Kenaikan Tuhan Yesus | Pembukaan Bulan Kespel
Stola Putih
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 1 : 1 – 11
Mazmur: Mazmur 93
Bacaan 2: Efesus 1 : 15 – 23
Bacaan 3: Lukas 24 : 44 – 53
Tema Liturgis: Rumah Kita, Rumah Tuhan
Tema Khotbah: Setia Bersaksi Menghadirkan Kerajaan Allah yang Membumi
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 1 : 1 – 11
Tulisan Kisah Para Rasul awalnya dipersembahkan kepada tokoh penerima yang bernama Teofilus. Kisah Para Rasul 1:1 juga berkata tentang “buku pertama” yang ditulis oleh pengarang, yang tidak lain adalah Injil Lukas. Jika dibaca secara berurutan dari Injil Lukas kemudian dilanjutkan Kisah Para Rasul, maka akan dijumpai kedua tulisan tersebut serasa berkelanjutan. Kisah Para Rasul merupakan tulisan “teologi naratif” atau “katekese naratif”, yang menyampaikan bahwa kendati kesulitan dan hambatan terjadi begitu banyaknya tetapi Injil Yesus Kristus terbawa semakin merambat tak tertahankan sampai ke ujung bumi.
Bagian bacaan 1 dari Kisah Para Rasul 1:1-11 menyampaikan bahwa Yesus yang dibangkitkan, masih melakukan perjumpaan dan mengajar murid-murid-Nya selama 40 hari. Mereka oleh Yesus disuruh untuk tinggal di Yerusalem menunggu dibaptisnya mereka dengan Roh Kudus (Ay. 5). Kemudian disusul dengan cerita Yesus yang diangkat ke surga (Ay. 6-11). Di akhir perjumpaan-Nya dengan para murid, Yesus memberi suatu wejangan perpisahan (Ay. 7-8) berupa semacam “wasiat” yang merumuskan tugas perutusan para rasul. Selanjutnya terdapat dua tokoh surgawi (Ay. 10-11) yang menerangkan bahwa Yesus yang sekarang terangkat ke surga nanti akan kembali.
Efesus 1 : 15 – 23
Efesus adalah sebuah kota besar yang sekarang hanya tersisa puing-puingnya saja di negeri Turki. Di zaman Perjanjian Baru, Kota Efesus terletak di pantai Laut Tengah, menjadi ibu kota propinsi Romawi yang disebut “Asia”. Kota tersebut menjadi pusat kebudayaan Yunani dan pusat pemujaan dewi Artemis yang nama Latinnya ialah Diana. Tetapi di samping dewi Artemis, dewi-dewa yang lain dipuja, termasuk kaisar Roma yang didewakan. Dari konteks dan isi surat Efesus, banyak teolog yang berpandangan bahwa para pembaca Efesus adalah orang Kristen bukan keturunan Yahudi, melainkan orang-orang dengan alam pikiran berbagai budaya dan kepercayaan yang telah bercampur.
Bagian bacaan 2 dari Efesus 1:15-23 berisi doa Paulus agar gereja dikaruniai Roh Hikmat. Kata Yunani yang dipakainya adalah sophia, yaitu hikmat mengenai perkara-perkara yang dalam dan mulia dari Allah. Ia berdoa agar gereja mendapat wahyu dan pengenalan akan Allah yang lebih mendalam. Sehingga gereja bertumbuh dalam kebenaran pemahaman tentang Kristus yang dibangkitkan dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga. Serta memahami keberadaan gereja dalam hubungannya dengan Kristus, yaitu Kristus adalah kepala dan gereja adalah tubuh-Nya. Secara harafiah, gereja adalah tubuh Kristus yang dipakai untuk melaksanakan karya Kristus di dunia.
Lukas 24 : 44 – 53
Penulis Injil Lukas mempersembahkan karyanya kepada “Teofilus yang mulia”. Nama ini bukan nama diri orang Yahudi, melainkan orang Yunani. Pemberian gelar “yang mulia” sangat mungkin menunjuk kepada seseorang yang terkemuka atau seseorang yang memegang suatu jabatan tinggi dalam pemerintahan. Entah sudah menjadi Kristen atau hanya simpatisan saja. Penyerahan suatu karangan buku kepada seorang tokoh besar, biasanya dilakukan dengan harapan yang bersangkutan akan membantu memperbanyak karangan penulis. Sebab membutuhkan modal untuk membiayai bahan dan tenaga. Sehingga janganlah kita menganggap bahwa Injil Lukas (termasuk Kisah Para Rasul) sebagai semacam surat pribadi saja.
