Tahun Liturgi: Hari Anak Nasional
Tema: Bertumbuh dan Setia seperti Samuel
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 3:1-4:1a
Ayat Hafalan: Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan Tuhan maupun dihadapan manusia (1 Samuel 2 : 26)
Lagu Tema: Kidung Siwi No. 164 “Seperti Samuel”
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Samuel memulai pelayanannya di bawah bimbingan Imam Eli. Pada masa itu bangsa Israel mengalami kekeringan spiritual. Sebagai seorang imam besar, Eli tidak melakukan apapun untuk mengendalikan perilaku putra-putranya yang menodai Kemah Suci. Kepemimpinannya yang lemah menyebabkan kemerosotan moral, tidak hanya nampak dalam kehidupan putra-putranya, tetapi juga pada sebagian besar orang-orang Israel.
Samuel belum memiliki pengetahuan dan pengalaman menerima Firman Tuhan. Oleh karena itu ketika Tuhan pertama kali memanggilnya, Samuel tidak menyadari bahwa ia mendengar suara Tuhan. Dengan bimbingan Imam Eli, akhirnya Samuel bisa mengerti bahwa Tuhan memanggilnya dan ia juga mendengarkan pesan Tuhan dengan baik. Imam Eli yang saat itu berusia 98 tahun dan hampir buta, tidak lagi mendapatkan pesan-pesan secara langsung lagi dari Tuhan. Bahkan ia harus bertanya kepada Samuel pesan apa yang diterimanya dari Tuhan. Pesan pertama yang didengar dan disampaikan oleh Samuel adalah hukuman yang akan diterima oleh Imam Eli dan seluruh keluarganya dan orang-orang Israel yang tidak taat lagi pada Tuhan.
Dengan penyertaan Tuhan, Samuel terus bertumbuh dengan baik secara fisik maupun rohani. Semua nubuat Samuel juga menjadi kenyataan dan diketahui sebagai perkataan Tuhan yang benar. Dan hal tersebut telah diketahui di seluruh Israel dan Samuel ditetapkan sebagai nabi Tuhan.
Refleksi Untuk Pamong:
Apakah saudara merasa bahwa menjadi seorang pamong adalah sebuah panggilan dari Tuhan? Jika iya, saudara meyakini bahwa panggilan Tuhan sudah semestinya direspon dengan kepekaan mendengar suara Tuhan seperti Samuel, disiplin serta ketaatan untuk melakukan perintah Tuhan. Salah satu pesan (perintah) Tuhan bagi pamong tentu saja untuk membimbing anak-anak supaya mengenal Tuhan dengan baik. Untuk bisa melakukannya tentu saja kita harus terus belajar, berlatih, mau mengembangkan diri dan lebih mengutamakan yang menjadi kehendak Tuhan daripada keinginan diri sendiri.
Bagaimana dengan saudara secara pribadi merespon panggilan Tuhan, khususnya sebagai pamong atau pelayan anak ?
TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA
Tujuan:
- Anak-anak dapat mendengar dan mengingat bahwa Samuel adalah anak yang dipakai Tuhan.
- Anak-anak dapat memahami bahwa Tuhan juga ingin mereka bertumbuh dan setia seperti Samuel.
Pendahuluan
Selamat pagi…..(panggil nama salah satu anak atau beberapa anak). Bagaimana kabarnya ….. (sebut atau panggil beberapa nama anak)
Wah, ternyata anak-anak kalau dipanggil namanya ada yang menjawab, ada yang hanya menoleh, ada yang malu, (sebutkan respon anak-anak yang lain)
Di dalam Alkitab , ada juga lho, anak kecil yang dipanggil-panggil namanya. Siapa nama anak itu?
Yuk kita dengarkan ceritanya yang ada di kitab 1 Samuel 3:1-4:1a (meskipun pamong tidak membacakan seluruh isi kitab tersebut, dan anak-anak juga belum bisa membaca,tetapi pamong tetap membuka Alkitab, supaya anak-anak tahu bahwa cerita tersebut benar-benar dari Alkitab dan mereka juga belajar mengenal nama-nama kitab)
Inti Penyampaian
(Alat peraga dapat diunduh di sini)
Ibu Hana dan bapak Elkana sudah lama sekali ingin mempunyai anak. Ibu Hana sangat sedih. Suatu hari ketika ibu Hana sedang berada di kemah suci di kota Silo, ibu Hana berdoa sambil menangis ,” ya Tuhan, kalau saya diberikan seorang anak, saya berjanji, akan menyerahkan anak saya untuk melayani di rumah Tuhan seumur hidupnya. Tuhan mendengar ibu Hana, dan tak lama kemudian ibu Hana mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samuel. Ibu Hana menepati janjinya pada Tuhan. Ketika Samuel sudah bertumbuh menjadi anak laki-laki kecil, ibu Hana membawa Samuel ke rumah Tuhan untuk tinggal disana melayani Tuhan, membantu Imam Eli yang sudah mulai tua.
