Mewujudkan Cinta Kasih Allah Yang Tak Terbatas Dalam Hidup Khotbah Kamis Putih 2 April 2026

23 March 2026

Kamis Putih | Pekan Suci
Stola Putih

Bacaan 1: Keluaran 12 : 1 – 14
Mazmur: Mazmur 116 : 1 – 2, 12 – 19
Bacaan 2: 1 Korintus 11 : 23 – 26
Bacaan 3: Yohanes 13 : 1 – 17, 31b – 35

Tema Liturgis: Ratu Adil Segenap Ciptaan
Tema Khotbah: Mewujudkan Cinta Kasih Allah yang Tak Terbatas dalam Hidup

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Keluaran 12 : 1 – 14
Membaca kitab Keluaran dapat dilihat dari bingkai kisah karya keselamatan yang dilakukan Tuhan Allah bagi bangsa Israel yang mengalami perbudakan di negeri Mesir. Dengan kuasa dan kasih yang besar Tuhan Allah merancangkan keselamatan bagi bangsa yang tertindas itu. Menolong mereka keluar dari cengkeraman penindasan bangsa Mesir melalui mukjizat yang luar biasa. Dengan kasih dan kuasa yang besar Tuhan Allah menuntun dan memelihara mereka dalam perjalanan menuju tanah perjanjian Kanaan.

Kisah Paskah yang dituturkan dalam bacaan saat ini adalah inti dari karya penyelamatan yang dilakukan Tuhan Allah. Melalui berbagai tulah kepada bangsa Mesir, Tuhan Allah menolong bangsa Israel. Puncaknya pada tulah yang kesepuluh di mana semua anak sulung di Mesir mati, kecuali bangsa Israel. Karena Tuhan Allah menunjukkan jalan keselamatan bagi mereka, melalui pengurbanan darah anak domba yang tidak bercacat dan bernoda.

Berbagai ketetapan harus dilakukan oleh bangsa Israel untuk memperoleh keselamatan itu, yaitu dengan mengoles darah anak domba di setiap pintu rumah mereka, memakan daging domba, roti tanpa ragi, dan suyur pahit. Hal ini menjadi sebuah tanda dari karya penyelamatan yang dilakukan Tuhan Allah, yang harus terus dikenang dan diabadikan sepanjang kehidupan bangsa Israel.

Karya Allah yang diabadikan dalam kitab Keluaran ini hendak menunjukkan kepada kita saat ini bahwa keselamatan dan pembebasan dari berbagai penderitaan hidup hanya berasal dari Tuhan Allah saja. Pengorbanan darah domba yang tidak bercacat dan bernoda, roti tidak beragi, dan sayur pahit berbanding lurus dengan karya keselamatan yang dilakukan Tuhan Allah kepada manusia melalui Yesus Kristus di atas kayu salib. Bukan dengan jalan yang mudah, melainkan dengan pengorbanan yang penuh dengan kepahitan melalui via dolorosa (jalan salib).

1 Korintus 11 : 23 – 26
Teks 1 Korintus 11:23-26 bukanlah teks yang asing bagi para pengkhotbah, khususnya para pendeta. Setiap sakramen perjamuan kudus, teks ini hampir selalu menjadi dasar dalam pelaksanaannya. Mencermati latar belakang dari teks ini, ada hal yang menarik untuk diperhatikan. Bahwa teks ini bukan hanya tentang nasihat untuk mengenang peristiwa perjamuan malam yang dilakukan Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya, lebih dari itu teks ini juga merupakan kritik sosial terhadap perilaku masyarakat yang mempengaruhi perilaku warga Jemaat Korintus.

Konteks kehidupan sosial masyarakat di seputar surat 1 Korintus mencatat bahwa guna menunjukkan kekuasaan dan status sosialnya, seseorang harus mampu menunjukkan atau lebih tepat dikatakan memamerkan harta kekayaan dan kemampuannya untuk mengadakan pesta dan menjamu para elit politik, pejabat-pejabat militer, pengusaha, dan tuan-tuan tanah. Semakin seseorang mampu menunjukkan kemampuannya untuk itu, maka semakin kuat pengaruhnya dan semakin tinggi status sosialnya.

