Minggu Paskah 6 | Undhuh – Undhuh
Stola Putih
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 17 : 22 – 31
Mazmur: Mazmur 66 : 8 – 20
Bacaan 2: 1 Petrus 3 : 13 – 22
Bacaan 3: Yohanes 14 : 15 – 21
Tema Liturgis: Cinta Allah Melahirkan Kelimpahan Syukur
Tema Khotbah: Cinta Allah Melahirkan Kelimpahan Syukur
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 17 : 22 – 31
Atena adalah kota yang maju dari sisi akademis, mungkin kalau pada zaman sekarang dapat dikategorikan sebagai kota pelajar. Dengan kondisi kota yang seperti ini dapat diasumsikan bahwa penduduk kota ini mayoritas adalah orang-orang dari kalangan terpelajar yang mengedepankan akal dan nalar. Kota ini yang menjadi konteks Paulus mengabarkan berita sukacita kepada orang-orang Atena yang merupakan orang berpendidikan dan menggunakan nalar mereka dengan baik. Cara Paulus mengabarkan Injil juga menyesuaikan konteks pendengar yang merupakan orang-orang berpendidikan. Oleh karena itu, ia menyampaikan di ayat 23: ”Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.” Paulus menyampaikan kalimat ini karena bagi orang-orang berpendidikan segala sesuatu harus memiliki bukti yang dapat diterima secara nalar manusia.
Jika mereka menyembah Allah yang tidak mereka kenal maka untuk apa mereka menyembah, sementara Paulus mengenalkan Allah yang dapat dikenal dan dekat dengan manusia. Paulus menyampaikan kepada orang-orang Atena bahwa Allah yang ia kenal bukan Allah yang berharap dilayani seolah-olah Allah tidak mampu atau kekurangan. Allah yang dikenalkan Paulus adalah Allah yang Maha Kuasa yang menjadikan langit, bumi, dan segala isinya. Melalui penyampaiannya ini Paulus berharap orang-orang Atena percaya dan menjadi pengikut Kristus. Cara penyampaian Paulus ini memang sangat memperhatikan konteks pendengarnya yang tergolong orang berpendidikan, maka ia pun menyampaikan bahwa Allah jauh melebihi segala sesuatu yang dapat dipikirkan manusia. Konteks ke-Mahakuasa-an Allah ditonjolkan oleh Paulus karena ia sadar bahwa ia berhadapan dengan orang-orang berpendidikan yang memiliki daya pikir yang baik.
1 Petrus 3 : 13 – 22
Surat Rasul Petrus yang pertama ini merupakan surat yang ditulis untuk menguatkan iman para pengikut Kristus di wilayah Asia Kecil yang mengalami penderitaan karena iman dan keyakinan mereka. Petrus melalui suratnya berusaha menguatkan iman para pengikut Kristus yang dalam situasi menekan mereka. Khususnya dalam pasal 3:13-22, Petrus menekankan bahwa meskipun mereka menderita, selama mereka tetap berada di jalan yang benar maka mereka akan merasakan kebahagiaan (Ay. 14). Pesan ini menekankan agar pengikut Kristus tidak meninggalkan ajaran Kristus meskipun mereka menderita dan hidup dalam tekanan. Terlebih supaya mereka tidak takut dan gentar melakukan apa yang baik dan benar sesuai dengan ajaran Kristus.
Lebih lagi Petrus menjelaskan bahwa Kristus telah mati untuk menebus dosa manusia bahkan untuk orang-orang yang tidak benar supaya mereka dapat kembali kepada Allah (Ay. 18). Hal inilah yang diharapkan dapat menguatkan keyakinan para pengikut Kristus untuk tetap bertahan menghadapi segala cobaan. Petrus memang tidak pernah mengatakan bahwa percaya kepada Yesus akan membuat mereka bebas dari cobaan tetapi di tengah cobaan mereka masih memiliki pengharapan. Maka diharapkan para pengikut Kristus tetap sadar bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka meskipun di tengah cobaan dan penderitaan yang sedang mereka hadapi.
Yohanes 14 : 15 – 21
Bacaan kita yang ketiga ini menjelaskan tentang Yesus yang menjanjikan penolong kepada orang-orang yang mengasihi-Nya. Penolong yang dimaksud adalah Roh Kudus yang akan menyertai kehidupan mereka. Yang menarik dalam bacaan kita, Yesus tidak menyebut Roh Kudus melainkan Roh Kebenaran. Pada dasarnya 2 sebutan ini tidak saling bertentangan karena merujuk pada pribadi dan peran dasar yang sama. Yohanes 14:15-21 ini merupakan wujud janji Yesus kepada orang percaya khususnya para murid yang akan Ia tinggalkan. Untuk melanjutkan karya keselamatan yang dimulai oleh Yesus maka mereka memerlukan tuntunan dan petunjuk. Penyebutan Roh Kebenaran (Ay. 17) merujuk pada peran Allah yang akan menuntun mereka melakukan hal-hal yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Roh Kudus yang dalam bahasa Yunaninya disebut “Parakletos” berarti penolong dan pendamping. Dalam konteks ayat 17, maka yang dijanjikan oleh Yesus adalah penolong dan pendamping yang akan menunjukkan hal yang benar sesuai dengan kehendak Allah sehingga manusia tetap menjalani hidup benar sesuai dengan kehendak Allah.
Peran ini juga dikuatkan dengan perkataan Yesus di ayat 18, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” Peran Roh Kebenaran ini dianalogikan seperti orang tua yang selalu mendampingi dan membimbing anak-anaknya, yang membuat mereka memahami apa yang baik dan buruk. Ungkapan Yesus bahwa tidak akan meninggalkan para murid sebagai yatim piatu menegaskan kembali bahwa melalui Roh Kebenaran, Yesus selalu mendampingi dan menyertai perjalanan pelayanan para murid dan orang percaya yang mengasihi-Nya. Hal ini dilakukan oleh penulis Injil Yohanes agar para pembaca Injil Yohanes tetap kuat dalam melawan ajaran-ajaran sesat yang sedang berkembang saat itu (misalnya Gnostisisme). Janji Yesus yang akan tetap mendampingi kehidupan para murid juga dikuatkan lagi dengan ungkapan Yesus pada ayat 19: “Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.” Pernyataan Yesus ini tentunya terkait dengan kenaikan Yesus ke Surga setelah penderitaan dan kematian-Nya. Yesus kembali menegaskan bahwa Ia tetap akan hidup bersama dengan para murid dengan hadirnya Roh Kebenaran ini. Inilah yang ditekankan oleh penulis Injil Yohanes dalam konteks pembacanya yang sedang menghadapi ajaran sesat bahwa Yesus ada bersama mereka dan akan menunjukkan apa yang benar.
Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan kita saat ini menjelaskan 2 hal penting tentang Allah yang harus dipahami oleh manusia. Pertama, Allah yang dekat dan dapat dikenal dengan baik oleh manusia. Pemahaman ini meluruskan pemahaman tentang tuhan/dewa dalam mitologi yang tidak dapat digambarkan dengan jelas dan baik oleh manusia. Kedua, Allah dapat dikenal karena selalu berada dekat dengan manusia dan melalui ke-Mahakuasa-an-Nya, Allah selalu menuntun manusia ke jalan yang benar. Melalui dua hal ini diharapkan dapat memunculkan rasa syukur dalam hati manusia karena Allah selalu menyertai serta memberkati manusia.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Undhuh-undhuh di GKJW adalah salah satu hari raya yang penting dalam perjalanan hidup jemaat. Undhuh-undhuh yang awalnya identik dengan perayaan dan ucapan syukur karena berkat Tuhan atas pertanian dan hasil panen yang baik, telah berkembang bukan hanya dalam lingkup agraris melainkan ungkapan syukur atas berkat Tuhan secara luas. Hal ini terbukti dengan pelaksanaan hari raya undhuh-undhuh di jemaat perkotaan yang sebagian besar atau bahkan mungkin seluruh warganya tidak ada yang berprofesi sebagai petani tetapi tetap melaksanakan hari raya undhuh-undhuh atau hari raya persembahan. Maka undhuh-undhuh bukan lagi ungkapan syukur atas berkat Tuhan yang telah tercurah bagi kaum petani saja tetapi seluruh warga GKJW apapun profesinya diajak bersama bersyukur atas berkat Tuhan dalam kehidupan mereka. Bersyukur memang menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Kristen, karena kita yakin Allah selalu menyertai kehidupan ini dalam berbagai aspek kehidupan. Maka benar rasanya jika undhuh-undhuh tidak semata-mata dikaitkan dengan masyarakan agraris secara sempit tetapi lebih kuas sebagai hari raya persembahan atau ungkapan syukur Umat Tuhan atas berkat dan penyertaan yang sudah mereka rasakan.
Isi
Semua orang percaya sepakat bahwa mengucap syukur adalah bagian penting dalam kehidupan orang beriman, namun pada praktiknya tidak mudah untuk terus mengucap syukur di tengah tantangan hidup yang terjadi. Maka dari itu, saat ini marilah kita belajar dari Firman Tuhan yang telah kita baca bersama. Tantangan hidup yang dialami orang beriman sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala, seperti yang digambarkan dalam surat 1 Petrus (Bacaan 2). Pengikut Kristus di Asia Kecil waktu itu sedang mengalami penganiyaan yang berat sehingga sangat mempengaruhi iman percaya mereka. Oleh karena itu, Petrus melalui suratnya menegaskan tentang Kristus yang telah menderita lebih dahulu demi menebus dosa manusia. Petrus berharap agar para pengikut Kristus tetap memiliki pengharapan dalam hidup mereka di tengah penderitaan. Cinta Tuhan kepada manusia yang menjadi alasan utama, Yesus rela menderita demi menebus dosa manusia. Cinta Tuhan inilah yang kiranya menjadi pengharapan bagi para pengikut Kristus yang sedang mengalami penderitaan.
Paulus juga menjelaskan kepada orang-orang Yunani bahwa Allah bukanlah seperti dewa-dewa yang mereka sembah, yang berharap dicintai umat-Nya (Bacaan 1). Allah yang dikenal Paulus adalah Allah yang Maha Kuasa dan Allah yang melimpahkan cinta kasih-Nya kepada setiap umat manusia. Paulus menggunakan gambaran Allah yang dekat dan dapat dikenal manusia karena Paulus ingin menggambarkan bahwa Allah memiliki cinta yang besar kepada umat-Nya. Poin penting dari pengajaran Paulus adalah Allah yang dekat dan yang Maha Kuasa itu telah melimpahkan kasih karunia kepada manusia. Orang-orang Atena yang notabene adalah orang-orang berpendidikan tinggi dan biasa menggunakan nalar logika diajak untuk menghayati aspek perasaan tentang kedekatan Allah dengan manusia, yang kemudian membuat manusia merasa dicintai oleh Tuhan dengan luar biasa.
Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa Allah memiliki cinta kasih yang besar terhadap umat-Nya yang menderita, namun yang menjadi tantangan tersendiri adalah menyadari cinta Tuhan di tengah situasi yang sulit itu tidaklah mudah. Kecenderungan manusia yang sedang mengalami tantangan atau pergumulan adalah mereka merasa bahwa Allah meninggalkan mereka. Masalah atau pergumulan sering kali dikaitkan dengan ketidakhadiran Tuhan atau bahkan kutukan Tuhan. Kecenderungan inilah yang kemudian membuat manusia sulit untuk bersyukur dan merasakan cinta kasih Tuhan ketika menghadapi tantangan atau pergumulan.
