Khotbah Minggu 11 September 2016

BULAN KITAB SUCI
MINGGU BIASA 24
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : Keluaran 32:7-14
Bacaan 2         : 1 Timotius 1:12-17
Bacaan 3         : Lukas 15:1-10

Tema Liturgis  : Iman yang bertumbuh dan berbuah bagi sesama
Tema Khotbah: Iman yang Memberikan Kesempatan Kedua

 

Keterangan Bacaan

Keluaran 32:7-14

  1. TUHAN dalam Perjanjian Lama tidak digambarkan sebagai roh tanpa wujud dengan kehendak bebas yang tidak dimengerti oleh umat manusia. TUHAN justru digambarkan dengan antropomorfis (mengambil bentuk seperti manusia) yang senang, marah, menyesal. Gambaran terhadap TUHAN yang demikian sangat mewarnai tradisi Israel sebelum pembuangan Babel. Dalam perikop ini pun digambarkan bagaimana TUHAN yang marah namun pada akhirnya menyesali kemarahannya.
  2. Kemarahan TUHAN muncul atas sikap Israel bersama Harun yang kompromis dengan kesulitan hidup atas ketiadaan kepastian hidup bagi mereka di padang gurun. Akhirnya untuk menyamankan hati mereka kehilangan kesabaran mereka dan membuat lembu emas, allah yang nampak, sebagai ganti dari TUHAN yang tidak nampak. Kepastian adalah ujian bagi iman, karena iman senantiasa berada dalam ruang ambang: kepastian-ketidakpastian. Kemarahan TUHAN ini menyebabkan TUHAN hendak melenyapkan umat Israel.
  3. Kemarahan TUHAN itu mereda bahkan berubah menjadi penyesalanNya ketika Musa mengingatkan TUHAN pada janjiNya terhadap para leluhur. Janji ini yang menjadi pengikat kuat, menyebabkan TUHAN pun menarik kemarahanNya. Nampak bahwa dari sisi TUHAN ada upaya kuat untuk memegang janji yang telah dia ucapkan keapda umat pilihanNya. Hal ini menunjukkan bahwa perjanjian adalah bukan perkara main-main dalam iman, bahkan TUHAN pun menghargainya dengan sedemikian rupa.

Timotius 1:12-17

  1. Yesus Kristus menjadi pihak yang melanjutkan perjanjian Kekal TUHAN atas Israel dalam kaca mata Paulus. Paulus adalah seorang penghujat, penganiaya, bahkan perusak Kekristenan. Namun Yesus Kristus tidak menunjukkan kemarahan, tetapi justru menunjukkan kesabaranNya dalam menghadapi Paulus. Dan atas itu Paulus menjadi bertobat bahkan mendapatkan kepercayaan untuk melayaniNya.
  2. Pertobatan Paulus ini membuatnya menjadi setia kepada Yesus Kristus yang telah memberikannya kesempatan kedua dalam hidupnya. Kebaikan Tuhan dalam diri Yesus Kristus tidak membuatnya merasa bisa berbuat seenaknya dengan imannya, namun justru membuatnya sadar akan panggilan imanNya: melayaninya dengan sepenuh hati. Bahkan dia pun menurunkan iman ini kepada anak didiknya, Timotius.

 

Lukas 15:1-10

  1. Perumpamaan tentang domba dan dirham yang hilang menunjukkan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan umatnya yang terhilang begitu saja. Tuhan akan mencarinya sampai ketemu dan jika ditemukan Dia akan bersukacita melebihi apa pun. Bahkan untuk mencari yang hilang itu dia rela meninggalkan mereka yang tidak hilang demi menemukan yang hilang.
  2. Pada saat ada yang hilang, maka yang tidak hilang akan menjadi prioritas berikutnya demi ditemukannya yang hilang. Prioritas pertama adalah kepada yang hilang.

