krungu bilih Gusti Yesus kagungan kuwaos marasaken tiyang sakit. Gusti Yesus lajeng dados pangajeng-ajengipun kangge saras. Krana pangajeng-ajeng menika lajeng piyambakipun bengok sora: „ Dhuh, Gusti Yesus, tedhakipun Sang Prabu Dawud, kawula mugi Paduka welasi!“ Bartimeus mesthinipun ngertos krana kathah tiyang ing sakiwa tengenipun, saged mawon pambengokipun muspra. Nanging Bartimeus boten purun nyerah dhateng pikiran nagten. Piyambakipun kepengen mujudaken pangajeng-ajengipun. Piyambakipun kedah ndadosaken Gusti Yesus paring kawigatosan dhumateng piyambakipun.
Leres! Usahanipun narik kawigatosanipun Gusti Yesus ndadosaken piyambakipun dipun-sendhu tiyang kathah. Sinten tiyang kathah ingkang dipunmaksud dening Injil Markus menika? Tiyang kathah menika saged tiyang-tiyang ingkang tumut gumrudug kaliyan Yesus. Artosipun tiyang-tiyang njawi. Nanging saged ugi tiyang-tiyang menika kalebet para sakabat. Artosipun tiyang lebet. Kenging menapa Bartimeus dipun-sendhu? Wonten kathah sababipun. Sepisan, mbok menawi amargi Gusti Yesus lan rombongan gita-gita kepengen enggal dumugi Yerusalem kangge mangibadah ing Padaleman Suci. Menawi Gusti Yesus ngladeni tiyang wuta menika, rombongan badhe dumugi telat. Kaping kalih, mbokmenawi krana status sosial tiyang menika ingkang ndadosaken para tiyang boten remen. Kaping tiga, tiyang Yahudi asring nggadhahi pamanggih bilih tiyang cacat lan tiyang ingkang nemahi prahara menika minangka wujud ukuman amargi dosa. Bartimeus boten dipunkarepaken dening tiyang kathah nyelaki Gusti Yesus amargi piyambakipun dipunanggep tiyang dosa. Menika katindakaken supados wibawanipun Gusti Yesus lan para murid saged dipunjagi ing ngajengipun tiyang Israel.
Makaten, pambengan wonten ing ngajengipun Bartimeus. Sae pambengan saking njawinipun Gusti Yesus, saged ugi saking para sakabat, tiyang lebetipun Gusti Yesus. Sanadyanta makaten, Bartimeus boten purun nglokro. Sanadyan dipun-sendhu, piyambakipun malah sangsaya sora anggenipun mbengok. Tekadipun kangge dipunsarasaken dening Gusti Yesus sampun gilig. Wusananipun, Bartimeus kasil! Gusti Yesus mirengaken pambengokipun lan Bartimeus dipunsarasaken saking wuta. Piyambakipun saged ningali malih. Gusti Yesus lajeng ngandika: „Wis mundura, pangandelmu kang mitulungi kowe!“
Samangke Bartimeus nggadhahi pengalaman kados Ayub. Saderengipun namung mireng bab Gusti lan katresnanipun, samangke saged ngalami piyambak katresnanipun Gusti. Piyambakipun saged ningali Gusti klayan mripatipun piyambak. Gusti Yesus Kristus, Sang Imam ageng, tedhak turunipun Dawud paring menapa ingkang dipunajeng-ajeng batosipun.
Panutup
Semangat, kapitadosan, lan pikajeng kangge berjuang menika modal ingkang kedah wonten menawi badhe mujudaken cita-cita. Mesthi badhe wonten alangan. Sae saking dhiri pribadi utawi tiyang sanes. Menawi Ayub lan Bartimeus namung nuruti pangraosipun: arogan, raos andhap, ajrih, nglokro, lsp, mila piyambakipun boten badhe saged mujudaken cita-cita, pangajeng-ajengipun. Kanthi nuruti raos-raos ingkang ngalangi semangat lan kapitadosan, boten badhe wonten perubahan ing gesang.
Perubahan saged dipunraosaken krana semangat lan kapitadosan. Para pandherekipun Gusti Yesus Kristus kalebet para muda kedah dados agen-agen perubahan. Mila semangat, sengkud nyambut damel, wawasan ingkang wiyar, tangguh, tanggon, lan kapitadosan dhumateng katresnanipun Allah saged dados modal mujudaken pangajeng-ajeng lan cita-cita. Gusti amberkahi. Amin.
Pamuji: KPJ.141