Allah Berkarya dan Memimpin Kita Khotbah Minggu 10 Januari 2021

28 December 2020

Minggu Epifania – Bulan Penciptaan
Stola Hijau

Bacaan 1 : Kejadian 1 : 1 – 5
Bacaan 2 :
Kisah Para Rasul 19 : 1 – 7
Bacaan 3 :
Markus 1 : 4 – 11

Tema Liturgis : Berkat Terindah adalah Kembali menjadi Milik Allah
Tema Khotbah :
Allah Berkarya dan Memimpin Kita

Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

 Kejadian 1 : 1 – 5
Perikop ini (ay.1) diawali dengan kata “pada mulanya” yang bisa diartikan sebagai awal mula tahapan penciptaan yang akan terjadi. Serta Allah menjadi subyek yang berkarya dalam proses penciptaan tersebut. Meskipun ada pendapat bahwa penciptaan alam semesta dan seisi dunia yang terjadi bukanlah dari yang benar-benar kosong. Karena dalam Amsal 6:22 maupun dalam Yohanes 1:1, seakan menjelaskan bahwa ada Karya Penciptaan lain yang terjadi sebelum Allah menciptakan alam semesta. Terlepas dari hal itu, yang perlu digarisbawahi ialah Allah sebagai Subyek dalam berkehendak dan berkarya.

Pada ayat yang kedua, menggambarkan bahwa bumi belum berbentuk dan kosong. Hal ini bisa diartikan alam semesta dalam keadaan tidak teratur. Sampai ditegaskan bahwa Roh Allah pun tidak memiliki tempat berpijak, melayang-layang di atas permukaan air. Sehingga penciptaan yang dilakukan oleh Allah bisa dimaknai sebagai proses penataan atau mengatur sesuatu yang sebelumnya tidak teratur.

Sampai pada proses penciptaan atau “mengatur”, Allah mengawalinya dengan menjadikan terang melalui Sabda-Nya (ay. 3). Allah pun dalam melihat apa yang terjadi adalah baik dan melanjutkan karya-Nya dengan “mengatur” agar terang dan gelap terpisah menjadi siang dan malam (ay. 5). Hal ini menunjukkan bahwa Allah pun melakukan apresiasi atas keteraturan yang terjadi, dengan Ia memuji (baik) dan menamai hasil Karya-Nya (siang-malam). Bukan itu saja, dengan Allah sendiri yang telah menamai hasil karya-Nya, menegaskan bahwa segala sesuatu hanya Allah sajalah yang memiliki dan berhak. Tidak ada satupun yang berhak merusak dan mengubahnya, seperti tertulis dalam Yesaya 5:20, “Celakalah mereka …., yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan …” Pada bagian terakhir dari perikop ini dituliskan, “Itulah hari pertama.” Hal ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi ialah tahapan awal dari keseluruhan karya yang akan dilakukan-Nya.

Kisah Para Rasul 19 : 1 – 7
Dalam perikop ini, dijabarkan percakapan Paulus dengan beberapa (kira-kira dua belas orang) murid di Efesus yang sebelumnya telah menerima baptisan oleh Yohanes Pembaptis. Mereka dihantarkan Paulus masuk dalam Persekutuan Kristen, dengan membaptis mereka dalam nama Tuhan Yesus. Karena Paulus mendengar jawaban mereka, bahwa mereka belum mendengar dan menerima Roh Kudus. Dengan dibaptisnya mereka, Paulus sesungguhnya ingin menegaskan bahwa ketika seseorang percaya kepada Yesus Kristus ia pun diajak merasakan pengalaman rohani yang intim dengan Tuhan. Yaitu salah satu wujudnya ialah menerima dan merasakan kuasa Roh Kudus dalam dirinya. Karena dengan kuasa Roh Kuduslah mereka akan dibimbing untuk bersaksi dan bernubuat (ay. 6).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hanya dalam kuasa Roh Kudus sajalah seseorang dapat percaya kepada Tuhan Yesus. Bukan karena kemampuan pribadi sendiri. Hal ini dikarenakan agar seseorang tidak menjadi tersesat dan menyombongkan diri. Selain itu, bagi Paulus dengan pengalaman rohani yang intim dengan Tuhan, maka sesorang akan memiliki bekal untuk bersaksi. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menguatkan iman orang lain tanpa dirinya sendiri merasakan penguatan dari Tuhan.

