Ngrembaka Ing Manah lan Laku Khotbah Minggu 12 Juli 2026

29 June 2026

Minggu Biasa | Pekan Kebangunan Wanita
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 55 : 10 – 13
Mazmur: Mazmur 65 : 9 – 13
Bacaan 2: Roma 8 : 1 – 11
Bacaan 3: Matius 13 : 1 – 9, 18 – 23

Tema Liturgis: Ngrembaka Ing Manah lan Laku
Tema Khotbah: Ngrembaka Ing Manah lan Laku

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 55 : 10 – 13
Yesaya hidup pada masa pemerintahan empat raja Yehuda: Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia (Yes. 1:1). Ia berasal dari keluarga terpandang di Yerusalem. Sosok yang berpendidikan dan berbakat dalam menggubah syair. Yesaya hidup sezaman dengan Hosea dan Mikha. Ia bernubuat selama perluasan yang mengancam dari kerajaan Asyur, keruntuhan terakhir Israel (Kerajaan Utara) serta kemerosotan moral dan rohani di Yehuda (Kerajaan Selatan). Di masa hidupnya sebagai nabi, Yesaya memperingatkan raja Ahas untuk tidak mengandalkan kekuatan bangsa Asyur untuk melawan Israel dan Aram. Ia juga memperingatkan raja Hizkia setelah kejatuhan Israel tahun 722 SM untuk tidak mengadakan persekutuan dengan bangsa asing melawan Asyur. Ia mengingatkan mereka untuk selalu percaya dan mengandalkan Tuhan Allah saja.

Bagian perikop kita, Yesaya 55:10-13 merupakan bagian dari Deutero Yesaya (Pasal 40:1 – 66:24) yang ditulis dalam konteks pembuangan bangsa Yehuda ke Babel. Pasal 55 ini berisi tentang nubuat keselamatan dan pengharapan dimana nabi Yesaya menyampaikan janji Allah akan keselamatan dan pemulihan bagi Yehuda, bagi mereka yang percaya dan bertobat. Yesaya menggambarkan umat Tuhan akan ada dalam keadaan bahagia oleh karena keselamatan dan pemulihan yang Tuhan nyatakan. Tuhan Allah memanggil bangsa Yehuda untuk bertobat kembali pada-Nya dan berjanji jika mereka mau merespons panggilan pertobatan itu, mereka akan mendapatkan hidup yang lebih baik dari keadaan mereka selama ini (Ay. 1-2). Mereka harus meninggalkan dosa mereka agar Allah memulihkan keadaan mereka (Ay. 6-7). Ini menjadi cara Allah menyelamatkan umat-Nya dan firman-Nya tidak pernah gagal (Ay. 8-9). Rancangan Allah mendatangkan kesejahteraan bagi umat-Nya (Ay. 12–13). Dalam menggenapkan rancangan Allah itu, Allah menjanjikan kasih dan kehidupan. Yang Ia minta adalah penyerahan diri seutuhnya dan pertobatan total dari umat-Nya. Ketika umat kembali kepada-Nya, maka Ia mengasihani, mengampuni, dan memulihkan keadaan mereka. Di dalam keselamatan Allah itu ada sukacita dan damai sejahtera yang dirasakan umat.

Roma 8 : 1 – 11
Bagian perikop ini merupakan jawaban Paulus dari perikop sebelumnya yang mengungkapkan tentang pergumulan akan dosa dan hidup benar. Pergumulan pertama tentang dosa, dijelaskan oleh Paulus pada ayat 1 – 4, yaitu di dalam Kristus tidak ada lagi penghukuman. Tuhan Allah telah mengutus Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia berdosa dan mengutus Roh Kudus untuk memberikan hidup yang memerdekakan manusia dari kutuk dosa.

Pada pergumulan kedua tentang hidup benar, Paulus menjawabnya di ayat 5 – 8, yaitu hidup menurut Roh, bukan menurut daging. Orang yang hidup menurut daging, ia akan memikirkan hal-hal yang dari daging. Tentu cara hidup ini bertentangan dengan hukum Allah. Hidup menurut daging hanya akan membawa manusia pada kematian (Ay. 5-7). Sebaliknya, orang yang hidup menurut Roh akan memikirkan hal-hal rohani yang membuahkan damai sejahtera dan hidup kekal bersama Tuhan (Ay. 5-6). Kebenaran Allah digenapi dengan hidup menurut Roh, bukan hidup menuruti keinginan daging (Ay. 9–11). Roh Kudus memerdekakan umat dari belenggu dosa dan kematian (Ay. 2). Roh Kudus memimpin hidup umat percaya (Ay. 14). Dialah yang memberi kemampuan pada umat untuk hidup tidak menuruti keinginan daging (Ay. 9), namun hidup menurut Roh yang membuahkan damai sejahtera yang sejati (Ay. 6).

Matius 13 : 1 – 9, 18 – 23
Bagian perikop ini merupakan pengajaran Tuhan Yesus dalam rupa perumpamaan seorang penabur dan benih yang tumbuh. Perikop yang pertama, Matius 13:1-9 menguraikan isi perumpamaan Tuhan Yesus, sedangkan perikop kedua, Matius 13:18-23 menguraikan makna atau arti dari perumpamaan yang Tuhan Yesus ajarkan itu. Diceritakan dalam teks bacaan, Yesus sedang berada di tepi sebuah danau, kemudian datanglah orang banyak mengerumuniNya dengan maksud ingin mendengarkan pengajaran-Nya. Lalu mulailah Ia mengajar orang banyak itu dari atas perahu, sementara itu orang-orang itu berdiri di tepi danau. Ia mengajar kepada mereka dalam bentuk perumpamaan dengan maksud agar makna dari perumpamaan itu dimengerti dari konteks kehidupan mereka sehari-hari pada waktu itu.

Yesus mengisahkan tentang seorang penabur yang sedang menaburkan benih. Pada saat ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, sebagian jatuh di tanah berbatu-batu, sebagian jatuh di tengah semak duri, dan sebagian lagi jatuh di tanah yang baik, yang subur. Benih yang jatuh di pinggir jalan habis dimakan burung sebelum sempat tumbuh (Ay. 4) Benih yang jatuh di tanah berbatu-batu, ia tumbuh namun saat matahari terbit, ia menjadi layu, kering dan mati karena tidak berakar (Ay. 5). Benih yang jatuh di tengah semak duri, ia tumbuh, namun ia mati karena himpitan semak duri itu (Ay. 7). Sedangkan benih yang jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan baik lalu menghasilkan buah, ada yang seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, dan tiga puluh kali lipat (Ay. 8)

Bagian perikop kedua, Matius 13:18-23, Yesus menjelaskan arti perumpamaan seorang penabur itu pada para murid-Nya. Benih adalah Firman Tuhan yang diwartakan. Benih yang jatuh di pinggir jalan adalah orang yang mendengar firman, tetapi tidak mengerti, lalu datanglah si jahat merampas apa yang ditabur dalam hati orang itu (Ay. 19). Benih yang jatuh di atas tanah berbatu-batu adalah orang yang mendengar firman tetapi ia tidak berakar. Saat datang penindasan atau aniaya segera orang itu mengingkari imannya, ia murtad (Ay. 20-21). Benih yang jatuh di tengah semak berduri adalah orang yang mendengar firman, namun kekhawatiran hidup menghimpitnya, tipu daya kekayaan menghimpit firman itu, sehingga orang ini tidak berbuah dalam hidupnya (Ay. 22). Sedangkan benih yang ditabur di tanah yang baik adalah orang yang mendengar firman, mengerti, dan hidupnya berbuah kebaikan (Ay. 23).

Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan kita berbicara tentang iman yang bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan. Nabi Yesaya mewartakan tentang pertobatan. Allah berkenan mengampuni dan memulihkan kembali bangsa Yehuda yang dengan sungguh bertobat. Pertobatan adalah awal pemulihan, pertumbuhan iman, dan kehidupan yang membuahkan kebaikan dan damai sejahtera. Rasul Paulus menjawab pergumulan jemaat Roma tentang dosa dan hidup yang benar. Di dalam Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit ada pengampunan dosa dan keselamatan. Maka agar iman Jemaat bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan, maka hidup mereka harus dipimpin oleh Roh Kudus. Mereka tidak lagi hidup dalam keinginan daging melainkan hidup dalam tuntunan Roh Kudus. Tuhan Yesus sendiri mengajar para murid-Nya: untuk Firman Allah tumbuh dan berbuah dalam kehidupan, maka mereka harus memiliki hati yang bersih sebagai gambaran tanah yang subur. Dengan hati yang bersih, benih firman Tuhan akan bertumbuh dalam hati dan hidup para murid, terlebih kehidupan mereka akan membuahkan kebaikan, kasih, sukacita, dan damai sejahtera yang dapat dirasakan oleh orang lain di sekitar mereka.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
(Pelayan mengawali khotbah dengan bertanya kepada warga jemaat)