Yesus ternyata sudah membaca gejala atau kecenderungan manusia yang seperti ini. Perkataan Yesus yang dituliskan dalam Injil Yohanes 14:13-21 menjadi bukti bahwa Ia ingin menjaga pemahaman para pengikut-Nya ketika menghadapi tantangan saat mengabarkan Injil. Yesus menjanjikan hadirnya Roh Kebenaran yang akan menolong dan mendampingi para murid setelah Ia naik ke surga. Roh Kebenaran inilah yang menjaga pemahaman para murid tetap tegak lurus kepada kehendak Allah. Harapannya para murid tetap menyadari bahwa Yesus senantiasa menyertai mereka ketika mereka menghadapi tantangan. Hal ini diungkapkan secara jelas oleh Yesus di ayat 18, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu.” Melalui perkataan ini Ia memposisikan diri-Nya sebagai orang tua yang selalu mendampingi para murid melalui hadirnya Roh Kebenaran, yang membuat mereka merasakan penyertaan dan cinta kasih Tuhan. Dengan demikian para murid dapat selalu mengucap syukur meskipun mengalami berbagai macam tantangan dan masalah. Kecenderungan manusia yang sering lupa akan cinta Tuhan ketika mengalami masalah dijawab oleh Yesus melalui hadirnya Roh Kebenaran yang senantiasa meluruskan pemahaman manusia.
Penutup
Pada masa sekarang ini, manusia juga mengalami berbagai macam tantangan dalam banyak aspek kehidupan. Di tengah berbagai macam tantangan itu, kita diajak mengucap syukur melalui hari raya undhuh-undhuh. Mungkin tidak mudah bagi kita untuk memaknai undhuh-undhuh secara baik ketika mengalami tantangan, namun jika kita kembali menghayati ketiga bacaan hari ini nampaknya akan menjadi lebih mudah. Kita bersama tahu melalui bacaan hari ini, cinta Allah begitu besar kepada manusia, bahkan Yesus menjanjikan Roh Kebenaran untuk membantu kita memahami cinta-Nya. Maka pada hari raya undhuh-undhuh ini, kita diajak untuk kembali menyadari cinta Tuhan dan terus menyandarkan diri kepada Roh Kebenaran yang akan menuntun kita pada pemahaman yang benar tentang cinta Tuhan kepada manusia. Selamat menghayati hari raya undhuh-undhuh sebagai salah satu jalan mensyukuri cinta Tuhan dan teruslah bersandar pada Roh Kebenaran agar kita tetap bisa bersyukur dalam segala keadaan. Tuhan memberkati kita. Amin. [Kuh.C].
Pujian: KJ. 291 Mari Bersyukur Semua
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Undhuh-undhuh ing GKJW punika salah satunggaling riyadin ingkang wigati tumrap gesanging pasamuwan. Undhuh-undhuh ingkang wiwitanipun gegayutan kaliyan pakurmatan saha saos sokur awit berkahipun Gusti ing olah tetanen saha woh panenan ingkang sae, sapunika sampun ngrembaka dados pratandha pakurmatan saha saos sokur awit berkahipun Gusti kanthi langkung jembar. Punika saged kapanggih wonten ing pasamuwan-pasamuwan kutha, ing pundi kathah warga pasamuwan ingkang sanes tiyang tani, nanging taksih ngayahi lan ngraosaken riyadin undhuh-undhuh minangka dinten saos sokur lan pisungsung. Dados, undhuh-undhuh mboten namung gegayutan kaliyan tiyang tani, nanging ugi minangka pratandha bilih saben tiyang Kristen, kanthi profesi punapa kemawon, dipun ajak sesarengan ngaturaken saos sokur awit berkah saha panganthinipun Gusti. Saos sokur punika dados perangan wigati ing gesangipun tiyang pitados, amargi kita pitados bilih Gusti Allah tansah nuntun lan mberkahi gesang kita saben dinten. Pramila undhuh-undhuh punika saestu trep, mboten namung dados tradisi agraris kemawon, nanging langkung jembar, dados riyadin pisungsung minangka pratandha saos sokur sadaya umat dhumateng Gusti.
Isi
Kita sadaya mesthi sarujuk bilih ngaturaken saos sokur punika perangan wigati ing gesangipun tiyang pitados. Nanging, praktekipun mboten gampang, amargi katah tantangan lan sangsara ing gesang, kados-kados ndadosaken tiyang kesupen ngaturaken saos sokur. Ing bab punika, kita saged sinau saking seratanipun Rasul Petrus (Waosan 2). Nalika semanten, para pandherekipun Sang Kristus ing Asia Kecil sami nandhang sangsara lan kaaniaya. Petrus lajeng ngengetaken bilih Sang Kristus piyambak sampun nandhang sangsara amargi katresnan-Ipun dhateng manungsa. Saking ngriki, Petrus nyuwun supados para pandherekipun Gusti mboten guncang iman kapitadosanipun, nanging tansah gadhah pangajeng-ajeng wonten ing Gusti Yesus Kristus.
Paulus ugi ngendika dhateng tiyang Atena bilih Gusti Allah punika mboten kados dewa-dewa ingkang namung nyuwun dipun tresnani dening umatipun (Waosan 1). Nanging Gusti Allah punika Gusti ingkang Maha Kuwasa saha paring katresnan-Ipun dhateng umat manungsa. Paulus ngagem pasemon bilih Gusti Allah punika celak lan saged dipun raosaken sacara nyata supados tiyang pitados ing Atena saged mangertos bilih Gusti Allah punika paring katresnan ageng dhateng para manungsa.
Sanadyan mekaten, ingkang dados tantangan inggih punika kados pundi manungsa saged tetep paham bab katresnanipun Gusti nalika nandhang sangsara? Katah tiyang ingkang nalika nandhang sangsara lajeng rumaos dipun tilar dening Gusti. Pramila, Gusti Yesus ngendika wonten ing Injil Yohanes 14:13-21, bilih Panjenenganipun badhe ngutus Rohing Kayekten kagem ngancani lan nuntun para pandherek-Ipun. Ing ayat 18, Yesus ngendika, “Kowe ora bakal Daktinggal lola, Aku bakal mbaleni kowe.” Tembung punika dados panglipur, bilih Yesus karsa mberkahi lan mboten nate nilar umat-Ipun. Kanthi mekaten, sanadyan gesangipun para sakabat nandhang sangsara, para sakabat taksih saged ngaturaken saos sokur awit panglipuran lan panuntunipun Sang Roh Suci.
Panutup
Wonten ing jaman sapunika, kita ugi sami ngadhepi tantangan ing gesang saben dinten. Ing satengahing kahanan mekaten, nalika undhuh-undhuh kita kaajak tansah ngaturaken saos sokur. Sanadyan mboten gampang, nanging saking waosan dinten punika, kita kaparingan pepeling bilih katresnanipun Gusti Allah punika ageng sanget. Sang Kristus sampun paring katresnan-Iipun lumantar sangsaran-Ipun. Paulus ugi mratelakaken bilih Gusti punika celak kaliyan para umat-Ipun. Gusti Yesus piyambak ugi sampun paring Roh Kayekten ingkang tansah nuntun gesang kita. Pramila lumantar undhuh-undhuh punika, kita kaajak nyadari katresnanipun Gusti lan ngaturaken saos sokur kanthi manah ingkang tulus. Mugi kita sadaya tansah katuntun dening Sang Roh Suci supados kita saged tetep saos sokur ing kahanan punapa kemawon. Sugeng dinten riyadin undhuh-undhuh, mugi Gusti tansah paring berkah dhateng kita. Amin. [Kuh.C].
Pamuji: KPJ. 171 Mangga Saos Pisungsung