Pada suatu malam ketika Samuel tidur, tiba-tiba Samuel mendengar ada suara yang memanggilnya, ”Samuel, Samuel.” Lalu Samuel cepat-cepat bangun dan menemui Imam Eli. Tetapi Imam Eli berkata, ”saya tidak memanggilmu.” Samuel kembali ke kamarnya dan tidur lagi. Tetapi Samuel kembali mendengar namanya dipanggil, ”Samuel, Samuel.” Samuel kembali bangun dan cepat-cepat menemui Imam Eli lagi. Tetapi lagi-lagi Imam Eli berkata, ”saya tidak memanggilmu.” Jadi Samuel kembali ke kamarnya dan tidur lagi. Tetapi Samuel kembali mendengar lagi ada yang memanggil namanya. Dan Samuelpun kembali lagi ke menemui Imam Eli. Akhirnya Imam Eli tahu bahwa yang memanggil Samuel adalah Tuhan. Jadi Imam Eli berkata, ”Kembalilah tidur, nanti kalau kamu mendengar ada yang memanggil namamu lagi, jawablah ‘berbicaralah Tuhan, sebab hambamu ini mendengar.’ Dan Samuel menaati perkataan Imam Eli. Ketika ia mendengar ada yang memanggil namanya lagi, Samuelpun menjawab, ”berbicaralah Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Karena Samuel mau menjadi anak yang taat dan mau mendengarkan perkataan Tuhan, maka Tuhan memakai Samuel pada masa tuanya menjadi seorang nabi yang besar.
Penerapan
Sama seperti Samuel, kita semua juga mau belajar menjadi anak-anak yang taat pada perkataan Tuhan. Tapi bagaimana caranya ya mendengar perkataan Tuhan, apakah seperti Samuel? Kita bisa belajar mendengar suara Tuhan melalui Alkitab dan belajar mentaatinya. Kita harus rajin membaca Alkitab, kalau anak-anak belum bisa membaca, bisa minta tolong pada orang tua atau kakak untuk membacakannya. Lalu kita belajar melakukan perintah Tuhan pada kita.
Aktivitas
Untuk mengajak anak-anak belajar mendengarkan dengan baik, pamong bisa mengulang secara singkat cerita tentang Samuel tersebut dengan suara yang pelan (volumenya), semakin lama semakin pelan sampai seperti orang yang berbisik, dan diselingi beberapa pertanyaan.
Contoh :
Ada ibu Hana dan bapak Elkana yang sangat ingin mempunyai anak. Tuhan mendengarkan doa ibu Hana dan memberikan seorang anak yang bernama……… (minta anak-anak untuk menjawab). Ya…namanya Samuel. Samuel dibawa ke rumah Tuhan untuk dirawat oleh Imam…….minta anak-anak untuk menjawab).
TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA
Tujuan:
- Anak-anak dapat menceritakan kisah Samuel yang mendengar panggilan Tuhan.
- Anak-anak dapat menunjukkan sikap setia dan taat dalam kehidupan sehari-hari, seperti mendengarkan orang tua dan guru.
Pendahuluan
Selamat pagi…..(panggil nama salah satu anak atau beberapa anak). Bagaimana kabarnya? (sebut atau panggil beberapa nama anak). Wah, ternyata anak-anak kalau dipanggil namanya ada yang menjawab, ada yang hanya menoleh, ada yang malu, (sebutkan respon anak-anak yang lain). Kalau dipanggil oleh ibu, apa jawaban kalian? Atau malah diam saja?
Di dalam Alkitab, ada juga anak kecil yang dipanggil-panggil namanya. Siapa ya nama anak itu? Bagaimana ya respon atau reaksinya kalau dipanggil? Apakah seperti…..(sebut salah satu nama anak) atau seperti…..(sebutkan nama salah satu anak yang lain). Yuk kita dengarkan ceritanya yang ada di kitab 1 Samuel 3:1-4:1a
Inti Penyampaian
Ada seorang ibu bernama Hana dan suaminya yang bernama bapak Elkana. Ibu Hana dan bapak Elkana sudah lama sekali menikah tetapi belum mempunyai anak. Mereka sangat ingin mempunyai anak. Ibu Hana sangat sedih. Suatu hari ketika ibu Hana sedang berada di kemah Suci di kota Silo, ibu Hana berdoa sambil menangis, ”ya Tuhan, kalau saya diberikan seorang anak, saya berjanji akan menyerahkan anak saya untuk melayani di rumah Tuhan seumur hidupnya.” Tuhan mendengarkan doa ibu Hana dan mengabulkan permohonannya. Tak lama kemudian ibu Hana mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samuel. Ibu Hana menepati janjinya pada Tuhan. Ketika Samuel sudah bertumbuh menjadi anak laki-laki kecil, ibu Hana membawa Samuel ke rumah Tuhan untuk tinggal disana melayani Tuhan, membantu Imam Eli yang sudah mulai tua.
