Tahun Gerejawi: Oikumene
Tema: Hari Tanpa Kekerasan Internasional
Judul: Tidak Semua Kekerasan Itu Pukulan!
Bacaan: Matius 21:33–46
Ayat Hafalan: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9)
Lagu Tema: KJ 424 Yesus Menginginkan Daku
Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Teks ini lahir dalam tensi yang tegang, di mana setelah Yesus memasuki Yerusalem (Mat. 21:1–11) dan menyucikan Bait Allah (Mat. 21:12–17), Yesus berdiri di pusat kekuasaan religius sehingga otoritas-Nya langsung dipersoalkan (Mat. 21:23)—tujuan pertanyaan ini bukan untuk mencari jawaban, tetapi untuk menjebak! Namun, Yesus tidak menanggapi secara langsung; Ia membalikkan situasi lewat pertanyaan tentang Yohanes Pembaptis (Mat. 21:24–27) yang justru menempatkan para pemimpin agama dalam dilema. Dari titik itu, arah percakapan berubah. Yesus mulai menyingkap kegagalan mereka melalui rangkaian perumpamaan—termasuk penggarap kebun anggur. Secara sederhana, cerita ini bukan sekadar perumpamaan maupun ilustrasi, melainkan kritik simbolik yang tajam terhadap penyalahgunaan otoritas, yang menjadikan para imam kepala dan orang Farisi bukan hanya pendengar, namun pihak yang sedang dihadapkan pada cermin yang mengungkap diri mereka sendiri di tengah konflik kuasa yang mengarah pada kekerasan.
Teks Matius 21:33–46 secara khusus menyoroti pola kerja dari para penggarap kebun anggur. Gambaran kebun anggur tidak bisa dilepaskan dari latar Perjanjian Lama (bdk. Yesaya 5:1–7), di mana kebun anggur adalah simbol dari umat Allah. Kata Yunani yang dipakai, ἀμπελῶνα (ampelōna), tidak sekadar menunjuk pada “ladang fisik”, tetapi mengandung makna teologis tentang relasi kepemilikan dan pemeliharaan. Pemilik kebun telah melakukan segalanya secara lengkap: memasang pagar, menggali tempat pemerasan anggur, dan mendirikan menara. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi awalnya ideal—tidak ada alasan kegagalan selain penyimpangan dari pihak penggarap.
Selanjutnya, ketika melihat diksi pada Matius 21:33, pemilik kebun “menyewakan” kebun itu kepada penggarap. Kata Yunani ἐξέδοτο (exedoto) menandakan penyerahan hak kelola, bukan kepemilikan. Di sinilah letak penyimpangan (distorsi) yang pertama: yang dipercayakan perlahan dianggap sebagai milik. Ketika rasa memiliki menggantikan kesadaran sebagai pengelola, relasi berubah. Tanggung jawab berubah menjadi klaim. Dan dari hal ini, kekerasan menemukan pintu masuknya.
Teks berlanjut ketika waktu panen tiba dan pemilik mengutus hamba-hambanya. Respons para penggarap digambarkan dengan tiga kata kerja: memukul, membunuh, dan melempari dengan batu. Rangkaian ini tidak sekadar variasi tindakan, tetapi memperlihatkan bagaimana kekerasan itu “melebar”—dari penganiayaan hingga penghilangan nyawa. Memukul masih menunjukkan penolakan yang “tertahan”, tetapi membunuh dan merajam menandai langkah yang lebih jauh, yakni keputusan untuk menyingkirkan! Di titik ini, relasi antara pemilik dan penggarap telah berubah menjadi ruang kekerasan. Penolakan tidak lagi berhenti pada sikap, melainkan menjelma menjadi tindakan destruktif yang sistematis. Puncaknya terjadi ketika anak pemilik diutus. Istilah “anak” menjadi kunci menarik yang tentunya berbeda dengan para hamba. Anak memiliki relasi yang unik—ia adalah representasi penuh dari pemilik. Namun, justru karena itu ia menjadi ancaman bagi para penggarap. Kalimat mereka secara sederhana bisa dikatakan, “Ini ahli waris, mari kita bunuh dia”, memperlihatkan bahwa kekerasan di sini bukan lahir dari ketidaktahuan, tetapi dari kesadaran yang disertai kepentingan. Mereka tahu siapa yang datang, tetapi memilih untuk meniadakannya demi mempertahankan kontrol atas “lahan kebun anggur”.
