Minggu Pra Paskah 5
Stola Ungu
Bacaan 1: Yehezkiel 37 : 1 – 14
Bacaan 2: Roma 8 : 6 – 11
Bacaan 3: Yohanes 11 : 1 – 44
Tema Liturgis: GKJW Meneladani Solidaritas Yesus Dalam Keseharian
Tema Kotbah: Peduli Dan Pro Kehidupan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yehezkiel 37 : 1 – 14
Kitab Yehezkiel diperkirakan ditulis pada masa pembuangan, sekitar tahun 593 – 571 SM. Secara umum kitab Yehezkiel mengumandangkan teologi Allah yang transenden mutlak. Allah yang bertindak menurut apa yang baik bagi-Nya. Dalam konteks situasi bangsa Israel yang menderita dan kehilangan pengharapan karena berada di tempat pembuangan (Babel), Yehezkiel menuliskan penglihatan yang dialaminya sebagaimana dipaparkan dalam pasal 37:1-14 ini. Dari kacamata konteks situasi bangsa Israel, maka penglihatan itu penuh dengan simbol. Beberapa sumber menyebutkan “tulang -tulang kering” (Ay. 2) adalah simbol orang-orang Israel yang pengharapannya sudah kering dan semangatnya mati, karena besarnya penderitaan yang dialami dan lamanya masa pembuangan di Babel (Ay. 11). Namun, Allah dengan kuasa-Nya yang tak terbatas berkenan menghidupkan kembali semangat bangsa Israel, yang disimbolkan dengan “nafas hidup” yang datang dari empat penjuru angin (Ay. 9-10).
Penglihatan ini menjadi peringatan bagi Israel turun – temurun, bahwa TUHAN-lah Sumber Pengharapan di tengah ketiadaan. Dialah pengharapan sejati yang menghidupkan umat dari kematian, termasuk matinya pengharapan.
Roma 8 : 6 – 11
Diperkirakan Paulus menulis surat Roma pada waktu ia masih berada di Korintus menjelang akhir perjalanan misionarisnya yang ketiga (± tahun 55 – 56 M). Dalam tulisannya kepada jemaat di Roma ini, Paulus menekankan bahwa dengan kekuatan dan kemahakuasaan-Nya, Allah menyelamatkan hidup manusia. Hal ini salah satunya mengingat akan konteks kota Roma pada waktu itu adalah kota kosmopolitan, yang menarik banyak orang dari berbagai negeri untuk datang. Sehingga Roma menjadi tempat perjumpaan berbagai bangsa dengan pengaruh dan budayanya yang beragam. Ada sebuah catatan menjelaskan bahwa di sebuah tempat yang disebut Emporium (pusat perdagangan) didapati ada dua belas macam bahasa yang digunakan dalam praktik tawar-menawar. (https://www.sarapanpagi.org/roma-vt1664.html).
Dalam terang teologi dan konteks di atas, maka Roma 8:6-11 menyatakan bahwa dengan Roh Allah (dengan spirit, kekuatan, dan kemahakuasaan Allah), hidup manusia akan selamat. Yaitu hidup yang mengalami damai sejahtera, hidup yang dimenangkan dari belenggu kedagingan dan dosa, kehidupan dalam kebenaran Allah. Hidup demikianlah yang menjadikan manusia dibangkitkan, baik dalam kehidupan kini maupun nanti, hidup yang dimampukan mengalahkan dan diselamatkan dari “kematian” (jasmani maupun rohani). Roh Allah yang dinyatakan, memungkinkan manusia mengalami hidup yang sesungguhnya.
Yohanes 11 : 1 – 44
Injil Yohanes diperkirakan ditulis oleh Yohanes anak Zebedeus, yang termasuk dalam 12 orang murid. Penulisan Injil ini diperkiran pada kurun waktu antara tahun 40 – 100 M. Tujuan penulisannya adalah untuk sebuah persekutuan Kristen berbahasa Yunani yang menyendiri dan menghadapi ancaman serta pengaruh berbagai pengajaran, khususnya gnostik. Ada beberapa penekanan (teologi/ kristologi) dalam Injil Yohanes, namun di antara yang dimunculkan pokok pengajaran “Yesus Mesias, Anak Allah” yang menekankan keilahian Tuhan Yesus menjadi sangat kuat, khususnya berdasar pasal 20:31. (https://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yohanes)
Dari paparan ini, maka peristiwa pembangkitan Lazarus dari kematian oleh Tuhan Yesus, yang pertama: menjadi penyataan untuk para murid dan orang – orang (Yahudi) yang ada pada waktu itu menyaksikan secara langsung, tentang keilahian Tuhan Yesus. Yang kedua, penulisan kisah ini juga untuk menguatkan iman percaya sebuah persekutuan Kristen yang sedang menghadapi ancaman serta pengaruh dari pengajaran – pengajaran lain.