Menurut saudara, dalam hidup ini hal apakah yang dibagi-bagikan tidak akan pernah habis, tetapi justru membuat orang yang memberi tersebut semakin berlimpah? (Berikan kesempatan warga jemaat untuk menjawab dengan alasan mereka). Jawabannya adalah kasih. Kasih yang terwujud dalam tindakan mengampuni bukan membenci atau mendendam. Kasih yang tulus tanpa mengharapkan pamrih atau balas budi atas kebaikan yang telah dilakukan. Kasih yang rela berkorban demi kebahagiaan orang lain. Di Pekan Kebangunan Wanita saat ini, kita dapat melihat kasih yang dibagikan itu dalam diri ibu yang mengasihi suami, anak, dan keluarganya. Ibu yang rela berkorban waktu, tenaga, pikiran demi kebaikan keluarganya. Namun sering kali ada keraguan atau pertentangan dalam hati manakala kasih itu disertai pamrih. Terkadang kita sudah berlaku kasih, berbuat baik kepada orang lain, sayangnya kasih dan kebaikan kita itu disalah-artikan, dimanfaatkan, bahkan dipandang negatif oleh orang lain. Lepas dari hal tersebut, kita dipanggil untuk tetap membagikan kasih kita pada sesama. Hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri melainkan hidup untuk berguna bagi orang lain. Panggilan untuk ngrembaka ing manah lan laku inilah yang kita pergumulkan melalui firman Tuhan saat ini.

Isi
Pada bacaan 1, Yesaya 55:10-13 nabi Yesaya menyampaikan janji Allah akan keselamatan dan pemulihan bagi Yehuda, bagi mereka yang percaya dan bertobat. Yesaya menggambarkan umat Tuhan akan ada dalam keadaan bahagia oleh karena keselamatan dan pemulihan yang Tuhan nyatakan. Tuhan Allah memanggil bangsa Yehuda untuk bertobat kembali pada-Nya. Mereka yang merespons panggilan pertobatan itu, akan mendapatkan hidup yang lebih baik dan pemulihan dari Allah. Karena itu, mereka harus meninggalkan dosa mereka agar Allah memulihkan keadaan mereka. Rancangan Allah mendatangkan kesejahteraan bagi umat-Nya. Ia menjanjikan kasih dan kehidupan. Yang Ia minta adalah penyerahan diri seutuhnya dan pertobatan total dari umat-Nya. Ketika mereka kembali, maka Allah menyatakan kasih-Nya, Ia berkenan mengampuni dan memulihkan keadaan mereka. Di dalam keselamatan Allah itu ada sukacita dan damai sejahtera yang dirasakan umat Allah.

Pada bacaan 2, Roma 8:1-11, Rasul Paulus menjawab pergumulan Jemaat Roma akan dosa dan hidup benar. Pergumulan pertama tentang dosa, dijelaskan oleh Paulus pada ayat 1 – 4, yaitu di dalam Kristus tidak ada lagi penghukuman. Tuhan Allah telah mengutus Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia berdosa dan mengutus Roh Kudus untuk memberikan hidup yang memerdekakan manusia dari kutuk dosa. Pada pergumulan kedua tentang hidup benar, Paulus menjawabnya di ayat 5 – 8, yaitu hidup menurut Roh, bukan menurut daging. Orang yang hidup menurut daging, ia akan memikirkan hal-hal yang dari daging. Tentu cara hidup ini bertentangan dengan hukum Allah. Hidup menurut daging hanya akan membawa orang pada kematian. Sebaliknya, orang yang hidup menurut Roh akan memikirkan hal-hal rohani yang membuahkan damai sejahtera dan hidup kekal bersama Tuhan.

