Minggu Transfigurasi
Stola Putih
Bacaan 1: Keluaran 24 : 12 – 18
Mazmur: Mazmur 2
Bacaan 2: 2 Petrus 1 : 16 – 21
Bacaan 3: Matius 17 : 1 – 9
Tema Liturgis: Dengarkanlah Dia!
Tema Khotbah: Dengarkanlah Dia!
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Keluaran 24 : 12 – 18
Keluaran 24:12-18 memaparkan panggilan Allah kepada Musa agar menghadap kepada-Nya di atas Gunung Sinai. Tujuannya untuk menerima loh batu yang berisi hukum dan perintah yang akan diajarkan dan menjadi petunjuk bagi kehidupan bangsa Israel. Sebelum mendaki Gunung Sinai, Musa telah mendelegasikan tugas kepemimpinan kepada Harun dan Hur, sehingga jika ada persoalan atau perkara yang harus diselesaikan, tua-tua Israel bisa menghadap kedua orang tersebut. Sedangkan Yosua, abdi Musa itu diajak naik ke atas Gunung Sinai. Hal yang menakjubkan adalah saat Musa dan Yosua naik ke Gunung Sinai, maka awan menutupi gunung itu. Kemuliaan Tuhan bersemayam di atas Gunung Sinai dan selama enam hari awan menutup gunung itu. Baru pada hari ketujuh, Allah memanggil Musa dari dalam awan itu sehingga Musa masuk ke dalam awan yang menurut penglihatan orang Israel seperti api yang menghanguskan. Selama empat puluh hari empat puluh malam (Ay. 18), Musa berada dalam kemuliaan Allah di atas gunung itu. Itulah persekutuan Musa dengan Allah. Musa berpuasa, tidak makan dan minum dalam jangka waktu yang lama. Dalam kemuliaan bersama Allah, Musa menerima berbagai peraturan dan hukum yang harus disampaikan dan ditaati oleh bangsa Israel. Musa juga menerima dua loh batu yang berisi hukum Tuhan yang ditulis dengan jari Allah sendiri (Kel. 31:18).
2 Petrus 1 : 16 – 21
Surat 2 Petrus menjadi surat perpisahan Petrus kepada jemaat dan mengajak mereka untuk tidak menyimpang dari ajaran yang benar sampai Kristus datang kembali. Petrus menyadari bahwa hari kematiannya sudah dekat (bnd. 2 Ptr. 1:14) maka sebelum dia meninggal, dia ingin memberikan peringatan dan ajaran yang berguna bagi generasi Kristen yang akan datang, terlebih Petrus sebagai saksi mata tentang Tuhan Yesus. Ia perlu menanggapi banyaknya ajaran sesat yang mengancam kemurnian ajaran Kristen, salah satunya adalah munculnya guru-guru palsu yang mengejek ajaran Kristen tentang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali (3:3-4). Guru-guru palsu itu menuduh Petrus dan para rasul mengarang cerita tentang Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati dan mereka meyakini bahwa Tuhan Yesus tidak akan datang kembali. Petrus menanggapinya bahwa dia adalah saksi mata yang melihat Tuhan Yesus dimuliakan di atas gunung (Mat. 17:1-8; Mrk. 9:1-7). Petrus menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus ditinggikan sebagai Raja, dan kebangkitan-Nya memperlihatkan bahwa Dia hidup sebagai Raja yang berkuasa atas kehidupan ini dan yang akan datang kembali suatu hari nanti.
Selain itu, Petrus juga menegaskan bahwa nubuatan-nubuatan yang dituliskan oleh para nabi telah digenapi oleh Tuhan Yesus. Sehingga kitab suci bukanlah dongeng yang dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan kuasa Roh Kudus supaya Allah berbicara kepada manusia melalui tulisan-tulisan para nabi. Alkitab adalah buku yang paling jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dalam Alkitab dikisahkan kejadian apa adanya tanpa rekayasa penulis, bagaimana Tuhan memberkati dan juga menghukum umat-Nya, bagaimana dosa-dosa umat Israel dan juga tokoh-tokoh yang dihormati sekalipun. Supaya dengan kesaksian-kesaksian itu semua menjadi pelajaran yang berharga bagi generasi yang mendatang lebih mengenal Allah dari berbagai kesaksian dalam Alkitab. Rasul Petrus menyebut bahwa firman Tuhan itu seperti “pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing.” Artinya firman Tuhan itu menjadi pelita yang menerangi perjalanan kehidupan kita di dunia ini sambil menantikan fajar menyingsing, yaitu kedatangan Tuhan Yesus kembali. Firman Tuhan sebagai pelita menjadi satu-satunya pegangan hidup kita yang dapat dipercaya. Tanpa firman Tuhan kita dapat tersandung jatuh, tersesat, bahkan akan binasa oleh kegelapan dunia ini.