 

Benang Merah Antar Bacaan:

  1. Tuhan setia kepada perjanjianNya, serusak apapun umatNya, perjanjianNya kekal. Dia akan mencari umatNya yang hilang sampai ketemu dan tidak semata-mata menghukum yang hilang, sehilang apa pun dia.
  2. Ketika yang hilang ditemukan, Tuhan akan memberikan kesempatan kedua kepadaNya dan itu adalah sukacita bersama bagi sorga dan bumi.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Apa yang seringkali hilang sejak gereja menjadi sedemikian tertata? Setelah memiliki jadwal pelayanan yang jelas, memiliki PKT, Projem, Himproda, PPJP, dan PPJM, memiliki ortala dengan begitu rapih, memiliki struktur organisasi dengan begitu teratur, Pendanaan yang mantap, apa yang seringkali hilang? Sayangnya seringkali setelah organisasi gereja ini telah begitu lengkap, yang hilang bersama dengan waktu adalah spiritualitas. Orang ke gereja karena harus, ketimbang karena rindu. Orang melakukan tugasnya sebagai pendeta, guru Injil, penatua, diaken, organis, pandu nyanyian, komisi, dewan, merbot karena job description (tugas) ketimbang karena panggilan iman. Orang kerja bakti di gereja karena dijadwal, orang terlibat paduan suara karena “Ben ada orangnya, nek gak ngono gak onok sing melok.” 

 

Isi

GKJW dulu memiliki kegiatan kesaksian yang hari ini bisa kita lihat begitu mencengangkan. Rumah sakit dibangun. Sekolah-sekolah dibangun. Bale Wiyata dibangun. Tanah disumbangkan untuk gereja. Sapi diberikan ketika undhuh-undhuh. Desa-desa diatur dengan semangat Kekristenan hingga melahirkan desa-desa Kristen. Lalu ketika mengatakan kegiatan kesaksian di hari ini, apa yang kita lakukan? Dulu ketika seseorang berkata tentang pekabaran Injil, Markus pun diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa dan dibagikan di pasar-pasar. Sekarang ketika harus berbicara pekabaran Injil? Bukankah komisi yang tugasnya paling sulit didefinisikan hari ini itu adalah Komisi Pembinaan Kesaksian (KPK)?

Namun sejatinya bukan hanya KPK, komisi-komisi lain pun banyak yang demikian. Komisi bidang teologi lebih mengurusi perkara memilih lagu dan jadwal katekisasi. Komisi bidang persekutuan besar-besaran kegiatan, paling besar paling ramai berarti paling berhasil. Komisi Pembinaan Pelayanan melulu berurusan dengan orang sakit dan yang meninggal. Tugas Komperlitbang selesai setelah membuat PKT, KP2 yang penting ada laporan jika tidak malah udur-uduran (bertengkar) masalah uang. Yang paling jelas adalah KPPL: membangun gedung-gedung. Namun apakah memang hanya itu? Di mana semangat awal membuat bumi menjadi Kerajaan Allah? Padahal di luar sana kemiskinan, ketidakadilan, perendahan kelompok minoritas, kebohongan publik, bencana, krisis kepercayaan, korupsi, permainan hukum terjadi di mana-mana. Atau jangan berkata tentang di luar sana, di dalam gereja, buanyak.

Gereja lalu akhirnya berkutat dengan urusan melulu penatalayanan. Maka bisa jadi diam-diam dalam hati muncul, “Kuwi kan tugase majelis!” “Kuwi kan tugase pendhita wong deknen sing dibayar!” “Warga kok angel dijak maju?” “Warga kok gak iso guyub!” “Kabeh-kabeh kok aku, apa gak ana wong liyane?” Karena apa? Karena rohnya terbang, semuanya menjadi teknis dan mekanis, nyawanya hilang. Bertemu dengan umat beragama lain kita gagap. Bertemu dengan perkembangan teknologi, hanya menjadikan kita gadget mania. Bertemu dengan krisis ekologi kita hanya melengos. Bertemu dengan bencana kita mengatakan tidak ada PKT, “toh bukan gereja kita yang terdampak”. Bertemu dengan banjir kita mengatakan sudah biasa di mana-mana juga banjir sekarang. Bertemu dengan dunia yang individualistis kita katakan itu manusiawi. Bertemu dengan radikalisme atas nama agama, kita mengatakan “Yang penting bukan gerejaku yang kena.” Dunia di luar bergerak begitu cepat, begitu bergegas, dan kita masih berbahagia di naungan masa lalu, “Dulu GKJW pernah begini dan begitu lo.” Sekarang? Entahlah. Bahagia hanya dengan romantisme masa lalu yang memudar dan hilang. “Lumayan begini-begini aku mau ikut terjun.”

