Satya Bhakti T’rusing Gusti Khotbah Minggu 19 Juli 2026

6 July 2026

Minggu Biasa | Pekan Adi Yuswa
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 44 : 6 – 8
Mazmur: Mazmur 86 : 11 – 17
Bacaan 2: Roma 8 : 12 – 15
Bacaan 3: Matius 13 : 24 – 30, 36 – 43

Tema Liturgis: Satya Bhakti T’rusing Gusti
Tema Khotbah: Satya Bhakti T’rusing Gusti

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 44 : 6 – 8
Teks Yesaya 44:6-8 ini termasuk ke dalam Deutro Yesaya (Yesaya Kedua) yang ditulis pada masa pembuangan di Babel oleh murid-murid nabi Yesaya atau mazab Yesaya setelah hancurnya Yerusalem pada tahun 586 SM.  Kitab Yesaya dapat dibagi menjadi 3: Yesaya I pasal 1-39 ditulis pada zaman nabi Yesaya sendiri, Yesaya II pasal 40-55 ditulis pada masa akhir pembuangan Babel.  Pasal 40-48 ditulis sebelum Babel jatuh (539 SM) dan pasal 49-55 ditulis setelah Babel runtuh oleh Raja Koresy dari Persia. Bangsa Israel Selatan (Yehuda) dibawa ke Tanah Babel menjadi bangsa buangan yang tertindas, terserak di berbagai tempat, bahkan banyak yang sudah terpengaruh oleh pemujaan dewa-dewi orang Babel. Yesaya III pasal 56-66 ditulis beberapa puluh tahun setelah masa pembuangan, dimana Bait Allah sudah dibangun kembali (Yes. 56:7).

Pada saat menjelang runtuhnya Babel itulah nabi itu muncul dan menubuatkan akan datangnya pembebasan dari Tuhan melalui Raja Koresy (Yes. 40, 45, 46, 48).  Oleh karena itu, dalam Yesaya 44:5-6 ini, nabi Yesaya mengingatkan bahwa Tuhanlah, satu-satunya Tuhan, penebus, dan pemilik Israel.  Dia adalah yang terdahulu dan terkemudian, yang ada sebelum segala sesuatu ada dan yang tetap ada ketika segala sesuatu sudah tiada. Dia adalah perencana dan yang mengabarkan tentang segala hal yang akan datang melalui nabi-nabi-Nya. Maka Tuhan sangat berbeda dengan berhala-berhala dan dewa-dewi Babel. Oleh karena itu, hendaklah Israel tidak gentar dan takut. Tuhan yang membentuk, memiliki Israel, serta menjadikan Israel sebagai saksi-saksi- Nya akan karya-Nya yang hebat itu.

Roma 8 : 12 – 15
Roma sebagai kota besar metropolitan keadaannya sangat kompleks sekali.  Pertama-tama menjadi pusat pemerintahan Imperium Romanum yang penuh dengan segala yang extravaganza (hebat, megah). Kedua sangat majemuk dan penuh dengan perbedaan serta kontradiksi. Berbagai suku, bangsa, bahasa, adat, budaya, keagamaan, filsafat, status sosial, ekonomi, pendidikan serta intrik politik “tumplek bleg” ada di sana semua.  Belum segala macam kemaksiatan yang juga ada dimana-mana.

Di tengah kota dan masyarakat yang seperti tersebut di atas itulah Jemaat Roma hidup, seperti sekelompok kecil komunitas yang hidup di tengah samudera luas seolah tanpa terbatas. Tentu betapa mudahnya kelompok ini terombang-ambing, terguncang ke sana, tertarik ke sini, terpengaruh oleh berbagai aliran pemikiran, nilai-nilai dan prinsip hidup. Demi menjaga kemurnian, hal ini dapat saja menjadikan komunitas Kristen yang kecil itu menjadi tertutup, menjauhkan diri dari Masyarakat, bahkan memusuhi masyarakat. Atau sebaliknya, demi amannya dan enaknya, begitu saja mengikuti arus, tenggelam di tengahnya, kehilangan jati diri, visi dan misi.  Memang sungguh tidak gampang.

Di tengah keadaan seperti itulah Paulus menulis suratnya kepada mereka. Dalam sebagian nasihatnya, Paulus menandaskan bahwa karena keselamatan Allah yang telah diberikan kepada kita, kita ini seperti orang berhutang. Di dalam Kristus Allah telah memerdekakan kita dari perbudakan dosa dan memasukkan kita ke dalam kemerdekaan anak-anak Allah.  Oleh karena itu, kita sudah tidak dikuasai oleh roh perbudakan lagi, melainkan Roh Allah, Roh Keputraan, sehingga oleh Roh itu menyebut Allah dengan: “Abba” atau Bapa (Ay. 15). Siapa yang hidup menurut kehendak Roh Allah ini akan hidup, sedangkan mereka yang hidup menurut keinginan daging akan mati (Ay. 13) artinya mereka terputus dari Allah, Sang Sumber kehidupan itu sendiri.

Matius 13 : 24 – 30, 36 – 43
Sastra perumpamaan adalah bentuk sastra dan budaya yang hampir ada di setiap budaya bangsa-bangsa. Melalui perumpaan masalah filosofis dan teologis yang sulit dapat dijelaskan dengan sederhana. Masalah esoteris atau yang bersifat batiniah, dalam dan eksklusif dapat dijelaskan dengan mudah.  Dan yang lebih penting lagi melalui perumpamaan juga bisa untuk memilah dan memberikan penjelasan yang lebih khusus kepada kelompok sendiri di tengah penjelasan umum. Yesus Sang Guru Sejati juga sering menggunakan sastra perumpamaan itu di dalam pengajaran-Nya tentang Kerajaan Allah, sebagaimana dalam bacaan kita ini. Malahan ada penafsir yang mengatakan bahwa kumpulan perumpamaan tentang Kerajaan Allah di dalam Matius ini untuk menjelaskan periode pertumbuhan gereja. Perumpamaan 1 dan 2 adalah gereja pada zaman rasul-rasul. Perumpamaan 3 dan 4 adalah pada zaman gereja di tengah bangsa-bangsa. Sedangkan perumpamaan 5, 6, dan 7 adalah pada masa gereja tersembunyi di tengah kekacauan. Tujuan perumpamaan ini adalah untuk menjaga kemurnian dan harapan orang percaya.

Terjemahan alang-alang itu sebenarnya tumbuhan yang sefamili dengan rumput-rumputan, seperti gandum. Nama Latinnya Lolium Temulentum yang mengandung racun. Orang yang keracunan jenis rumput ini bisa muntah-muntah, diare, bahkan meninggal dunia. (The Pulpet commentary, Vol 15, Mat. 13).  Oleh karena itu, tidak heran jikalau di dalam perumpamaan ini, hamba-hamba itu meminta supaya mencabut ilalang itu, namun jawab tuan itu “Jangan!”, karena ia tidak ingin ada gandum yang ikut tercabut.  Karena dalam kenyataan betapa sulitnya membedakan antara gandum dan ilalang jenis ini dan betapa mudahnya “human error” (kesalahan manusiawi). Padahal jikalau terjadi salah cabut akibatnya fatal sekali. Biarlah keduanya tumbuh bersama.  Nanti pada musim menuai tiba waktunya, keduanya dipilah, gandumnya dimasukkan lumbung dan ilalangnya dibakar.