Matius 17 : 1 – 9
Setelah memberikan pengajaran kepada para murid-Nya terkait jati diri-Nya sebagai Sang Mesias (Mat. 16:13-20) dan menjelaskan apa yang nantinya akan Ia lakukan serta Ia alami sebagai Sang Mesias itu (Mat. 16:21-28), Yesus secara eksklusif mengajak ketiga murid-Nya (Petrus, Yakobus, dan Yohanes) naik ke atas sebuah gunung yang tinggi. Di depan mata mereka, Yesus berubah rupa[1] yang ditunjukkan melalui wajah-Nya bercahaya, seperti matahari, jubahnya putih berkilauan, dan tampak Musa dan Elia berbicara dengan Dia (Ay. 1-3). Melihat dan merasakan pengalaman spiritualitas yang luar biasa membawa ketenangan, sukacita, dan kedamaian itu, Petrus memiliki inisiatif mendirikan kemah bagi Yesus, Musa, dan Elia. Namun, sebelum inisiatif ini mendapatkan respons dari Yesus, tiba-tiba awan menaungi mereka dan terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” (Ay. 5). Mendengar suara tersebut, murid-murid Yesus sujud dan sangat ketakutan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sedang berada di hadirat Allah dan mendengarkan suara-Nya secara langsung sehingga membuat mereka bersujud (merendahkan hati) dan takut. Dalam keadaan bersujud dan perasaan takut ini, Yesus hadir menyentuh mereka dan bersabda “Berdirilah, jangan takut”. Ketika mereka mengangkat mata mereka, mereka tidak melihat siapa pun kecuali Yesus sendiri. Peristiwa ini mengajarkan kepada mereka agar fokus tertuju kepada Yesus oleh karena awan telah lenyap, Musa telah pergi dan Elia telah menghilang. Yesus pun juga melarang mereka untuk menceritakan penglihatan itu sebelum peristiwa kebangkitan-Nya (Ay. 9).
Benang Merah Tiga Bacaan:
Merasakan persekutuan yang indah bersama Allah dalam kemuliaan-Nya merupakan harapan setiap orang beriman. Selama empat puluh hari empat puluh malam Musa merasakan persekutuan yang indah berada dalam kemuliaan Allah di atas Gunung Sinai. Dalam persekutuan itu, Musa mendengarkan dan menerima firman Allah yang berisi peraturan dan hukum yang harus disampaikan kepada Umat Israel (Bacaan 1). Hal yang sama juga dialami oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka juga merasakan persekutuan yang begitu indah saat melihat Yesus menunjukkan identitas-Nya sebagai Mesias dengan cara berubah rupa di depan mata mereka. Selain itu, mereka juga mendengarkan suara Allah secara langsung, yang menegaskan bahwa Yesus adalah Anak Allah, kepada-Nya Allah berkenan maka mereka harus mendegarkan-Nya (Bacaan 3). Namun, harus disadari bahwa membangun persekutuan bersama Allah juga tidak lepas dari tantangan maupun cobaan. Munculnya guru-guru palsu, pengajar sesat yang meragukan kedatangan Tuhan Yesus dan otoritas Alkitab sebagai firman Allah menjadi tantangan dan cobaan yang harus dihadapi sebagai orang beriman (Bacaan 2).
Kesimpulannya: membangun persekutuan bersama Allah bukan hanya sekedar untuk merasakan kemuliaan dan hadirat Allah, tetapi juga untuk mendengar Sabda-Nya yang menuntun umat-Nya agar hidup benar dan berkenan di hadapan Allah.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Ada lagu anak-anak dengan judul “Dengar Dia Panggil Nama Saya”
(pelayan bisa mengawali khotbah dengan menyanyikan lagu ini secara langsung, bisa juga minta bantuan pemandu nyanyian, atau menampilkan dalam bentuk video ini)
Lagu anak-anak yang berjudul “Dengar Dia Panggil Nama Saya” secara sederhana berisi ajakan untuk mendengarkan suara Tuhan ketika Tuhan memanggil namanya dan orang lain, serta menjawab panggilan Tuhan dengan penuh sukacita oleh karena kasih Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah kapan Tuhan memanggil nama kita? Bagaimana kita mendengar panggilan Tuhan itu? (berikan waktu kepada umat untuk menjawab pertanyaan tersebut). Mendengarkan dan merespons panggilan Tuhan merupakan sebuah pengalaman spiritual, yang bersifat personal (pribadi) maupun komunal (bersama-sama).