Di titik ini, perumpamaan tidak hanya berbicara tentang sejarah penolakan terhadap para nabi atau bahkan tentang kematian Yesus. Perumpamaan ini juga menyingkap dinamika batin manusia ketika kekuasaan, rasa memiliki, dan ketakutan kehilangan bertemu, maka kekerasan (bisa jadi) menjadi alat untuk mempertahankan posisi. Kekerasan tidak selalu muncul dari kebodohan; sering kali ia lahir dari perhitungan yang dingin! Pertanyaan Yesus tentang apa yang akan dilakukan pemilik kebun memaksa para pendengar untuk masuk ke dalam logika keadilan. Jawaban mereka—bahwa para penggarap itu akan dibinasakan—menunjukkan bahwa secara moral mereka memahami konsekuensi kekerasan. Namun, ironi terbesar muncul: mereka mampu mengutuk kekerasan dalam cerita, tetapi tidak melihat kekerasan yang sedang mereka rancang dalam realitas.
Kutipan tentang “batu yang dibuang” menambahkan dimensi lain. Penolakan terhadap “batu” itu bukan tindakan pasif, melainkan keputusan aktif untuk menyingkirkan. Tetapi, justru dari penyingkiran itu, Allah membangun sesuatu yang baru. Artinya, kekerasan manusia tidak pernah menjadi kata akhir, tetapi tetap membawa konsekuensi serius bagi pelakunya. Jika teks ini dibaca dalam kacamata realitas manusia yang kerap diwarnai kekerasan—baik yang kasatmata maupun yang terselubung—maka perumpamaan ini menjadi cermin yang tidak nyaman. Ia menunjukkan bahwa kekerasan bisa bersembunyi di balik legitimasi, bahkan religiositas. Para penggarap tidak melihat diri mereka sebagai pelaku kejahatan; mereka melihat diri sebagai pihak yang memiliki hak. Di sinilah bahaya terbesar: ketika kekerasan dibungkus sebagai sesuatu yang wajar, perlu, bahkan benar.
Teks ini pada akhirnya memberikan penegasan untuk menguji ulang relasi dengan otoritas dan kepemilikan, karena pergeseran dari pengelola yang setia menjadi penguasa yang mempertahankan segalanya dengan cara apa pun sering terjadi tanpa disadari. Ketika relasi berubah menjadi klaim mutlak, ruang bagi kekerasan pun terbuka—dan di sanalah pola lama terulang: menolak, menyingkirkan, bahkan “membunuh” apa yang seharusnya dihormati.
Refleksi Pamong
Ada momen-momen kecil di kelas remaja yang sering lewat begitu saja tanpa disadari, misalnya: ketika suara mulai ditinggikan agar mereka diam, ketika satu anak diberi label “nakal, tidak disiplin, dsb.” karena tidak sesuai ritme, atau ketika ketertiban menjadi lebih penting daripada memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri mereka. Semua itu tampak sepele, bahkan terasa perlu dan wajib! Namun, teks ini seperti membuka lapisan yang tidak nyaman: kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan kasar, tetapi bisa tumbuh dari cara kita mempertahankan kendali secara sangat pelan, dianggap wajar, dan akhirnya tanpa terasa!
Para penggarap dalam cerita tidak tiba-tiba menjadi kejam; mereka sampai di titik itu karena merasa berhak. Ada pergeseran halus dari mengelola menjadi memiliki, dari dipercaya menjadi menguasai. Di ruang pelayanan anak-remaja, pergeseran itu bisa terjadi tanpa disadari: ketika anak-anak tidak lagi dilihat sebagai pribadi yang sedang bertumbuh, tetapi sebagai objek yang harus diatur! Di situ, relasi menjadi berubah. Yang seharusnya menjadi ruang aman perlahan bisa menjadi ruang yang menekan, meski (terlihat) dibungkus dengan niat baik.
Maka kehadiran seorang pamong menjadi sebuah penentu: apakah ia membuka ruang hidup atau justru mempersempitnya? Anak-anak tidak hanya mengingat apa yang diajarkan, tetapi menyimpan memori tentang bagaimana rasanya berada di dekat seorang pamong—dan dari pengalaman itulah mereka belajar bahwa kuasa bisa melukai, atau justru memulihkan.
Tujuan
Secara berkelompok, remaja dapat merancang sebuah kampanye visual bertema “Stop Violence, Start Loving” yang mengaitkan perikop Matius 21 dengan isu kekerasan remaja saat ini secara kreatif.
Pendahuluan
Remaja kepunyaan Kristus, kadang kekerasan di hidup remaja itu tidak selalu kelihatan “keras”. Tidak selalu tentang berkelahi atau saling pukul. Justru kekerasan sering muncul dalam bentuk yang dianggap biasa: sengaja tidak membalas chat supaya orang lain merasa diabaikan, membuat story sindiran, ikut menertawakan teman di tongkrongan, menyebarkan screenshot percakapan, atau memberi komentar yang kelihatannya bercanda tetapi sebenarnya melukai. Awalnya terlihat kecil. Bahkan sering dianggap lucu. Tetapi perlahan, hubungan jadi rusak dan hati seseorang bisa terluka lebih dalam daripada yang kita kira.
Cerita dan Penerapan
Dalam bacaan hari ini, Matius 21:33–46, Yesus menceritakan tentang para penggarap kebun anggur yang dipercaya menjaga kebun milik tuannya. Masalahnya bukan karena mereka tidak mampu bekerja, tetapi karena hati mereka berubah. Sesuatu yang awalnya hanya dipercayakan, perlahan dianggap milik sendiri. Mereka mulai merasa paling berhak atas kebun itu. Dan ketika sang pemilik datang melalui para hambanya, mereka memilih menolak dengan kekerasan. Mulai dari memukul, membunuh, sampai akhirnya menyingkirkan anak pemilik kebun sendiri.
Kalau diperhatikan, kekerasan dalam cerita ini lahir bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena keinginan untuk mempertahankan diri dan tetap berkuasa. Mereka tidak mau kehilangan kendali. Mereka ingin semuanya tetap sesuai dengan keinginan mereka. Dan kalau jujur, hal seperti itu dekat dengan kehidupan remaja hari ini. Kadang saat merasa tersaingi, kita mulai menjatuhkan teman. Saat tidak cocok dengan seseorang, kita membentuk circle dan sengaja mengucilkan dia. Saat marah, kita memilih mempermalukan orang lain lewat media sosial. Bahkan kadang kita merasa puas ketika ada orang yang akhirnya “kena batunya”. Tanpa sadar, hati mulai terbiasa melihat orang lain sebagai lawan, bukan sesama.
Yang lebih berbahaya, semua itu bisa terasa normal karena dilakukan ramai-ramai. Ketika satu grup menertawakan seseorang, kita ikut supaya tidak dianggap berbeda. Ketika ada teman dijadikan bahan meme atau gibah, kita diam saja karena takut dijauhi. Padahal sering kali, kekerasan terbesar bukan hanya dilakukan oleh mereka yang menyerang, tetapi juga oleh mereka yang membiarkan.