Muara keduanya adalah “…. supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:31). Dialah Allah yang peduli, Sang pemilik kehidupan yang berkenan memberikan hidup kepada umat milik kepunyaan-Nya.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan di atas mengumandangkan perihal yang sama, yaitu: TUHAN-lah Allah Sang Pemilik kehidupan yang selalu peduli dan berkenan memberikan hidup kepada umat-Nya.
Rancangan Khotah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Agnes Gonxha Bojaxhiu (atau Anjezë Gonxhe Bojaxhiu), nama asli dari Bunda Teresa, menulis dalam buku hariannya bahwa tahun pertamanya dalam pelayanan penuh dengan kesulitan. Ia tidak memiliki penghasilan dan harus memohon makanan kepada orang – orang, sehingga ia menulis demikian :
“Tuhan ingin saya masuk dalam kemelaratan. Hari ini saya mendapat pelajaran yang baik. Kemelaratan orang miskin pastilah sangat keras. Ketika saya mencari tempat tinggal, saya berjalan dan terus berjalan sampai lengan dan kaki saya sakit. Saya bayangkan bagaimana mereka sakit jiwa dan raga, mencari tempat tinggal, makanan dan kesehatan. Kemudian kenikmatan Loreto datang pada saya. ‘Kamu hanya perlu mengatakan dan semuanya akan menjadi milikmu lagi,’ kata sang penggoda… Sebuah pilihan bebas. Tuhanku, cintaku untukmu, aku ingin tetap bertahan. Dan melakukan segala keinginan-Mu merupakan kehormatan bagiku. Aku tidak akan membiarkan satu tetes air mata jatuh karenanya.” (Spink, Kathryn (1997). “Mother Teresa”. York. HarperCollins, hal. 37)
Dengan pengalaman ini, Bunda Teresa semakin teguh niat hatinya untuk melayani orang miskin, terpinggirkan, dan menderita hidupnya.
Isi
Ketiga bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa TUHAN-lah Allah Sang Pemilik kehidupan yang selalu peduli dan berkenan memberikan hidup kepada umat-Nya. Hal ini nampak dalam kesaksian Yehezkiel yang mengalami penglihatan tulang – tulang kering yang diberi nafas hidup oleh TUHAN Allah, sehingga hidup kembali. Penglihatan ini mengingatkan kepada umat Israel akan kemahakuasaan (ke-transenden-an) Allah. Dan dengan kemahakuasaan-Nya, Allah menyatakan kepedulian-Nya dengan menghidupkan kembali pengharapan Israel di tengah ketiadaan pengharapan.
Demikian pula tulisan Paulus kepada Jemaat di Roma, juga mengingatkan bahwa Roh Allah (spirit, kekuatan dan kemahakuasaan Allah)-lah yang memampukan manusia beroleh hidup dalam keselamatan. Dan, terlebih kisah pembangkitan Lazarus dari kematian oleh Tuhan Yesus, sungguh kisah ini mendeklarasikan bahwa TUHAN-lah Allah Sang Pemilik Kehidupan, Allah yang transenden itu senantiasa peduli kepada kesulitan – kesulitan yang dialami umat-Nya dan berkenan memberikan hidup kepada mereka. Dia, TUHAN adalah Allah yang peduli kepada umat-Nya, karena Dia, TUHAN Allah yang pro kehidupan.
Penutup
Di Minggu Pra Paskah kelima ini kita diajak untuk menghayati bahwa Allah peduli kepada umat-Nya, karena Dia Allah yang pro kehidupan. Maka penghayatan ini semestinya menjadikan kita: Pertama, senantiasa optimis dalam menjalani kehidupan dengan segala dinamika dan pergumulannya. Karena TUHAN adalah Allah yang selalu peduli kepada kita, yang selalu berkenan membangkitkan dan menghidupkan harapan kita. Dengan Roh-Nya, kita akan dimampukan untuk menjalani hidup dalam keselamatan. Kedua, mari kita juga senantiasa mau hidup peduli kepada sesama, khususnya kepada mereka yang mengalami kekurangan, terpinggirkan, dan menderita (seperti yang dilakukan Bunda Teresa). Dan terus mau melibatkan diri dalam aktivitas – aktivitas yang mengupayakan terwujudnya hidup dan kehidupan yang lebih baik dan lebih damai sejahtera bersama dengan sesama. Karena TUHAN kita adalah Allah yang selalu peduli kepada umat-Nya dan Allah yang pro kehidupan. Selamat mewujudkan hidup yang peduli dan pro kehidupan. Tuhan Yesus memberkati. Amin. [WN].
Pujian: KJ. 178 : 1, 2 Karna Kasih-Nya Padaku
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Agnes Gonxha Bojaxhiu (utawi Anjezë Gonxhe Bojaxhiu), punika nami aslinipun Bunda Teresa. Piyambakipun nyerat wonten ing buku harian-nipun bilih ing taun wiwitan peladosanipun kebak ing karibedan. Piyambakipun boten gadhah asil lan kedah nyuwun nedha dhateng tiyang sanes, mila lajeng nyerat mekaten tulisan ingkang mekaten:
“Tuhan ingin saya masuk dalam kemelaratan. Hari ini saya mendapat pelajaran yang baik. Kemelaratan orang miskin pastilah sangat keras. Ketika saya mencari tempat tinggal, saya berjalan dan terus berjalan sampai lengan dan kaki saya sakit. Saya bayangkan bagaimana mereka sakit jiwa dan raga, mencari tempat tinggal, makanan dan kesehatan. Kemudian kenikmatan Loreto datang pada saya. ‘Kamu hanya perlu mengatakan dan semuanya akan menjadi milikmu lagi,’ kata sang penggoda… Sebuah pilihan bebas, Tuhanku, cintaku untukmu, aku ingin tetap bertahan. Dan melakukan segala keinginan-Mu merupakan kehormatan bagiku. Aku tidak akan membiarkan satu tetes air mata jatuh karenanya.” (Spink, Kathryn (1997). “Mother Teresa”. York. HarperCollins, hal. 37)
Lelampahan prihatin punika ingkang ugi ngantebaken krenteging manahipun Bunda Teresa anggenipun lelados dhateng para tiyang ingkang kekirangan, kalirwakaken, lan sangsara gesangipun.
Isi
Waosan kita ing dinten punika ngatag lan paring pepenget dhateng kita bilih Gusti Allah punika Allah ingkang tansah migatosaken sarta karsa paring gesang dhateng umat kagunganipun. Prekawis punika kanyataaken wonten ing paseksinipun Yehezkiel ingkang rikala semanten nampi paningalan arupi balung-balungipun manungsa ingkang garing mekingking, lajeng kaparingan rohing gesang dening Gusti Allah. Lajeng balung – balung garing mekingking kalawau saged gesang dados manungsa malih. Paningalan punika dados pepenget tumrap bangsa Israel lan tedhak turunipun, bilih Gusti Allah ingkang Mahakuwaos punika, Gusti Allah ingkang kagungan gesang tansah migatosaken lan nggesangaken pangajeng – ajeng umatipun ing kawontenan umat ingkang sampun kecalan pangajeng – ajeng.
Mekaten ugi paseksinipun Paulus ing salebetipun Serat Rum, ugi ngengetaken bilih Roh Suci punika, Rohipun Allah (spirit, kekiyatan saha panguwaosipun Allah) ingkang dadosaken manungsa kasagedan nampi kanugerahan gesang ing salebeting kawilujengan. Punapa malih cariyos bab Lazarus ingkang dipun gesangaken Gusti Yesus saking pejah, tamtu punika sepisan malih negesaken dhateng kita bilih Gusti Allah punika estu ingkang kagungan gesang. Gusti Allah ingkang Mahakuwaos punika tansah karsa paring kawigatosan dhateng sedaya karibedanipun umat-Ipun. Gusti Allah ugi karsa paring gesang dhateng umat kagunganipun. Punika dados tandha bilih Gusti Allah punika pro pigesangan.
Panutup
Wonten ing salebeting Minggu Pra Paskah ingkang kaping gangsal punika, kita dipun ajak ngraosaken bilih Gusti Allah ingkang kita sembah, inggih Gusti Allah ingkang tansah kagungan kawigatosan dhateng gesangipun para umat-Ipun, awit Panjenenganipun, Gust Allah ingkang pro pigesangan. Nah menawi kita sami nggadhahi pangaken ingkang mekaten, mila ingkang sepisan, sampun sak mesthinipun kita tansah tatag nglampahi pigesangan punika sinarengan kaliyan sedaya reribetipun. Awit Gusti tansah migatosaken gesang kita, tansah nuwuhaken pangajeng – ajeng dhateng kita, sarta maringi Roh Suci supados kita saged nglampahi gesang ngener wonten ing margining kawilujengan.
Ingkang kaping kalih, mangga kita purun mujudaken gesang ingkang peduli dhateng sesami. Mliginipun dhumateng sesami ingkang saweg ngalami kacingkrangan/kekirangan, kalirwakaken, lan ingkang saweg ngalami kasangsaran ing gesangipun (kados ingkang dipun tindakaken Bunda Teresa). Mangga kita purun cawe – cawe dherek aktivitas – aktivitas ingkang ngudi kawujuding kasaenanipun gesang, gesang ingkang langkung tentrem rahayu sesarengan kaliyan sesami. Awit saestu, Gusti Allah kita, inggih Gusti ingkang tansah kersa migatosaken gesang umat-Ipun sarta Gusti ingkang pro pigesangan. Sugeng mujudaken gesang ingkang peduli lan pro pigesangan. Gusti Yesus amberkahi gesang kita sedaya. Amin. [WN].
Pamuji: KPJ. 106 : 1, 3 Amung Kumandel Iku