Isi
Dalam Kitab Keluaran 24:12-18 (bacaan 1) menjelaskan tokoh nabi Musa yang memiliki pengalaman spiritual bersama dengan Allah. Ia mendengarkan dan merespons panggilan Allah untuk menghadap kepada-Nya di atas Gunung Sinai. Tujuannya: menerima loh batu yang berisi hukum dan perintah yang akan diajarkan dan menjadi petunjuk bagi kehidupan bangsa Israel. Sebelum mendaki Gunung Sinai, Musa telah mendelegasikan tugas kepemimpinan kepada Harun dan Hur, sehingga jika ada persoalan atau perkara yang harus diselesaikan, tua-tua Israel bisa menghadap kedua orang tersebut. Sedangkan Yosua, abdi Musa itu diajak naik ke atas Gunung Sinai. Hal yang menakjubkan adalah saat Musa dan Yosua naik ke Gunung Sinai, maka awan menutupi gunung itu. Kemuliaan Tuhan bersemayam di atas Gunung Sinai dan selama enam hari awan menutupi gunung itu. Baru pada hari ketujuh, Allah memanggil Musa dari dalam awan itu, sehingga Musa masuk ke dalam awan yang menurut penglihatan orang Israel seperti api yang menghanguskan. Selama empat puluh hari empat puluh malam Musa berada dalam kemuliaan Allah di atas gunung itu. Itulah persekutuan Musa dengan Allah. Musa berpuasa, tidak makan dan minum dalam jangka waktu yang lama. Dalam kemuliaan Allah, Musa mendengarkan berbagai peraturan dan hukum yang harus disampaikan dan ditaati oleh umat Israel. Musa juga menerima dua loh batu yang berisi hukum Tuhan yang ditulis dengan jari Allah sendiri (lih. Kel. 31:18)
Selain nabi Musa, pengalaman spiritual bersama dengan Allah juga dialami oleh ketiga murid Yesus (bacaan 3). Setelah memberikan pengajaran kepada para murid-Nya tentang jati diri-Nya sebagai Sang Mesias (Mat. 16:13-20) dan menjelaskan apa yang nantinya akan Ia lakukan serta dialami sebagai Sang Mesias (Mat. 16:21-28), Yesus secara ekslusif mengajak ketiga murid-Nya (Petrus, Yakobus, dan Yohanes) naik ke atas sebuah gunung yang tinggi. Di depan mata mereka, Tuhan Yesus berubah rupa yang ditunjukkan melalui wajah-Nya yang bercahaya seperti matahari, jubahnya putih berkilauan dan tampak Musa dan Elia berbicara dengan Dia (Ay. 1-3). Melihat dan merasakan pengalaman spiritualitas yang luar biasa membawa ketenangan, sukacita, dan kedamaian itu, Petrus memiliki inisiatif mendirikan kemah bagi Yesus, Musa, dan Elia. Namun, sebelum inisiatif ini mendapatkan respons dari Yesus, tiba-tiba awan menaungi mereka dan terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Ay. 5). Mendengar suara tersebut, murid-murid-Nya sujud dan mereka sangat ketakutan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sedang berada di hadirat Allah dan mendengarkan suara-Nya secara langsung sehingga membuat mereka bersujud (merendahkan hati), takut, dan gentar. Dalam keadaan bersujud dan perasaan takut ini, Tuhan Yesus hadir menyentuh mereka dan bersabda “Berdirilah, jangan takut” (Ay. 7). Ketika mereka mengangkat mata mereka, mereka tidak melihat siapa pun kecuali Yesus sendiri. Peristiwa ini mengajarkan kepada mereka agar fokus tertuju kepada Yesus oleh karena awan telah lenyap, Musa telah pergi, dan Elia telah menghilang. Yesus pun melarang mereka untuk menceritakan penglihatan itu sebelum peristiwa kebangkitan-Nya terjadi (Ay. 9).
Lantas, mengapa Tuhan Yesus justru melarang ketiga murid-Nya menceritakan penglihatan itu sebelum kebangkitan-Nya terjadi? Ya karena belum tentu semua orang bisa mempercayai begitu saja pengalaman spiritual yang mereka alami. Hal ini seperti yang dialami oleh komunitas Kristen di luar Yerusalem. Mereka menghadapi banyaknya ajaran sesat yang mengancam kemurnian ajaran Kristen, salah satunya adalah guru-guru palsu yang mengejek dan merendahkan ajaran Kristen tentang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali (3:3-4). Guru-guru palsu itu menuduh Petrus dan para rasul telah mengarang cerita tentang Yesus yang bangkit dari antara orang mati dan mereka menuduh bahwa Tuhan Yesus tidak akan datang kembali. Maka Petrus menanggapinya bahwa dia adalah saksi mata yang melihat Tuhan Yesus dimuliakan di atas gunung (Mat. 17: 1-8; Mrk. 9:1-7). Petrus menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus ditinggikan sebagai Raja, dan kebangkitan-Nya memperlihatkan bahwa Dia hidup sebagai Raja yang berkuasa atas kehidupan ini, dan yang akan datang kembali suatu hari nanti. Ia juga menegaskan bahwa nubuatan tentang kedatangan Tuhan Yesus yang tertulis dalam kitab suci bukanlah dongeng yang dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan kuasa Roh Kudus supaya Allah berbicara kepada manusia melalui tulisan-tulisan para nabi itu. Rasul Petrus mengakui bahwa kitab suci adalah firman seperti “pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing” (Ay. 19). Artinya firman Tuhan itu menjadi pelita yang menerangi perjalanan kehidupan kita di dunia ini sambil menantikan fajar menyingsing, yakni kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kali.
Penutup
Dalam kalender gerejawi, saat ini kita bersama-sama menghayati Minggu Transfigurasi, yakni untuk mengenang kembali kehadiran Tuhan Yesus yang dimuliakan Allah di atas gunung, yang disaksikan oleh ketiga murid-Nya (Petrus, Yakobus dan Yohanes). Lalu, apa yang bisa kita lakukan dalam menghayati Minggu Transfigurasi saat ini? Pertama, sebagai umat Tuhan kita harus mengimani bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah, Sang Mesias yang senantiasa hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Anak Allah yang mulia, berkuasa, dan terus berkarya atas hidup kita. Kedua, kita berusaha untuk selalu mendengarkan suara atau kehendak Allah, baik itu melalui firman-Nya (Alkitab) dan melalui setiap peristiwa maupun dinamika yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan mendengarkan suara atau kehendak Allah, kita akan dimampukan menjadi pribadi yang tunduk (merendahkan hati), takut, dan gentar di hadapan Allah. Ketiga, mendengarkan suara atau kehendak Allah juga akan memampukan kita menjadi pribadi yang taat, setia, dan bertanggungjawab kepada Allah, keluarga, pekerjaan maupun pelayanan. Amin. [G_mbul].
Pujian: KJ. 144B Suara Yesus Kudengar
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Wonten salah satunggaling tembang lare-lare kanthi irah-irahan “Dengar Dia Panggil Nama Saya” (pelados saged ngawiti khotbah kanthi ngidungaken lagu punika secara langsung, saged ugi nyuwun pambiyantu songleader/ pandu puji, utawi ningali video punika)
Tembang lare-lare kanthi irah-irahan “Dengar Dia Panggil Nama Saya” secara prasaja isinipun uleman kangge mirengaken nalikanipun Gusti Allah nimbali ngulemi naminipun lan tiyang sanes, saha mangsuli timbalan wau kanthi kebaking kabingahan utawi sukarena karana katresnanipun Gusti Allah. Ingkang dados pitakenan, “Kala punapa Gusti Allah nimbali nami kita? Kados pundi caranipun kita mirengaken timbalanipun Gusti Allah punika?” (palados paring wekdal dhumateng pasamuwan kangge mangsuli pitakenan kasebat). Mirengaken lan migatosaken timbalanipun Gusti Allah punika estunipun dados satunggaling pengalaman karohanen ingkang asipat personal (pribadi) utawi komunal (sesarengan).
