Hidup di Tengah Perbedaan Tuntunan Ibadah Remaja 18 Oktober 2020

5 October 2020

Judul : Hidup di Tengah Perbedaan
Tahun Gerejawi : Bulan Ekumene
Tema : Ekumene: Antar Agama
Bacaan Alkitab : 1 Korintus 10: 22-33
Ayat Hafalan : “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik” (Roma 12: 9)
Lagu Tema : KPK 319 “Endahe Saduluran”

Tujuan:

  1. Remaja dapat menjelaskan nasehat rasul Paulus supaya tidak menjadi batu sandungan dalam hidup bersama dengan pemeluk agama lain.
  2. Remaja dapat menjelaskan hambatan untuk menghormati ajaran agama lain.
  3. Remaja dapat menjelaskan faktor pendukung untuk menghormati ajaran agama lain.
  4. Remaja dapat membiasakan diri untuk menghormati ajaran agama lain.

 

Penjelasan:
Surat 1 Korintus memberikan pandangan yang jelas mengenai berbagai persoalan yang dihadapi oleh para pengikut Tuhan Yesus yang perdana. Paulus menuliskan surat tersebut karena ia prihatin dengan perselisihan yang mengakibatkan perpecahan yang terjadi di antara mereka. Ia juga prihatin dengan perlakuan dan tindakan mereka satu sama lain. Korintus merupakan kota yang sangat duniawi dan dipengaruhi oleh berbagai macam kebudayaan. Hukum yang mereka ikuti berguna untuk menunjukkan bagaimana orang harus hidup dan dengan menghormati Tuhan dan menghargai sesamanya. Paulus memperingatkan supaya orang-orang tidak menyalahgunakan kebebasan yang dimilikinya. Setiap orang harus memperhatikan supaya tidak menyakiti orang lain. Bahkan apapun yang dilakukan hendaknya dilakukan untuk menolong orang lain tetap dalam kesucian, kesejahteraan dan keselamatan mereka. Orang-orang Kristen harus berhati-hati untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat merusak hati nurani orang lain.

Namun disisi lain Paulus juga hendak menekankan tentang persoalan keseharian yang membuat mereka membatasi diri dengan orang lain. Paulus menekankan bahwa semuanya berasal dari Tuhan dan secara khusus mengatakan bahwa semua makanan berasal dari Tuhan dan semua boleh dimakan. Rasul Paulus menggunakan kesempatan untuk menetapkan aturan bagi orang Kristen, bahwa dalam kegiatan makan dan minum, serta dalam segala sesuatu yang kita lakukan, harus kita lakukan dengan tujuan memuliakan Allah. Janganlah melakukan apapun yang bertentangan dengan kemuliaan Allah dan kepentingan sesama kita.

Meskipun umat Tuhan sekarang bebas dari kewajiban-kewajiban menjalankan hukum Taurat, mereka tetap harus waspada agar tindakan mereka tidak menimbulkan masalah bagi orang lain. Meskipun berhala tidak memiliki kuasa yang nyata, memakan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala mungkin dapat mengakibatkan persoalan bagi orang-orang Kristen yang dahulu biasa menyembahnya. Paulus berkata bahwa mereka boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Artinya apakah daging yang dijual tersebut telah dipersembahkan kepada berhala atau tidak. Daging itu dijual sebagai makanan, maka boleh dan dibeli oleh siapa pun juga. Kekristenan tidak memperbolehkan kita berlaku tidak sopan terhadap orang lain.

Sama seperti yang dilakukan oleh Paulus yang mendahulukan kepentingan orang lain, demikian pula kita harus memiliki semangat untuk mendahulukan kepentingan orang lain. Paulus sebagai orang kuat dalam hal iman, menyangkal adanya berhala yang dihormati dengan korban mereka. Semua tindakan harus keluar dari iman dalam satu Tuhan. Kita tidak bisa melayani jikalau kita membiarkan hidup dalam praktek-praktek yang salah. Kesatuan yang digambarkan dalam perjamuan Tuhan dinajiskan oleh berhala yang berwujud pemikiran-pemikiran dan praktek-praktek yang menjadi batu sandungan dan memecah belah.  Paulus percaya bahwa suatu saat tertentu dimana hal-hal yang dapat menyinggung para pengikut Kristus yang baru perlu dihindari.

https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=46&chapter=10&verse=33

 

Pendahuluan:

  1. Ajak remaja membaca 1 Korintus 10: 22-33 secara bergantian!
  2. Berikanlah kesempatan kepada remaja untuk mengisi tabel berikut ini:
  3. Berdiskusilah untuk mengawali cerita berdasarkan jawaban remaja berdasarkan tabel tersebut.