Pada suatu malam ketika Samuel sedang tidur, tiba-tiba Samuel mendengar ada suara yang memanggilnya, ”Samuel, Samuel.” Lalu Samuel cepat-cepat bangun dan menemui Imam Eli. Sesampainya di kamar Imam Eli, Imam Eli berkata, ”saya tidak memanggilmu.” Samuel kembali ke kamarnya dan tidur lagi. Ah, mungkin Samuel salah dengar. Tetapi Samuel kembali mendengar namanya dipanggil, ”Samuel, Samuel.” Samuel kembali bangun dan cepat-cepat menemui Imam Eli lagi. Siapa tahu kali ini Imam Eli memang memanggilnya. Tetapi lagi-lagi Imam Eli berkata, ”saya tidak memanggilmu.” Jadi Samuel kembali ke kamarnya dan tidur lagi. Tetapi untuk ketiga kalinya Samuel kembali mendengar lagi ada yang memanggil namanya. Dan Samuelpun kembali lagi ke menemui Imam Eli. Akhirnya Imam Eli menyadari bahwa yang memanggil Samuel adalah Tuhan. Jadi Imam Eli berkata, ”Kembalilah tidur, nanti kalau kamu mendengar ada yang memanggil namamu lagi, jawablah, ‘berbicaralah Tuhan, sebab hambamu ini mendengar.’ Dan Samuel menaati perkataan Imam Eli. Ketika ia mendengar ada yang memanggil namanya lagi, Samuelpun menjawab, ”berbicaralah Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Karena Samuel mau menjadi anak yang taat dan mau mendengarkan perkataan Tuhan, maka Tuhan memakai Samuel pada masa tuanya menjadi seorang nabi yang besar
Penerapan
Sama seperti Samuel, kita semua juga mau belajar menjadi anak-anak yang peka pada suara Tuhan dan taat pada perkataan Tuhan. Samuel mendengarkan dengan baik pesan dari Tuhan dan Samuel juga taat untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada Imam Eli. Tapi bagaimana ya caranya kita bisa mendengar perkataan Tuhan, apakah seperti Samuel? kita bisa belajar mendengar suara Tuhan melalui Alkitab dan belajar mentaatinya. Salah satu perintah Tuhan untuk kita adalah supaya kita menghormati orang tua kita. Menghormati orang tua itu berarti kita mau mendengarkan nasehat orang tua, melakukan yang diperintahkan orang tua untuk kebaikan kita. Misalnya ayah membangunkan kita dan menyuruh kita untuk segera mandi supaya tidak terlambat sekolah. Kita harus mau taat. Demikian juga kita harus menghormati guru. Guru adalah orang tua kita di sekolah. Kita harus taat pada perkataan guru .
Aktivitas
Ajak anak-anak untuk membuat kubus. Kemudian anak-anak menuliskan perkataan atau perintah apa dari orang tua dan guru yang harus mereka taati, di setiap sisi kubus tersebut.
Contoh

TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA
Tujuan:
- Anak-anak dapat menceritakan kisah Samuel yang mendengar panggilan Tuhan.
- Anak-anak dapat membandingkan sikap Samuel dengan anak-anak yang tidak mendengar atau tidak menaati Tuhan.
- Anak-anak dapat mendiskusikan tantangan dalam menaati Tuhan dan bagaimana mengatasinya..
Pendahuluan
supaya anak-anak belajar peka dan fokus mendengarkan suara panggilan, maka pamong bisa mengajak anak-anak untuk bergiliran membaca ayat-ayat bacaan hari ini. Caranya adalah pamong akan menyebutkan huruf depan dan belakang dari anak yang akan bertugas membaca.
Contoh: pamong menyebutkan huruf R dan I. Maka yang bertugas membaca adalah Rudi. ( jika ada ada yang mempunyai huruf yang sama di awal dan akhir, misalnya Rani, maka pamong akan menyebutkan R dan DI untuk Rudi serta R dan NI untuk Rani ). Untuk ayat selanjutnya akan dibacakan oleh anak yang inisialnya disebutkan oleh pamong . misalnya W dan I untuk wati. Begitu seterusnya.