Isi
Wonten ing kitab Pangentasan 24:12-18 (waosan1) njlentrehaken nabi Musa ingkang nggadhahi pengalaman spiritual kaliyan Gusti Allah. Piyambakipun mirengaken lan migatosaken timbalanipun Gusti Allah kangge marek sowan ing ngarsaniPun ing sainggiling Redi Sinai. Tujuanipun nampi papan sela ingkang isinipun angger-angger lan pepakon ingkang kedah kawucalaken lan dados pitedahipun gesang bangsa Israel. Saderengipun minggah Redi Sinai, nabi Musa maringaken ayahan lan tanggeljawabipun dhateng Harun lan Hur. Pramila bilih wonten prekawis ing antawisipun tiyang Israel ingkang kedah dipun rampungaken, para sesepuh Israel saged manggihi tiyang kalih wau. Wondene Yusak minangka abdinipun Musa dipun ajak minggah dhateng inggiling Redi Sinai. Nalika Musa lan Yusak minggah Redi Sinai ing ngriku wonten kaelokan krana redi katutupan mega lan kamulyaning Pangeran Yehuwah dumunung wonten redi punika selami nem dinten. Nembe ing dinten kaping pitu, Pangeran Yehuwah nimbali Musa saking lebet mega punika. Ing ngriki para tiyang Israel ugi ningali cahya kamulyaning Allah kados dene latu ingkang nggesangaken puncaking redi. Selami sekawan dasa dinten sekawan dasa dalu Musa ngraosaken kamulyanipun Gusti Allah ing sakinggiling Redi Sinai. Prekawis punika nedahaken patunggilanipun Musa kaliyan Gusti Allah ingkang rumaket sanget. Musa siyam, mboten nedha lan ngunjuk ing wekdal ingkang lami. Ing salebeting ngraosaken kamulyanipun Gusti Allah punika, Musa mirengaken angger-angger lan pepakon ingkang kedah dipun wucalaken lan dipun lampahi dening umat Israel minangka panuntuning gesang. Musa ugi nampi kalih papan sela ingkang isinipun angger-angger wau ingkang dipun serat kaliyan racikaning Allah (Pangentasan 31:18).
Kejawi nabi Musa, pengalaman spiritual sesarengan kaliyan Gusti Allah ugi dipun raosaken dening Petrus, Yakobus, lan Yokanan (waosan 3). Sasampunipun paring piwucal dhateng para sakabatipun bab jati dhirinipun minangka Sang Mesias (Mat. 16:13-20) lan njlentrehaken punapa ingkang salajengipun badhe dipun alami dening Sang Mesias (Mat. 16:21-28), Gusti Yesus nimbali lan ngajak tiga sakabatipun kalawau minggah dhateng setunggaling redi ingkang inggil. Wonten ing ngajengipun para sakabat wau, Gusti Yesus santun cahya ingkang dipun tedahaken kanthi srana pasuryan-Ipun mencorong kados srengenge, agemanipun pethak sumorot kados pepadhang lan ing ngriku ketingal Musa lan Elia wicanten kaliyan Panjenenganipun (Ay. 1-3). Mirsani lan ngraosaken pengalaman spiritualitas ingkang ngedab-edabi saha nuwuhaken katentreman, kabingahan punika, Petrus nggadhahi krenteg damel pondhokan tiga kangem Gusti Yesus, Musa, lan Elia. Ananging, saderengipun krenteg punika pikantuk wangsulan saking Gusti Yesus, dumadakan wonten mega padhang ingkang ngayomi sarta kapireng swanten, “Iki PutraningSun, kekasihingSun, kang damel renaning panggalihingSun, iku sira rungokna.” (Ay. 5). Mireng swanten punika, para sakabat wau sujud lan sadaya sami ajrih sanget. Bab punika nedahaken menawi para sakabat saweg wonten ing ngarsanipun Allah lan mirengaken swanten-Ipun secara langsung mila ndamel piyambakipun sadaya sami sujud (ngasoraken manah) lan ajrih. Ing salebeting kawontenan sujud saha ngraosaken ajrih punika, Gusti Yesus rawuh lan njawili para sakabat sarta dhawuh, “Padha ngadega, aja wedi” (Ay. 7). Nalika mbikak netra, para sakabat mboten ningali sinten kemawon, kejawi Gusti Yesus piyambak. Kedadosan ingkang elok punika paring piwucal supados para sakabat tansah mandeng utawi “fokus” konjuk dhumateng Gusti Yesus, krana mega, Musa lan Elia sampun sirna. Ing ngriki, Gusti Yesus ugi paring pepenget supados tiga sakabatipun wau mboten nyariyosaken “pengalaman spiritual” punika sakderengipun prastawa wungunipun Sang Kristus kelampahan (Ay. 9).