Benang Merah Tiga Bacaan
Untuk setia berbakti dan menjadi saksi dalam konteks masyarakat yang kompleks, betapa tidak mudah. Yesaya 44 menunjukkan pergumulan Israel di tanah Pembuangan Babel. Demikian juga dialami oleh orang-orang Kristen di Roma.  Melalui perumpamaan-Nya Tuhan Yesus mengajarkan bagaimana hidup bersama orang lain dengan tetap setia kepada Tuhan dan panggilan-Nya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Hidup bersama dalam masyarakat yang beraneka ragam, yang tumbuh dengan kompleks, betapa tidak mudah. Lebih-lebih hidup di tengah masyarakat majemuk sebagai minoritas yang mengalami banyak diskriminasi dan tertindas.  Antara satu orang dengan yang lain, kelompok yang satu dengan yang lain saling memengaruhi, dapat saling memangsa, dapat pula saling menyingkirkan.  Inilah yang menjadikan masyarakat selalu gaduh, penuh ketegangan, konflik, kekacauan, bahkan peperangan. Biasanya kelompok kecillah yang paling banyak menjadi korban.

Lebih lagi kehidupan umat beragama. Walaupun setiap agama mengajarkan dan mengklaim agamanya sebagai agama damai sejahtera, agama kasih, agama kebajikan, namun dalam realitasnya betapa sering justru umat beragama menjadi sumber masalah. Karena apa yang dilakukan bertentangan dengan semua klaim itu, disebabkan karena pemutlakan diri (absolutisasi), standard ganda yang memandang diri sendiri selalu yang terbaik, tersuci, dan memandang di luar dirinya jahat, najis, kafir. Lebih lagi ketika terjadi politisasi agama. Agama dijadikan kendaraan politik untuk mencapai kekuasaan. Agama mudah berubah menjadi kekerasan dan kekejian. Betapa bahayanya keadaan seperti ini bagi Indonesia yang sangat majemuk, bahkan juga dunia yang makin majemuk dan kompleks di era digital ini. Bagaimanakah hidup setia kepada Tuhan dan panggilan-Nya di tengah konteks seperti itu?

Isi
Perumpamaan tentang Lalang di Antara Gandum

Dalam perumpamaan pertama sebelumnya, yakni Matius 13:1-23 tentang perumpamaan seorang penabur benih, perumpamaan ini berbicara tentang tempat dimana benih itu tumbuh, namun di dalam perumpamaan yang kedua ini berbicara bahwa ternyata benih itu tidak tumbuh sendiri melainkan dengan tanaman lain. Tanaman lain yang sangat mengganggu dan membahayakan keberadaan pertumbuhan benih Kerajaan Allah itu. Dalam perumpamaan ini tidak berbicara tentang ajaran atau doktrin, melainkan orang, pribadi yang tumbuh dan hidup di kiri kanannya atau malahan menyatu, teranyam kuat (bahasa Jawa: ngruket) benih gandum itu. Bahkan ada yang rupanya begitu mirip, tetapi beracun. Karena itu, pekerja tersebut menanyakan kepada tuannya untuk mencabut saja tanaman-tanaman itu. Namun tuannya tidak membolehkan, karena takut jikalau tanaman gandumnya ikut tercabut, karena keduanya sangat mirip sekali. Hal ini akan sangat fatal sekali. Nanti kalau sudah berbuah akan nampak perbedaannya secara jelas, sehingga gandum dimasukkan ke lumbung dan lalang itu dibakar.

Selanjutnya dalam Matius 13:37-41, Tuhan Yesus menjelaskan perumpamaannya itu khusus kepada murid-murid-Nya, bahwa orang yang menaburkan benih yang baik itu ialah Anak Manusia. Ladang ialah dunia dan benih yang baik itu ialah anak-anak Kerajaan Surga. Sedangkan lalang adalah anak-anak si Jahat atau Iblis.  Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu adalah para malaikat.

Keadaan seperti itulah yang dihadapi orang-orang Israel Selatan (Yehuda) pada waktu dibuang ke Tanah Babel. Mereka hidup terserak, terdiskriminasi, dan tertindas di tengah-tengah orang-orang Babel. Sudah banyak orang-orang Israel ini yang terpengaruh oleh kepercayaan Babel kepada dewa-dewi dan adat budaya mereka. Keadaan seperti itu juga dialami oleh orang-orang Kristen mula-mula di kota Roma dengan segala kemegahannya, kebanggaan atas adat budaya dan kepercayaannya serta nilai-nilai filsafat kehidupannya. Tidak heran jikalau mereka selalu dirundung kecemasan dan ketakutan.  Ada banyak hal yang menjadi sumber ketakutan, seperti perlakuan diskriminatif, dikucilkan dari masyarakat, penganiayaan, dst.nya.

Walaupun tidak separah di Babel dan Roma, bukankah keadaan seperti itu juga sering dialami oleh orang percaya di Indonesia. Hidup di tengah masyarakat yang majemuk dengan beraneka ragam kepercayaan, agama dan adat budayanya. Mungkin di era digital ini, apa yang dirasakan berkembang agak berbeda dan lain, misalnya takut dan cemas ketinggalan (Fear of Missing Out/ FOMO), merasa sendiri, terasing. Sehingga orang semakin tidak dapat melepaskan diri dari HP dan sangat tergantung kepada HP-nya.  Lebih lagi para adi yuswa, karena kemerosotan fisik, panca indera, ingatan, finansial, hubungan sosial menjadikannya dihantui oleh rasa cemas dan khawatir. Merasa ditinggalkan sendiri, anak-anak bertempat tinggal jauh, sibuk dengan pekerjaan dan urusan mereka sendiri. Teman dan handai taulanpun menjauh.

Memang tidak mudah untuk hidup di tengah keadaan ini. Ada dua bahaya besar, yaitu pertama hidup eksklusif, artinya hidup semakin tertutup, menyendiri, menjauhkan diri dari masyarakat demi menjaga kemurnian iman dan adat budayanya.  Kedua, berbaur di tengah masyarakat, tenggelam dalam adat, budaya, bahkan kepercayaan mereka. Dua-duanya mempunyai resiko kehilangan komunikasi dan hubungan dengan masyarakat, sehingga tidak dapat melakukan misinya dengan baik, yaitu berbagi kehidupan dan berita sukacita dengan sesamanya.

Jangan heran jikalau ada kelompok orang beragama yang melakukan seperti pertanyaan pekerja dalam perumpamaan itu, yaitu dengan mengatas- namakan Tuhan atau agama, melakukan kekerasan, mencabut tanaman-tanaman yang dianggap berbeda, beracun, najis. Inilah yang dilakukan oleh kelompok “radikal” yang tidak sabar lagi, dan melihat dunia secara hitam putih serta diri sendiri sebagai yang tersuci, terbaik. Akibatnya terjadi pertikaian, peperangan, kebencian antara kelompok yang satu dengan yang lain, dan agama mendatangkan kekerasan, kekejian, dan penindasan. Tindakan ini sungguh telah merebut tempat Tuhan, padahal tuan pemilik ladang itu tidak menginginkannya.

Panggilan Tuhan di Tengah Hidup Bersama
Bahwa dalam hidup bersama kita tidak sekadar hidup bersama saja, melainkan juga supaya kita bermakna dan menjadi berkat, yaitu menjadi saksi akan sukacita dan keselamatan Tuhan. Oleh karena itu, dalam Yesaya 44:8, nabi Yesaya menguatkan supaya umat tidak gentar dan takut. Karena Tuhan yang memanggil kita adalah Sang Awal dan Akhir, Tuhan penguasa dan pengarah Sejarah Semesta. Tuhan adalah pembentuk, pemilik, dan pemelihara Israel.  Selanjutnya Roma 8:14 menyebutkan bahwa hidup kita dipimpin oleh Roh Allah yang menghidupkan, yang menjadikan kita anak Allah dan berseru: “Abba”, ya Bapa! Roh “keputraan” inilah yang mendekatkan hubungan kita dengan Allah sedemikian dekat, seperti Kristus dengan Bapa-Nya. Hubungan yang dipenuhi kejujuran, ketulusan, keikhlasan, sukacita, dan kemerdekaan. Semua itu membawa bakti kita kepada Tuhan, bukan dengan kemunafikan, duka dan paksa serta perbudakan dan demi upah, melainkan dengan cinta, keikhlasan, kebebasan, dan sukacita, baik melalui ibadah maupun berbagi kehidupan dengan sesama kita sehari-hari.