Inti Penyampaian
(karena anak-anak sudah membaca kisah Samuel, maka pamong bisa mengulang secara singkat cerita tentang Samuel sambil menanyakan beberapa hal yang perlu untuk diingat oleh anak-anak. Misalnya siapakah nama orang tua Samuel, siapa nama Imam Besar yang membimbing Samuel, sampai berapa kali Tuhan memanggil Samuel, dsb )
Ada seorang ibu bernama Hana dan suaminya yang bernama bapak Elkana. Ibu Hana dan bapak Elkana sudah lama sekali menikah tetapi belum mempunyai anak. Mereka sangat ingin mempunyai anak. Ibu Hana sangat sedih. Suatu hari ketika ibu Hana sedang berada di kemah Suci di kota Silo, ibu Hana berdoa sambil menangis, ”ya Tuhan, kalau saya diberikan seorang anak, saya berjanji akan menyerahkan anak saya untuk melayani di rumah Tuhan seumur hidupnya.” Tuhan mendengarkan doa ibu Hana dan mengabulkan permohonannya. Tak lama kemudian ibu Hana mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samuel. Ibu Hana menepati janjinya pada Tuhan. Ketika Samuel sudah bertumbuh menjadi anak laki-laki kecil, ibu Hana membawa Samuel ke rumah Tuhan untuk tinggal disana melayani Tuhan, membantu Imam Eli yang sudah mulai tua.
Pada suatu malam ketika Samuel sedang tidur, tiba-tiba Samuel mendengar ada suara yang memanggilnya, ”Samuel, Samuel.” Lalu Samuel cepat-cepat bangun dan menemui Imam Eli. Sesampainya di kamar Imam Eli, Imam Eli berkata, ”saya tidak memanggilmu.” Samuel kembali ke kamarnya dan tidur lagi. Ah, mungkin Samuel salah dengar. Tetapi Samuel kembali mendengar namanya dipanggil, ”Samuel, Samuel.” Samuel kembali bangun dan cepat-cepat menemui Imam Eli lagi. Siapa tahu kali ini Imam Eli memang memanggilnya. Tetapi lagi-lagi Imam Eli berkata, ”saya tidak memanggilmu.” Jadi Samuel kembali ke kamarnya dan tidur lagi. Tetapi untuk ketiga kalinya Samuel kembali mendengar lagi ada yang memanggil namanya. Dan Samuelpun kembali lagi ke menemui Imam Eli. Akhirnya Imam Eli menyadari bahwa yang memanggil Samuel adalah Tuhan. Jadi Imam Eli berkata, ”Kembalilah tidur, nanti kalau kamu mendengar ada yang memanggil namamu lagi, jawablah, ‘berbicaralah Tuhan, sebab hambamu ini mendengar.’ Dan Samuel menaati perkataan Imam Eli. Ketika ia mendengar ada yang memanggil namanya lagi, Samuelpun menjawab, ”berbicaralah Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Karena Samuel mau menjadi anak yang taat dan mau mendengarkan perkataan Tuhan, maka Tuhan memakai Samuel pada masa tuanya menjadi seorang nabi yang besar.
Penerapan
Sama seperti Samuel, kita semua juga mau belajar menjadi anak-anak yang peka pada suara Tuhan taat pada perkataan Tuhan. Samuel mendengarkan dengan baik pesan dari Tuhan dan Samuel juga taat untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada Imam Eli. Tapi bagaimana ya caranya kita bisa mendengar perkataan Tuhan, apakah seperti Samuel? kita bisa belajar mendengar suara Tuhan melalui Alkitab dan belajar mentaatinya. Salah satu perintah Tuhan untuk kita adalah supaya kita menghormati orang tua kita. Menghormati orang tua itu berarti kita mau mendengarkan nasehat orang tua, melakukan yang diperintahkan orang tua untuk kebaikan kita. Misalnya ayah membangunkan kita dan menyuruh kita untuk segera mandi supaya tidak terlambat sekolah. Kita harus mau taat. Kalau kita tidak taat, pasti kita akan terlambat sampai di sekolah.
Demikian juga kita harus menghormati guru. Guru adalah orang tua kita di sekolah. Kita harus taat pada perkataan guru .
Kalau kita tidak taat pada orang tua dan guru, kita bisa mengalami hal-hal yang kurang baik bagi diri kita sendiri. Misalnya kita tidak taat ketika guru menyuruh kita untuk belajar, akibatnya pada saat ujian kita tidak akan bisa mennjawab pertanyaan dan nilai kita akan menjadi jelek (Pamong bisa memberikan contoh yang sesuai dengan situasi dan kondisi anak-anak di jemaat masing-masing)
Aktivitas
Ajak anak-anak untuk membuat “Buku solusi Anak Hebat“ secara berkelompok (bentuk buku bisa dibuat sekreatif mungkin). Pada beberapa lembar awal, anak-anak menuliskan tantangan atau kesulitan untuk menaati suatu perintah.
Pada beberapa lembar akhir, anak-anak menuliskan solusi untuk mengatasi tantangan atau kesulitan untuk menaati suatu perintah. (anak-anak bisa mendiskusikan dengan teman dalam kelompoknya )