Minggu Biasa 7 – Pembukaan Bulan Keluarga
Stola Hijau
Bacaan 1: Ayub 38 : 1 – 11
Bacaan 2: 2 Korintus 6 : 1 – 13
Bacaan 3: Markus 4 : 35 – 41
Tema Liturgis: Yesus Kristus Sang Pemimpin Keluarga yang Selalu Menyertai dan Memberkati
Tema Khotbah: Keluarga sebagai Mahligai Allah Bertahta dan Menyalurkan Berkat-Nya bagi Kehidupan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Ayub 38: 1 – 11
Kitab ini digolongkan sebagai salah satu kitab hikmat dan syair dalam PL. “Hikmat” karena membahas secara mendalam soal-soal universal yang penting dari umat manusia. “Syair” karena hampir seluruh kitab ini berbentuk syair. Akan tetapi, semua syair ini berdasarkan seorang tokoh sejarah yang nyata (lih. Yeh. 14:14,20) dari suatu peristiwa sejarah (lih. Yak. 5:11). Tempat di “tanah Us” (Ayub 1:1) yang kemudian menjadi wilayah Edom, terletak di bagian tenggara Laut Mati atau di sebelah utara Arabia (bdk. Rat. 4:21). Tema Kitab Ayub mengetengahkan tuntutan religious, meminta manusia untuk menyerahkan diri tanpa syarat kepada Tuhan.
Ayub 38:1-11, masuk dalam tema Kekuasaan Allah di alam semesta. Berisi perkataan TUHAN (Yahweh) yang menjawab Ayub dari dalam badai. Allah menyadarkan Ayub akan dirinya sebagai ciptaan melalui pertanyaan- pertanyaan. Antara lain pertanyaan, “Dimanakah Ayub ketika alam semesta dan segala isinya diciptakan? (ay. 38:4-21). Adakah Ayub hadir ketika Allah berkarya? Dimana Ayub waktu TUHAN menciptakan bumi, (ayat 4-7); laut? (ayat 8-11); Apakah Ayub bisa mengatur alam semesta yang telah diciptakan Allah secara dahsyat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggugah hati Ayub sekaligus menunjukkan suatu pengakuan akan adanya perbedaan kualitas antara dirinya dan Allah. Akhirnya hal itu menyadarkan Ayub, ia mencabut perkataannya dan menyesal, Ayub 42:2, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.”
2 Korintus 6: 1 – 13
Pada 2 Korintus 6:1-13, Paulus menekankan sebagai teman-teman sekerja. (Teman-teman sekerja merupakan terjemahan dari sunergeo, Terdapat “kerja sama” sejati sesudah keselamatan). Paulus hendak menekankan untuk mereka membuka diri kepada Paulus. Ayat 13 sebagaimana Paulus telah membuka diri kepada mereka. Supaya tidak membuat sia-sia kasih karunia Allah yang telah diterima. Sementara waktu ini (Nun= waktu ini) adalah masa perkenanan, keselamatan yang dari Allah itu terlaksana sebagaimana kutipan nubuatan Yesaya yang ada dalam ayat 2, “Sebab Allah berfirman: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.”
Markus 4: 35 – 41
Sangat manusiawi jika para murid berpikir bahwa Yesus yang sedang tidur dianggap tidak mempedulikan keselamatan mereka. Maka mereka membangunkan Yesus (ayat 38). Lalu Yesus bangun, menghardik danau, dan danau itu tiba-tiba teduh (ayat 39). Namun Yesus menghardik para murid juga. Bukan karena rasa takut mereka pada topan, tetapi karena mereka menganggap bahwa Yesus tidak peduli pada mereka (ayat 40). Ketakutan mereka merupakan wujud kegagalan untuk percaya bahwa Tuhan tetap memegang kendali. Memang perlu iman yang besar untuk mempercayai bahwa Tuhan ‘yang sedang tidur’ tetap memerhatikan kita. Inilah jenis iman yang ingin dibangun Tuhan dalam diri para murid, hingga mereka dapat menyadari bahwa Yesus juga berkuasa atas alam semesta. Dan Ia yang berkuasa itu, peduli juga pada mereka.
Kepiawaian sebagian dari mereka sebagai nelayan ternyata tidak berarti apa-apa saat itu? Sebagai pembelajaran bahwa iman kepada Kristus akan kokoh ketika orang tidak lagi bergantung pada kemampuannya sendiri, melainkan hanya jika kita menjadikan Dia sebagai satu-satunya harapan kita.