Cerita:
Bhineka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang bangsa Indonesia, Garuda Pancasila. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Dengan semboyan ini rakyat Indonesia bisa hidup bersama dalam segala kondisi yang berbeda. Walaupun belum sempurna dalam menghayati dan melakukan semboyan tersebut, setidaknya hingga hari ini semboyan itulah yang dianggap paling bisa menyatukan segala perbedaan yang ada. Kita sudah bisa menyebutkan agama-agama yang ada di Indonesia dan bahkan ada yang sudah tinggal berdampingan dengan saudara-saudara kita yang berbeda agama. Mungkin awalnya kita merasa canggung atau bahkan sulit untuk bisa bersama. Namun seiring waktu yang kita lalui bersama kita semakin mengenal, menerima dan bahkan bisa merasa dikuatkan oleh karena keberadaan mereka.

Kehidupan orang-orang di jemaat Korintus berada dalam perselisihan yang mengakibatkan perpecahan terjadi di antara mereka. Paulus ingin supaya orang-orang disana tidak membatasi diri karena perbedaan budaya, praktek hidup beragama dan gaya hidup sebagai alasan untuk tidak mau hidup bersama. Secara khusus yang mendasari perpecahan di antara mereka adalah bagaimana pandangan mereka tentang hal makan makanan yang dijual di pasar. Paulus berkata bahwa mereka boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Artinya apakah daging yang dijual tersebut telah dipersembahkan kepada berhala atau tidak. Daging itu dijual sebagai makanan, maka boleh dan dibeli oleh siapa pun juga.

Kekristenan tidak memperbolehkan kita berlaku tidak sopan terhadap orang lain. Sama seperti yang dilakukan oleh Paulus yang mendahulukan kepentingan orang lain, demikian pula kita harus memiliki semangat untuk mendahulukan kepentingan orang lain. Dalam membangun relasi dengan orang lain, janganlah kita dasari dengan kecurigaan dan juga menilai apapun berdasarkan ukuran kita. Kita juga harus saling menyayangi antar sesama. Saling membantu. Saling melindungi, menjaga dan saling memberi. Hormati dan hargailah kekurangan dan kelebihan orang lain. Jadikan perbedaan itu sebagai kekuatan kita untuk melangkah menghadapi tantangan-tantangan dunia. Begitu pula semangat pelayanan yang dilakukan oleh Komisi Antar Umat di GKJW. Kegiatan membangun relasi dengan umat beragama lain begitu dirasakan berdampak yang baik dalam kehidupan bersama. Hal itu  nampak bukan hanya dengan sikap saling memberikan ucapan, namun juga dengan duduk bersama membahas suatu topik tertentu dan melakukan aksi sosial yang berdampak bagi kerukunan antar umat. Hal ini tentu saja tidak dilakukan hanya oleh pemimpin atau tokoh-tokoh agama saja, namun juga seluruh umat yang ada didalamnya. Betapa indahnya jika kita bisa hidup bersama dan tidak menaruh curiga pada sesama.

 

AKTIVITAS

  1. Remaja diajak untuk mengenal tempat ibadah agama lain, jika di sekitar gereja ada tempat ibadah agama lain, ajak mereka berkunjung ke tempat tersebut. (Pamong terlebih dahulu berkoordinasi dengan Majelis Jemaat dan Pengurus tempat Ibadah tersebut untuk berkegiatan disana)
  2. Remaja diajak berlatih untuk mengisi pujian di Ibadah Minggu Dewasa tanggal 1 Nopember, lagu dapat dipilih dari yang disarankan atau memilih sendiri:
    1. Kidung Kontekstual 16 “Pujilah Tuhan hai jiwaku”
    2. Kidung Kontekstual 85 “Rejoice”
    3. Kidung Pasamuwan Jawi 78 “Iba Begjaku”

Latihan perlu dilakukan minimal 2 Minggu untuk penampilan yang terbaik. Pamong dapat menginformasikan kepada Majelis Jemaat terkait rencana tersebut.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak