Minggu Biasa | Penutupan Bulan Pembangunan
Stola Hijau
Bacaan 1: Amsal 25 : 6 – 7
Mazmur: Mazmur 112
Bacaan 2: Ibrani 13 : 1 – 8, 15 – 16
Bacaan 3: Lukas 14 : 1, 7 – 14
Tema Liturgis: Membangun Budaya Kritis Apresiatif
Tema Khotbah: Membangun Sikap Rendah Hati dalam Kehidupan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Amsal 25 : 6 – 7
Kitab Amsal adalah kitab yang berisikan nasihat-nasihat hikmat untuk hidup bijaksana dan benar. Dalam bahasa Ibrani, Amsal berasal dari kata “Mashal” yang berarti “perkataan bijak”, “perumpamaan”, atau “peribahasa berhikmat.” Sebagaimana Daud menjadi sumber tradisi dalam penulisan kitab Mazmur, Salomo dilihat sebagai penulis kitab Amsal ini, ia menjadi sumber tradisi hikmat (lih. Amsal 1:1; 10:1, 25:1). Menurut 1 Raja-raja 4:32, Salomo telah menggubah 3.000 Amsal dan 1.005 kidung nyanyian semasa hidupnya. Penulis lain yang disebutkan dalam kitab Amsal ialah Agur (Amsal 30:1-33) dan Raja Lemuel (Ams. 31:1-9). Kitab ini disusun pada masa pemerintahan Raja Hizkia (sekitar 700 SM) dan ada keterlibatan para pegawai Hizkia dalam menyusun amsal-amsal Salomo ini (Amsal 25:1 – 29:27).
Bagian bacaan kita, Amsal 25:6-7 merupakan tulisan Amsal Salomo yang dikumpulkan oleh para pegawai Hizkia. Isi pasal 25 ini mengenai peringatan, dan pengajaran, serta pandangan terhadap raja. Tuhan Allah menghendaki manusia mempunyai relasi yang baik dengan-Nya, apa pun jabatannya, sekalipun ia seorang raja atau penguasa (Ay. 2-3). Jika hubungan para raja dengan Tuhan baik, maka raja itu akan dapat menjalankan pemerintahannya dengan baik berdasarkan keadilan, kebenaran, dan kemurahan (Ay. 4-5). Seorang raja seharusnya menyadari bahwa jabatannya berasal dari Tuhan. Semua yang ia miliki merupakan kepercayaan yang Tuhan berikan kepadanya untuk dijaga dan dipelihara, bukan sebuah legalitas untuk berbuat sewenang-wenang. Demikian juga rakyat harus menjaga sikap mereka sewaktu berhadapan dengan raja (Ay. 6-7). Jika rakyat baik, maka ia akan mendapatkan tempat terhormat. Sebaliknya, jika rakyat bersikap tidak baik tentu ia tidak akan dihargai. Ia harus bersikap baik kepada sesama, dan dengan siapa pun ia berhadapan, agar ia mendapat berkat Tuhan (Ay. 9-10). Sikap ini ditunjukkan dalam berbagai aspek, baik melalui perkataan maupun tindakan (Ay. 11). Dengan demikian ia akan dapat dipercaya oleh orang lain.
Seorang raja membutuhkan orang yang dapat ia percaya. Seorang raja akan menyaring dari orang-orang di sekitarnya (Ay. 4-5). Ia tidak membutuhkan orang yang sombong (Ay. 6). Raja hanya membutuhkan orang yang rendah hati, orang yang tidak bermuka dua. Karena itu, ia akan memberikan tempat kehormatan bagi orang-orang yang rendah hati.
Ibrani 13 : 1 – 8, 15 – 16
Surat Ibrani ini ditujukan kepada orang-orang Kristen Yahudi. Para penerima surat Ibrani ini kemungkinan adalah kelompok-kelompok persekutuan rumah yang ada di kota Roma. Beberapa di antara mereka mulai menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan iman mereka kepada Yesus dan kembali kepada kepercayaan Yahudi sebelumnya. Hal ini terjadi karena mereka dianiaya dan merasa putus asa. Penulis surat Ibrani ini tidak disebutkan namanya, baik dalam judul surat maupun sepanjang surat, sekalipun ia cukup dikenal oleh para pembacanya (Ibr. 13:18-24). Terlepas dari siapa penulis surat ini, diyakini bahwa penulis Ibrani ini menuliskan suratnya dalam pimpinan Roh Kudus dan hikmat Tuhan. Tujuan surat Ibrani ini ditulis adalah untuk menguatkan iman orang Kristen Yahudi saat itu, agar mereka teguh pada pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Sang Juru Selamat dunia. Penulis menjelaskan kepada mereka tentang karya penebusan Allah di dalam Yesus Kristus. Ia datang ke dunia untuk mendamaikan umat dengan Allah. Tujuan kedua agar orang Kristen Yahudi waktu itu terus berjuang menuju kedewasaan rohani dan tidak kembali kepada kehidupan mereka yang lama, kehidupan di bawah hukuman, dengan meninggalkan kepercayaan mereka kepada Yesus Kristus.
Secara khusus pada bagian bacaan kita, Ibrani 13:1-8, 15-16 berisikan tentang nasihat-nasihat praktis agar para pembacanya dapat menyatakan kesaksian iman mereka kepada orang banyak. Adanya tekanan dan penganiayaan dari orang-orang Yahudi yang membenci kekristenan tidak boleh menjadi alasan bagi mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri. Justru mereka harus semakin meneguhkan kasih persaudaraan di antara mereka supaya mereka dapat saling menguatkan satu dengan yang lain (Ay. 1). Wujud nyata kasih persaudaraan itu adalah kerelaan memberikan tumpangan kepada sesama umat percaya (Ay. 2). Kewajiban sesama umat Tuhan untuk menampung mereka. Mereka juga diingatkan akan saudara-saudara mereka yang mendapatkan hukuman atau terpenjara. Kasih sejati akan memampukan mereka untuk menolong saudara mereka yang terpenjara (Ay. 3). Kehidupan mereka haruslah kudus agar para musuh tidak dapat menfitnah mereka. Demikian juga mereka harus menjaga kekudusan rumah tangga mereka dan tidak membiarkan masalah keuangan menghancurkan kehidupan keluarga mereka (Ay. 4-5). Mereka harus belajar mencukupkan diri mereka dan tidak menjadi hamba uang. Sebab uang bukanlah tujuan hidup satu-satunya yang dapat menyelesaikan persoalan. Kata cukup juga berarti tidak serakah, tidak mengejar kekayaan hanya demi kepuasan diri. Setiap umat harus percaya akan pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya, sebab bersama Tuhan, umat tidak akan kekurangan. Tuhan sendiri yang akan menanggung dan menjamin hidup mereka. Karena Kristus sudah menebus hidup mereka, Ia yang akan memelihara kehidupan mereka (Ay. 5-6).
Lukas 14 : 1, 7 – 14
Lukas 14 merupakan narasi tentang pelayanan Yesus selama perjalanan terakhir-Nya menuju Yerusalem. Secara khusus bagian Lukas 11:14 – 14: 35 berisikan peringatan Yesus kepada orang-orang Farisi dan para pengikut-Nya. Kisah diawali dengan Yesus yang menyembuhkan orang lumpuh pada hari Sabat (Ay. 1-6). Dilanjutkan dengan pengajaran Yesus tentang kerendahan hati (Ay. 7). Dalam perumpamaan pertama, kisah tentang tamu undangan dalam pesta perkawinan (Ay. 7-11). Pada sebuah pesta, biasanya tempat duduk diatur berdasarkan status dan relasi antara tamu dengan tuan rumah. Semakin tinggi status tamu atau semakin dekat relasinya dengan tuan rumah, maka ia akan duduk di tempat terdepan. Itulah sebabnya, banyak orang yang memilih tempat kehormatan pada pesta perkawinan yang diadakan oleh seorang Farisi.