Lajeng, kenging punapa Gusti Yesus malah menggak tiga sakabatipun punika nyariyosaken “pengalaman spiritual” kalawau saderengipun wunguniPun kelampahan? Nggih amargi dereng tamtu sadaya tiyang saged pitados babagan prastawa ingkang dipun raosaken dening tiga sakabat wau. Punika kados ingkang dipun raosaken para tiyang Kristen ingkang sumebar sakjawinipun Yerusalem. Para tiyang Kristen punika ngadhepi maneka warni piwucal ingkang nalisir utawi sesat, ingkang ngreridu piwucal Kristen ingkang sayektos, salah setunggalipun inggih punika wontenipun guru-guru palsu ingkang moyoki lan ngremehaken piwucal Kristen bab rawuhipun Gusti Yesus ingkang kaping kalih (3:3-4). Guru-guru palsu punika mastani bilih Petrus lan para rasul sampun ngripta piyambak cariyos bab Gusti Yesus ingkang wungu saking antawisipun tiyang pejah. Para guru palsu ugi nganggep menawi Gusti Yesus mboten badhe rawuh ingkang kaping kalih. Pramila Petrus nanggepi bilih piyambakipun punika seksi mripat ingkang nyumurupi Gusti Yesus kamulyakaken ing inggiling redi (Mat. 17: 1-8; Mrk. 9:1-7). Petrus ningali kados pundi Guti Yesus kamulyakaken minangka Raja, lan wugun-Ipun dados bukti menawi Panjenenganipun jumeneng Raja ingkang kagungan panguwaos inggil kangge gesang sapunika lan setunggaling dinten mangke. Kejawi punika, Petrus ugi negasaken bilih pameca bab rawuhipun Gusti Yesus ingkang keserat wonten kitab suci sanes dongeng ingkang dipun ripta dening pikajengipun manungsa, ananging krana panguwaosipun Roh Suci supados Gusti Allah paring dhawuh dhumateng manungsa lantaran seratan para nabi punika. Petrus ngakeni menawi kitab suci punika sabdanipun Gusti Allah kados “damar kang madhangi panggonan kang peteng, nganti gagat raina sarta jumedhule lintang panjer esuk kang sumunar ana ing sajroning atimu.” (Ay. 19). Tegesipun sabdanipun Allah punika saestu dados pepadhang ingkang tansah madhangi lampahing gesang kita ing alam donya punika, sinarengan ngrantos gagat raina sarta jumedhule lintang panjer esuk, inggih punika rawuhipun Gusti Yesus Kristus ingkang kaping kalih.
Panutup
Ing salebeting kalender gerejawi, wekdal punika kita sesarengan “menghayati” Minggu Transfigurasi inggih punika kangge ngelingi rawuhipun Gusti Yesus ingkang kamulyakaken Gusti Allah ing inggiling redi, ingkang sineksen dening tetiga sakabatipun (Petrus, Yakobus, lan Yokanan). Lajeng, punapa ingkang saged kita tindhakaken kangge “menghayati” Minggu Transfigurasi punika? Sepisan, minangka umat kagunganipun Allah kita kedah pitados bilih Gusti Yesus punika saestu Putranipun Allah, Sang Mesias ingkang rawuh ing salebeting gesang kita saben dinten. Putranipun Gusti Allah ingkang minulya, kagungan panguwaos lan tansah makarya, ngreksa lan nyarirani sauruting gesang kita. Kaping kalih, kita kedah mbudidaya mirengaken suwanten utawi karsanipun Gusti Allah, sae punika lantaran seratan kitab suci, ugi lantaran prastawa utawi “dinamika” ingkang kelampahan wonten ing pigesangan kita saben dinten. Srana mirengaken suwanten lan karsan-Ipun, Gusti Allah badhe maringi kakiyatan kangge kita sadaya dados tiyang ingkang andhap asor lan ajrih asih wonten ngarsan-Iipun. Kaping tiga, kanthi mirengaken lan nindakaken karsanipun Gusti, Gusti Allah ugi maringi kakiyatan lan kasagedan kangge kita sadaya dados tiyang ingkang setya lan tanggel jawab dhumateng Gusti Allah, brayat, pandamelan, lan ugi peladosan. Amin. [G_mbul].
Pujian: KPJ. 435 Gustimu Kepareng Mundhut
__________
[1] Istilah berubah rupa menggunakan kata kerja ”μετεμορφωθη” (metamorphoo) yang berarti; mengubah rupa, mentransformasi, berubah bentuk. Ini menunjukkan perubahan hakikat terdalam yang dapat terlihat dari luar dan bukan hanya sekedar perubahan penampilan luar. Efeknya sangat mencolok, Tuhan Yesus menjadi begitu cemerlang rupanya sehingga Ia sulit dipandang.