Yesus hari ini menunjukkan jalan yang berbeda. Di tengah dunia yang mudah menyerang, Yesus justru hidup dengan kasih. Ia tidak membalas saat dihina. Ia tidak menjatuhkan orang lain untuk meninggikan diri-Nya. Kasih bukan tentang siapa yang menang, tetapi tentang bagaimana kita tetap menjaga hati meski sedang kecewa atau marah. Hidup dalam kasih di usia remaja bukan berarti jadi lemah atau selalu mengalah. Tetapi tentang berani menghentikan lingkaran kekerasan kecil yang sering dianggap biasa. Berani meminta maaf duluan. Berani tidak ikut mengejek. Berani menjaga perkataan. Berani memilih damai meski gengsi sedang tinggi.
Sebab kadang yang paling sulit bukan melawan orang lain, tetapi melawan ego diri sendiri. Maka setelah mendengar firman hari ini, mungkin kita perlu bertanya dalam hati:
- “Apakah selama ini aku pernah melukai orang lain lewat perkataan, sikap, atau media sosial?”
- “Apakah aku lebih sering ingin menang sendiri daripada menjaga relasi?”
- “Apakah kehadiranku membawa damai… atau justru membuat orang lain merasa terluka?”
Sebagai anak Tuhan, kita dipanggil bukan untuk menjadi orang yang paling ditakuti, melainkan menjadi pribadi yang membuat orang lain merasa aman dan diterima.
Aktivitas
“Creative Campaign Challenge – Stop Violence, Start Loving”
Tujuan Aktivitas: Remaja diajak menyadari bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik, tetapi juga dapat muncul lewat perkataan, sikap, relasi, maupun media sosial yang perlahan dianggap biasa. Melalui aktivitas ini, remaja diharapkan mampu membangun ajakan kreatif untuk menghadirkan kasih dan menjadi ruang yang aman bagi sesama.
Langkah-Langkah Aktivitas:
- Membentuk Kelompok
Remaja dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri atas 4 orang (atau menyesuaikan jumlah peserta). Pembagian kelompok diusahakan membuat setiap remaja memiliki ruang untuk berbicara dan terlibat. - Membaca dan Merenungkan Teks
Setiap kelompok membaca kembali Matius 21:33–46. Setelah itu, remaja diajak mendiskusikan beberapa pertanyaan berikut:- Bentuk kekerasan apa yang muncul dalam cerita ini?
- Mengapa para penggarap memilih jalan kekerasan?
- Siapa yang dirugikan dari tindakan tersebut?
- Apa yang ingin Yesus tunjukkan tentang hati manusia melalui perumpamaan ini?
Pada bagian ini, remaja diajak melihat bahwa kekerasan dalam teks tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi lahir dari hati yang ingin menguasai dan mempertahankan diri.
- Menghubungkan dengan Kehidupan Remaja
Setelah memahami teks, remaja diajak melihat realitas hidup mereka sehari-hari. Kekerasan sering kali hadir dalam bentuk yang dianggap biasa: sindiran, body shaming, bullying, komentar kasar di media sosial, mengucilkan teman dari circle, atau menjadikan seseorang bahan bercandaan bersama. Ajak remaja mendiskusikan:- Bentuk kekerasan apa yang paling sering muncul di lingkungan remaja saat ini?
- Mengapa hal itu sering dianggap normal?
- Bagaimana dampaknya bagi seseorang yang terus-menerus mengalaminya?
Bagian ini penting untuk membantu remaja menyadari bahwa luka tidak selalu terlihat, tetapi tetap meninggalkan bekas dalam diri seseorang.
- Merancang Kampanye Visual
Setiap kelompok membuat kampanye kreatif dengan tema: “Stop Violence, Start Loving”.
Bentuk kampanye dapat berupa: poster, feed Instagram, video pendek, slogan, ilustrasi kreatif, atau bentuk visual lain yang dekat dengan dunia remaja. Kampanye tidak hanya berisi larangan melakukan kekerasan, tetapi juga ajakan menciptakan relasi yang aman, saling menerima, dan penuh kasih.