Kata-kata perintah yang dipakai Kristus untuk menghardik angin ribut dipakai dalam Injil Markus tetapi tidak ada dalam Injil Matius (ay. 39). Ia berkata, Diam, tenanglah – Siōpa, pephimōso – teduhlah, diamlah. Biarlah angin berhenti menderu, dan ombak tidak lagi mengamuk. Demikianlah Ia meredakan deru lautan, deru gelombangnya.
George Herbert: “Ketika angin dan gelombang menyergap lunas kapalku, Ia melindungi, Ia memegang roda kemudi, meskipun kapal tampak hampir terbalik. Badai adalah kemenangan karya-Nya; meskipun Ia memejamkan mata, namun bukan hati-Nya.”
Benang Merah Tiga Bacaan: Allah bertindak untuk penyelamatan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan:
Jemaat yang dikasih Tuhan Yesus Kristus, pada saat ini, kita memasuki bulan Keluarga. Keluarga yang bagaimanakah yang saudara idamkan? Tentunya sebagai keluarga kita berharap dan berdoa dalam biduk keluarga, semua dalam keadaan aman, damai dan sejahtera, sehat, bahagia, dsb. Keluarga yang senantiasa baik-baik dan menyenangkan, bukan? Tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwa keluarga yang hanya berisi hal-hal yang baik dan menyenangkan itu adalah fatamorgana saja, tidak ada. Sebuah perahu hanya akan berfungsi sebagaimana mestinya jika perahu itu ada di laut atau danau, atau sungai. Artinya perahu akan berfungsi baik manakalah media pijaknya adalah air (barang yang mudah berubah, tidak stabil). Disamping itu juga ada angin dan lingkungan penyerta lainnya. Semua media itu diperlukan agar perahu itu berfungsi dengan baik. Demikian halnya dengan keluarga, tidak ada keluarga yang sempurna, yang ada adalah keluarga yang mencoba mengintegrasikan potensi yang ada untuk mewujudkan keluarga yang diidamkan.
Isi
Pada awal Bulan Keluarga ini mari kita dengan seksama melihat isi bacaan kita. Pada bacaan yang pertama, Ayub merasakan tekanan yang berat walaupun dia adalah orang benar. Dia mengalami pencobaan yang tidak masuk akal. Keluarganya berantakan, dirinya sendiri sakit, dan semua harta kekayaan miliknya lenyap dalam sekejap. Apakah yang salah? Bukankah Ayub sudah hidup saleh dan baik secara bagi sekitarnya? Buktinya Ayub punya banyak sahabat. Ayub merasa bahwa tidak ada seorang pun yang memahami dirinya, baik keluarga, sahabat bahkan Tuhan. Kenyataan yang menimpa dirinya tidak sesuai dengan alur yang lumrah. Kepada Tuhan Ayub berbicara membela diri, seolah Tuhan tidak adil dan tidak memperhatikan bagaimana ia hidup baik selama ini.
Saudaraku, Jemaat kekasih. Bukankah yang Ayub lakukan ini juga sering kita lakukan? Saat ada yang tidak nyaman sering kita mengeluh, “Tuhan kok gini jadinya, padahal keluargaku sudah ini dan itu bagi gereja?” Patutkah kita menuntut pamrih kepada Tuhan?
Dalam bacaan kita temukan Tuhan mengklarifikasi keadaan yang ada, Tuhan turun tangan sendiri berbicara kepada Ayub, dari dalam badai (ayat 1). Dengan cara-Nya yang unik, Tuhan mengarahkan Ayub pada pemahaman bahwa pengertian yang dia miliki tidak memadai untuk mengerti hikmat kehidupan. Berbeda dengan pengertian Allah dan hikmat-Nya. Oleh perkataan Allah inilah, Ayub disadarkan betapa dirinya terbatas, sehingga pada pasal 42, Ayub mencabut perkataannya dan menyesalkan diri. Bahkan didapati semua yang menjadi miliknya adalah semuanya adalah dari Allah sendiri. Jadi tidak sepantasnya memang menuntut pamrih kepada Tuhan, sebab tanpa-Nya kita tidak mempunyai apa-apa bahkan bukan siapa –siapa.