Pada bagian bacaan 3, Matius 13:1-9, 18-23, berisi pengajaran Tuhan Yesus dalam rupa perumpamaan seorang penabur dan benih yang tumbuh. Perikop yang pertama, Matius 13:1-9 menguraikan isi perumpamaan Tuhan Yesus, sedangkan perikop kedua, Matius 13:18-23 menguraikan makna atau arti dari perumpamaan yang Tuhan Yesus ajarkan itu. Benih adalah Firman Tuhan yang diwartakan. Benih yang jatuh di pinggir jalan adalah orang yang mendengar firman, tetapi tidak mengerti, lalu datanglah si jahat merampas apa yang ditabur dalam hati orang itu (Ay. 19). Benih yang jatuh di atas tanah berbatu-batu adalah orang yang mendengar firman tetapi ia tidak berakar. Saat datang penindasan atau aniaya segera orang itu mengingkari imannya, ia murtad (Ay. 20-21). Benih yang jatuh di tengah semak berduri adalah orang yang mendengar firman, namun kekhawatiran hidup menghimpitnya, tipu daya kekayaan menghimpit firman itu, sehingga orang ini tidak berbuah dalam hidupnya (Ay. 22). Sedangkan benih yang ditabur di tanah yang baik adalah orang yang mendengar firman, mengerti, dan hidupnya berbuah kebaikan (Ay. 23). Tuhan menghendaki agar hidup kita sebagai umat Allah seperti benih yang tumbuh di tanah yang subur, yang menghasilkan buah berkali lipat. Artinya kehidupan kita adalah kehidupan yang membawa dampak dan kebaikan bagi lingkungan di sekitar kita.

Penutup
Dari uraian firman Tuhan yang telah kita dengarkan, maka di Pekan Kebangunan Wanita saat ini, panggilan untuk ngrembaka ing manah lan laku dapat kita lakukan dengan cara :

  1. Hidup dalam Pertobatan
    Sebagaimana Nabi Yesaya menyerukan pertobatan kepada bangsa Yehuda, maka untuk mengawali perubahan hidup kita harus bertobat. Hidup dalam ketaatan dan kehendak Tuhan Allah. Pertobatan adalah awal pemulihan, pertumbuhan iman, dan kehidupan yang membuahkan kebaikan dan damai sejahtera.
  2. Hidup dipimpin oleh Roh Kudus
    Tuhan Yesus Kristus telah mati dan bangkit bagi kita sehingga ada pengampunan dosa dan keselamatan bagi kita yang percaya. Agar iman kita bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan, maka hidup kita harus dipimpin Roh Kudus. Kita tidak lagi hidup dalam keinginan daging melainkan hidup dalam tuntunan Roh Kudus. Hanya oleh penyertaan, pertolongan, dan kuasa Roh Kudus, kita mampu ngrembaka ing manah lan laku.
  3. Memiliki Hati dan Hidup yang Bersih
    Tuhan Yesus mengajar kita, untuk Firman Allah bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan kita, maka kita harus memiliki hati dan hidup yang bersih sebagai gambaran tanah yang subur. Dengan hati yang bersih, benih firman Tuhan akan bertumbuh dalam hati dan hidup kita, terlebih kehidupan kita akan membuahkan kebaikan, kasih, sukacita, dan damai sejahtera yang dapat dirasakan oleh orang lain di sekitar kita.

Menghayati Pekan Kebangunan Wanita saat ini, marilah kita menghayati panggilan ngrembaka ing manah lan laku sebagai bagian hidup kita. Para wanita yang dikarunia kasih, mari membagikan kasih itu kepada keluarga, jemaat, dan masyarakat di sekitar, agar benih kasih itu terus bertumbuh dan berbuah di dalam kehidupan. Tidak hanya para wanita atau para ibu saja, kita semua memiliki panggilan yang sama, ngrembaka ing manah lan laku. Kiranya Roh Kudus selalu menolong dan memampukan kita dalam menyatakan panggilan kita. Amin. [AR].

 

Pujian: KJ. 424  Yesus Menginginkan Daku

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
(Palados miwiti khotbahipun kanthi atur pitakenan dhateng warga pasamuwan)

Miturut bapak, ibu, lan para sadherek, salebeting gesang punika bab punapa ingkang dipun bagi-bagi mboten badhe telas, nanging malah ndadosaken tiyang punika langkung kacekapan? (Warga pasamuwan dipun paringi kesempatan kangge mangsuli pitakenan punika). Wangsulanipun tresna. Tresna ingkang kawujud srana paring pangapunten mboten benci utawi dendam. Tresna ingkang tulus tanpa pamrih, ingkang mboten ngajeng-ajeng piwales tumrap punapa ingkang sampun dipun tindakaken. Tresna ingkang rila legawa korban kangge kabingahaning tiyang sanes. Ing Pekan Kebangunan Wanita punika, kita saged ningali wujuding tresna ingkang dipun bagiaken punika srana ningali ibu ingkang nresnani semahipun, anakipun, lan brayatipun. Nanging asring wonten raos mangu-mangu lan pertentangan ing salebeting manah nalika nindakaken tresna kaliyan pamrih. Kadang kita sampun nresnani lan tumindak sae dhateng tiyang sanes, emanipun tresna lan kasaenan kita punika dipun artosaken salah, dipun manfaataken, malah ugi dipun tingali sacara negatif kaliyan tiyang sanes.  Sanadyan mekaten, kita tetap dipun timbali nresnani sesami kita. Gesang kita sejatinipun mboten namung kangge dhiri kita piyambak nanging gesang migunani kangge sesami. Timbalan kangge ngrembaka ing manah lan laku, punika ingkang badhe kita raos-raosaken lumantar sabdanipun Gusti wekdal punika.

Isi
Ing waosan 1, Yesaya 55:10-13, Nabi Yesaya nedahaken janjinipun Gusti Allah bab kaslametan lan pamulihan kangge bangsa Yehuda ingkang purun pitados lan mratobat dhumateng Gusti. Yesaya gambaraken umatipun Gusti Allah badhe ngalami kahanan ingkang mbingahaken awit saking kawilujengan lan pamulihanipun Gusti Allah ingkang kanyatakaken. Gusti Allah karsa nimbali bangsa Yehuda supados mratobat wangsul malih dhumateng Panjenenganipun. Tumrap para tiyang ingkang purun nanggepi timbalan pamratobat punika, gesangipun badhe langkung sae lan nampi pamulihan saking Gusti Allah. Awit saking punika, bangsa Yehuda kedah nilaraken dosa-dosanipun supados Gusti Allah mulihaken kahanan piyambakipun. Gusti Allah janji paring katresnan lan pigesangan. Ingkang Panjenenganipun suwun bangsa Yehuda punika masrahaken sawetah gesangipun lan mratobat total. Nalika bangsa Yehuda wangsul dhumateng Gusti, Gusti Allah karsa nedahaken katresnan-Ipun. Panjenenganipun karsa ngapunten lan mulihaken kahanan bangsa Yehuda punika. Ing salebeting kawilujenganipun Gusti Allah punika wonten kabingahan lan tentrem rahayu ingkang dipun raosaken para umatipun Allah.

Ing waosan 2, Roma 8:1-11, Rasul Paulus mangsuli pergumulan Pasamuwan Rum bab dosa lan gesang ingkang bener. Pergumulan kapisan bab dosa dipun jelasaken kaliyan Paulus ing ayat 1 – 4, ing Gusti Yesus Kristus punika mboten wonten malih paukuman. Gusti Allah sampun ngutus Gusti Yesus kangge nylametaken manungsa dosa lan ngutus Sang Roh Suci kangge paring gesang ingkang mbebasaken manungsa saking kutuk dosa.    Ing pergumulan kaping kalih bab gesang ingkang bener, Rasul Paulus paring wangsulan ing ayat 5 – 8, bab gesang ingkang bener punika gesang miturut Roh, sanes miturut daging. Tiyang ingkang gesangipun miturut daging, piyambakipun namung mikiraken bab-bab kadagingan. Cara gesang ingkang kados punika tamtu mboten sami kaliyan karsanipun Gusti. Gesang miturut daging namung badhe mbekta manungsa ing pati. Kosokwangsulipun, tiyang ingkang gesangipun miturut Roh, piyambakipun badhe mikiraken bab-bab karohanen ingkang nuwuhaken woh tentrem rahayu lan gesang langgeng sinarengan Gusti.