Melalui kisah orang yang mengejar kursi kehormatan di pesta perkawinan, Yesus mengajarkan bahwa orang yang gila hormat bisa dipermalukan karena hal itu. Ia memperingatkan bahwa penghargaan bukan merupakan ambisi, tetapi merupakan anugerah. Karena itu, jangan pernah merasa layak untuk mendapatkan tempat kehormatan atau memburu penghargaan demi harga diri atau untuk menaikkan status sosial (Ay. 8). Bisa jadi hal itu akan mempermalukan diri sendiri, terlebih bila ia berhadapan dengan orang yang memang benar-benar pantas mendapatkannya (Ay. 9). Kalau memang layak untuk memperoleh penghargaan, maka ia akan mendapatkannya (Ay. 10). Maka dalam hal ini perlu ada sikap rendah hati. Rendah hati berarti mengenali diri sendiri dan posisi secara tepat, baik di mata Allah maupun orang lain. Rendah hati bukan karena kurang penghargaan terhadap diri sendiri, tetapi justru karena tahu bagaimana harus menempatkan diri.
Lebih lanjut, dalam perikop berikutnya mengisahkan Yesus yang menegur tuan rumah (Ay. 12-14). Bukan maksud Yesus untuk mengatakan bahwa mengundang kerabat merupakan kesalahan. Yesus ingin mengajarkan hendaknya orang memberi tanpa pamrih, tanpa keinginan untuk mendapat balasan. Pemberian dengan pamrih tentu tidak bisa disebut kasih. Mengundang orang dekat, saudara, kerabat memang menyenangkan dan menguntungkan. Tetapi disini, Yesus mengatakan kepada tuan rumah itu, “Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh, dan orang-orang buta.” (Ay. 13). Mereka yang tidak bisa membalas pemberian si tuan rumah itu, merekalah yang layak menerima belas kasih (Ay. 13-14). Yesus mengajarkan hendaknya kita menunjukkan sikap tidak membeda-bedakan kelas atau status, namun menunjukkan sikap rendah hati dan ramah tamah. Terhadap setiap orang yang bersikap rendah hati dan ramah terhadap semua orang, Yesus menyebut mereka sebagai orang yang berbahagia. Mereka memang tidak mendapatkan balasan atas tindakan mereka tetapi Tuhan Allah sendiri yang akan membalasnya. Ada berkat bagi mereka yang rendah hati dan bersikap ramah terhadap mereka yang lemah. (Ay. 14).
Benang Merah Tiga Bacaan
Benang merah yang dapat kita ambil dari ketiga bacaan kita adalah kerendahan hati dalam kehidupan sehari-hari. Bacaan pertama menegaskan bahwa seorang raja atau pemimpin haruslah rendah hati. Ia menyadari bahwa jabatan dan kedudukannya adalah anugerah Tuhan semata bukan karena kemampuannya pribadi. Demikian sebagai rakyat juga harus bersikap rendah hati dan baik di hadapan Sang Raja. Pada bacaan kedua penulis Ibrani menasihatkan agar orang Kristen Yahudi yang sedang dalam penganiayaan saat itu tetap teguh dalam iman kepada Yesus. Mereka harus tetap rendah hati dan percaya bahwa Tuhan Allah pasti menolong mereka. Sedangkan pada bacaan ketiga, Yesus sendiri mengajarkan pentingnya kerendahan hati. Dengan kerendahan hati, seseorang akan mendapatkan penghormatan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
(Pelayan Firman mengawali khotbah dengan memutarkan video inspirasi tentang kesombongan vs kerendahan hati.
(Sejenak pelayan mengajak warga jemaat melihat hidup mereka, merefleksikan kata-kata inspirasi dalam video tersebut)
Dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak jarang kita melihat ada orang-orang sombong yang memamerkan harta kekayaannya, jabatannya, kemampuannya, kepandaiannya, kecantikannya, ketampanannya, dll. Pada masa kini, sangat mudah kita menjumpai orang-orang seperti itu, baik secara langsung maupun melalui tayangan yang ada di media sosial. Hal semacam ini menyebabkan kebencian atau rasa iri hati pada orang lain yang melihat mereka. Bukan hanya di lingkup masyarakat, di dalam gereja pun kita juga bisa menjumpai orang-orang yang sombong. Mungkin ada yang menyombongkan diri karena merasa telah banyak memberikan dukungan dan bantuan kepada gereja, setiap kali ada acara, ia menjadi donatur tetap bagi gereja itu. Mungkin ada yang menyombongkan karena keaktifan dan kesibukannya dalam melayani, mulai dari anak-anak sampai dengan adi yuswo. Mungkin ada juga yang merasa pendapatnya paling baik, paling benar, dan paling bijaksana pada saat rapat-rapat, dan masih banyak yang lain.
Kesombongan hanya akan membawa keruntuhan pada diri seseorang karena banyak orang tidak akan menyukai dirinya. Dia melakukan segala sesuatu, dengan tujuan untuk mendapatkan pujian, pengakuan, dan penghargaan dari orang lain. Disinilah kita harus waspada dan berhati-hati, jangan sampai kita terjebak pada kesombongan diri, melainkan kita harus rendah hati, menyadari bahwa semua yang kita miliki, kekayaan, kemampuan, jabatan semuanya adalah anugerah pemberian Tuhan yang dipercayakan kepada kita.
Isi
Firman Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk belajar rendah hati, baik dalam kehidupan bersama dalam keluarga, gereja, maupun di masyarakat. Pada bagian bacaan 1, penulis Amsal mengingatkan kita untuk selalu bersikap rendah hati. Penulis Amsal menggambarkan sikap rendah hati itu pada diri seorang Raja. Raja biasanya akan dipandang sebagai seorang yang penuh kuasa, kaya, memiliki kedudukan yang tinggi, dan dihormati. Disinilah penulis Amsal mengingatkan bahwa semua yang dimiliki oleh seorang raja, itu semua adalah anugerah Allah. Seorang raja adalah orang yang dipercaya untuk menjalankan tugas menata dan mengelola pemerintahan dengan baik. Karena itu, seorang raja juga harus memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan. Relasi yang dekat dengan Tuhan inilah yang akan menjadikannya mengerti kehendak Tuhan, sehingga pemerintahannya adalah pemerintahan yang berdasarkan keadilan, kebenaran, dan kemurahan hati. Ia menyadari bahwa jabatannya berasal dari Tuhan. Semua yang ia miliki merupakan kepercayaan yang Tuhan berikan kepadanya untuk dijaga dan dirawat, bukan sebuah legalitas untuk berbuat sewenang-wenang. Dalam hal ini seorang raja haruslah rendah hati.
Demikian juga rakyat harus menjaga sikap mereka sewaktu berhadapan dengan raja (Ay. 6-7). Jika rakyat baik, maka ia akan mendapatkan tempat terhormat. Sebaliknya, jika rakyat bersikap tidak baik tentu ia tidak akan dihargai. Ia harus bersikap baik kepada sesama, dan dengan siapa pun ia berhadapan, agar ia mendapat berkat Tuhan (Ay. 9-10). Sikap ini ditunjukkan dalam berbagai aspek, baik melalui perkataan maupun tindakan (Ay. 11). Dengan demikian ia akan dapat dipercaya oleh orang lain. Raja hanya membutuhkan orang yang rendah hati, orang yang tidak bermuka dua. Karena itu, ia akan memberikan tempat kehormatan bagi orang-orang seperti itu.
Pada bacaan kedua, penulis surat Ibrani memberikan penguatan kepada orang-orang Kristen Yahudi yang saat itu mengalami aniaya dan penderitaan karena iman percaya mereka kepada Yesus Kristus. Adanya tekanan dan penganiayaan kepada mereka tidak boleh menjadi alasan bagi mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri. Justru mereka harus semakin meneguhkan kasih persaudaraan di antara mereka supaya mereka saling menguatkan satu dengan yang lain (Ay. 1). Wujud nyata kasih persaudaraan itu adalah kerelaan memberikan tumpangan kepada sesama umat percaya (Ay. 2). Kewajiban sesama umat Tuhan untuk menampung mereka. Mereka juga diingatkan akan saudara-saudara mereka yang mendapatkan hukuman atau terpenjara. Kasih sejati akan memampukan mereka untuk menolong saudara mereka yang terpenjara (Ay. 3). Kehidupan mereka haruslah kudus agar orang yang membenci mereka tidak dapat menfitnah mereka. Demikian juga mereka harus menjaga kekudusan rumah tangga mereka dan tidak membiarkan masalah keuangan menghancurkan kehidupan keluarga mereka (Ay. 4-5). Mereka harus belajar mencukupkan diri dan tidak menjadi hamba uang. Sebab uang bukanlah tujuan hidup satu-satunya yang dapat menyelesaikan persoalan. Kata cukup berarti tidak serakah, tidak mengejar kekayaan hanya demi kepuasan diri. Setiap umat harus percaya akan pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya, sebab bersama Tuhan, umat tidak akan kekurangan. Tuhan sendiri yang akan menanggung dan menjamin hidup mereka. Karena Kristus sudah menebus hidup mereka, Ia yang akan memelihara kehidupan mereka (Ay. 5-6). Oleh karena itu, jemaat harus bersikap rendah hati, menyadari sepenuhnya bahwa mereka mampu bertahan dalam menghadapi penderitaan itu karena kekuatan dan kasih karunia Allah. Dalam keterbatasan dan ketertindasan mereka senantiasa berserah diri kepada Tuhan Allah, tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan mereka sendiri.
Sedangkan pada bacaan ketiga, dari Injil Lukas 14:1, 7-14, Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kepada para murid-Nya makna kerendahan hati melalui contoh pesta perkawinan. Pada sebuah pesta, biasanya tempat duduk diatur berdasarkan status dan relasi antara tamu dengan tuan rumah. Semakin tinggi status tamu atau semakin dekat relasinya dengan tuan rumah, maka ia akan duduk di tempat terdepan. Itulah sebabnya, banyak orang yang memilih tempat kehormatan pada pesta perkawinan yang diadakan oleh seorang Farisi.
Melalui kisah orang yang mengejar kursi kehormatan di pesta perkawinan, Yesus mengajarkan bahwa orang yang mencari kehormatan atau kedudukan, ia akan dipermalukan karena hal itu. Yesus memperingatkan bahwa penghargaan bukan merupakan ambisi, tetapi merupakan anugerah. Karena itu, jangan pernah merasa layak untuk mendapatkan tempat kehormatan atau memburu penghargaan demi harga diri atau untuk menaikkan status sosial (Ay. 8). Bisa jadi hal itu akan mempermalukan diri sendiri. Kalau memang layak untuk memperoleh penghargaan, maka ia akan mendapatkannya (Ay. 10). Maka dalam hal ini perlu ada sikap rendah hati. Rendah hati berarti mengenali diri sendiri dan posisi secara tepat, baik di mata Allah maupun orang lain. Rendah hati bukan karena kurang penghargaan terhadap diri sendiri, tetapi justru karena tahu bagaimana harus menempatkan diri.
Penutup
Mengakhir bulan pembangunan GKJW saat ini, mari kita melihat kembali perjalanan hidup kita sebagai GKJW. GKJW bukan sekadar institusi gereja saja, tetapi GKJW adalah diri kita. Baik dan buruknya GKJW tercermin dari sikap dan tindakan yang kita lakukan. Keberhasilan dan kemajuan GKJW dipengaruhi dari sumbangsih apa yang sudah kita berikan? Mungkin ada di antara kita yang berpikir, “Apa yang diberikan GKJW padaku? Apakah yang aku dapatkan jika aku memberikan Dana Persekutuan ke MA? Apakah yang MA GKJW telah lakukan untuk Jemaat?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut dan pola pikir tersebut memiliki dimensi transaksional, “Aku memberi, maka aku harus mendapatkan. Aku berkorban, maka aku harus mendapatkan keuntungan.” Yang tanpa kita sadari ada kesombongan pada diri kita, yang merasa sudah banyak memberi dan sudah berbuat banyak hal untuk tumbuh kembang GKJW, sehingga perlu ada imbal balik atas kebaikan yang sudah kita lakukan untuk GKJW.
