Menanti Fajar Kebangkitan-Nya Khotbah Sabtu Sunyi 4 April 2026

23 March 2026

Sabtu Sunyi | Pekan Suci
Stola Putih

Bacaan 1: Ayub 14 : 1 – 14
Mazmur: Mazmur 31 : 1 – 4, 15 – 16
Bacaan 2: 1 Petrus 4 : 1 – 8
Bacaan 3: Matius 27 : 57 – 66

Tema Liturgis: Ratu Adil Segenap Ciptaan
Tema Khotbah: Menanti Fajar Kebangkitan-Nya

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Ayub 14 : 1 – 14
Kitab Ayub merupakan salah satu dari 3 kitab yang disebut kitab Hikmat (selain kitab Pengkhotbah dan Amsal). Disebut demikian, karena memang di dalam kitab ini mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan dan memberi nasihat tentang kehidupan. Terutama sekali tentang hubungan antara manusia dan Tuhan, seperti halnya yang terjadi di pasal 14. Ungkapan Ayub pada bagian ini adalah ungkapan keputus-asaan dirinya, mengenai singkatnya hidup manusia yang penuh penderitaan, ketidakpastian, dan kerapuhan. Pasal 14 dapat dilihat sebagai kelanjutan dari pasal 13. Dimana Ayub setelah meminta keadilan kepada Tuhan, ia mulai merenungkan kesulitannya dalam konteks kondisi manusia yang rapuh dan fana. Dalam penderitaannya, Ayub mempertanyakan apakah manusia bisa bangkit lagi setelah mati? Ia membandingkan manusia yang mati dengan pohon yang masih bisa bertunas dan menunjukkan pemahamannya tentang keterbatasan hidup manusia di bumi serta harapannya akan kebangkitan di masa depan.
1 Petrus 4 : 1 – 8
Menurut tradisi, surat ini ditulis oleh Rasul Petrus, murid Tuhan Yesus (1:1). Akan tetapi, mengingat kualitas tata bahasa dan gaya penulisan surat ini, banyak ahli berpendapat bahwa hampir tidak mungkin Petrus seorang nelayan Galilea menjadi penulisnya. Penulis surat ini sangat mungkin memakai nama Petrus hanya sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Praktik ini disebut sebagai pseudonim yang memang umum terjadi pada zaman itu. Surat 1 Petrus ini bertujuan agar para pembacanya sadar bahwa mereka akan menanggung penderitaan karena iman mereka. Namun penderitaan itu tidak akan mengalahkan mereka, karena Tuhan Yesus telah memberi kemenangan melalui penderitaan dan kematian-Nya di atas kayu salib.

Secara khusus dalam pasal 4 ini, penulis meminta kepada setiap orang percaya supaya dapat mengadopsi pikiran Kristus. Orang percaya seharusnya hidup bukan dalam keinginan manusia, melainkan untuk kehendak Allah. Mereka harus siap menderita karena melakukan kebenaran. Di ayat 7, karena menurut penulis kesudahan segala sesuatu sudah dekat, maka kita diminta untuk menguasai diri dan menjadi tenang, supaya kita dapat berdoa. Kata menjadi tenang menggunakan kata nepsate dalam bahasa Yunani, yang artinya tidak sekadar menjadi tenang, namun lebih kepada waspada/berjaga-jaga dengan sadar. Selain itu, orang percaya juga didorong untuk menggunakan karunia dari Allah untuk melayani sesama, saling mengasihi dengan sungguh-sungguh, serta bersukacita dalam penderitaan karena itu adalah bagian dari tujuan Allah dan memperkuat iman.

Matius 27 : 57 – 66
Bagian teks yang menjadi bacaan ketiga kita saat ini, menceritakan tentang peristiwa setelah kematian Yesus di atas kayu Salib. Pada saat itu ada salah seorang murid bernama Yusuf dari Arimatea datang kepada Pilatus. Ia ingin menguburkan Yesus dengan layak sesuai hukum Yahudi sebelum hari Sabat dimulai. Sebagai catatan, pergantian hari menurut kalender Yahudi tidak terjadi pada pkl. 00.00, tetapi pada pkl. 18.00. Sehingga peristiwa yang tertulis di ayat 57-61 ini, dapat dipastikan berlangsung mulai dari sekitar pkl. 15.00 (setelah kematian Yesus) hingga sebelum pkl. 18.00. Sebab bagi orang Yahudi, Hari Sabat adalah hari yang sangat suci. Dimana melakukan aktivitas/ pekerjaan apapun dilarang keras. Sehingga dengan demikian, menguburkan jenazah Tuhan Yesus sebelum hari berganti menjadi Sabtu/sebelum hari Sabat dimulai, menjadi sangat penting agar tidak melanggar kesucian hari Sabat itu sendiri. Setelah ia meminta tubuh Yesus, lalu ia membaringkannya di dalam kubur baru, yang digalinya di dalam bukit batu. Batu besar digulingkan menutup pintu kubur itu, sementara Maria Magdalena dan Maria yang lain duduk di depan kubur itu, menyaksikan dengan penuh kesedihan.

Keesokan harinya, para imam kepala dan orang Farisi gelisah. Mereka teringat perkataan Yesus bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga. Takut kalau murid-murid Yesus mencuri tubuh-Nya dan menyebarkan berita palsu akan kebangkitan Yesus; maka mereka meminta Pilatus agar kubur dijaga ketat. Maka kubur itu pun disegel, dijaga oleh para tentara. Yesus benar-benar terkubur dan dijaga. Tetapi semua itu justru mempersiapkan jalan bagi Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya: bahwa kebangkitan Kristus bukanlah karya manusia, melainkan perbuatan Allah yang hidup, demi penebusan manusia dari dosa.

Benang Merah Tiga Bacaan
Kehidupan manusia di dunia ini hanya sementara, penuh pergumulan, dan penderitaan. Namun jangan sampai berbagai pergumulan yang kita alami, membuat kita menjadi tawar hati dan iman kita menjadi goyah. Tetapi mari kita menggunakan waktu yang singkat ini untuk hidup dalam doa, dalam pengendalian diri, kewaspadaan, dan terutama dalam kasih. Sebab melalui kematian-Nya, kita telah ditebus dan melalui fajar kebangkitan-Nya, kita akan menerima anugerah keselamatan yang sejati.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Pernahkah saudara berada di rumah duka setelah pemakaman selesai? Ketika semua orang sudah mulai kembali pulang ke rumah masing-masing dan kursi-kursi plastik sudah tersusun rapi kembali, maka hanya ada kesunyian yang tertinggal. Suasana itu begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya, tidak ada lagi keramaian, tidak ada lagi tangisan keras, hanya diam yang panjang. Saat itulah rasa kehilangan terasa nyata. Yang pergi memang sudah benar-benar pergi, dan yang tertinggal harus berhadapan dengan kesepian dan ketidakpastian akan masa depan.

Isi
Demikianlah suasana Sabtu Sunyi dua ribu tahun lalu. Dimana dalam bacaan ketiga, kita melihat bahwa setelah hiruk-pikuk penyaliban, setelah jeritan dan tangisan, tubuh Yesus diturunkan dari kayu salib. Yusuf Arimatea mengapani-Nya dengan kain lenan yang putih bersih dan membaringkan tubuh Yesus ke dalam kubur (Mat. 27:57-60). Kini setelah semua itu terjadi, yang tersisa hanyalah keheningan. Murid-murid bersembunyi dalam ketakutan dan keputus-asaan, sedangkan para perempuan menunggu dalam kesedihan (Mat. 27:61). Seakan-akan semua harapan ikut terkubur bersama Yesus. Hari itu adalah hari yang sepi, hari yang sunyi.

Di dalam kesunyian yang seperti itu, kita turut mendengar gema keluhan Ayub dalam bacaan kita yang pertama: “Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu; seperti bayang-bayang ia hilang lenyap tanpa dapat bertahan.” (Ayub 14:1–2 TB2). Ayub menunjukkan betapa rapuh dan fananya hidup manusia itu, benar-benar cepat berlalu dan penuh kesusahan. Terlebih lagi setiap manusia juga pasti akan menghadapi realitas kematian yang tidak akan pernah bisa dihindari.

Pertanyaan Ayub yang muncul di ayat 14, “Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?” adalah pertanyaan yang sangat mungkin bergema di hati para murid, tidak terkecuali bergema juga di hati orang-orang Farisi. Sebab secara nalar memang mustahil bagi manusia biasa, untuk bangkit dari kematian. Namun ketika Yesus masih hidup, Ia sendiri mengatakan berkali-kali kepada para murid-Nya, bahwa Ia akan bangkit pada hari yang ketiga (Bdk. Mat 12:40, 16:21, 17:9, 17:23, 26:32). Oleh karena itulah, sangat masuk akal jika orang-orang Farisi meminta penjaga kepada Pilatus, untuk menjaga kubur Yesus. Supaya jangan sampai jenazah Yesus dicuri oleh para murid, lalu disebarkan berita bahwa Yesus telah bangkit (Mat. 27:63-64). Namun bagi para murid, Guru yang selama ini melindungi mereka dan mengajar dengan berbagai hikmat dan mukjizat, saat ini benar-benar nampak tak berdaya dihadapan kematian. Tidak seperti janji kebangkitan yang pernah Ia sampaikan.

Hari Sabtu Sunyi pada hakikatnya bukanlah tentang keputusasaan. Dalam bacaan kita yang kedua, kita diingatkan bahwa Kristus sendiri sudah menderita bahkan mati di atas kayu salib. Karena itu, penderitaan dan kematian bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan kita. Melainkan bagian dari jalan yang ditempuh Yesus untuk membuka kehidupan baru. Dalam kesunyian, Ia mengalahkan maut, demi membebaskan manusia dari belenggu dosa. Yesus benar-benar mati, Ia benar-benar dikuburkan. Dari luar, semuanya tampak berakhir. Batu besar menutup kubur seakan-akan turut menutup semua harapan. Tetapi kita tahu: di balik keheningan itu, Allah sedang bekerja. Sabtu Sunyi sejatinya bukan akhir. Sabtu Sunyi hanyalah jeda sebelum fajar kebangkitan Kristus.

Penutup
Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita pun mengalami situasi seperti halnya yang terjadi di hari Sabtu Sunyi ini. Dimana yang terasa hanyalah sunyi, sepi, dan sendiri. Penuh kesedihan, kekecewaan, dan harapan yang hampir padam. Doa yang kita haturkan pun seakan-akan tidak didengar. Allah terasa begitu dingin dalam diam-Nya dan jauh dari kehidupan kita. Namun di atas semuanya itu, mari kita ingat bahwa “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan waspadalah, supaya kamu dapat berdoa.” (1 Petrus 4: 7, TB-2). Artinya, di tengah kesunyian Sabtu ini, kita diajak menata ulang hidup kita. Jangan biarkan waktu kita terbuang karena hawa nafsu dan kesia-siaan belaka. Jangan biarkan penderitaan membuat kita tawar hati dan iman kita menjadi goyah. Sebaliknya, gunakanlah waktu yang singkat ini untuk hidup dalam doa, dalam pengendalian diri, kewaspadaan dan terutama dalam kasih. Percayalah bahwa di balik keheningan, kesedihan, dan pergumulan yang kita alami itu, Allah sedang bekerja untuk menolong kita. Ia bukanlah Allah yang jauh, namun Allah yang dekat, yang sungguh mengerti keberadaan kita. Mari menantikan fajar Paskah yang akan datang. Sebab di dalam Kristus, tersedia keselamatan, jalan kebenaran, dan kehidupan. Amin. [YAH].

 

Pujian: KJ. 186  Saat Sedih

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Kinten-kinten punapa panjenengan nate rawuh wonten ing griyanipun sedherek ingkang kesripahan, nalika sadaya prosesi pangrukti layonipun sampun rampung? Nalika sadaya tiyang sampun wangsul dhateng griyanipun piyambak-piyambak lan kursi-kursi plastik sampun dipun ringkesi? Punapa ingkang panjenengan panggihi? Ingkang badhe kita panggihi, inggih namung raos sunyi lan sepi. Dinten punika saestu dados dinten ingkang benten kaliyan dinten-dinten ingkang sampun kalampahan. Mboten wonten malih rame-rame, mboten wonten tiyang ingkang nangis, sadaya sami mendhel. Ing kahanan ingkang kados mekaten, raos sedih amargi katilar sedherek kinasih, dados raos ingkang nggegirisi sanget. Sedherek ingkang sedha, nggih sampun wangsul dhateng pangayunan astanipun Gusti Allah. Ingkang gesang taksih kedhah mrangguli sadaya raos sedih lan karibedan gesang ing zaman ingkang badhe kelampahan.

Isi
Mekaten ugi kahanan nalika Sabtu Sunyi kalih ewu taun kepengker. Ing waosan kita ingkang kaping tiga, kita saged mirsani bilih sakrampungipun sadaya prosesi panyaliban, sakrampungipun sadaya panangis lan panjeriting tiyang-tiyang, Yusuf Arimatea nyuwun layonipun Gusti Yesus, lajeng dipun ulesi ngagem mori pethak lan dipun sarekaken ing pakuburanipun piyambak ingkang enggal (Mat. 27:57-60). Nalika sadayanipun sampun kelampahan, ingkang wonten nggih namung sunyi lan sepi. Para sekabat sami ndelik amargi ajrih lan para tiyang estri sami lenggah kanthi raos sedih ingkang sanget (Mat. 27:61). Kadosipun sadaya pangajeng-ajeng sami sirna sesarengan kaliyan sedhanipun Gusti Yesus. Dinten punika dados dinten ingkang sepi, dinten ingkang sunyi.

Ing salebeting kahanan ingkang kados mekaten, kita saged mirengaken pangresulanipun Ayub ing waosan kita ingkang sepindhah, ”Manungsa ingkang lair saking tiyang estri, celak umuripun, tuwuk ing kasisahan, mekar kadosdene sekar lajeng alum, icalipun kados wewayangan, mboten saged lestantun.” (Ayub 14:1–2). Ayub nedhahaken kahananipun manungsa punika dados makhluk ingkang ringkih, saestu namung sekedhap kemawon, badhe sirna lan kebak kasisahan. Punapa malih, manungsa badhe manggihi ajalipun ingkang mboten saged dipun selaki.

Pitakenanipun Ayub ingkang wonten ing ayat 14, ”Manungsa manawi sampun pejah, punapa saged gesang malih?”, dados pitakenan ingkang saged ugi medal ing manahipun para sakabat, lan ugi wonten ing manahipun para tiyang Farisi. Amargi bilih dipun galih kanthi tumemen, mokal manungsa biasa punika saged wungu malih saking antawisipun tiyang pejah. Nanging nalika Gusti Yesus taksih sugeng, Panjenenganipun asring sanget paring dhawuh tumrap para sakabat-Ipun, bilih Panjenenganipun badhe wungu malih ing tigang dintenipun, saking antawisipun tiyang pejah (Bdk. Mat. 12:40, 16:21, 17:9, 17:23, 26:32). Mila mekaten, wajar bilih para Farisi punika nyuwun prajurit dhateng Pilatus, supados njagi ing pasareanipun Gusti Yesus. Para Farisi sami ajrih, bilih layonipun Gusti Yesus dipun pendhet kaliyan para sakabat, lajeng dipun sebaraken pawartos bilih Gusti Yesus sampun wungu saking antawisipun tiyang pejah (Mat. 27:63-64). Nanging kagem para sakabat, Guru ingkang sampun paring pangayoman lan paring pitedhah kanthi kawicaksanan lan mukjizat ingkang ngedap-edapi, sakpunika katingal tanpa daya ing ngarsanipun pati. Mboten sami kaliyan janjin-Ipun ingkang badhe wungu saking antawisipun tiyang pejah, kados dene ingkang sampun asring dipun dhawuhaken.

Nanging Sabtu Sunyi punika, sejatosipun sanes bab giris lan semplahing manah. Ing waosan kita ingkang kaping kalih, kita dipun engetaken bilih Sang Kristus pribadi ingkang sampun nandhang sangsara ngantos sedha ing kajeng salib. Mila mekaten, kasangsaran lan pati punika mboten ateges bilih Gusti Allah nilar kita. Nanging punika dados margi ingkang kedhah dipun tempuh kaliyan Sang Kristus, kagem mbikak gesang ingkang enggal. Ing salebeting kesunyian, Sang Kristus ngawonaken pati, kagem ngluwari manungsa saking dosa. Gusti Yesus saestu sampun pejah, Panjenenganipun saestu dipun kubur. Saking njawi, sadayanipun katingal sampun rampung. Sela ageng ugi sampun nutup pasarean-Ipun, sadaya pangajeng-ajeng kadosipun nggih sampun sirna. Nanging ing ngriki kita saged sumerep, bilih ing salebeting kesunyian punika, Gusti Allah pribadi tansah makarya. Sabtu Sunyi sanes dados pungkasan. Sabtu sunyi namung jeda sekedhap, sakderengipun fajar patangen.

Panutup
Ing salebeting gesang padintenan, asring kita punika ngalami kahanan ingkang kelampahan kadosdene ing dinten Sabtu Sunyi punika. Sadaya raosipun nggih namung sunyi, sepi, lan piyambakan. Sadayanipun kebak kasedihan lan sadaya pangajeng-ajeng kadosipun nggih badhe sirna. Pandonga ingkang kita aturaken dhumateng Gusti, kadosipun nggih mboten dipun mirengaken. Gusti Allah kados saestu tebih saking gesang kita. Nanging sumangga kita sami enget, bilih, ”Kawusanane samubarang kabeh wis cedhak. Marga saka iku dibisa ngemudheni dhirimu sarta disareh, supaya kowe padha bisa ndedonga.” (1 Petrus 4:7). Artosipun, ing satengah-tengahing Sabtu Sunyi punika, kita dipun ajak kangge nata malih gesang kita. Sampun ngantos wekdhal kita punika, dipun kuwaosi malih kaliyan hawa nepsu ingkang tanpa guna. Sampun ngantos karibedan gesang ingkang kita alami, ndadosaken kita giris lan semplah. Nanging mangga kita sami ngagem wekdal gesang ingkang sekedhap punika, kagem gesang ing salebeting pandonga, sami ngemudheni dhiri sarta disareh. Sumangga kita sami pitados, bilih ing salebeting raos sedih lan karibedan gesang ingkang kita alami, Gusti Allah nggih makarya paring pitulungan dhateng kita. Panjenenganipun sanes Gusti Allah ingkang tebih, nanging Gusti Allah ingkang celak, ingkang saestu sumerep sadaya kahanan gesang kita. Mangga sami ngrantos fajar Paskah ingkang badhe rawuh. Amargi namung ing salebeting Sang Kristus, wonten kawilujengan, margining karahayon, lan gesang ingkang enggal. Amin. [YAH].

 

Pamuji: KPJ. 434  Gusti Mugi Sampun Ngantos Nilar

Renungan Harian

Renungan Harian Anak