Penutup
Hidup bersama orang lain di tengah kemajemukan sungguh tidak mudah.  Tetapi hal itu bukan merupakan malapetaka, melainkan kesempatan bagi diri sendiri untuk tumbuh makin kuat, sentosa, bijaksana, dan berarti bagi orang lain. Tuhan menghendaki kita menjadi saksi-saksi pembebasan dan pemeliharaan-Nya terhadap semesta ini.  Oleh karena itu, hidup bukan sekadar untuk bertahan. Bukan sekadar hidup bersama, tetapi saling masa bodoh (co-existence). Bukan pula untuk saling memangsa dan menyingkirkan, melainkan hidup bersama untuk bermakna dan saling mengkayakan serta menyejahterakan dengan orang lain (pro-existence). Tuhan telah mempersiapkan kita dengan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya, serta mengaruniai kita roh keputraan.  Hendaknya Roh Keputraan, yakni kedekatan, ketulus-ikhlasan, kemerdekaan, dan sukacita itu selalu menjiwai kita dalam membangun keluarga kita, pelayanan dalam jemaat kita, bahkan dalam hubungan kita dengan masyarakat. Amin. [BRU].

 

Pujian: PKJ. 289  Keluarga Hidup Indah

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Gesang sesarengan ing satengahing bebrayan ingkang maneka warni suku, bangsa, adat kabudayan miwah kapitadosan punika saestu mboten gampil. Langkung-langkung minangka minoritas, bangsa buangan ingkang ngalami tumindak “mban cindhe mban siladan” miwah katindhes kados dene bangsa Israel ing Tanah Babel kala zamanipun Deutro Yesaya (Yesaya II) punika.  Saben agami nyatakaken minangka agami tentrem rahayu, sih-katresnan, lan kasaenan, nanging kanyatananipun ing tumindak saben dinten lelawanan kaliyan klaimipun punika. Matemah agami mboten dados solusi saking mawarni-warnining masalah, ananging malah dados sumbering masalah punika.  Karana saben agami nyatakaken minangka ingkang paling leres, paling suci, lajeng nyenyamah sanesipun minangka kesasar, lepat, najis, lan kapir.  Pungkasanipun sami dredah, silih-ungkih, malahan kanthi wengis nindakaken kakerasan. Ing satengahing konflik punika biasanipun ingkang paling dados korban inggih punika ingkang alit lan sekeng.

Kawontenan ingkang kados mekaten punika saestu mbebayani sanget tumrap tuwuh lan wetahipun masyarakat Indonesia ingkang majemuk, ingkang ing wekdal punika lumebet ing zaman digital, ingkang masyarakatipun sansaya kabikak. Kados pundi saged gesang setya bekti tumuju Gusti (Satya bhakti t’rusing Gusti) miwah nindakaken sadaya timbalanipun Gusti?

Isi
Pasemon Bab Alang-alang ing Satengahing Gandum

Ing pasemon saderengipun, inggih punika Mateus 13:1-23, kacariyosaken pasemon bab tiyang ingkang nyebar wiji, ingkang nyariosaken bab ing pundi wiji punika dhawah lan tuwuh. Ing pasemon Mateus 13:24-30 kalajengaken ayat 36-43 punika nyariyosaken bilih wiji punika mboten tuwuh piyambakan, nanging sesarengan taneman sanes, malahan taneman sanes ingkang saged ngganggu tuwin mbebayani tumrap tuwuh ngrembakaning wiji Kratoning Swarga punika. Ing pasemon punika mboten micantenaken bab piwucal utawi doktrin, ananging tiyang, pribadi sanes ingkang tuwuh ing kiwa tengen, utawi malahan ngruket wiji gandum punika. Malahan kathah tetuwuhan punika ingkang ngemu racun. Mila batur-batur (pekerja) sami murugi lan matur dhumateng lurahipun, “Punapa penjenengan ngersakaken kula sami mbedholi kemawon kambengan (alang-alang) punika?” Nanging lurahipun punika mboten marengaken awit kuwatos menawi taneman gandumipun punika katut kabedhol. Sebab kalih-kalihipun sanget mirip, saengga menawi gandumipun katut kabedhol akibatipun fatal sanget.  Mangke menawi sampun wancinipun panen, bedanipun sansaya jelas. Saengga gandumipun kalebetaken ing lumbung, dene alang-alangipun kabesmi ing latu.