Markus 1 : 4 – 11
Untuk membaca perikop ini, sangatlah perlu melihat pada ayat-ayat sebelumnya. Bahwa penulis Markus menjelaskan keberadaan dari Yohanes Pembaptis tidak lain dari salah satu penyataan dari Karya Allah. Yaitu ketika penulis merujuk dari Kitab Yesaya 40:3, bahwa sebelum Mesias datang akan ada utusan lain yang akan mendahului-Nya serta mempersiapkan jalan-Nya. Sehingga nyatalah “legalitas” dari keberadaan Yohanes Pembaptis, bukan untuk menjadi pesaing dari Sang Mesias. Melainkan justru menjadi pihak yang menata dan mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias. Hal itu pun ditegaskan langsung oleh Yohanes Pembaptis di dalam ayat 7, bahwa akan datang Ia yang lebih berkuasa dan memiliki derajat sangat tinggi. Sampai Yohanes pun menyampaikan bahwa yang ia lakukan tidak sebanding dari yang akan dilakukan Mesias. Yohanes membaptis dengan air sedangkan Mesias membaptis dengan Roh Kudus.

Selanjutnya, dalam ayat 9-11, ditunjukkan bagaimana Yohanes memiliki peran penting di dalam me-nyata-kan ke-Mesias-an Yesus dari Nazaret. Ketika ia membaptis Yesus dan Roh dari langit turun ke atas Yesus, serta terdengar suara dari sorga yang menjelaskan identitas sejati dari Yesus. Dengan Sabda Tuhan dari sorga, seakan memperkuat keabsahan dari baptisan yang dilakukan oleh Yohanes kepada Yesus dari Nazaret. Dengan demikian Yesus dari Nazaret seakan telah “ditahbiskan” dan dinyatakan siap untuk melaksanakan karya kehendak Allah di dalam penyelamatan dunia.

Maka dari perikop ini, kita bisa membaginya menjadi dua bagian yaitu: Pertama, ayat 4-5 menunjukkan bagaimana Yohanes Pembaptis menyiapkan umat untuk siap menerima Mesias yang akan menyelamatkan mereka dari dosa dan penghukuman. Oleh sebab itu, mereka diutus untuk bertobat dan menerima baptisan. Kedua, ia sebagai sarana agar Mesias di-nyata-kan dan disaksikan oleh umat. Atau ibarat kata, Yohanes menjadi pihak yang dipakai Allah untuk mentahbiskan Yesus melalui baptisan, tentu saja bukan berarti Yohanes memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Melainkan sarana Allah agar karya rencana keselamatan-Nya bagi dunia terjadi.

Benang Merah Tiga Bacaan
Allah menata segala sesuatu menjadi baik dan siap untuk dipakai menjadi sarana pe-nyata-an kehendak-Nya. Oleh sebab itu, melalui kuasa Allah dalam Roh Kudus, pribadi-pribadi Kristen menjadi tangguh dan dipimpin untuk bersaksi dan melayani.

 Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Bapak, Ibu dan Saudara yang terkasih. Bagi kita pecinta olahraga sepak bola, khususnya yang mengikuti perkembangan persepakbolaan nasional, pastinya merasakan keprihatinan tersendiri, karena lebih dari dua dekade ini kita melihat bahwa Tim Nasional Sepakbola kita sangatlah minim prestasi. Terlebih jika kita melihat Tim Nasional Senior saat mengikuti agenda-agenda turnamen sepakbola, baik di tingkat global maupun regional, hampir semuanya belum mendapatkan prestasi yang memuaskan. Para pengamat sepak bola nasional berpendapat, bahwa salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendongkrak prestasi persepakbolaan nasional ialah mempersiapkan bibit-bibit muda yang bertalenta. Bukan saja dicari tetapi diberikan pembinaan, pelatihan dan fasilitas yang mendukung perkembangan talenta. Bukan dengan cara yang instan, semisal dengan cara sekedar menaturalisasi Warga Negara Asing untuk menjadi bagian dari pemain nasional. Dengan cara mencari bibit muda yang bertalenta dan dengan pembinaan yang tepat, maka prestasi yang maksimal pun akan didapatkan. Hal ini terbukti dengan keberhasilan Timnas sepakbola U-19 dan U-16 yang beberapa tahun yang lalu menjuarai Piala AFF (tingkat Asia Tenggara) sesuai kategori usianya.