Mengakhiri bulan pembangunan GKJW saat ini, mari kita mengingat kerendahan hati para pendahulu kita. Mari mengingat kerendahan hati Tuhan Yesus. Para pendahulu GKJW, mereka berjuang mewartakan Injil Tuhan dengan ketulusan dan pengorbanan. Mereka tidak hanya mempersembahkan uang, materi, tenaga, waktu, pikiran saja, mereka telah mempersembahkan hidup mereka bagi tumbuh kembangnya GKJW sebagai gereja Tuhan di bumi Jawa Timur. Tuhan Yesuslah yang menjadi teladan kita, Ia rela berkorban, dihina, disiksa dan mati disalibkan demi menebus dosa manusia. Karena itu, sadarilah bahwa kita melayani, kita berbuat baik, berlelah-lelah untuk GKJW bukan supaya kita mendapatkan sesuatu dari GKJW, tetapi kita tulus meneladani Tuhan. Semua kebaikan, jerih lelah kita untuk GKJW, semua yang kita lakukan untuk semata-mata karena kita telah mendapatkan keselamatan dan kasih karunia dari Tuhan Yesus. Kebaikan, dukungan, pelayanan yang kita lakukan adalah wujud syukur kita atas anugerah dan kasih karunia Tuhan pada kita.
Kini marilah kita menjadi GKJW yang rendah hati, GKJW yang tidak hanya berpikir untung rugi, namun GKJW yang senantiasa rela berkorban dan melayani dengan tulus. GKJW yang sungguh-sungguh menjadi berkat. Kira kita sebagai GKJW mampu melakukannya dengan sukacita dan rendah hati. Amin. [AR].
Pamuji: PKJ. 105 Gereja Bagai Bahtera
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
(Palados Sabda miwiti khotbahipun kanthi muter video inspirasi bab gumunggung vs andhap asor.
(Sawetawis palados ngajak warga pasamuwan sami ningali kawontenan gesangipun piyambak-piyambak, sami nggalih tumrap tetembungan saking video punika).
Salebeting gesang kita sadinten-dinten, asring kita ningali tiyang ingkang gumunggung, tiyang ingkang mameraken bandha kasugihanipun, jabatanipun, kasagedanipun, ayunipun, gantengipun, lsp. Ing mangsa sapunika, kita gampang manggihaken tiyang-tiyang kados punika, sae sacara langsung ugi lumantar media sosial. Bab ingkang kados punika ndadosaken tiyang sanes rumaos meri lan benci kaliyan tiyang ingkang gumunggung punika. Kawontenan tiyang gumunggung punika mboten namung wonten ing masyarakat nanging ugi wonten salebeting greja. Mbok menawi wonten ingkang ngegungaken dhiri awit piyambakipun sampun kathah bantu greja, saben-saben wonten acara ing greja, piyambakipun dados donatur. Mbok menawi wonten ingkang ngegungaken dhiri awit piyambakipun aktif ing maneka warni kegiatan greja wiwit anak-anak ngantos adi yuswa. Mbok menawi wonten ingkang rumaos bilih pemanggihipun ingkang paling sae, bener, lan wicaksana nalika rapat, lsp.
Sikep gumunggung punika saged ngrubuhaken kawontenan tiyang punika awit kathah tiyang ingkang mboten remen kaliyan piyambakipun. Piyambakipun nindakaken samukawis kanthi tujuan supados nampi pangalembana, nampi pangaken dan pakurmatan saking tiyang sanes. Saking ngriki kita kedah waspada lan ngati-ati, sampun ngantos kita kajebak ing sikep gumunggung punika. Kita kedah andhap asor, ngrumaosi bilih sedaya ingkang kita gadhahi punika sae kasugihan, jabatan, kapinteran, sedaya punika namung peparingipun Gusti ingkang kita tampi.