Ing waosan 3, Mateus 13:1-9, 18-23 punika minangka piwucalipun Gusti Yesus arupi pasemon bab juru sebar winih lan winih ingkang tuwuh. Ing perikop kapisan Mateus 13:1-9, Gusti Yesus nyariosaken isinipun pasemon punika, lajeng ing perikop kaping kalih Mateus 13:18-23, Gusti Yesus njelasaken tegesipun pasemon punika. Winih punika Sabdanipun Gusti ingkang dipun wartosaken. Winih ingkang dawah ing pinggir margi, inggih punika tiyang ingkang mirengaken sabda ananging mboten mangertos, lajeng si jahat dugi kangge ngrampas sabda ingkang dipun wartosaken punika, saking manahipun tiyang punika (Ay. 19). Winih ingkang dawah ing sak inggiling tanah kebak watu, inggih punika tiyang ingkang mirengaken sabda ananging mboten ngoyod. Nalika wonten panindesan lan panganiaya, tiyang punika enggal nyelaki imanipun lajeng murtad (Ay. 20-21). Winih ingkang dawah ing satengahing semak berduri, inggih punika tiyang ingkang mirengaken sabda, ananging raos kuwatos ngapit gesangipun, tipu daya kadonyan ngapit sabda punika, saengga tiyang punika mboten ngedalaken woh salebeting gesangipun (Ay. 22). Lajeng winih ingkang dipun sebar ing tanah subur, inggih punika tiyang ingkang mirengaken sabda, mangertos, lajeng gesangipun ngedalaken woh kabecikan (Ay. 23). Saking pasemon punika, Gusti Allah ngersakaken supados gesang kita minangka umatipun Gusti kados winih ingkang tuwuh ing tanah subur punika. Winih ingkang ngedalaken woh ingkang kathah. Tegesipun gesang kita punika gesang ingkang mbekta dampak lan kasaenan kangge lingkungan sakiwa tengen kita.

 

Panutup
Saking uraian sabdanipun Gusti ingkang sampun sami kita mirengaken, ing Pekan Kebangunan Wanita sapunika, timbalan kangge ngrembaka ing manah lan laku punika saged kita lampahi mawi cara:

  1. Gesang ing Pamratobat
    Kadosdene Nabi Yesaya ingkang nyeruaken pamratobat dhateng bangsa Yehuda, mila kangge miwiti owah-owahaning gesang, kita kedah mratobat. Gesang manut dhateng karsanipun Gusti Allah. Pamratobat punika wiwitaning pamulihan, tuwuhing iman, lan gesang ingkang ngedalaken wohing kabecikan lan tentrem rahayu.
  2. Gesang dipun pimpin dening Roh Suci
    Gusti Yesus sampun seda lan wungu kangge kita saengga kita nampi pangapuntening dosa lan kawilujenganan. Supados iman kita punika tuwuh lan ngedalaken woh salebeting pigesangan, gesang kita kedah dipun pimpin dening Sang Roh Suci. Kita mboten gesang kangge nuruti pepenginan daging kemawon nanging kita gesang ing tuntunanipun Sang Roh Suci. Namung srana panganthi, pitulungan, lan kuwaosipun Sang Roh Suci, kita saged ngrembaka ing manah lan laku.
  3. Kagungan Manah lan Gesang ingkang Resik
    Gusti Yesus tansah mucal dhateng kita, supados Sabdanipun Gusti punika tuwuh lan ngedalaken woh ing gesang kita, kita kedah kagungan manah lan gesang ingkang resik minangka gegambaran tanah ingkang subur. Kanthi manah ingkang resik, winih sabdanipun Gusti badhe tuwuh salebeting manah lan gesang kita, langkung-langkung pigesangan kita badhe ngedalaken woh kabecikan, katresnan, kabingahan, lan tentrem rahayu ingkang saged dipun raosaken tiyang sanes ing sakiwa tengen kita.

Mengeti Pekan Kebangunan Wanita wekdal punika, mangga kita sami nindakaken timbalan ngrembaka ing manah lan laku salebeting gesang kita. Para wanita ingkang dipun paringi katresnan, mangga dipun bagi dhateng brayat, pasamuwan, lan masyarakat, supados winih katresnan punika terus tuwuh lan ngedalaken woh salebeting gesang. Mboten namung kangge para wanita kemawon, kita sadaya ugi kagungan timbalan ingkang sami, inggih punika ngrembaka ing manah lan laku. Mugi Sang Roh Suci mitulungi lan nyagedaken kita kangge nyataaken timbalan kita punika. Amin. [AR].

 

Pamuji: KPJ. 82  Tekading Manah Kawula

Renungan Harian

Renungan Harian Anak