Demikian juga di dalam dunia pelayanan kita di GKJW, sebelum sebuah program atau kegiatan dijalankan, selalu dimulai dengan persiapan atau perencanaan. Mulai dari rapat komisi dengan merujuk PPJM GKJW, lalu dibawa dalam sidang dan diputuskan menjadi PKT. Itu semua adalah upaya agar setiap program atau kegiatan dapat maksimal dan membuahkan hasil yang baik. Lebih-lebih menjadi berkat bagi setiap warga jemaat bahkan semua orang.

Isi
Begitu juga jika kita belajar dalam bacaan kita hari ini, yang mana melalui Injil Markus kita ditunjukkan, bahwa Tuhan Yesus pun harus melalui tahapan-tahapan persiapan sebelum Ia terjun di dalam dunia pelayanan-Nya. Yaitu, ketika Ia dibaptis oleh Yohanes dan Roh Kudus turun ke atas-Nya (Mrk. 1:9-10). Bahkan dalam perikop berikutnya, kita pun disuguhi bagaimana Tuhan Yesus ditempa oleh Roh Kudus sampai dengan empat puluh hari lamanya di padang gurun. Artinya Allah pun sangat teliti dan teratur dalam me-nyata-kan rencana-Nya. Ia senang dengan proses yang benar dan tertata. Mulai dari Ia mengutus Yohanes Pembaptis untuk mendahului Mesias, agar mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias. Dengan cara menyerukan agar umat Israel bertobat dan dibaptis, sampai dengan Yohaneslah yang membaptis Yesus dari Nazaret. Semuanya itu dilakukan Allah sendiri, agar karya keselamatan bagi manusia benar-benar terjadi.

Apa yang saya sampaikan ini juga terjadi dalam proses penciptaan alam semesta yang dilakukan Allah. Hal itu bisa kita lihat dalam Kejadian 1:1-5, yang mana Alkitab memberikan kesaksian bahwa segala sesuatu sudah ditata dan dipersiapkan oleh Tuhan Allah sendiri. Khususnya dalam menciptakan langit dan bumi. Bahkan Allah sendirilah yang menamai segala ciptaan-Nya. Seperti dalam Kejadian 1: 5, “Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam…” Artinya, selain Ia menata dan mengatur alam semesta agar menjadi baik, juga menegaskan bahwa hanya Dialah yang memiliki alam semesta ini. Tidak ada satu pihak pun yang mempunyai hak untuk menguasai apalagi merusaknya.

Sedangkan jika kita belajar dari Kisah Para Rasul 19:1-7, Paulus pun seakan menegaskan bahwa tanpa pengalaman pribadi dengan Tuhan, seseorang tidak akan siap dan mampu untuk terjun di dalam dunia pelayanan yang penuh dengan tantangan. Artinya bukan sekedar kecakapan atau talenta pribadi yang membuat seseorang dapat berkarya, melainkan juga dengan kehendak Tuhan dan keberserahan kepada-Nya. Sehingga Paulus mengajak kepada kita untuk melalui proses yang benar agar Roh Kudus memimpin kita dalam bersaksi dan menjalani kehidupan. Hal ini, seperti yang dia lakukan ketika dia berbincang dengan dua belas murid yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, namun belum menerima bahkan belum mendengar Roh Kudus. Sehingga mereka pun akhirnya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Dan setelah dibaptis, mereka dikuasai oleh Roh Kudus untuk bernubuat.

Penutup
Jemaat Tuhan yang diberkati, dari perenungan kita akan kesaksian Firman Tuhan pada hari ini, saya mengajak kita semua untuk menghayati bahwa:

  1. 1. Hanya Tuhan Allahlah pemilik hidup kita, Ia yang menciptakan kita dan dunia ini, Ia pulalah yang akan selalu memimpin kita. Oleh sebab itu, tidak ada alasan apapun untuk bermegah diri ataupun mengutamakan diri sendiri.
  2. 2. Selalu ada rencana dan rancangan yang indah bagi kita, seperti halnya Allah ketika menciptakan terang, Ia bersabda bahwa terang itu baik. Maka demikianlah hidup kita, pada akhirnya akan dituntun ke dalam kebaikan.
  3. 3. Terakhir, mari kita setia dalam segala proses kehidupan yang harus kita lalui. Seperti halnya Tuhan Yesus yang setia menjalani proses sebelum Ia masuk dalam dunia pelayanan. Ia harus dibaptis oleh Yohanes dan ditempa empat puluh hari di padang gurun. Demikianlah kiranya kita juga dalam menjalani proses kehidupan kita, yang penuh dengan pergumulan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama lebih dekat lagi kepada Tuhan dan merasakan pengalaman-pengalaman rohani bersama-Nya.

Selamat menysukuri karya Tuhan dan selamat dipimpin-Nya ke dalam kebaikan. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (PY)

Nyanyian : KJ. 413 : 1, 2 Tuhan, Pimpin Anak-Mu

Rancangan Khotbah : Basa Jawi

Pambuka
Bapak,
ibu lan para saderek ingkang kinasih, kangge kita ingkang remen kaliyan olahraga bal-balan (sepakbola), mliginipun ingkang mangertos perkembanganipun persebakbolaan nasional, Tamtunipun kita ngraosaken prihatos, awit langkung saking kalih dekade kita tingali bilih Tim Nasional Sepakbola kita minim kaliyan prestasi. Langkung malih menawi kita mirsani Tim Nasional Senior ingkang nderek turnamen-turnamen bal-balan, sae ing tingkat global ugi regional, meh sadaya dereng angsal prestasi ingkang bungahaken. Para pengamat bal-balan Nasional kagungan penggalih, bilih salah setunggaling upaya ingkang saged dipun tindakaken kangge ningkataken prestasi bal-balan nasional, inggih punika nyawisaken bibit-bibit enem ingkang bertalenta. Boten namung dipun padosi nanging ugi dipun bina, dipun latih lan dipun fasilitasi ingkang sembada kangge ngembangaken talentanipun. Boten namung ngangge cara cepet utawi instan kemawon, kados cara naturalisasi utawi mendet warga manca Negara supados saged dados bagian Tim Nasional. Kedah kanthi cara madosi bibit-bibit enem ingkang kagungan talenta kaliyan pembinaan ingkang leres, tamtu prestasi saged maksimal lan sae. Paling boten saged kabukti bilih Timnas bal-balan U-19 lan U-16 ing taun-taun kepungkur dados juara Piala AFF (Tingkat Asia Tenggara) miturut kategori umuripun.

Mekaten ugi ing satengah gesang peladosan kita ing GKJW, saderengipun progam utawi kegiatan katindhakaken, mesthi dipun wiwiti kaliyan pacawisan utawi perencanaan. Milai rapat komisi ingkang kanthi panuntun PPJM GKJW, lajeng kabetha ing sidang lan dipun putusaken dados PKT. Sadaya punika minangka upaya supados saben program utawi kegiatan saged maksimal lan nguwohaken kasil ingkang sae. Langkung-langkung dados berkah kagem sadaya warga pasamuwan malahan sadaya tiyang.

Isi
Menawi kita sinau ing salebetipun waosan kita, lumantar Injil Markus kita kaparingan pirsa bilih Gusti Yesus kedah nglampahi tahapan-tahapan pacawisan sakderengipun Panjenenganipun lumebet ing peladosan. Inggih punika, nalika Gusti Yesus kabaptis dening Yokanan lan Roh Suci tumrah ing Panjenganipun (Mrk. 1:9-10). Malahan ing seratan selajengipun, kita dipun paring piwulang kadospundi Gusti Yesus dipun gembleng dening Roh Suci ngantos dumugi sekawan dasa dinten laminipun ing ara-ara samun. Artosipun Gusti Allah punika teliti sanget lan tumata ing satengah mujudaken karsan-Ipun. Panjenenganipun remen kaliyan proses ingkang leres lan tumata. Milai Panjenenganipun ngutus Yokanan Pambaptis kagem ngrumiyini Sang Mesias, supados saged nyawisaken margi kagem Sang Mesias. Kanthi cara nyuraosaken supados umat Israel mratobat lan kabaptis, ngantos dumugi Yokanan ingkang mbaptis Yesus saking Nazaret. Sadaya punika katindakaken dening Gusti Allah piyambak, supados kawilujengan sejati kagem manungsa saged kalampahan.

Punapa ingkang kula aturaken punika ugi kalampahan ing satengah proses Gusti Allah nyawisaken jagad raya. Punika saged kita pirsani ing Purwaning Dumadi 1:1-5, ingkang pundi Kitab Suci maringaken paseksen bilih sadaya punika sampun dipun tata lan kacawisaken dening Gusti Allah piyambak. Mliginipun anggen nitahaken langit lan bumi. Langkung malih Gusti Allah piyambak ingkang maringi nami sadaya punapa ingkang sampun dipun titahaken. Kados dene ing Pur. Dum. 1:5, “Kang padhang diparingi aran raina, dene kang peteng wengi…” Artosipun kejaba Penjenenganipun mranata jagad raya supados tansah sae, ugi negesaken bilih namung Panjenenganipun ingkang kagungan jagad raya punika. Boten wonten ingkang kagungan hak nguasani punapa malih ngrisak.

Menawi kita sinau saking Lelakone Para Rasul 19:1-7, Paulus negesaken bilih tanpa pengalaman pribadi kaliyan Gusti, tiyang boten saged siap lan mampu lumebet ing satengah peladosan ingkang kebak kaliyan perkawis. Artosipun boten namung kapinteran lan talenta pribadi ingkang ndadosaken tiyang saged makarya, ananging krana karsanipun Gusti lan raos pasrah ing Panjenenganipun. Satemah Paulus ngajak kita nglampahi proses ingkang leres supados Roh Suci mimpin kita ing satengah paseksi lan nglampahi gesang. Punika kadosdene ingkang dipun tindhakaken Paulus anggen wicanten kaliyan kalih welas murid ingkang kabaptis dening Yokanan Pambaptis, nanging dereng nate nampi lan mireng Sang Roh Suci. Satemah tiyang-tiyang kalawau dipun baptis ing dalem Asmanipun Gusti Yesus. Salajengipun, tiyang-tiyang punika katedhakan Sang Roh Suci lan sami medhar Sabdanipun Gusti Allah.

Panutup
Pasamuwanipun Gusti ingkang binerkahan, ing satengah reraosan kita dinten punika, kula ngajak panjenengan sadaya saged ngraosaken, bilih:

  1. Namung Gusti Allah ingkang kagungan gesang kita, Panjenenganipun ingkang nitahaken kita lan jagad saisinipun. Panjenenganipun ugi ingkang tansah ngirid lampah kita. Pramila, boten wonten perkawis punapa kemawon ingkang ndadosaken kita gumunggung utawi namung mikiraken diri pribadi.
  2. Mesthi wonten karsa lan rancangan ingkang endah kangge kita, kados dene Gusti Allah ingkang nitahaken padhang, Panjenenganipun paring dawuh bilih padhang punika sae. Mekatena ugi gesang kita, ing pungkasanipun tansah kairid ing salebeting kasaenan.
  3. Ingkang pungkasan, sumangga kita tansah setya ing sadaya proses gesang ingkang kedhah kita lampahi. Kados dene Gusti Yesus ingkang setya nindakaken proses saderengipun lumebet ing peladosan. Panjenenganipun kedah kabaptis dening Yokanan lan dipun godha Iblis sekawan dasa dinten ing ara-ara samun. Mekaten ugi kita ing satengah nglampahi proses pigesangan kita, ingkang kebak kaliyan perkawis. Sumangga sesarengan kita langkung celak kaliyan Gusti Allah lan ngraosaken pengalaman-pengalaman rohani kaliyan Panjenenganipun.

Sugeng saos sokur krana karyanipun Gusti Allah lan sugeng katuntun kaliyan Panjenenganipun ing satengah kasaenan. Gusti Yesus mberkahi kita sedaya. Amin. (PY).

 Pamuji : KPJ. 437 : 1, 2 Gusti Yesus Pangen Kula

Renungan Harian

Renungan Harian Anak