Bangkit, Wartakan Hidup Baru! Khotbah Minggu Paskah 5 April 2026

23 March 2026

Minggu Paskah 1
Stola Putih

Bacaan 1: Yeremia 31 : 1 – 6
Mazmur: Mazmur 118 : 1 – 2, 14 – 24
Bacaan 2: Kolose 3 : 1 – 4
Bacaan 3: Matius 28 : 1 – 10

Tema Liturgis: Bangkit dan Menata Ulang Kehidupan
Tema Khotbah: Bangkit, Wartakan Hidup Baru!

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yeremia 31 : 1 – 6
Di sini Allah meyakinkan umat-Nya melalui nabi Yeremia. Allah hendak membawa mereka kembali ke dalam hubungan perjanjian dengan diri-Nya, yang tampak terputus karena mereka sedang dalam pembuangan di tanah Babel, jauh dari tanah perjanjian Kanaan. Allah sedang mempersiapkan rencana pembebasan untuk mereka. Mereka akan dibawa keluar dari Babel, seperti yang sudah diperbuat-Nya untuk nenek moyang mereka ketika Ia menuntun mereka keluar dari Mesir (Ay. 2). Allah menegasakan bahwa jaminan kasih-Nya tetap: Aku mengasihi engkau, dengan kasih yang kekal.” Kasih yang tidak akan pernah gagal dan tidak pernah usang. Sebab itu, Allah ingin melanjutkan kasih setia-Nya kepada Umat Israel, seperti kepada nenek moyang mereka dahulu (Ay. 3).

Tidak hanya membawa keluar dari Babel, Allah juga berjanji akan kembali membentuk Israel menjadi sebuah bangsa yang damai sejahtera dan memberi mereka tempat kediaman yang sangat menyenangkan di negeri mereka sendiri (Ay. 4-5). Allah sendiri yang turun tangan membangun mereka. Proses pembangunan bangsa Israel akan disertai dengan kemeriahan dan sukacita, bagai anak dara yang menari dengan rebana di tangan. Akan ada damai sejahtera dan keamanan yang begitu sempurna sehingga orang akan mengerahkan segala upaya untuk membangun tanah mereka. Para penanam akan menanam, tanpa takut tentara akan datang memakan buah-buah yang mereka tanam atau memetiknya. Tetapi mereka sendiri akan memetik hasilnya dengan bebas, sebagai hal yang boleh dinikmati siapa saja.

Mereka akan mendapat kebebasan dan kesempatan untuk menyembah Allah dalam upacara-upacara ibadah yang ditetapkan-Nya sendiri dan akan diundang serta dicondongkan hatinya untuk melakukannya (Ay. 6). Bahkan para penjaga Efraim menjadi giat untuk memajukan ibadah kepada Allah di Yerusalem, padahal sebelumnya penjaga Efraim merupakan permusuhan di rumah Allahnya (Hos. 9:8). Perhatikanlah, Allah dapat membuat orang-orang yang sudah memusuhi agama dan ibadah yang benar kepada-Nya menjadi pendorong dan pemimpin untuk memajukan agama dan peribadahan.

Kolose 3 : 1 – 4
Setelah menerima anugerah keselamatan dalam kebangkitan Kristus, setiap orang percaya di Kolose perlu mengevaluasi sikap hidup mereka dengan standar baru. Bukan dengan tatanan peratuan yang dibuat manusia duniawi yang usang, melainkan dengan mencari dan memikirkan hal-hal yang di atas (Ay. 1-2). Sebab di atas sana, di sebelah kanan Allah, Kristus yang adalah teladan keselamatan dan role model kehidupan, duduk bertahta.

Maka Rasul Paulus ingin menekankan betapa pentingnya umat percaya untuk berjalan semakin dekat lagi dengan Allah di dalam ketaatan terhadap Injil. Semua umat harus mencari perkenanan dari Allah yang ada di surga, memelihara persekutuan dengan dunia atas melalui iman, pengharapan, dan kasih kudus. Orang percaya harus berusaha dan melindungi apa yang telah dibeli-Nya dengan harga yang sangat mahal, dan yang begitu diperhatikan oleh-Nya. Orang percaya harus berusaha semaksimal mungkin untuk menjalani hidup sedemikian rupa sebagaimana Kristus dahulu hidup di dunia ini, dan sekarang hidup di surga. Maka apabila Kristus menyatakan diri kelak, setiap orang percaya akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan-Nya (Ay. 4).

Matius 28 : 1 – 10
Sebagai saksi mata pertama kebangkitan Yesus, kesaksian Maria Magdalena dan Maria yang lain menjadi sangat penting. Apa yang mereka lihat, dengar, dan alami menjadi bukti konkret iman akan kebangkitan Yesus Kristus (Ay. 1-3). Meski kehadiran malaikat itu sangat menggentarkan, namun berita yang disampaikan sangat menguatkan hati: mewartakan kebangkitan Kristus dan menceritakan segala sesuatu yang mereka lihat di kubur Yesus kepada para murid lainnya (Ay. 5-7). Perhatikan, mereka terpilih menjadi saksi di saat tradisi Yahudi tidak memerbolehkan seorang perempuan Yahudi menjadi saksi.

Meski demikian, dengan tanpa keraguan, mereka segera pergi dan melakukan perintah malaikat Tuhan (Ay. 8). Perhatikan bagaimana Matius menunjukkan ketergesaan mereka dengan memakai kata: “segera pergi, dengan takut, sukacita besar, berlari cepat-cepat.” Tetapi langkah mereka terhenti saat Tuhan Yesus hadir secara tiba-tiba di hadapan mereka. Secara spontan kedua wanita itu sujud menyembah-Nya (Ay. 9). Pada momen itu, Tuhan Yesus meneguhkan iman dan ketaatan mereka untuk memberitakan kebangkitan-Nya (Ay. 10). Di sinilah mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus yang bangkit secara pribadi. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus telah mengubah pola pikir, semangat, iman, dan kehidupan kedua wanita itu. Mereka menjadi pewarta Injil Kristus yang gigih dan setia.

Benang Merah Tiga Bacaan
Tuhan tidak pernah berhenti mengupayakan umat kepunyaan-Nya memiliki semangat baru dan mampu bangkit menjalani kehidupan baru. Coba perhatikan, Tuhan menekankan kembali perjanjian-Nya dengan umat Israel melalui nabi Yeremia dan terjadilah pemulihan. Lalu peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus dan perjumpaan dengan-Nya, membuat Maria Magdalena dan Maria yang lain bersemangat mewartakan Injil. Kemudian orang percaya di Kolose dinasihati oleh Paulus untuk selalu mengarahkan hidup mereka kepada Kristus yang telah menebus mereka dari kematian dosa.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Seorang anak berjalan perlahan, memperhatikan setiap semak, tumpukan kayu dan tempat-tempat yang mungkin ada telurnya. Sesekali ia melirik ketika mendengar sorakan teman-temanya yang berhasil menemukan telur. Wajahnya muram, namun terus mencari seteliti mungkin. Kini dia membolak-balikan rimbunan semak bunga melati. Tiba-tiba ia menemukan sebutir telur, raut mukanya berubah merona, senang, dan penuh semangat. Dengan segera telur itu digenggamnya, diangkat dan berteriak, “Ketemu!”

Mencari telur adalah hal yang sering kita jumpai dalam banyak tradisi perayaan Paskah. Tetapi tahukan saudara, bahwa Alkitab tidak pernah mengaitkan peristiwa Paskah dengan telur? Lalu bagaimana bisa cerita Telur menjadi ikon Perayaan Paskah?

Hal ini tidak bisa lepas dari tradisi kuno tentang telur, jauh sebelum Yesus mati di atas kayu Salib. Di berbagai budaya kuno, termasuk Mesir, Persia, dan Romawi, telur dianggap sebagai lambang kesuburan dan kehidupan baru. Orang Mesir dan Persia kuno punya suatu kebiasaan menghias telur lalu menukarkannya dengan temannya. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh orang Kristen di Mesopotamia (daerah Irak-Iran sekarang), yaitu dengan memberikan telur-telur kepada orang lain pada perayaan Paskah untuk mengingatkan mereka akan kebangkitan Yesus Kristus. Lalu bangsa Mesir menguburkan telur di makam mereka. Bangsa Yunani menempatkan telur di atas makam. Sementara itu Bangsa Romawi punya pepatah, “Semua kehidupan berasal dari telur.” Dalam sebagian besar kebudayaan dan masyarakat, telur merupakan perlambang kelahiran dan kebangkitan. Itulah sebabnya ketika gereja mulai merayakan kebangkitan Tuhan Yesus pada abad ke-2, telur menjadi simbol yang populer. Pada masa itu, orang-orang kaya menghias telur dengan daun emas, sementara orang yang kurang mampu merebus telur dengan bunga atau daun tertentu sehingga kulit telurnya menjadi berwarna. Berjalan seiring waktu tradisi ini terus berkembang dan simbol telur ini dipakai untuk menggambarkan kebangkitan Kristus. Karena itu, telur menjadi bagian dari tradisi Paskah yang mengandung makna spiritual tentang kebangkitan dan harapan baru.

Isi
Allah tidak pernah berhenti mengupayakan umat kepunyaan-Nya untuk memiliki semangat dan kemudian bangkit menjalani kehidupan baru. Coba perhatikan, Allah menekankan kembali perjanjian-Nya melalui nabi Yeremia: Aku mengasihi engkau, dengan kasih yang kekal.” Kasih yang tidak akan pernah gagal dan tidak pernah usang. Sebab itu, Allah ingin melanjutkan kasih setia-Nya kepada Umat Israel, seperti kepada nenek moyang mereka dahulu (Ay. 3). Tidak hanya membawa mereka keluar dari Babel, Ia juga berjanji akan kembali membentuk Israel menjadi sebuah bangsa yang damai sejahtera, dan memberi mereka tempat kediaman yang sangat menyenangkan di negeri mereka sendiri (Ay. 4-5). Allah sendiri yang turun tangan membangun mereka. Para penanam akan menanam, tanpa rasa takut bahwa tentara akan datang memakan buah-buah yang mereka tanam, atau memetiknya. Tetapi mereka sendiri akan memetik hasilnya dengan bebas, sebagai hal yang boleh dinikmati siapa saja. Mereka akan mendapat kebebasan dan kesempatan untuk menyembah Allah dalam upacara-upacara ibadah yang ditetapkan-Nya sendiri, dan diundang serta dicondongkan hatinya untuk melakukannya (Ay. 6). Allah dapat membuat orang-orang yang sudah memusuhi agama dan ibadah yang benar kepada-Nya menjadi pendorong dan pemimpin untuk memajukan agama dan peribadahan.

Kebangkitan Tuhan Yesus dan perjumpaan dengan-Nya membuat Maria Magdalena dan Maria yang lain bersemangat mewartakan Injil. Sebagai saksi mata pertama kebangkitan Tuhan Yesus, kesaksian keduanya merupakan hal yang penting. Apa yang mereka lihat, dengar, dan alami menjadi bukti konkret iman akan kebangkitan Tuhan Yesus (Ay. 1-3). Meski kehadiran malaikat itu sangat menggentarkan, namun berita yang disampaikan sangat menguatkan hati: mewartakan kebangkitan Kristus dan menceritakan segala sesuatu yang mereka lihat di kubur Yesus kepada para murid lainnya (Ay. 5-7). Dengan tanpa keraguan, mereka segera pergi dan melakukan perintah malaikat Tuhan (Ay. 8). Matius menunjukkan ketergesaan mereka dengan memakai kata: “segera pergi, dengan takut, sukacita besar, berlari cepat-cepat.” Tetapi langkah mereka terhenti saat Tuhan Yesus hadir secara tiba-tiba di hadapan mereka. Di sinilah mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus yang bangkit secara pribadi.

Perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus telah mengubah pola pikir, semangat, iman, dan kehidupan kedua wanita itu. Mereka menjadi pewarta Injil Kristus yang gigih dan setia. Tuhan Yesus sungguh hidup dan itu membawa perubahan. Paskah mengubah para perempuan yang mulanya tidak punya hak suara itu menjadi pewarta. Paskah menjadikan para perempuan itu rasul pertama kebangkitan Kristus. Hidup mereka sesudah itu tidak sama dengan hidup sebelumnya. Ada perubahan, Tuhan tidak mau terus dijauhkan dari kehidupan orang-orang percaya.

Orang percaya di Kolose dinasihati oleh Paulus untuk mengarahkan hidup mereka kepada Kristus yang telah mengubah hidup mereka dan menebus mereka dari kematian dosa. Rasul Paulus ingin menekankan betapa pentingnya umat percaya berjalan mendekat kepada Allah di dalam ketaatan terhadap Injil. Semua umat harus mencari perkenanan dari Allah yang ada di surga – melihat ke atas, memelihara persekutuan dengan dunia atas melalui iman, pengharapan, dan kasih kudus. Orang percaya harus berusaha melindungi apa yang telah dibeli Allah dengan harga yang mahal, dan begitu diperhatikan oleh-Nya. Orang percaya harus berusaha semaksimal mungkin menjalani hidup sedemikian rupa sebagaimana Kristus dahulu hidup di dunia ini, dan sekarang hidup di surga. Maka apabila Kristus menyatakan diri kelak, setiap orang percaya akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan-Nya (Ay. 4).

Penutup
Paskah bukan hanya soal kebangkitan Kristus, melainkan pewartaan kabar sukacita Kerajaan Allah yang membawa perubahan dan pegharapan. Warta Kerajaan Allah selalu berimplikasi dengan pertobatan dan perubahan. Iman dipertanggungjawabkan dengan kesediaan mengubah diri, mengubah pola laku hidup dan kerangka berpikir. Mengimani Paskah berarti membiarkan diri kita diubahkan dan menjadi pribadi yang membawa perubahan. Dengan demikian, perlahan orang percaya turut mengubah masyarakat. Mari kita terlibat dalam pewartaan kabar sukacita keselamatan.

Segera setelah menemukan telur, anak itu berlari kepada orang tuanya sembari menunjukkan telur yang ia dapatkan. Sukacita tak hanya dirasakan anak itu, melainkan juga pada wajah orang tua dan teman-temannya. Mari berproses! Mari berubah dalam Kristus! Mari membawa berita tentang kebangkitan, semangat, dan harapan hidup baru. Selamat Paskah. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin. [jarwi].

 

Pujian: KJ. 391  Puji Tuhan, Haleluya

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten salah satunggal anak mlampah alon-alon, niti priksa saben panggenan ingkang saged dados papan dipun singitaken tigan. Kala-kala anak punika nglirik saben mireng kanca sanesipun sorak awit kasil manggihaken tigan. Rainipun prasasat kecut, nanging nglajengaken pados tigan kanthi teliti. Si anak punika lajeng ngolak-alik tetanduran kembang Melati. Sakala si anak manggihaken sawijinpun tigan, lajeng wonten ewah-ewahan, anak kalawau katingal bingah lan kebak ing semangat. Tigan kalawau dipun gegem, dipun angkat lajeng sesorah: “Ketemu!”

Madosi tigan dados prekawis ingkang asring kita panggihi wonten ing tradisi pahargyan Paskah. Nanging, punapa kita sami mangertos, bilih Kitab Suci mboten nate nyambungaken prastawa Paskah kaliyan tigan? Lajeng pripun mula bukanipun Tigan dados ikon Pahargyan Paskah?

Prekawis punika mboten saged uwal saking tradisi kuno bab tigan, tebih saderengipun Gusti Yesus sinalib. Ing saperangan kabudayan kuna, kadosdene Mesir, Persia, lan Romawi, tigan kaanggep minangka lambang kasuburan lan gesang enggal. Tiyang Mesir lan Persia Kuno gadhah tradisi ndandani tigan ingkang lajeng dipun ijolaken kaliyan kancanipun. Tradisi punika ugi dipun lampahi dening tiyang Kristen Mesopotamia (samangke Irak lan Iran), inggih punika andum tigan dhateng tiyang sanes wonten satengahipun pahargyan Paskah murih dados pepenget bab wungunipun Gusti Yesus. Lajeng bangsa Mesir ngubur tigan ing pasarean. Bangsa Yunani mapanaken tigan ing sakinggilipun pasarean. Ing sisih sanes, Bangsa Romawi gadhah piwucal, “Kaben uri asale saka endhog.” Ing saperengan ageng kabudayan, tigan dados pralambang lair lan gumregah tangi. Mila nalika greja miwiti mengeti dinten wungunipun Gusti Yesus ing abad kaping kalih, tigan dados simbol ingkang populer. Rikala semanten, kathah tiyang sugih ingkang ndandani tiganipun mawi godhong saking emas, lajeng tiyang sanesipun nggodhog tigan mawi kembang utawi godhong khusus mila kulit tiganipun saged wonten warnanipun. Ing mobah mosiking zaman, tradisi punika terus ngrembaka lan simbol tigan dados gambaran wungunipun Sang Kristus. Pramila tigan dados bagian tradisi Paskah ingkang ngemu teges kasukman bab wungu lan gesang enggal.

Isi
Sang Yehuwah mboten badhe mandheg ngupadi umat kagungan-Ipun murih gadhah semangat lan saged enggal tangi gumregah nglamaphi gesang enggal. Mangga sami dipun simak, Sang Yehuwah mangsuli janji prasetya-Nipun lantaran nabi Yeremia: ”Ingsun ngasihi sira klawan katresnan kang langgeng.” Katresnan ingkang mboten nate gagal lan tansah lestari. Mila saking mekaten Sang Yehuwah tetep ngersakaken nglajengaken sih katresnanipun tumrap Umat Israel, kadosdene dhateng para leluhuripun (Ay. 3) Mboten namung ngirid medal saking tanah Babel, Sang Yehuwah ugi paring prasetya badhe mangsulaken kawontenan Israel dados bangsa ingkang kebak ing katentreman lan badhe mapanaken ing papan ingkang ngremenaken ing negarinipun piyambak. (Ay. 4-5). Sang Yehuwah piyambak ingkang badhe mbangun umat Israel. Ingkang tani badhe tandur tanpa ajrih bilih tentara badhe ngrampas woh-wohan ingkang katandur lan kapethik. Nanging sadaya sami ngundhuh kanthi merdika, minangka prekawis ingkang saged dipun raosaken kanthi sekeca dening sinten kemawon. Bangsa Israel sami bebas lan pinaringan wekdal manembah dhumateng Sang Yehuwah mawi upacara-upacara pangibadah ingkang sampun dipun tetepaken dening Sang Yehuwah piyambak, lan sami dipun tuntun manahipun supados purun ngabekti (Ay. 6). Sang Yehuwah saged ndamel tiyang-tiyang ingkang mengsahi agami lan pangabekti ingkang leres ing ngarsanipun Sang Yehuwah, dados panyurung lan mimpin murih majunipun agami lan pangabekti.

Wungunipun Gusti Yesus lan pepanggihanipun ndadosaken Maryam Magdalena lan Maryam sanesipun gadhah semangat martosaken Injil. Minangka saksi wiwitan wungunipun Gusti Yesus, paseksi kekalihipun dados paseksi ingkang penting. Punapa kemawon ingkang dipun tingali, dipun pirengaken, lan dipun alami kekalihipun dados bukti nyata iman bab wungunipun Gusti Yesus (Ay. 1-3). Sinaosa rawuhipun malaekat dados girising manah, nanging pawarta ingkang dipun paringaken saestu ngiyataken manah: martosaken wungunipun Sang Kristus lan nyariyosaken saben prekawis ingkang samun dipun tingali ing pasareanipun Gusti Yesus tumrap para sakabat (Ay. 5-7). Tanpa sumelang, kekalihipun enggal bidhal lan nindakaken prentah malaekatipun Gusti (Ay. 8). Injil Mateus nedhahaken anggenipun enggal-enggal badhe manggihi para sakabat: “Wong-wong mau banjur enggal-enggal mangkat saka ing pasarean kanthi rasa wedi lan bungah banget, sarta enggal-enggal padha mlaku rerikatan …” Nanging lampahipun kekalihipun kaendeg nalika Gusti Yesus rawuh dumadakan ing ngajengipun. Ing ngriki Para Maryam pepanggihan piyambak kaliyan Gusti Yesus ingkang sampu wungu.

Pepanggihan piyambak kaliyan Gusti Yesus ngewahi pola pikir, semangat, iman, lan pigesangan kekalihipun. Sadaya sami dados juru pawartos Injil Kristus ingkang setya tuhu. Gusti Yesus saestu gesang lan saestu ngasta ewah-ewahan. Paskah ngewahi pigesangan para tiyang wadon ingkang swaunipun mboten kaetung swantenipun dados juru pawartos. Paskah ndadosakane kekalihpun rasul wiwitan ing bab wungunipun Gusti Yesus. Gesangipun tiyang kalih wau sampun benten saking gesang saderengipun. Wonten ewah-ewahan, Gusti Yesus karsa celak saking pigesanganipun tiyang-tiyang pitados.

Tiyang pitados ing Kolose dipun engetaken dening Rasul Paul murih tansah ngeneraken gesangipun ing Sang Kristus ingkang sampun ngewahi gesang para umat lan nebus sadaya saking pangrehing pati ing dosa. Rasul Paul saestu nengenaken bab pentingipun umat pitados murih saged mlampah rumaket ing Sang Yehuwah. Sadaya umat kedah pados karsanipun Sang Yehuwah ingkang wonten ing swarga – sami ningali minggah, nguri-uri patunggilan kanthi iman, pangajeng-ajeng, lan sih katresnan. Tiyang pitados kedah ngupadi lan njagi punapa ingkang sampun dipun tumbas dening Sang Yehuwah kanthi regi ingkang awis, lan ingkang saestu dipun awat-awati ing Panjenenganipun. Tiyang pitados kedah ngupaya kanthi temen nglampahi pigesangan ingkang sampun dipun tuladhakaken dening Sang Kristus piyambak. Pramila menawi Sang Kristus ngatingal benjing, saben tiyang ingkang pitados sami saged ndherek ngaton kalawan Panjenenganipun wonten ing kamulyan (Ay. 4).

Panutup
Dinten Pasakh mboten namung bab wungunipun Sang Kristus, nanging ugi bab pawartos Kratoning Sang Yehuwah ingkang ngastha ewah-ewahan lan pangajeng-ajeng. Pawartos bab Kratoning Sang Yehuwah saestu gegayutan kaliyan pamratobat lan ewah-ewahan. Iman kedhah dipun wujudaken ing krenteg purun ngewahi dhiri, ngewahi pola laku lan rancangan pikir. Ngimani Paskah tegesipun ugi purun ngewahi dhiri lan dados manungsa ingkang ngastha ewah-ewahan. Kanthi mekaten, sinaosa alon-alon, nanging saged ngewahi kahanan gesang bebrayatan ageng. Sumangga kita sami ndherek ing pawartosing kabingahan kawilujengan.

Sasampunipun manggihaken tigan, si anak punika mlajeng dhateng tiyang sepuhipun ngaturi pirsa bab tigan ingkang dipun panggihaken. Kabingahan mboten namung dipun raosaken dening si anak, nanging ugi wonten ing pasuryanipun para tiyang sepuhipun lan para kanca. Sumangga kita nglampahi gesang kanthi temen! Sumangga sami karubah ing Sang Kristus! Sumanga sami martosaken pawartos ingkang nggugah semangat lan pangajeng-ajeng ing gesang enggal.  Sugeng Paskah. Gusti Yesus mberkahi kita. Amin. [jarwi].

 

Pamuji: KPJ. 263  Lah Wonten Swara Gumiyak

Renungan Harian

Renungan Harian Anak