Salajengipun ing Mateus 13:37-41, Gusti Yesus njelasaken pasemonipun punika, mligi dhumateng para sakabat-Ipun. Bilih tiyang ingkang nyebar wiji ingkang sae punika Putraning Manungsa. Pategilan punika jagad saha wiji ingkang sae punika para putraning Kraton Swarga. Dene alang-alang punika para anaking pangawak dursila, satru ingkang nyebar wiji alang-alang punika Iblis. Wekdal panen inggih dinten pungkasan zaman lan para tiyang derep inggih punika para malaekating Gusti.

Kawontenan ingkang kados mekaten punika ceples sanget kaliyan kawontenan ingkang dipun adhepi dening tiyang-tiyang Israel ing tanah Babel kala zaman pambuangan. Tiyang-tiyang punika gesang kapencar-pencar, kabedak-bedakaken kaliyan tiyang Babel, katindhes, lan nandhang sangsara.  Sampun kathah tiyang-tiyang Israel ingkang kapengaruh miwah sumuyud dhumateng dewa-dewi sarta adat budayanipun bangsa Babel. Kawontenan kados mekaten punika ugi dipun alami dening tiyang-tiyang Kristen kawitan ing kitha Roma kanthi sadaya kamegahaning panguwaosipun, adat budaya, kapitadosanipun, tuwin inggiling filsafatipun. Mila mboten aneh menawi tiyang-tiyang Kristen punika asring kuwatos lan ajrih. Kathah sanget bab-bab ingkang dados sumbering kuwatosipun, kadosta kinucilaken saking bebrayan, kabedak-bedakaken kaliyan tiyang-tiyang sanesipun. Malahan kaaniaya, kafitnah, kapurih nilaraken iman kapitadosanipun.

Sanadyan mboten sanget kados dene ing panguwaosing Babel miwah Roma, kawontenan ingkang kados mekaten ugi taksih asring dipun raosaken dening tiyang Kristen ing pundi-pundi panggenan, kalebet ing Indonesia punika.  Mbok menawi ing zaman digital punika raos kuwatos lan ajrihipun sampun radi benten. Wonten ingkang kuwatos ketinggalan (Fear of Missing Out/ FOMO).  Rumaos piyambakan, kinucilaken, kapedhotan sesambetan, terasing. Mila tiyang-tiyang sami mboten saged lepas lan sansaya gumantung dhumateng HP nipun. Langkung malih para adi yuswa ingkang ngalami mrosotipun kakiyataning phisik, psikhis, panca indera, finansial, sesambetan sosial, lan pikun, asring rumaos katilaraken piyambakan. Anak-anakipun sampun sami bebrayatan lan nyambut damel ing papan ingkang tebih tuwin sibuk kanthi pagesanganipun piyambak-piyambak. Sanak sadherek ugi sampun sami tebih tanpa sesambetan. Saestu rumaos sepuh, sepah, sepa, sepi, lan samun.

Pancen saestu mboten gampil gesang ing satengahing kawontenan punika. Kawontenan punika saged ndadosaken gesang eksklusif, artosipun sansaya nutup dhiri, nebihi bebrayan. Utawi suwalikipun saged kemawon kebandang lan klelep ing adat, kabudayan, lan kapitadosaning lingkunganipun.  Kalih-kalihipun ndadosaken kecalan lan mboten saged nindakaken misinipun mbagi pawartos rahajeng miwah gesangipun ing satengahing sesaminipun.

Mila mboten aneh, ingkang lajeng tuwuh klompok ingkang tumindak kadosdene pitakenanipun para batur ing pasemon punika.  Inggih punika ngatas namekaken Gusti Allah, utawi agami lajeng kepengin nindakaken kekerasan, mbedhol kemawon sadaya tetuwuhan ingkang kaanggep benten, ngemu racun lan najis. Rak inggih mekaten punika ingkang katindakaken dening klompok “radikal”, ingkang mboten sabar, ingkang ningali kanyatan punika namung cemeng lan pethak sarta rumaos namung dhirinipun piyambak ingkang paling leres, sae, lan suci. Akibatipun memengsahan, sengit-sinengitan, lan agami namung ambeta paprangan, kakerasan, sarta tumindak dhegsiya dhumateng sesami. Mila ki Lurahipun mboten ngersakaken para baturipun tumindak ingkang mekaten.

Timbalanipun Gusti ing Satengahing Gesang Bebrayan Sesarengan
Estunipun Gusti ngersakaken ing gesang sesarengan bebrayan mboten namung supados kita saged gesang sesarengan kemawon, nanging ugi supados gesang kita nggadhahi makna miwah dados berkah lumantar dados seksinipun Gusti martosaken kawilujenganipun Yehuwah. Mila ing Yesaya 44:8, nabi Yesaya ngiyataken lan ngatag bangsa Israel supados sampun ngantos kuwatos lan ajrih. Karana Gusti ingkang nimbali kita punika inggih Sang Kawitan lan Wekasan. Gustining sarwa dumadi, Panebusing Israel ingkang ngarahaken lampah jantraning sejarahing alam donya. Inggih Gusti ingkang nyipta, ngreksa, nggadhahi, miwah nebus Israel. Mekaten ugi tumrap tiyang ingkang pitados ing Gusti Yesus, ing Roma 8:14, 16, para pitados punika katuntun dening Rohing Allah ingkang nggesangaken lan ndadosaken para pitados punika minangka para putraning Allah ingkang nyebut “Abba, Rama” dhumateng Gusti Allah Sang Rama. Roh Kaputran punika ingkang ndadosaken sesambetan ingkang sanget raket kadosdene Sang Kristus kaliyan Ramanipun. Para ahli waris ingkang nampi prasetyanipun Gusti Allah, ndherek sangsara sesarengan Gusti Yesus lan badhe nampi kamulyan sesarengan kaliyan Panjenenganipun. Sesambetan ingkang kinebakan ing kajujuran, katulus-ekhlasan, kabingahan, miwah kamardikan.   Sadaya punika ambeta ibadah lan bekti kita dhumateng Gusti Allah lan peladosan dhumateng sesami mboten mijil saking kamunafikan, sedih, lan kapeksa, jiwa buruh ingkang ngalap upah, nanging awit sih katresnan, sokur kamardikan saha katulus-ekhlasan. Mila Gusti mberkahi.

Panutup
Gesang sesarengan ing satengahing bebrayan ingkang sanget maneka warni pancen mboten gampil. Ananging kawontenan punika saestu sanes kacilakan. Punika kesempatan kangge kita tuwuh ngrembaka, sansaya santosa, kebak kawicaksanan, lan ngwedalaken woh ingkang paling sae. Karana Gusti ngersakaken kita saged dados seksi-seksinipun ingkang mbabaraken pangluwaran miwah pangreksanipun Gusti tumrap alam donya punika.

Mila gesang sesarengan mboten namung kangge bertahan, tetep setya kemawon, ugi sanes namung tanpa peduli “masa bodoh”, punapa malih kangge singkir siningkiraken miwah mangsa-minangsa. Ananging supados nggadhahi artos miwah sugih-sinugihaken, raharja-rinarharjakaken antawisipun satunggal lan satunggalipun.  Kita sampun sumadya nindakken sadaya punika, karana kita sampun kaangkat putra miwah sinartan rohing kaputran ing salebeting bekti trusing Gusti. Amin. [BRU].

 

Pamuji: KPJ. 416  Saprakara Kang Pantes

Renungan Harian

Renungan Harian Anak