Isi
Sabdanipun Gusti ing dinten punika ngajak dhateng kita supados andhap asor, sae ing brayat, greja, ugi masyarakat. Ing waosan sepisan, juru tulis kitab Wulang Bebasan ngengetaken kita supados tansah andhap asor. Kagambaraken dening juru serat Wulang Bebasan mawi gambaran raja. Raja punika asring dipun pandeng minangka tiyang ingkang kagungan kalenggahan ingkang inggil lan kajen. Ing ngriki juru serat Wulang Bebasan ngengetaken bilih sedaya kagunganipun raja punika pinangkanipun saking Gusti Allah. Raja punika tiyang ingkang pinitados kangge nindakaken tugas nata lan nglola pamrinthan kanthi sae. Karana punika, raja punika kedah rumaket kaliyan Gusti Allah. Punika ingkang ndadosaken piyambakipun saged mangertos karsanipun Gusti Allah, saengga piyambakipun nindakaken ayahanipun kanthi dasar kaadilan, kayekten, lan kamirahan. Piyambakipun sadar bilih kalenggahanipun punika pinangkanipun saking Gusti Allah. Sedaya ingkang dipun gadhahi punika arupi kapracayan saking Gusti ingkang kedah dipun jagi lan rimati, sanes kuwaos kangge tumindak sawenang-wenang. Ing bab punika, raja kedah andhap asor.
Mekaten ugi kaliyan rakyat, rakyat punika kedah jagi sikepipun nalika ing ngarsanipun raja. Bilih rakyat punika tumindak sae, piyambakipun badhe kapapanaken ing papan ingkang kinurmatan. Kosokwangsulipun, bilih sikepipun rakyat punika mboten sae tamtu piyambakipun mboten badhe kajen. Piyambakipun kedah tumindak sae dhateng sesami lan sinten kemawon supados kaparingan berkah saking Gusti. Sikep punika kedah ketingal ing pangucap lan tumindak. Kanthi mekaten piyambakipun badhe pinitados dening tiyang sanes. Raja namung mbetahaken tiyang ingkang andhap asor, tiyang ingkang mboten ngapusi, awit badhe wonten papan pakurmatan kangge tiyang punika.
Ing waosan kaping kalih, juru serat Ibrani ngiyataken para tiyang Kristen Yahudi ingkang nalika semanten nandhang aniaya lan kasangsaran awit imanipun dhumateng Gusti Yesus. Aniaya punika kedahipun mboten dados alesan kangge para tiyang Kristen Yahudi punika namung mikiraken gesangipun piyambak. Aniaya punika kedahipun sansaya ngiyataken sih katresnan lan paseduluran ing antawisipun para tiyang punika. Wujuding paseduluran punika katingal saking sikep sedya nyawisaken papan tumpangan kangge para sedherek sanesipun, langkung-langkung kangge sedherek ingkang kakunjara. Mekaten ugi juru serat Ibrani punika ngengetaken supados para tiyang Kristen Yahudi punika tansah gesang ing kasucen. Para tiyang punika kedah njagi kasucening brayat lan mboten nggadhah masalah bab arta. Para tiyang punika kedah nyekapaken gesangipun sarta mboten dados abdi arta. Awit arta punika sanes tujuan gesang kangge ngrampungaken masalah. Tembung cekap ategesipun mboten serakah, mboten mburu kasugihan kangge kasenenganipun pribadi. Saben umat kedah pitados bilih Gusti Allah tansah ngrimati gesangipun, para umat pitados mboten badhe kekirangan. Gusti Allah piyambak ingkang nanggel lan jamin gesang para umat-Ipun. Awit Sang Kristus sampun nebus para umat lan ngrimati gesangipun para umat. Karana punika, para umat kedah andhap asor, sadar bilih para umat saged tahan ngadepi maneka warni kasangsaran punika awit srana kakiyatan lan sih rahmat saking Gusti. Ing kahanan ingkang sarwa winates, para umat kedah pasrah dhumateng Gusti Allah, mboten ngegungaken kakiyatanipun piyambak.
Ing waosan kaping tiga, Lukas 14:1, 7-14, Gusti Yesus mucal para sakabatipun bab andhap asoring manah lumantar gambaran pesta manten. Ing salebeting pesta manten punika, biasanipun dipun tata papan lenggahipun miturut status lan hubungan antawisipun tamu kaliyan ingkang kagungan griya. Sansaya inggil statusipun tamu punika, piyambakipun badhe kapapanaken ing papan ingkang paling ngajeng. Punika ingkang dados alesanipun kathah tiyang ingkang milih papan pakurmatan ing ngajeng nalika pesta manten punika dipun wontenaken kaliyan tiyang Farisi.
Lumantar carita tiyang ingkang mburu kursi pakurmatan ing pesta manten punika, Gusti Yesus mucal: sinten ingkang mburu pakurmatan utawi kalenggahan, piyambakipun ingkang badhe wirang awit bab punika. Gusti Yesus ngengetaken bilih pakurmatan punika sanes ambisi, nanging sih rahmat. Karana punika, sampun ngantos tiyang punika mburu pakurmatan kangge nginggilaken statusipun. Saged ugi piyambakipun badhe wirang. Awit bilih piyambakipun punika pantes nampi pakurmatan, punika badhe katampi. Karana punika dipun betahaken sikep andhap asor. Andhap asor tegesipun mangertos posisi dhirinipun kanthi trep, sae ing ngarsanipun Gusti Allah ugi ing ngajengipun tiyang sanes. Andhap asor punika sanes amargi kirang pakurmatan tumrap dhiri pribadi, ananging karana mangertos kados pundi piyambakipun mapanaken dhirinipun.
Panutup
Mungkasi sasi pambangunan GKJW sapunika, mangga kita ningali malih lampah gesang kita minangka GKJW. GKJW punika mboten winates institusi greja kemawon, nanging GKJW inggih punika kita piyambak. Sae lan awonipun GKJW punika katingal saking sikep lan tumindak ingkang kita lampahi. Kasaenan lan kemajenganipun GKJW punika sekedik katah dipun pengaruhi saking sumbangsih punapa ingkang sampun kita aturaken? Mbok bilih wonten ingkang kagungan pemanggih, “Punapa ingkang sampun dipun paringaken GKJW dhateng kula? Kula pikantuk punapa bilih kula sampun ngaturi Dana Persekutuan dhateng MA? Punapa ingkang sampun MA GKJW tindakaken kangge pasamuwan-pasamunan? Lsp.” Pitakenan-pitakenan punika lan pemanggih punika nggadhahi dimensi transaksional, “Aku menehi, aku kudu entuk.” Pemanggih punika tanpa kita sadari saged ndadosaken kita gumunggung dhateng dhiri kita piyambak. Awit kita ngrumaosi sampun maringi katah lan tumindak kathah kangge tuwuh kembangipun GKJW. Kita rumaos kedah wonten imbal balikipun kangge sedaya kasaenan ingkang sampun kita tindakaken kangge GKJW.
Mungkasi sasi pambangunan GKJW sapunika, mangga kita sami ngenget-enget malih sikep andhap asoring manah para leluhur kita. Mangga kita ngenget-enget malih andhap asoring manahipun Gusti Yesus dhateng kita. Para leluhur GKJW sami merjuang martosaken Injilipun Gusti kanthi tulus lan ngorbanaken gesangipun. Para leluhur kita punika mboten namung ngaturaken pisungsung arupi materi, tenaga, wekdal, pamikir kemawon. Para leluhur kita sami masrahaken gesangipun kagem tuwuh lan ngrembakanipun GKJW. Mekaten ugi Gusti Yesus ingkang dados patuladhan kita, Panjenenganipun sampun karsa ngorbanaken Sariranipun, dipun hina, dipun siksa lan dipun salib kagem nebus sakatahing dosa-dosa kita manungsa. Karana punika, kita kedah sadar, kita ngladosi ing GKJW, kita tumindak becik kagem GKJW, kita purun rekaos kagem GKJW, punika sedaya sanes supados kita nampi samukawis, ananging karana kita tulus nuladha Gusti Yesus. Sedaya tumindak becik, rekaos kita kagem GKJW, sedaya punika kita tindakaken awit kita sampun nampi sih rahmat lan kawilujengan saking Gusti Yesus.
Sapunika sumangga kita dados GKJW ingkang andhap asor. GKJW ingkang mboten namung mikiraken untung rugi. GKJW ingkang tansah rila ngorbanaken dhiri sarta ngladosi kanthi tulus. Srana punika GKJW saestu saged dados lantaran berkah. Mugi kita minangka GKJW kasagedaken nindakaken punika kanthi sukabingah lan andhap asor. Amin. [AR].
Pamuji: KPJ. 338 Greja Prasasat Baita