Pada bacaan yang ketiga, ketika Tuhan Yesus di buritan perahu dan tertidur di tilam, ombak besar dan angin sakal menerpa perahu mereka. Para murid kalang kabut, semua berusaha bagaimana mengatasi situasi darurat tersebut menjadi teratasi. Para murid memandang salah pada Diri Tuhan Yesus yang tidak berusaha apapun, malah tertidur. Mereka berkata : ”Guru Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Wah, siapapun tahu ini kalimat membangunkan yang tidak menyenangkan, yang berangkat dari hati yang sinis.
Maka pada Markus 4:39-40, “Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya? ”
Memang angin menjadi reda dan danaupun menjadi teduh, namun satu hal yang mereka harus tahu bahwa ketakutan mereka yang berlebihan, telah menunjukkan ketidakpercayaan mereka kepada Yesus. Itu yang membuat Yesus kecewa, dan menegur mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya? “ Bukankah Yesus sendiri yang menyuruh mereka menyeberang, Dia juga ada di perahu beserta dengan mereka, bahkan di buritan, yang tidak lain adalah tempat mengemudi. Artinya jika Tuhan Yesus berada bersama mereka, semua akan terkendali dengan aman, sekalipun Yesus sedang tertidur. Para murid tidak paham dan tidak benar-benar percaya akan siapa Yesus sebenarnya. Para murid baru sadar siapakah Yesus yang bersama mereka setelah Dia menghardik angin dan berbicara kepada danau, dan angin serta danau itu patuh kepada-Nya. Di waktu itulah para murid paham dan merasa takut kepada-Nya karena kuasa-Nya yang meliputi alam semesta.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, kehidupan sebuah Keluarga diibaratkan bagai sebuah perahu yang sedang mengarungi samudera kehidupan, sampai dengan selamatkah keluarga kita atau salah arah ataukah perahu/keluarga kita malah hancur diterpa badai?
Manusia mempunyai keterbatasan, karena pada hakikatnya manusia itu fana, maka kehadiran Tuhan adalah pusat kekuatan kita. Sebagaimana Ayub diingatkan oleh Tuhan untuk percaya dan mengandalkan-Nya, demikian Tuhan Yesus juga menegur para murid yang tidak mengandalkan dan mempercayai-Nya, semoga kita bisa belajar dari pengalaman mereka dan tidak mengulang kesalahan yang sama.
Rasul Paulus pada bacaan kedua berkata kepada Jemaat Korintus supaya mereka bersikap terbuka kepada Tuhan. Artinya bagi kita, kita harus memberi ruang kepada Tuhan untuk berkarya sebagaimana yang Dia kehendaki dalam hidup kita. Demikian saat Ayub dicobai Iblis, Ayub tetap dalam penyertaan-Nya, adakah yang berkuasa mengambil nyawanya? Keluarga bagaikan kapal yang berlayar bersama-Nya, Allah ada di buritan, apakah yang kita takutkan lagi?
Semua orang ingin berhasil, ya betul! Menurut teori entrepreneur menyatakan beberapa hal yang memampukan orang sukses itu utamanya adalah dirinya sendiri, demikian pula hal yang menghambat kesuksesan atas seorang utamanya adalah dirinya sendiri.
Pada bulan keluarga pada tahun ini, tetaplah bersemangat membangun keberhasilan demi keberhasilan Kristiani dalam keluarga. Jadikan keluarga kita di setiap sisinya diukir dengan ketaatan akan firman-Nya, hingga dengan ketaatan itu mengalir buah-buah Roh, damai dan sejahtera di tengah-tengah kehidupan keluarga kita. Upayakan keluarga kita sebagai keluarga dimana Tuhan bertahta dan menyalurkan berkat-Nya melalui keluarga kita bagi kehidupan.