Apakah katekisasi kita sudah bersentuhan dengan perubahan teknologi? Apakah kebaktian-kebaktian kita sudah menjawab tantangan ekologi? Apakah pelayanan anak kita sudah peduli pada masalah sosial dan kekerasan pada anak? Apakah pelayanan pemuda kita sudah berurusan dengan semangat berwirausaha kreatif? Apakah persekutuan kita sudah sadar akan krisis energi yang akan terjadi dalam beberapa tahun lagi? Apakah pelayanan kita sudah transformatif? Apakah pembangunan gedung-gedung kita sudah ramah lingkungan? Apakah kita sudah mampu melakukan Doa Bapa Kami dan mengimani Pengakuan Iman Rasuli yang kita ucapkan setiap minggu? Atau semuanya hanya ada di sana karena “Wis adate! (Sudah biasanya begitu!)” Apakah dalam pekerjaan, kuliah, dan sekolah kita setia pada nilai-nilai iman kita? Apakah kita sudah menjadi Kristen yang sejati?

Jangan-jangan, diam-diam kita ini adalah domba yang tersesat, dirham yang hilang. Memikul salib yang salah. Bertengkar demi perkara yang tidak perlu dipertengkarkan. Memilih lawan yang keliru. Kejahatan dan dosa sudah menjadi kawan kita, dan Tuhan kita biarkan mencari dan terus menanti. Ketika Dia berkata, “Ayo!” kita masih nyaman dengan “Sebentar, ya, Tuhan!” Hilang di tengah pusaran jagad, tidak sadar dan bangga, hilang dan tak hendak ditemukan.

Penutup

Mari sadar dan kembali pada panggilan mula-mula kita. Pada perubahan jaman yang sedang terjadi. Nyatanya firman hari ini menyatakan bahwa Tuhan bukan hanya Allah yang pemarah namun juga pemurah. Jika masih ingin mengeraskan hati dan membela diri, silakan. Namun jika sudah merasakan sentuhanNya, mari kembali pada spiritualitas kita, pada semangat awal kita, “Saya ada di dunia untuk menjadi rekan kerja Tuhan menghadirkan tanda-tanda hadirnya Kerajaan Allah.” Bukan untuk rebutan kuasa, bukan untuk rebutan kaya, bukan untuk berkontes penampilan, suara, musik, apalagi besar-besaran jumlah jemaat. Selalu ada kesempatan kedua. Hanya dengan begitu kita bisa menjadi mandiri dan menjadi berkat.  Amin. [Gide]

Nyanyian: KJ 260: 1, 2.

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Bebuka

Punapa ingkang asring ical nalika greja sampun tumata? Nalika jadwal peladosan sampun cetha, nalika PKT, Projem, Himroda, PPJP, PPJM sampung dipun gadhahi, nalika ortala sampun cumawis, organisasi greja sampun kabukokaken, ragat sampun mening, punapa ingkang asring ical? Emanipun ingkang ical nalika organisasi greja sampun kados mekaten, sareng kaliyan wekdal, spiritualitas (karohanen) luntur. Sedaya namung nindakaken miturut jejibahan tinimbang saking timbalan iman. Kerja bakti awit wonten jadwalipun, Koor awit, “Ben ana wonge, nek gak ngono yo gak onok sing melu.”

Isi

GKJW rumiyin gadhah kegiatan paseksi ingkang tumrap kita sapunika taksih ngedab-edabi. Griya sakit kawangun, sekolah kawangun, Bale Wiyata kawangun, warga nyumbang tanah kangge madegipun greja, lembu kapisungsungaken nalika undhuh-undhuh, desa-desa katata miturut adat Kristen. Lah samangke punapa ingkang dados unggulan paseksi kita? Rumiyin nalika tiyang-tiyang ngrembug prekawis PI utawi Pekabaran Injil, Kitab Injil Markus kapratelakaken dhateng basa Jawi, lajeng dipun dum-dumaken dhateng tiyang ing pasar dening putrinipun Emde. La samangke menawi kita ngrembag prekawis PI punapa pirembaganipun? Wis ora jaman, kathah tiyang ngendikan kados mekaten. Pramila samenika komisi ingkang tugasipun paling ewet dipun panggihi, ingkang ing pasamuwan biasanipun kathah ingkang nyuwun pirsa, “Tugasku apa?” komisi punapa menawi sanes KPK (Komisi Pembinaan Kesaksian). Awit kita samangke bingung “arep bersaksi apa maneh.”

Nanging sejatosipun boten namun KPK, komisi sanesipun ugi mekaten. Komisi bidang teologi namung ngurusi milih lagu kangge kebaktian Minggu lan jadwal kataksasi. Komisi bidang persekutuan, umumipun ageng-agengan kegiatan, paling ageng, paling rame ateges paling berhasil. KPP urusanipun menawi boten tiyang seda nggih tiyang sakit, punika terus ngantos ing pungkasanipun jagad. Komperlitbang sampun ayem menawi sampun damel PKT, KP2 kadhang pokok wonten lapuran, menawi mboten mekaten udur-uduran prekawis arta. Ingkang cetha punika KPPL: Mbangun gedung. Lah punapa namung mekaten, lan greget wiwitan mujudaken kratoning Swarga ing bumi kados pundi? Kamangka ing jawi taksih kathah masalah gandheng kaliyan kemiskinan, ketidakadilan, perendahan minoritas, kebohongan publik, bencana, krisis kapitadosan, korupsi, permaian hukum. Boten namung ing jawi, ing greja ugi asring saabrek-abrek.

Greja lajeng mider ing masalah penatalayanan kemawon. Ing manahipun tiyang-tiyang lajeng kalair, “Kuwi kan tugase majelis!” “Kuwi kan tugase pendhita!” “Warga kok angel dijak maju!” “Warga kok gak iso guyub!” “Kabeh-kabeh kok aku, apa gak ana wong liyane?” Awit punapa? Awit sedaya peladosan lajeng kecalan roh, dados mekanis kados mesin. Pepanggihan kaliyan urusan hubungan antar umat kita bingung, nalika wonten banjir kita mungel “wis biasa lan ora ana ning PKT, toh grejane awak dhewe aman.” Wonten masalah jagad ingkang saya individualistis, kita sebat kuwi manusiawi. Wonten tiyang ingkang boten pikantuk kaadilan, kita lajeng nyuraos wis nasibe. Jagad sampun gumregah, kita taksih beromantis kaliyan “urusan dalam negeri” lan ngambali terus cariyos bab masa lalu, “Biyen GKJW tau ngene lan ngono!” Lah samangke punapa? “Embuh, pokoke mlaku, lumayan aku ngene-ngene wis gelem melu.”

Cobi kita tingali sesarengan, punapa kataksasi kita sampun melek teknologi? Punapa kebaktian kita sampun paring wangsulan dhumateng prekawis ekologi? Punapa peladosan anak remaja kita sampun perduli masalah sosial lan kekerasan dhumateng anak-anak? Punapa peladosan pemuda kita sampun nggugah semangat wirausaha kreatif? Punapa patunggilan kita sampun sadar krisis energi lan pangan? Punapa diakonia kita sampun transformatif? Punapa pambanguning gedung greja kita ramah lingkungan? Punapa kita sampun saged nindakaken Donga Rama Kawula lan ngamini Sahadat Kalihwelas ingkang kita ucapaken saben Minggu? Utawi sedaya punika namung “Wis adate!” Punapa ing padamelan, kuliah, sekolah, lan gesang saben dinten iman Kristen kita sampun kababar?

Ndilalah, kita punika nemahi, “tibane kok aku iki kaya wedhus sing kesasar kuwi ya”, kados duwit ingkang ical ing waosan kita. Mikul salib ingkang lepat. Padu ing prekawis ingkang sejatosipun sepele. Milih mengsah ingkang klentu. Dosa sampun dados rencang kita, lan Gusti kita suwun terus madosi lan nengga kita. Nalika Gusti paring dhawuh, “Ayo budhal!” kita taksih mangsuli, “Sekedhap, Gusti!” Ical ing tengahing jagad, boten awas lan bangga, saha ical lan boten purun kapanggihaken.

Panutup

Mangga sami sadhar lan wangsul dhateng timbalan kita wiwitan dados greja. Sadhar dhumateng perubahan jaman samangke. Waosan Kitab Suci kita ing dinten punika nedahaken bilih Gusti punika welas asih lan ageng pangapuntenipun. Menawi taksih badhe mangkotaken manah saha mbela dhiri, nggih mangga. Nanging menawi sampun ngraosaken jamahanipun, mangga wangsul dhateng spiritualitas kita. “Aku ing jagad iki guna dadi rowang gawene Gusti Allah mujudake tandha-tandha rawuhe kratoning Allah.” Sanes kangge rebutan balung tanpa kulit, rebutan kwaos, rebut sugih, adu penampilan, swanten, musik, punapa malih ageng-agengan pasamuwan. Tansah wonten kesempatan kedua. Namung mawi punika kita saged mandhiri lan dados berkah. Amin. [Gide]

Pamuji: KPK 284: 1, 2.

 

Bagikan Entri Ini: