Aksiku, Kesaksianku Tuntunan Ibadah Remaja 11 Desember 2022

28 November 2022

Tahun Gerejawi: Advent 3/ HUT GKJW
Tema: Tokoh GKJW (Tasdik)

Bacaan Alkitab: I Tesalonika 5:16-20
Ayat Hafalan: “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” (Yohanes 15:27).

Lagu Tema: Aku Anak GKJW (Kidung Ria no. 1)

Tujuan:

  1. Remaja dapat menceritakan kembali salah satu tokoh GKJW yaitu Bapak Tasdik.
  2. Remaja dapat menceritakan Bapak Tasdik yang membuat, menerjemahkan, dan merawat dokumen-dokumen GKJW dengan tekun.
  3. Remaja dapat menyebutkan karya-karya tulis Bapak Tasdik untuk GKJW.
  4. Remaja dapat menunjukkan sikap tekun bersaksi dalam hidupnya sehari-hari.

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
1 Tesalonika adalah salah satu dari sekian banyak surat yang ditulis oleh Rasul Paulus, dan 1 Tesalonika adalah surat atau tulisan tertua dalam Perjanjian Baru. Tesalonika adalah sebuah kota yang besar dan merupakan ibukota provinsi Makedonia. Kota Tesalonika juga merupakan kota yang dinamis karena terletak di pesisir dan memiliki pelabuhan besar yang menjadi keluar masuknya orang dari berbagai daerah di dunia untuk melakukan kegiatan perdagangan. Banyak orang dari berbagai suku dan kebudayaan datang dan tinggal untuk bekerja di kota Tesalonika. Pada konteks keadaan seperti itulah Paulus datang mengabarkan Injil dan juga bekerja untuk mencukupi kebutuhannya disana (1 Tesalonika 2: 9). Paulus mengabarkan Injil di tempat kerjanya yang kemudian membuat banyak orang percaya pada Kristus dan bertobat.

Orang-orang ini kemudian menjadi komunitas Kristen pertama di Eropa. Paulus mengharapkan komunitas yang baru lahir yang adalah jemaat Tesalonika benar-benar bisa taat kepada Tuhan, bisa bersaksi melalui perbuatan yaitu mewujudnyatakan ajaran-ajaran yang sudah diteladankan oleh Kristus. Jemaat Tesalonika dalam pertumbuhannya juga mengalami kesulitan, dimana mereka juga mendapatkan penganiayaan dari orang-orang yang membenci Kristus, dalam situasi yang penuh kesesakan itulah Paulus mengirim surat agar jemaat Tesalonika tidak tertekan dan tetap bersukacita (ayat 16), tetap bersyukur (ayat 18) , tidak meninggalkan Tuhan dengan cara tetap berdoa dan berjaga-jaga (16, 19), dan memelihara hidup kudus sesuai dengan tuntunan Roh Kudus (ayat 20).

Pendahuluan

  1. Pamong mengajak membaca Alkitab pada 1 Tesalonika 5: 16-20.
  2. Pamong bertanya, pernahkah remaja mendengar nama-nama berikut: Johanes Emde, C.L Coolen, Paulus Tosari, Pak Tasdik.

Cerita
Remaja yang dikasihi Tuhan, selama sekolah pasti pernah mendapat pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia, di pelajaran sejarah itu pasti kita dikenalkan dengan peristiwa-peristiwa dan tanggal-tanggal penting yang berkaitan dengan lahirnya bangsa Indonesia. Kita juga seringkali harus menghafal beberapa nama tokoh penting yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia. Betul ya? Seperti siapa presiden pertama Indonesia, siapa nama pahlawan yang berasal dari Jawa Timur, siapa yang merobek bendara Belanda, dan sebagainya. Nah, sama seperti bangsa Indonesia yang memiliki tanggal lahir atau tanggal merdeka dan memiliki banyak tokoh sejarah, gereja kita yaitu Greja Kristen Jawi Wetan juga demikian. Hari ini tanggal 11 Desember, ini bertepatan dengan lahirnya GKJW. Jadi, tepat di hari ini GKJW sudah berusia 91 tahun. Selama 91 tahun ini juga, sudah banyak sekali orang yang berjuang untuk membuat GKJW seperti sekarang ini.