Penutup
George Herbert mengatakan, “Ketika angin dan gelombang menyergap lunas kapalku, Ia melindungi, Ia memegang roda kemudi. Meskipun kapal tampak hampir terbalik. Badai adalah kemenangan karya-Nya. Meskipun Ia memejamkan mata, namun bukan hati-Nya”. Amin. (EU)
Nyanyian: KJ. 451 Bila Yesus Berada di tengah Keluarga
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Pasamuan ingkang dipun tresnani dening Gusti. Ing wekdal sapunika, kita sami lumebet ing bulan keluarga. “Brayat ingkang kados pundi ingkang panjenengan ajeng-ajeng? Temtunipun minangka brayat, kita nggadahi ngajeng-ajeng lan dedonga brayat kita wonten ing kahanan ingkang aman, tentrem rahayu, sehat, sae lan bingahaken. Brayat ingkang sae-sae kemawon saha bingahaken, nggih punapa boten? Ananging kita boten saged dipun selaki bilih brayat ingkang isinipun namung bab ingkang sae lan bingahaken kemawon punika namung fatamorgana, utawi boten wonten. Kados dene perahu punika wonten ginanipun bilih wonten ing seganten, telaga utawi lepen. Tegesipun perahu punika badhe saged dipun damel ing papan ingkang wonten toyanipun. Mekatena ugi wonten angin lan sarana sanesipun ingkang dadosaken perahu punika saged dipun damel kanthi sae. Mekaten kaliyan brayat, boten wonten brayat ingkang sampurna, ingkang wonten inggih punika brayat ingkang ngupaya nunggilaken sedaya potensi ingkang wonten kangge nuwuhaken brayat ingkang dipun ajeng-ajeng.
Isi
Ing wulan brayat punika, mangga kita tingali isi waosan kita. Ing waosan sepisan, Ayub ngraosaken pacoben ingkang awrat, senajan piyambakipun punika tiyang ingkang bener. Ayub nampi pacoben ingkang boten masuk akal. Brayatipun bubrah, piyambakipun sakit, sedaya raja brananipun sirna. Punapa ingkang salah? Piyambakipun sampun gesang saleh lan sae kabukti katah kanca rencangipun. Ayub rumaos boten wonten tiyang ingkang mangertosi kahananipun, sae punika brayat, kanca, lan Gusti Allah. Kasunyatanipun Ayub rumaos punapa ingkang dipun alami punika boten sami kaliyan alur gesangipun ingkang lumrah. Ing ngarsanipun Gusti Allah, Ayub mbela piyambakipun, Ayub rumaos bilih Gusti Allah boten adil lan boten kersa gatosaken kados pundi gesangipun Ayub sapunika.
Para sederek, pasamuan ingkang kinasih. Punapa ingkang dipun tindakaken Ayub punika, asring ugi kita lampahi ing gesang kita sadinten-dinten. Nalika wonten perkawis ingkang boten nentremaken kangge gesang kita, asring kita sambat, “Gusti kok kados mekaten, padhal kula lan brayat kula sampun tumindak sae kangge greja.” Punapa kita patut nuntut dhumateng Gusti Allah?
Ing waosan kita, Gusti Allah jelasaken kahananipun Ayub. Gusti Allah ngendika dhateng Ayub (ay.1). sarana cara ingkang unik, Gusti Allah kersa paring pangertosan dhateng Ayub bilih pangertosan Ayub punika kawates kangge mangertosi kawicaksananing gesang. Benten kaliyan kawicaksananipun Gusti Allah. Awit saking Pangandikanipun Gusti Allah punika, Ayub sadar bilih piyambakipun punika kawates. Ing bab 42, Ayub nyabut tembung-tembungipun sarta nelangsani kalepatanipun. Ayub ngrumaosi bilih sedaya ingkang dipun gadhahi punika kagunganIpun Gusti Allah. Ayub ngrumaosi bilih saestu boten pantes bilih piyambakipun nuntut pamrih dhumateng Gusti Allah. Pemanggihipun Ayub, tanpa Gusti Allah, piyambakpiun boten kagungan punapa – punapa ugi piyambakipun sanes punapa-punapa.
Ing waosan katiga, nalika Gusti Yesus ing buritan perahu lan sare, wonten ombak ageng lan angina sakal ingkang ngoyak perahu punika. Para sakabat sami ajrih, sedaya sami ngupaya kados pundi anggenipun ngadepi kahanan punika. Para sakabat nyalahaken Gusti Yesus ingkang boten tumindak punapa-punapa ing kahanan punika malahan sare. Para sakabat lajeng mungel, “Guru, punapa Paduka boten nggalih, bilih kawula sami badhe tiwas?”. Wah, tamtu kita mangertos tembung punika boten sae ingkang dipun ungelaken para sakabat kangge bigah Gusti Yesus ingkang sare. Tembung punika tuwuh saking manah para sakabat ingkang kuatos.
Ing ayat 4:39-40 nyebataken, “Panjenengane banjur wungu, angine didukani lan ngandika marang saraga: “Menenga lan dadia anteng!” Angine nuli mendha lan segarane dadi anteng maneh. Banjur ngandika marang para sakabate : “Yagene kowe padha wedi mangkono? Yagene kowe ora padha pracaya?”
Sak sampun ngandika ingkang mekaten, angin sakal dados tenang lan telaga ugi dados tenang, nanging para sakabat kedahipun mangertos bilih raos ajrih punika dadosaken para sakabat boten pitados dhumateng Gusti Yesus. Perkawis punika ingkang dadosaken Gusti Yesus kuciwa lajeng ngendikan dhateng para sakabat : “Yagene kowe padha wedi mangkono? Yagene kowe ora padha pracaya?”. Punapa para sakabat sami kesupen bilih Gusti Yesus piyambak ingkang mrintah para sakbat nyebrang, Gusti Yesus ugi wonten ing perahu kaliyan para sakabatipun. Punapa malih Gusti Yesus manggen ing buritan, papan kangge ngemudeni perahu. Tegesipun bilih Gusti Yesus wonten ing satengah-tengahing para sakabatipun, sedaya kahanan tamtunipun aman senajan Gusti Yesus sare. Para sakabat saestu boten mangertos lan boten pitados tumrap sinten ta Gusti Yesus punika? Para sakabat saged mangertosi Gusti Yesus, sak sampunipun Gusti Yesus ndukani angin sakal lan ngendikan supados telaga punika tenang. Sapunika para sakabat sami paham lan rumaos ajrih karana panguwaosipun Gusti Yesus dhateng alam.
Pasamuan ingkang kinasih. Brayat punika kados perahu ingkang lumampah ing samudraning gesang. Punapa saged dumugi tujuan kanthi wilujeng, punapa salah arah, punapa perahu punika malah pecah? Manungsa punika kawates karana pangertosanipun ingkang fana. Karana punika rawuhipun Gusti Yesus ing gesang kita dados kakiyatan kita. Kados Ayub ingkang dipun engetaken Gusti Allah supados enget lan ngandelaken Gusti Allah kemawon. Kados para sakabat ingkang dipun dukani Gusti Yesus karana ngandelaken kakiyatanipun piyambak lan boten pitados dhumateng Gusti Yesus, mugi saged dadosaken pasinaon kangge kita supados boten ngulang kalepatan ingkang sami.
Rasul Paulus ing waosan kalih ngendikan dhateng pasamuan Korinta supados pasamuan Korinta tansah blaka suta dhumateng Gusti Allah. Mekaten kangge kita, tegesipun kita ngaturi Gusti Allah tansah makarya ing salebeting gesang kita. Kita tansah setya tuhu dhumateng Gusti. Nalika Ayub dipun coba dening Iblis, Ayub tetep wonten panganthinipun Gusti Allah, “Punapa wonten ingkang kuwaos mendhet nyawanipun?”. Brayat punika kados perahu ingkang layar sinarengan Gusti, ing pundi Gusti Allah wonten ing buritan, lajeng punapa ingkang badhe dadosaken kita ajrih?
Sedaya tiyang punika kepengin kasil, leres! Miturut teori entrepreneur wonten sawetawis perkawis ingkang dadosaken tiyang punika sukses, ingkang utami inggih punika dirinipun piyambak. Mekaten ugi ingkang dados halangan suksesing tiyang punika ingkang utami inggih dirinipun piyambak.
Panutup
Ing wulan brayat taun punika, mangga kita tetep semangat bangun kasaenan ing brayat kita. Mangga kita dadosaken brayat kita, brayat ingkang setya ing Sabdanipun Gusti ngantos ngedalaken woh-wohing Roh, tentrem lan santosa. Mangga kita sami ngupaya brayat kita minangka brayat ingkang dipun kersaaken Gusti, ing pundi Gusti Allah jumeneng ing satengahing brayat kita. Kanthi mekaten brayat kita saged dados saluran berkahipun Gusti kangge sesami gesang.
George Herbert matur, “Nalika angin lan glombang nyerang perahuku, Panjenenganipun nlindungi, Panjeneganipun ingkang ngemudeni roda kemudi. Sanajan perahuku meh kuwalik. Prahara punika kamenangan pakaryanIpun. Sanajan Panjenenganipun nutup pameca, ananging sanes manahIpun”. Amin. (terj. AR).
Pamuji: KPJ. 67 Allah Kang Makwasa