Bagian bacaan 3 dari Lukas 24:44-53 merupakan bagian akhir dari Injil Lukas. Pada bagian ini Yesus membuka pikiran para murid dan memberi ringkasan pengajaran sekaligus mandat yang demikian:
- Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga (Ay. 46).
- Dalam nama-Nya harus diwartakan berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa kepada segala bangsa (Ay. 47).
- Mulai dari Yerusalem sampai ke segala bangsa, para murid harus menjadi saksi tentang semuanya itu (Ay. 48).
- Yang dijanjikan Bapa (Roh Kudus) akan diberikan kepada mereka, dengan syarat mereka harus tinggal di dalam kota (Yerusalem) (Ay. 49).
Selanjutnya Yesus membawa mereka keluar kota Yerusalem menuju Betania (Bukit Zaitun). Injil Lukas mengisahkan perpisahan Yesus dan para murid-Nya bukan dengan percakapan tetapi dengan sebuah gambar di mana Yesus mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka, kemudian Ia terangkat ke Surga. Para murid kembali ke Yerusalem dengan bersukacita dan senantiasa ke Bait Allah sambil memuliakan Allah.
Benang Merah Tiga Bacaan
Pada saat peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, para murid menerima mandat perutusan menjadi saksi Kristus yang membawa berita tentang Mesias yang menderita dan telah bangkit. Melalui kebangkitan-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa diberitakan kepada segala bangsa. Kini berita kesaksian tersebut diwariskan kepada gereja yang adalah tubuh Kristus. Sebagai tubuh Kristus, gereja perlu untuk terus berdoa memohon hikmat Allah agar diperlengkapi menjadi saksi yang dapat melaksanakan karya Kristus di dunia.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Salah satu gerakan teologi yang memiliki semangat roh perutusan dari peristiwa Paskah, yaitu “Teologi Pembebasan”. Gerakan teologi pembebasan secara luas dikenal dunia melalui perjuangan yang dilakukan oleh Gustavo Gutiérrez. Dia adalah seorang teolog asal Peru, Amerika Latin, yang menyuarakan dan memperjuangkan keadilan bagi masyarakat miskin dan tertindas.
Saat remaja, Gutiérrez menderita penyakit osteomielitis, yakni penyakit infeksi serius pada tulang, yang membuatnya harus menggunakan kursi roda dari usia 12 hingga 18 tahun. Karena penyakit itu, ia terdorong untuk belajar ilmu kedokteran. Tujuannya agar ia dapat menolong orang yang sakit serupa dengan dirinya. Setelah mempelajari ilmu kedokteran, ia kemudian memutuskan masuk seminari, untuk belajar filsafat dan teologi.
Sebagai seorang imam, ia melihat bahwa permasalahan yang ada di tengah kondisi sosial di Amerika Latin bukan hanya berkaitan dengan orang-orang disabilitas saja. Namun, terdapat suatu sistem yang membuat orang miskin tetap terpasung dalam kemiskinan. Kondisi inilah yang membuatnya terpanggil untuk menyerukan gerakan pembebasan kepada gereja. Baginya gereja bukan hanya tempat untuk mencari dasar iman Kristiani, melainkan berisi praksis yang menjadi wujud konkret penghayatan dari iman kepada Yesus. Melalui gerakan teologi pembebasan, gereja diundang untuk melakukan refleksi secara kritis, untuk berdiri bersama dengan mereka yang mengalami penindasan dan ketidakadilan.
Isi
Setiap Paskah, kita memperingati kematian dan kebangkitan Yesus sebagai puncak karya Allah yang membebaskan manusia dan dunia dari belenggu dosa. Di antara dosa yang diperbuat oleh manusia, salah satunya adalah dosa membiarkan penindasan dan ketidakadilan semakin merajalela. Itulah sebabnya dalam karya pelayanan Yesus, kita selalu menjumpai bagaimana Dia terus melakukan gerakan pembebasan bagi mereka yang sakit, miskin, tersisihkan, dan mengalami penganiayaan. Karya pemulihan berupa kepedulian dan kasih seperti itulah yang dimaksudkan Yesus sebagai wujud kehadiran Kerajaan Allah di bumi.
Wujud Kerajaan Allah yang disampaikan oleh Yesus tersebut nampak berbeda dengan cara pandang orang Yahudi, yang pada saat itu selalu membanggakan dirinya sebagai umat pilihan Allah. Dengan maksud bahwa mereka ditentukan sebagai umat yang istimewa dan akan mendapatkan kesempatan sebagai bangsa yang mendominasi dunia. Sehingga mereka mengharapkan suatu saat nanti, di mana Allah akan memasuki sejarah manusia secara langsung dan saat itu dengan kuasa-Nya akan menciptakan kedaulatan kerajaan di tengah dunia yang mereka impikan. Cara pandang pemahaman Kerajaan Allah orang Yahudi seperti itu sangat kental dengan nuansa politis.
Termasuk juga para murid, agaknya mereka masih belum memahami maksud Yesus tentang Kerajaan Allah yang membumi. Sebab mereka masih menanyakan kepada Yesus, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Dari pertanyaan itu, nampak bahwa para murid masih memiliki pemikiran bahwa Kerajaan Allah yang hadir di bumi berupa kerajaan fisik dengan struktur pemerintahan politis duniawi. Menjawab pertanyaan para murid, Yesus justru memberikan amanat perutusan bahwa mereka akan dipakai Allah sebagai saksi Kristus untuk menyampaikan kebenaran tentang berita Kerajaan Allah yang membumi.
Dengan memberitakan bahwa sesungguhnya Mesias harus menderita dan mati, kemudian bangkit pada hari yang ketiga. Dan melalui kebangkitan-Nya, Allah menyatakan karya penebusan dan pemulihan bagi manusia dan dunia. Sehingga berita tentang penebusan Yesus seharusnya membawa dunia kepada pertobatan yang mengajak semua bangsa mengalami perubahan hidup. Sebab dengan pertobatan manusia menerima pengampunan dosa, dan di dalam pengampunan dosa membimbing manusia untuk mengalami hidup baru di dalam Yesus. Hidup baru yang dimaksudkan adalah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di bumi dalam wujud damai sejahtera bagi semua makhluk.
Dalam membawa berita tentang Kerajaan Allah yang dimaksud Yesus tersebut, tentu akan membawa para murid mengalami tantangan. Sebab terdapat perbedaan pandangan yang secara umum dimaknai oleh orang Yahudi pada saat itu. Oleh karenanya, Yesus memerintahkan para murid untuk tinggal berdiam di Yerusalem menantikan apa yang dijanjikan Bapa, yaitu kuasa Roh Kudus yang akan memerlengkapi mereka menjadi saksi-saksi Kristus. Perlu diketahui bahwa dalam bahasa Yunani kata saksi memiliki akar kata “martus”, di mana akar kata ini juga digunakan untuk kata martir. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai seorang saksi, seseorang harus mampu mempertanggung-jawabkan kesaksiannya, apapun risiko yang akan dihadapi. Untuk itulah, para murid dengan setia berkumpul menantikan janji Tuhan dengan senantiasa berada dalam Bait Allah dan memuliakan Allah. Penantian tersebut adalah wujud kesetiaan mereka dalam mempersiapkan diri menjadi para saksi Kristus.
Kesetiaan itu pula yang nampaknya dilihat oleh Paulus ada dalam Jemaat Efesus. Dalam suratnya kepada Jemaat Efesus, Paulus menuliskan bahwa ia telah mendengar mengenai iman Jemaat Efesus kepada Kristus dan bagaimana mereka menunjukkan kasih kepada sesama. Dua hal inilah yang memang merupakan ciri dari gereja yang sesungguhnya, yaitu kesetiaan kepada Kristus dan kasih kepada sesama. Sebab gereja bukan hanya tempat untuk berbicara soal teori iman saja, tetapi juga perlu menunjukkan aksi tentang kasih yang selalu digumuli di dalam gereja.
Itulah sebabnya Paulus memberikan metafora bahwa Kristus adalah Kepala dan gereja adalah tubuh-Nya. Dari metafora ini menunjukkan bahwa gereja adalah perwujudan tangan Kristus yang melaksanakan karya-Nya dan menjadi kaki Kristus yang terus melangkah untuk meneruskan perintah-Nya. Maka sebelum tangan bekerja dan kaki melangkah, gereja harus memahami misi yang diberikan Yesus. Sama seperti amanat perutusan yang diberikan Yesus kepada para murid-Nya, kini misi tersebut diwariskan kepada gereja. Dan misi yang diberikan Yesus kepada setiap hamba-Nya adalah senantiasa berupaya menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia.
Penutup
Dalam peringatan kenaikan Yesus ke surga, kita sebagai gereja kembali disegarkan untuk mengingat dan menyadari bahwa keberadaan kita di dunia adalah menjadi saksi Kristus. Gereja bukan sekedar tempat untuk bercakap-cakap tentang iman namun gereja adalah tubuh Kristus yang siap sedia dipakai melaksanakan karya Tuhan Allah di dunia. Seperti Yesus yang hadir dan memprioritaskan karya pelayanan-Nya kepada orang-orang yang sakit, miskin, terpinggirkan, dan mengalami aniaya. Demikian pula seharusnya gereja, turut serta menghadirkan semangat pembebasan demi hadirnya damai sejahtera di bumi.
Maka dalam pembukaan bulan kesaksian dan pelayanan GKJW pada saat ini, marilah kita menengok untuk memperhatikan kondisi di sekitar kita. Kita akan menjumpai bahwa ada banyak orang-orang yang membutuhkan sentuhan kasih dan kepedulian kita. Sebagaimana kita telah dibebaskan dari dosa dan menerima pengampunan kasih-Nya, maka sudah selayaknya kita juga menyampaikan berita pembebasan itu kepada dunia.
Namun, jika masih ada keraguan dari diri kita, janganlah kita berdiam diri saja, melainkan mintalah pertolongan kepada Tuhan, seperti para murid yang dengan setia memuliakan Allah dan menunggu kedatangan kuasa Roh Kudus yang melengkapi mereka, demikian pula sebaiknya kita senantiasa memohon karunia dari Allah. Sehingga kesetiaan iman kita tidaklah sebatas berdiam diri di dalam gereja saja, melainkan iman itu kita nyatakan dengan perbuatan kasih yang membawa pembebasan dan damai sejahtera bagi sesama. Marilah kembali kita melihat, Yesus yang naik ke surga mengangkat tangan-Nya dan memberkati murid-murid-Nya. Juga saat ini dalam peringatan kenaikan Yesus ke surga, Ia masih merentangkan tangan-Nya dan memberkati kita untuk menjadi saksi-Nya demi menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di bumi. Amin. [DRN].
Pujian: KJ. 429 Masih Banyak Orang Berjalan
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Satunggaling lampah teologi ingkang nggadhahi semangat roh pangutusan saking prastawa Paskah inggih punika “Teologi Pembebasan.” Aksi saking teologi pembebasan dipun gagas dening Gustavo Gutiérrez. Piyambakipun kalebet satunggaling teolog saking Peru, Amerika Latin, ingkang mratelakaken lan mbudidaya kaadilan dhateng para tiyang ingkang sekeng lan katindhes.
Nalika taksih nem, Gutiérrez nemahi lelara Osteomielitis, inggih punika penyakit infeksi balung ingkang awrat. Sakit punika ndadosaken piyambakipun kedah ngginakaken kursi roda wiwit yuswa 12 ngantos 18 taun. Karana sesakit punika, piyambakipun gadhah pengajeng-ajeng kepengin dados dokter. Kanthi tujuan supados piyambakipun saged mitulungi tiyang sanes ingkang ngalami penyakit ingkang kados piyambakipun. Rampung anggenipun sinau bab ilmu medis, piyambakipun lajeng lumebet seminari, nglajengaken sinau filsafat sarta teologi.
Nalika dados imam, piyambakipun ngraosaken kathah prekawis awon sacara tatanan sosial ingkang wonten Amerika Latin. Mboten namung gegayutan kaliyan tetiyang disabilitas kemawon, ananging wonten satunggal sistem ingkang ndadosaken tiyang sekeng tansaya kajiret ing kamlaratan. Kawontenan punika ingkang nimbali piyambakipun nywara bab aksi pembebasan dhateng greja. Miturut piyambakipun, greja mboten namung papan kangge sinau teori bab iman dhumateng Gusti Yesus kemawon, ananging ugi nggadhahi timbalan makarya mujudaken iman ingkang nyata sarana tumindak. Lumantar aksi teologi pembebasan, greja dipun timbali nglampahi suraosing iman sacara kritis supados sageda jumeneng sesarengan kaliyan tetiyang ingkang katindhes sarta nampi tumindak mboten adil.
Isi
Saben Paskah, kita mengeti seda lan wungunipun Gusti Yesus minangka pakaryaning Allah ingkang ngluwari manungsa sarta donya sadarum saking jireting dosa. Salah sawijining dosa ingkang dipun tindakaken dening manungsa, inggih punika dosa negakaken kawontenan tumindak panindhes lan pratingkah daksiya. Milanipun, ing peladosanipun Gusti Yesus, kita nyumurupi bilih Panjenenganipun makarya ngluwari tetiyang ingkang sakit, sekeng, kasisih, lan kenging panganiaya. Pakaryan awujud tresna lan peduli punika ingkang dipun dhawuhaken Gusti Yesus minangka wujud rawuhipun Kratoning Allah ing donya.
Wujud Kratoning Allah ingkang dipun dawuhaken Gusti Yesus punika katingal benten kaliyan pemanggihipun tiyang Yahudi ingkang ngugemi bilih piyambakipun umat ingkang pinilih dening Gusti Allah. Kanthi suraos bilih bangsa Israel katamtokaken dados umat ingkang istimewa, sarta badhe nampeni janji dados bangsa ingkang nguwaosi (mendominasi) donya. Temahan, bangsa Israel gadhah pengajeng-ajeng bilih ing satunggaling wekdal, Gusti Allah badhe tedhak lumebet ing lampahing donya, sarta sarana panguwaosipun badhe nitahaken Kraton miturut pengangen-angenipun bangsa Israel ing satengahing donya. Panggalih wujud Kratoning Allah miturut tiyang Yahudi punika, katingal kados dene Kraton sacara politis.
Mekaten ugi para sakabat, katingalipun dereng saged mangretosi piwucalipun Gusti Yesus bab Kratoning Allah ingkang mawujud ing bumi. Awit para sakabat taksih atur pitakenan dhumateng Gusti Yesus, “Gusti, punapa sapunika anggen Paduka badhe mulihaken karajan kangge Israel?” Saking pitakenan punika, katingal sanget bilih para sakabat taksih gadhah pamikiran bilih Kratoning Allah ingkang badhe kalampahan ing bumi, inggih awujud karajan sacara fisik kanthi struktur pamrentah lan panguwasa donya sacara politis. Mangsuli pitakenan saking para sakabat punika, Gusti Yesus malah paring dhawuh pangutusan supados para sakabat saged dipun agem dening Gusti Allah minangka para seksinipun Sang Kristus, martosaken bab Kratoning Allah ingkang leres, ingkang badhe kalampahan ing bumi.
Ing ngriki, para sakabat dipun utus ngaturaken pawartos bilih Sang Masih kedah ngalami panganiaya lan seda, lajeng wungu ing tigang dinten malih. Lumantar wungun-Ipun Sang Kristus, Gusti Allah nebus lan mulihaken manungsa sarta donya saking panguwaosing dosa. Pawartos bab panebusing dosa lumantar Gusti Yesus kedahipun ndadosaken sadaya bangsa saged ngewahi lampah gesangipun. Krana lumantar pamratobat, manungsa saged nampeni pangapuraning dosa lan katuntun ing gesang enggal wonten Gusti Yesus. Gesang enggal punika kedah dipun lampahi manungsa kanthi pangajeng-ajeng pratandha Kratoning Allah ing bumi, inggih punika tentrem rahayu kagem sadaya titah saged kalampahan.
Nalika martosaken kabar Kratoning Allah miturut Gusti Yesus, tamtu para sakabat badhe ngadhepi kathah pacoban, karana pamanggih ingkang benten kaliyan para tiyang Yahudi. Awit saking punika, Gusti Yesus ngendika dhateng para sakabat supados mendel rumiyin ing Yerusalem. Para sakabat nganti-anti rawuhipun Sang Roh Suci ingkang kacawisaken dening Sang Rama kagem njangkepi para sakabat dados para seksinipun Sang Kristus. Prelu kita mangretosi bilih ing basa Yunani, tembung seksi punika asalipun saking tembung “martus”, kamangka tembung punika ugi dipun ginakaken kangge tembung martir. Punika nggadhahi suraos bilih tiyang ingkang dados seksi kedah mikul tanggel jawab punapa kemawon ingkang dados paseksenipun, mekaten ugi kedah cumadhang nampi pangancam bebaya. Awit tanggel jawab ingkang adi punika, para sakabat nyatunggil sesarengan ing Padaleman Suci kalayan nganti-anti rawuhipun janji prasetyan saking Gusti Allah. Tumindak punika minangka wujud kasetyan para sakabat anggenipun nyawisaken dhiri dados seksinipun Sang Kristus.
Wujud kasetyan ingkang sami ugi dipun tingali Rasul Paulus wonten ing satengahing pasamuwan Efesus. Lumantar seratipun, Paulus mratelakaken bilih piyambakipun sampun mireng kados pundi kawontenan iman para umat dhumateng Sang Kristus lan kados pundi para umat nindakaken katresnan dhateng sesami. Mangka kalih prekawis punika ingkang estu dados tandha saking greja ingkang sakmesthinipun, inggih punika kasetyan dhumateng Sang Kristus sarta tresna dhateng sesami. Awit greja sanes papan kagem ngrembagan bab teori iman kemawon, ananging ugi prelu nedahaken tumindak nyata gegayutan katresnan ingkang dados piwucal ing salebeting greja.
Pramila Paulus ngaturaken pasemon, bilih Sang Kristus punika Sesirahing Pasamuwan lan pasamuwan punika Sariranipun Sang Kristus. Pasemon punika nedahaken bilih greja ing donya punika wujud Astanipun Sang Kristus ingkang nindakaken pakaryan-Ipun Allah sarta dados seksinipun Sang Kristus ingkang mlampah nglajengaken prentah-Ipun Allah. Kanthi mekaten, saderengipun asta nindakaken pakaryan lan suku saged lumampah, pasamuwan kedah mangretosi langkung rumiyin punapa kemawon tugas tanggel jawab ingkang dipun paringaken Gusti Yesus. Kadosdene pangutusan ingkang dipun paringaken Gusti Yesus dhateng para sakabat, tugas tanggel jawab punika ugi dipun warisaken dhateng pasamuwan Efesus. Tugas tanggel jawab ingkang dipun paringaken Gusti Yesus dhateng para abdinipun, inggih punika tansah mbudidaya pratandha Kratoning Allah kalampahan ing bumi.
Panutup
Dinten punika, kita mengeti dinten mekradipun Gusti Yesus dhateng Swarga. Kita sadaya minangka Pasamuwanipun Allah dipun engetaken malih supados mangretos bilih kawontenanipun greja ing donya punika minangka seksinipun Sang Kristus. Greja mboten namung papan kagem pirembagan bab teori iman kemawon. Ananging, greja kedah cumadhang dipun timbali kagem nindakaken pakaryanipun Allah ing bumi. Kados dene Gusti Yesus rawuh ing donya nindakaken paladosan sacara mirunggan dhateng tetiyang ingkang sakit, sekeng, kasisih, lan katindhes, mekaten ugi Pasamuwanipun Allah kedah ndherek mbudidaya nindakaken teologi pembebasan kangge ngluwari kawontenan ingkang nggegirisi supados tentrem rahayu kalampahan ing bumi.
Pramila ing pambuka sasi “kesaksian” lan “pelayanan” GKJW wekdal punika, mangga kita ningali kawontenan ing antawis kita. Ing ngriku mesthi katingal bilih wonten kathah sadherek-sadherek kita ingkang mbetahaken katresnan lan penyengkuyung saking kita. Kados dene kita sampun dipun luwari saking jireting dosa sarta nampeni katresnan sih palimirma saking Gusti Allah, mekaten ugi sampun sakmesthinipun kita nglajengaken pawartos bab pangluwaran saking sadaya kahanan awon ing satengah bumi punika.
Ananging menawi kita taksih mangu-mangu, mangka sampun ngantos kita mendel kemawon. Sumangga kita nyuwun kakiyatan saha pitulungan saking Gusti Allah. Nuladha para sakabat ingkang kanthi setya ngluhuraken Gusti Allah sarta nganti-anti rawuhipun Sang Roh Suci ingkang njangkepi anggenipun nindakaken peladosan, mekaten ugi kita sadaya kapurih tansah nyenyuwun sih rahmat saking Gusti Allah. Satemah kasetyan iman ing gesang kita mboten namung kendel ing salebeting greja, nanging iman punika kita wujudaken sarana katresnan nyata ingkang mbekta pangluwaran tuwin tentrem rahayu kagem sesami. Lan sumangga kita ngenget-enget malih, Gusti Yesus ingkang sumengka dhateng swarga, tansah ngangkat astan-Ipun sarta mberkahi para sakabat, mekaten ugi ing wekdal samangke, anggen kita mengeti dinten mekradipun Gusti Yesus ing swarga, Panjenenganipun tansah ngangkat astan-Ipun sarta mberkahi kita sadaya minangka para seksin-Ipun supados kita saged mujudaken pratandha Kratoning Allah kalampahan ing satengahing bumi. Amin. [DRN].
Pamuji: KPJ. 280 Kristus Gusti Sumengka