Kebiasaan ini menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat, sehingga nampak sebagai sesuatu yang wajar bagi masyarakat, termasuk bagi umat Kristen di Korintus. Melalui teks ini, Rasul Paulus mengkritisi perilaku yang mambeda-bedakan status sosial seseorang. Ia juga berusaha membina Umat Kristen di Korintus, agar sebagai orang Kristen perilaku mereka harus berbeda dengan kebiasaan masyarakat pada umumnya yang menganggap wajar perilaku membeda-bedakan status sosial seseorang.

Rasul Paulus mengingatkan bahwa Salib Kristus telah membongkar batasan-batasan sosial tersebut. Melalui kehadiran Yesus Kristus dan peristiwa salib, Rasul Paulus mengajak umat di Korintus untuk belajar bahwa Tuhan Allah tidak membeda-bedakan. Kehadiran Yesus Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia menunjukkan bahwa meskipun Ia setara dengan Allah, tetapi Ia mau melayani dan hadir bagi mereka yang tidak mempunyai apa-apa. Di meja perjamuan kudus, mereka diajak untuk mengingat tindakan Tuhan Yesus dengan melakukan hal yang sama.

Perkataan Tuhan Yesus, “lakukanlah ini untuk mengingat Aku” (Ay. 24) merupakan sebuah dorongan kesediaan untuk melepaskan status sosial yang tinggi demi berdiri dalam solidaritas dengan mereka yang tidak memiliki apa pun. Alih-alih memperkuat perbedaan sosial, mengikut Yesus justru harus mampu menghilangkannya. Ini adalah pesan yang harus terus diwartakan, yaitu pesan agung tentang kasih karunia Allah yang mau merendahkan diri menjadi sama dengan manusia dalam solidaritas bagi mereka yang tidak mempunyai apa-apa.

Yohanes 13 : 1 – 17, 31b – 35
Susan Hylen dalam komentarnya terhadap Yohanes 13:1-17, 31b-35 memberi perhatian lebih pada ayat 34, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Menurutnya, Moundy Thursday atau Kamis Putih berasal dari salah kata latin dalam Yohanes 13:34 ini, yaitu kata Maundy yang berasal dari kata mandatum yang berarti perintah. Kedua, ia menyebutkan bahwa nats ini merupakan inti dari perikop bacaan, dimana perintah Yesus untuk saling mengasihi dikaitkan dengan kisah pembasuhan kaki.

Dalam teologi Injil Yohanes, Tuhan Yesus dinarasikan sebagai tokoh ilahi yang sangat memahami apa yang akan dialami-Nya, termasuk tentang kematian dan penderitaan-Nya. Karena itu, pada ayat 1 dikatakan bahwa; “Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa” menunjukkan pandangan Kristologi dalam Injil Yohanes tentang Yesus Kristus dan cinta kasih-Nya kepada umat milik-Nya di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya.

Yesus yang digambarkan sebagai sosok yang ilahi, tidak hanya memberi perintah untuk saling mengasihi tetapi Ia juga memberi teladan nyata. Dalam kisah di antara pembasuhan kaki para murid dan perintah untuk saling mengasihi terselip kisah tentang Yudas yang mengkhianati Yesus. Ia mengetahui bahwa Yudas akan menghianati-Nya, namun tidak ada rasa benci dari-Nya, justru Yudas tetap dilayani dan dikasihi sama seperti murid-murid yang lain, dibasuh kakinya dan diajak makan dalam perjamuan malam. Bahkan Yesus memerintahkan para murid untuk saling mengasihi.

Kisah pembasuhan kaki para murid menjadi tanda kasih yang tak terbatas –agape- dari Allah melalui Yesus Kristus Sang Ilahi. Kasih yang mewujud dalam sikap rendah hati dan egaliter, rela menanggalkan kemuliaan untuk mengambil peran sebagai hamba dan tetap melayani mereka yang mengecewakan. Pesan yang hendak disampaikan dari teks ini adalah tentang kesetaraan sesama manusia melalui teladan Yesus Kristus dan perintah untuk saling mangasihi sebagai wujud kasih Allah yang tidak terbatas kepada umat manusia bahkan kepada mereka yang berdosa sekalipun.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Kasih yang tak terbatas adalah esensi dari kasih Allah menjadi benang merah dari ketiga bacaan kita, yang menunjukkan kepada kita tentang bagaimana tindakan-tindakan kasih yang dilakukan Allah kepada umat-Nya. Kasih yang mewujud dalam tindakan menyelamatkan, mengampuni, membela, menerima tanpa membeda-bedakan, dan meruntuhkan sekat-sekat yang memisahkan. Tindakan kasih Allah tersebut menjadi sarana perenungan bagi kita, apakah tindakan-tindakan kasih yang diteladankan Allah masih menjadi bagian dari setiap laku hidup kita?

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Suatu hari seorang ayah berkata kepada anak laki-lakinya yang masih remaja, “Nak, apapun yang kamu lakukan dalam hidupmu, ketahuilah, pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu.” Saat itu, sang anak sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataan ayahnya, sampai kemudian sang ayah meninggal dunia beberapa tahun kemudian. Beranjak dewasa, sang anak mulai menyadari maksud perkataan sang ayah semasa hidupnya, bahwa ini bukan tentang pintu rumah yang terbuka. Apa yang terkandung dalam perkataan sang ayah, ibarat permata yang terbungkus kain, merupakan sebuah ungkapan cinta yang paling murni yang pernah didengarnya. Melalui kata-kata itu, sang ayah menawarkan cinta yang tulus, murni, dan tanpa syarat. Tidak ada maksud tersembunyi, selain hanya cinta yang dalam terhadap sang anak. Sepenggal kisah di atas hendak menunjukkan kepada kita salah satu wujud cinta yang dalam, tulus, dan tanpa syarat di tengah-tengah kehidupan kita.

Isi
Penggalian terhadap tiga teks bacaan menuntun kita pada pesan kuat tentang cinta yang tak terbatas. Cinta yang dinyatakan pada tindakan-tindakan kasih terhadap umat-Nya. Pertama, cinta kasih Allah ditunjukkan atas mereka yang menderita dan mengalami perlakuan tidak adil dalam hidupnya. Dalam bacaan pertama (Kel. 12:4-12) menceritakan kisah kasih Allah yang tak terbatas kepada umat pilihan yang mengalami penindasan di Mesir. Dengan kuasa dan kasih yang besar, Tuhan Allah merancangkan keselamatan bagi bangsa yang tertindas itu. Menolong mereka keluar dari cengkeraman penindasan bangsa Mesir melalui mukjizat yang luar biasa. Dengan kasih dan kuasa yang besar Tuhan Allah menuntun dan memelihara mereka dalam perjalanan menuju tanah perjanjian Kanaan.

Pesan kuat tentang kasih Allah juga termuat dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus (Bacaan kedua). Melalui kritik sosial terhadap perilaku masyarakat di Korintus yang mambeda-bedakan status sosial seseorang. Kasih itu mewujud dalam pembelaan terhadap mereka yang mengalami diskriminasi dan perlakuan yang tidak adil dalam hidupnya. Rasul Paulus mengingatkan bahwa Salib Kristus telah membongkar batasan-batasan sosial tersebut. Melalui kehadiran Yesus Kristus dan peristiwa salib, Rasul Paulus mengajak umat percaya di Korintus untuk belajar bahwa Allah tidak membeda-bedakan. Kehadiran Yesus Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia menunjukkan bahwa meskipun Ia setara dengan Allah, tetapi Ia mau melayani dan hadir bagi mereka yang tidak mempunyai apa-apa.

Kedua, cinta kasih Allah diwujudkan dalam pengampunan dan penerimaan terhadap mereka yang pernah mengecewakan. Kita mengetahui bahwa Umat Israel yang mengalami penindasan di Mesir adalah keturunan dari orang-orang yang pernah mengecewakan Allah. Mereka yang berbuat jahat dengan keji dan hendak membunuh saudaranya dan menjual saudaranya menjadi budak. (bdg. Kej. 37:23-24). Namun kisah Paskah yang dituturkan dalam bacaan pertama memperkuat pesan kasih Allah yang tak terbatas. Kasih yang mau mengampuni dan menerima, bahkan mereka yang mengecewakan.

Dalam kisah pembasuhan kaki para murid dan perintah untuk saling mengasihi terselip kisah tentang Yudas yang mengkhianati Yesus. Ia mengetahui bahwa Yudas akan mengkhianati-Nya, namun tidak ada rasa benci dari Yesus, justru Yudas tetap dilayani dan dikasihi sama seperti murid-murid yang lain, dibasuh kakinya dan diajak makan dalam perjamuan malam. Bahkan Yesus memerintahkan para murid untuk saling mengasihi. Kisah pembasuhan kaki para murid menjadi tanda kasih yang tak terbatas –agape- dari Allah melalui Yesus Kristus Sang Ilahi. Kasih yang mewujud dalam sikap rendah hati dan egaliter, rela menanggalkan kemuliaan untuk mengambil peran sebagai hamba, dan tetap melayani mereka yang mengecewakan.

Demikianlah wujud cinta kasih Allah yang tak terbatas dalam kehidupan umat-Nya. Allah membela mereka yang mengalami perlakuan tidak adil dan bersedia untuk mengampuni dan menerima mereka yang mengecewakan-Nya. Itulah esensi dari Sang Ratu Adil Sejati bagi semua ciptaan, keadilan-Nya mewujud dalam cinta kasih-Nya yang tak terbatas.

Penutup
Meneladani kasih Allah yang tak terbatas bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Diperlukan keberanian dan kebijaksanaan untuk melakukan hal ini kepada orang lain, apalagi untuk mereka yang pernah mengecewakan. Marilah kita terus belajar dan berjuang untuk melakukannya. Bukankah kita pernah mengalami dan menerima kasih yang tak terbatas itu dalam hidup kita, baik dari Tuhan Allah maupun orang tua kita? Mari kembali kita renungkan, sewaktu kita menerima cinta kasih yang semacam itu, bukankah hal itu bagaikan menerima hadiah yang paling berharga? Maka jika kita mampu melakukannya kepada orang lain dengan tulus dan sungguh-sungguh, seperti Tuhan mengasihi, tentu orang akan menyambut kasih kita dengan sukacita. Selamat mewujudkan cinta kasih Allah yang tak terbatas dalam hidup. Amin. [SKR].

 

Pujian: PKJ. 183  Mari Sebarkan Injil Keseluruh Dunia

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuan piyambak)

Pambuka
Ing sawijing dinten, wonten satunggal bapa ngendika dhateng kang putra ingkang taksih remaja, “Le, apa wae sing mbok lakoni neng uripmu, ilinga, yen lawang omah iki bakal tetep kabuka kanggo kowe”. Wekdal semanten, kang putra mboten mangertos punapa tegesipun pangandika bapakipun punika, ngantos bapakipun katimbalan. Tansaya dewasa, kang putra nembe pirsa punapa tegesipun pangandika bapakipun punika wekdal taksih sugeng, bilih pangandika punika minangka sanepan, ingkang negesaken bab katresnan ingkang tulus, murni, dan tanpa syarat. Mboten wonten maksud lintunipun, kejawi katresnan ingkang tulus tumrap kang putra. Cariyos punika nelakaken salah satungaling wujud katresnan ingkang tulus lan tanpa syarat wonten ing pigesangan kita.

Isi
Anggen kita nggegilut tiga waosan Kitab Suci ing dinten punika, nelakaken piwucal bab katresnan ingkang tanpa winates. Katresnan ingkang dipun nyatakaken lumantar tumindak-tumindak katresnan dhumateng umat kagungan-Ipun. Ingkang sepindah, katresnanipun Gusti Allah dhateng tiyang ingkang nandang sangsara lan ngalami tumindak ingkang mboten adil ing gesangipun. Waosan sepindah (Kel. 12:4-12) nyariosaken katresnanipun Gusti Allah ingkang tanpa winates dhumateng umat pilihan-Ipun ingkang ngalami kasangsaran ing Mesir. Kanthi kuwaos lan katresnan ingkang ageng, Gusti Allah ngrancangaken kaslametan tumrap bangsa Israel ingkang nandhang sangsara punika. Paring pitulungan, nguwalaken bangsa punika saking panindesan bangsa Mesir lumantar mukjizat ingkang ngedap-edapi. Kanthi katresnan saha kuwaos ingkang ageng, Gusti Allah nganthi saha ngreksa bangsa punika ing lelampahan tumuju ing tanah prajanji Kanaan.

Piwucal bab katresnanipun Gusti Allah ugi kaserat ing seratipun Rasul Paulus dhateng pasamuan ing Korinta (Waosan kaping kalih). Lumantar kritik sosial dhateng perilaku masyarakat ingkang gesangipun benten-bentenaken status sosial sesaminipun. Katresnan punika mawujud wonten ing tumindak “mbelani” tiyang ingkang ngalami diskriminasi lan tumindak-tumindak ingkang mboten adil ing gesangipun. Rasul Paulus ngengetaken bilih Salib Sang Kristus sampun mbongkar wates-wates sosial punika. Lumantar rawuhipun Sang Kristus lan pangurbanan-Ipun ing kajeng salib, Rasul Paulus paring piwucal supados umat saged nuladha tumindaking Gusti Allah ingkang mboten benten-bentenaken umat-Ipun. Rawuhipun Sang Kristus minangka Gusti Allah ingkang manjalma dados manungsa nelakaken pamanggih, senaosa Sang Kristus punika Gusti Allah ingkang mulya, nanging karsa leladi lan rawuh ing pigesanganipun tiyang ingkang sekeng.

Kaping kalih, katresnanipun Gusti Allah dipun nyatakaken ing pangapunten lan panampi dhateng tiyang ingkang damel cuwaning manah. Kita mangertos bilih Umat Israel ingkang dados budak ing Mesir punika keturunanipun bangsa ingkang damel cuwaning Gusti Allah. Bangsa ing sampun tumindak jahat lan keji, ingkang badhe menjahi sedherekipun saha ingkang nyade sedherekipun dados budak (bdg. Purwaning Dumadi 37:23-24). Naning cariyos paskah ingkang dipun serat, ngiyataken bab katresnanipun Gusti Allah ingkang tanpa winates. Katresnan ingkang paring pangapura, panampi kanthi tulus tumrap tiyang ingkang damel cuwa.

Wonten ing cariyos bab Gusti Yesus ngwijiki suku para sakabat lan printah tresna-tinresnan, wonten cariyos bab Yudas ingkang badhe ngulungkaken Gusti Yesus. Gusti Yesus pirsa bilih Yudas badhe nindakaken prekawis punika, nanging mboten wonten raos sengir saking Gusti Yesus. Kosokwangsulipun Yudas tetep dipun tresnani lan dipun ladosi kados dene para sakabat lintunipun, dipun wijiki sukunipun lan dipun ajak kembul bujana. Langkung saking punika Gusti Yesus paring dawuh supados para sakabat nuwuhaken gesang tresna-tinresnan. Cariyos bab ngwijiki suku para sakabat dados tanda katresnanipun Gusti Allah ingkang tanpa winates (tresna agape) lumantar Gusti Yesus Kristus. Katresnan ingkang mawujud ing sikep andhap asor, egaliter, rila nanggelaken kamulyanipun dados batur lan leladi dhateng tiyang ingkang damel cidra.

Mekaten wujud katresnanipun Gusti Allah ingkang tanpa winates ing pigesanganipun umat. Gusti Allah ingkang mbelani tiyang sangsara lan Gusti Allah ingkang maasih paring pangapunten dan nampi kanthi tulus tiyang ingkang damel cuwa lan cidra. Punika tegesipun Sang Ratu Adil Sejati sadaya titah, kaadilan-Ipun mawujud ing katresnan ingkang tanpa winates.

Panutup
Nuladani katresnanipun Gusti Allah ingkang tanpa winates sanes prekawis ingkang gampil dipun tindakaken. Prekawis punika mbetahaken kakendelan lan kawicaksanan kangge nindakaken prekawis punika tumrap tiyang sanes, punapa malih tumrap tiyang ingkang nate damel cidra lan cuwaning manah. Nanging sumangga kita sami sinau saha ngupadi supados kita kasagedna nindakaken prekawis punika. Bilih kita wigatosaken, kita tamtu nate ngalami dan nampi katresnan ingkang tanpa winates ing gesang kita, sae saking Gusti Allah punapa dene saking tiyang sepuh kita. Tamtu wekdal kita nampi katresnan punika, ingkang kita raosaken kados nampi hadiah ingkang adi ing gesang kita. Pramila bilih kita saged nindakaken katresnan punika tumrap tiyang sanes kanthi tulus, kados katresnanipun Gusti Allah dhumateng kita, tamtu punika badhe dipun tampi kanthi suka bingah dening sesami kita. Wilujeng mawujudaken katresnaning Gusti Allah ingkang tanpa winates ing gesang kita. Amin. [SKR].

 

Pamuji: KPJ. 345  Nadyan Kula Amicara

Renungan Harian

Renungan Harian Anak