Diawal tadi remaja sudah melihat beberapa tokoh yang mungkin sudah sering didengar di kelas katekisasi, yaitu ada Coolen, Emde, dan Paulus Tosari. Ketiga tokoh itu adalah pencetus cikal bakal GKJW. Namun, ada lagi satu tokoh yang juga sangat berjasa bagi GKJW, sehingga GKJW bisa seperti sekarang ini. Beliau adalah Pak Pendeta Tasdik (menunjukkan gambar Pak Pendeta Tasdik). Pak Pendeta Tasdik ini lahir di Tunjungrejo, Lumajang pada tahun 1914. Beliau juga merupakan seorang Pendeta GKJW dan juga pernah mengajar sebagai guru dan dosen. Seperti halnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki Undang-Undang Dasar yang didalamnya berisi peraturan untuk menjalankan sebuah negara, GKJW sebagai gereja juga memiliki buku yang didalamnya mengatur kehidupan bergereja yang disebut “Tata Pranata”. Tahukah adik-adik bahwa Tata Pranata ini ditulis oleh para pendeta di awal-awal berdirinya GKJW menggunakan Bahasa Jawa loh, dan Pak Pendeta Tasdiklah yang menerjemahkan atau merubahnya menjadi Bahasa Indonesia. Selain itu, Pak Tasdik juga menulis dengan sangat teliti beberapa buku tentang GKJW, salah satunya adalah buku katekisasi untuk warga calon. Pak Tasdik merawat buku-buku itu dan dokumen-dokumen penting lain milik GKJW dengan teliti dan tekun.

Selama menjalankan tugasnya sebagai pendeta itu Pak Pendeta Tasdik juga berhadapan dengan beberapa hal yang sulit, salah satunya adalah ketika dia akan ditahbiskan menjadi Pendeta, istrinya sedang sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Namun, dia tetap berangkat ke gereja dan mengikuti ibadah. Hal lainnya adalah ketika dia mendapat tugas untuk ke Jakarta, dia mendapat kabar bahwa anaknya yang berusia tujuh tahun meninggal karena tenggelam. Hal itu tentu membuatnya sedih, tetapi itu tidak membuatnya larut dalam dukacita. Dua peristiwa itu adalah beberapa peristiwa yang menyedihkan, namun itu tetap membuat Pak Pendeta Tasdik berhenti bersaksi dan berkarya untuk Tuhan melalui pelayanannya di GKJW hingga akhirnya GKJW sampai pada usianya yang ke sembilan puluh satu tahun hari ini. Meski Pak Pendeta Tasdik sudah meninggal dunia, karya dan kesaksian beliau masih bisa kita rasakan saat ini.

Bacaan kita saat ini, yaitu dari cerita kehidupan jemaat mula-mula di kota Tesalonika. Jemaat Tesalonika baru saja terbentuk, namun jemaat itu mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang yang membenci Yesus. Maka dari itu, Paulus menulis surat untuk mereka, mengingatkan mereka agar mereka tetap kuat, sabar, senantiasa bersukacita dan bersyukur meski dalam pengaiayaan. Surat yang ditulis Paulus untuk jemaat Tesalonika ini adalah surat atau tulisan yang tertua di Perjanjian Baru. Dalam suratnya itu juga Paulus mengingatkan bahwa bersyukur, berdoa, berusaha menjaga hidup sesuai tuntunan Roh Kudus adalah cara jemaat bersaksi melalui perbuatan, meski mereka dalam keadaan yang bahaya. Maka dari itu, kita harus belajar dari jemaat Tesalonika yang harus senantiasa bersukacita dan bersyukur sebagai bentuk bersaksi untuk kemuliaan nama Tuhan, karena seperti itulah yang dilakukan Pak Pendeta Tasdik selama dia menjalani hidupnya sebagai pelayan Tuhan di GKJW yang kala itu juga baru berdiri. Sebagai anak GKJW, untuk menghayati bertambahnya usia gereja kita, GKJW yang ke-91 tahun, mari kita meneladan jemaat Tesalonika dan Pak Tasdik yang senantiasa bersaksi melalui perbuatan dan talenta meskipun sedang ada dalam situasi yang sulit. Mari tetap bersukacita, tetap bersyukur, dan mari berkarya dengan talenta kita masing-masing untuk membuat nama Tuhan semakin dimuliakan melalui gereja kita tercinta GKJW.

Aktivitas:  “TTS (Teka Teki Sukacita)”

  1. Pamong membagi remaja yang hadir ke dalam beberapa kelompok.
  2. Pamong meminta remaja untuk menyimpan hp (jika ada yang membawa)
  3. Pamong memberikan kertas soal TTS kepada kelompok-kelompok.
  4. Pamong menentukan waktu pengerjaan dan mempersilahkan remaja untuk mengerjakan soal.
  5. Pamong memberikan hadiah ekstra kepada kelompok yang menyelesaikan terlebih dahulu dan benar semua, dan memberikan hadiah kepada semua yang sudah berpartisipasi (poin 6 ini sifatnya opsional, boleh dilakukan boleh tidak).

Pertanyaan:

MENYAMPING
4. Surat tertua dalam Perjanjian Baru
5. Bulan berdirinya GKJW
7. Rasul yang menulis surat untuk jemaat Tesalonika
8. Pekerjaan Pak Tasdik selain pendeta

MENURUN
1. Hal yang dilakukan Pendeta Tasdik meski sedang mengalami kesusahan
2. Kabupaten lahirnya Pendeta Tasdik
3. Buku yang ditulis oleh Pak Pendeta Tasdik
6. Bahasa dalam Tata Pranata GKJW yang diterjemahkan oleh Pendeta Tasdik

Renungan Harian

Renungan Harian Anak