Marturia panggilan orang Percaya Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus 30 Mei 2019

Pembukaan Bulan Kasaksian & Pelayanan / Kenaikan Tuhan Yesus
Stola Putih

Bacaan 1 : Kisah Para Rasul 1:1-11
Bacaan 2 : Efesus 1:15-23
Bacaan 3 : Lukas 24:44-53

Tema Liturgis : Roh Kudus: Rahasia Pengharapan Dibalik Panggilan yang Menerangi Hati
Tema Khotbah : Marturia panggilan orang Percaya

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 1:1-11

Kesaksian Lukas dalam kisah para rasul bertolak dari peristiwa Tuhan Yesus naik ke sorga dan menjanjikan kuasa saat Roh Kudus turun ke atas para murid. Hal ini menjadi janji penguatan dan penghiburan bagi para murid yang selama ini bersama-sama dengan Yesus dan mereka harus berpisah. Oleh karena itu, janji kehadiran Roh Kudus dan kuasaNya diharapkan meneguhkan hati para murid untuk tetap setia dalam mengikut Tuhan Yesus

Efesus 1:15-23

Surat Paulus ini menekankan bahwa sebagai Komunitas orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, disebut Gereja. Gereja merupakan persekutuan orang percaya yang dipanggil untuk bersaksi dan melayani. Oleh karena itu, maka bagaimana kita-orang percaya hidup? dalam teks hari ini, Paulus menyatakan bersyukur mengetahui iman jemaat di efesus, dan setia berdoa supaya menjadikan mata hati jemaat di Efesus memperoleh terang dan pengharapan karena kuasa kebangkitan Tuhan Yesus.

Lukas 24:44-53

Kisah penampakan Yesus dihadapan para murid yang saat itu masih dalam suasana takut, karena para pengikut Yesus mengalami kriminalisasi dari orang-orang Yahudi. Selain itu, kehadiran Yesus ditengah para murid menjadi pemecah keheningan antara takut dan percaya. Disatu sisi, Yesus telah disaksikan mati disalib, sehingga tidak heran Tuhan Yesus berkata di ayat 38, dan dipertegas di ayat 39 bahwa Yesus bukan hantu dan makan ikan goreng. Perjumpaan terakhir Tuhan Yesus dan para murid ini sepertinya ingin menguatkan dan meneguhkan hati para murid bahwa semua ini sudah ditulis dalam kitab Taurat Musa, Para Nabi, dan Mazmur. Jadi, harus digenapi. Namun, selain itu Yesus juga menugaskan kepada para murid seperti di ayat 47-49, pewartaan tentang berita pertobatan dan pengampunan dosa kepada semua orang dan kita adalah saksiNya yang akan dilengkapi sesuai janji Bapa.

Benang Merah Tiga Bacaan

Kesaksian iman orang percaya diteguhkan dengan hadirnya kuasa Roh Kudus yang menerangi hati setiap orang percaya. Peneguhan dan kekuatan dari Allah terwujud dalam kuasa Roh Kudus dalam kehidupan manusia yang selalu dipanggil dan dipelihara oleh kasih Allah. Pertanyaannya : Apa respon kita sebagai “gereja” yang dipanggil untuk bersaksi dengan kuasa dari Roh Kudus?


RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Bapak, ibu, dan Saudara/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus,

Ada ungkapan yang menyatakan “Kindness make you the most beautiful in the world no matter what you look like” dalam terjemahan bebasnya “kebaikan membuat kamu menjadi seorang yang paling indah di dunia dan tidak masalah kamu terlihat seperti apapun” ini merupakan salah satu bentuk atau wujud dari nilai diri untuk mewujudkan kebaikan. Oleh karena itu, nilai diri tidak lepas dari kacamata atau sudut pandang yang kita gunakan. Jika kacamata biru, maka semua berwarna biru. Jika kacamata hitam, maka semua berwarna gelap. Dan jika kacamata bening, maka semua berwarna jelas. Begitu juga terhadap nilai diri setiap orang.

Isi

Untuk menjadi saksi, seseorang bukan hanya perlu tahu apa yang disaksikannya, melainkan juga perlu kesiapan mental. Kesiapan ini penting agar ia mampu meyakinkan orang lain untuk menerima dan mempercayai kesaksiannya. Hal yang demikian juga dialami oleh para murid yang diutus menjadi saksi tentang hidup dan karya Kristus. Lalu bagaimana dengan kita? Siapkah kita menjadi saksi Tuhan? Saat ini kita semua dipanggil untuk menjadi saksi Tuhan. Ia berkenan mempersiapkan dan memperlengkapi kita dengan segala yang kita perlukan agar kita mampu menjadi saksi-Nya. Pertanyaan mendasar tentang Siapa kita? Tentu patut dijawab oleh kita semua. Jika kita sudah memahami keistimewaan diri kita dan siapa yang akan kita saksikan tentu sudah tidak mengalami keraguan atau kegamangan. Setiap orang Krsiten disebut “gereja” seperti dalam kesaksian Paulus. Maka, sebagai pengikut Yesus yang telah mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidup maka kita memperoleh anugrah kasih karunia keselamatanNya. Apakah cukup sampai kita menerimanya? Tidak!

Menerima kasih karunia keselamatanNya merupakan hal yang berharga. Oleh karena itu, hidup kekristenan mempunyai tanggung jawab besar untuk mewujudkan kasih karunia tersebut dalam kehidupan sebagai orang percaya. Kita yang telah ditebus oleh kasih karuniaNya, jika hidupnya sembarangan atau cenderung tidak menghargai anugrah Allah tersebut maka sebagai “gereja” kita patut bertanya, dimana suara kenabiannya? Seorang Teolog bernama Dietrich  Bonhoeffer, mengingatkan gereja di jerman (saat gereja tidak lagi kritis terhadap pemerintahan Hitler) dengan berkata bahwa, “Kristus bukan memberikan anugerah yang murah, tetapi anugerah yang mahal. Anugerah yang mahal menuntut setiap orang yang menerimanya untuk mengikut Yesus Kristus seumur hidupnya dan harus menyangkal diri dan memikul salib”.  Bonhoeffer juga menyatakan, “Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia memanggilnya untuk mati“. Inilah yang disebut dengan harga sebuah pemuridan. Dengan demikian, setiap orang Kristen tidak boleh memikirkan kenyamanannya melainkan harus berani membayar harga demi ketaatannya pada Yesus Kristus, termasuk berani melawan pemerintah yang salah.

Berangkat dari perspektif yang benar tentang nilai diri kita sebagai orang yang telah ditebus dengan harga yang mahal, dan AnugrahNya merupakan anugrah yang luar biasa, maka hidup di dalam iman Kristen mempunyai tanggung jawab seperti panggilan para murid di Lukas 24 : 47-49. Jangan lagi merasa rendah diri, Tidak percaya, dan hidup dalam kesembronoan, karena hidup yang kita alami mempunyai penugasan dan panggilan yang tidak biasa tapi luar biasa. Marturia merupakan salah satu panggilan hidup “gereja”, yaitu “berlakunya rencana karya dan kuasa Tuhan Allah” (Tata Gereja, Hal.16). Dengan demikian, maka rencana karya dan kuasa Allah tentu mewujudkan Damai Sejahtera di dalam kehidupan di dunia. Hal tersebut tentu tidak mudah, dengan tantangan dunia yang semakin tumbuh dalam Egosentrisme, Hedonisme, dan Pragmatis sempit dalam memaknai panggilan hidupnya. Apakah lalu kita menyerah? Tidak! Ingat, ada kuasa Roh Allah yang memampukan kita untuk hidup dan mensaksikan kebenaran Firman Tuhan.

Penutup

Ungkapan di awal pendahuluan, merupakan penyemangat dalam kita hidup kesaksian. Tuhan Allah memampukan kita melalui kuasa Roh Kudus, dengan berbagai keadaan kita masing-masing. Sebuah kisah tentang Grazia Epifhania, penyanyi Rohani Populer yang mampu bersaksi dengan suara yang dianugrahkan oelh Tuhan, sekalipun mengalami keterbatasan dalam penglihatannya. Sebuah lagu berjudul : Meski Ku Tak dapat Melihat (https://www.youtube.com/watch?v=bscu08w8wns), kiranya menyemangati langkah kesaksian kita di tahun 2019. Tuhan Yesus mberkati.

Nyanyian: KJ. 341 /NKB 102 /PKJ 103      


RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi 

Pambuka

Bapa, Ibu, lan para sederek ingkang kinasih dening Gusti Yesus,

Wonten seratan ingkang mekaten, “Kindness make you the most beautiful in the world no matter what you look like” lan wonten ing terjemahan bebasipun nggih mekaten, “kebaikan membuat kamu menjadi seorang yang paling indah di dunia dan tidak masalah kamu terlihat seperti apapun”. Punika ngadah artos bilih wonten salah satunggalipun wujud saking nilai diri kangge wujudaken kasaenan. Saking punika, nilai diri mboten saget uwal saking kacatinggal utawi sudut pandang ingkang kita ginaaken. Bilih kacatinggal ingkang kita agem biru, temtu sedaya warnanipun biru. Bilih kacatinggal warna cemeng, temtu sedaya warnanipun cemeng. Lan bilih kacatinggalipun bening, temtu sedaya saget ketawis cetha. Mekaten ugi, nilai diri saben tiyang.

Isi

Kangge dados seksi, kita mboten namung prelu mangertosi punapa ingkang dipun seksiaken, nanging ugi prelu nyawisaken mental. Nyawisaken punika penting, supados kita saget paring keyakinan dumateng tiyang sanes kangge nampi lan pitados bab paseksinipun. Bab punika, ugi dipun alami kaliyan para sekabat ingkang dipun utus dados seksi bab gesang lan pakaryanipun Gusti Yesus. Lajeng kadospundi kita? Sinten to diri kita ingkang dados seksinipun Gusti Yesus? Sakpunika, kita sedaya dipun timbale supados saget dados seksinipun Gusti Yesus. Gusti Allah sampun nyawisaken lan nyekapi kita kanthi sedaya ingkang dados kabetahan kita supados mampu dados seksinipun. Pitakenan ingkang mendasar, inggih punika sinten diri kita? Temtu patut dipun jawab kita sedaya. Bilih kita sampun paham keistimewaan diri kita lan sinten ingkang kita seksiaken temtu sampun mboten prelu wonten keraguan utawi kegamangan. Saben tiyang Kristen kasebat “greja” kados punapa ingkang dados paseksinipun Paulus. Saking punika, kita ingkang sampun nampi lan ngimani Gusti Yesus dados Tuhan lan Juruwilujeng wonten ing gesang, temtu kita bade nampi sih katresnan kasalametan. Punapa cekap bilih sampun nampi? Mboten !

Nampi sih katresnan kaselametan saking Gusti Allah temtu bab ingkang aji sanget. Saking punika, gesang kekristenan kedah kagungan tanggel jawab ingkang agengkangge wujudaken sih katresnan punika wonten ing saklebeting gesang tiyang pitados. Kita ingkang sampun dipun tebus saking sih rahmatipun, bilih gesang kita sembarangan utawi mboten ngregani sih rahmatipun Gusti Allah punika, temtu dados “greja” kita kedah tanglet, wonten ing pundi suara kenabiannya? Wonten Teolog, paring asma Dietrich  Bonhoeffer, paring pesen dumateng greja ing Jerman (wekdal punika gereja mboten malih Kritis dumateng Hitler) kanthi dawuh ingkang mekaten, “Kristus bukan memberikan anugerah yang murah, tetapi anugerah yang mahal. Anugerah yang mahal menuntut setiap orang yang menerimanya untuk mengikut Yesus Kristus seumur hidupnya dan harus menyangkal diri dan memikul salib”. Punika ingkang kasebat regi saking pemuritan. Saking mekaten, sedaya tiyang Kristen mboten angsal namung mikir raos nyaman dirinipun piyambak nanging kedah wanton mbayar regi kangge wujud taat dumateng Gusti Yesus Kristus, termasuk wantun ngelawan pemerintah ingkang salah salah.

Wangsul saking perspektif ingkang leres bab nilai diri kita dados tiyang ingkang sampun dipun tebus kanthi regi ingkang awis, lan Sih rahmatipun punika rahmat ingkang aji sanget, saking punika wonten ing gesang lan iman Kristen kagungan tanggel jawab kados timbalanipun para sekabat ing Lukas 24:47-49. Mboten prelu malih minder, mboten pitados, lan gesang kanthi sembrono, amargi gesang ingkang kita alami ngadah tugas lan tanggel jawab ingkang ageng. Marturia, punika salah satunggil timbalanipun gesang “greja”, nggih punika “kelampahanipun rancangan pakaryan lan kuasanipun Gusti Allah” (Tata Greja, Hal.16). Saking mekaten, temtu rencana lan rancangan kuasanipun Gusti Allah temtu wujudaken sih rahmat wonten ing saklebeting gesang wonten ing ndonya. Bab punika temtu mboten gampil, kanthi tantangan wonten ing ndonya ingkang katha tuwuh sifat egosentris, Hedonis, lan pragmatis ingkang sempit anggenipun ngadah makna timbalan gesang. Punapa relitas punika dadosaken kita nyerah? Temtu Mboten ! kita sami ingget, wonten kuasa saking Gusti Allah ingkang paring kemampuan dumateng gesang kita lan saget mangertosi sabda pangandikanipun Gusti Allah ingkang leres saestu.

Panutup

Ingget seratan ingkang wonten wiwitan, mugi saget dados semangat wonten ing kesaksian gesang kita. Gusti Allah paring kemampuan mawi kuasa Roh Suci, kanthi sedaya kahanan kita piyambak-piyambak. Kula ingget kisah Grazia Epifhania, penyanyi Rohani Populer ingkang mampu paring paseksi kanthi suanten ingkang dipun paringaken Gusti Allah, sanadyan ngalami keterbatasan wonten ing paningalanipun. Wonten lagu kanthi judul : Meski Ku Tak dapat Melihat (https://www.youtube.com/watch?v=bscu08w8wns), mugi saget paring semangat wonten ing lampah wulan kesaksian ing tahun 2019 punika. Gusti Yesus mberkahi.

Pamuji: KPJ. 338. 

 

 

 

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •