Pekan Suci | Kamis Putih
Stola Putih
Bacaan 1: Keluaran 12 : 1 – 4; 11 – 14
Bacaan 2: 1 Korintus 11 : 23 – 26
Bacaan 3: Yohanes 13 : 1 – 17; 31 – 35
Tema Liturgis: GKJW Meneladani Solidaritas Yesus Melalui Kerelaan Berkorban
Tema Khotbah: Ingat, Rengkuh, dan Basuhlah!
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Keluaran 12 : 1 – 4; 11 – 14
Dalam tradisi keagamaan orang Yahudi, Paskah tergolong dalam festival musim semi yang diselenggarakan pada bulan Nisan di tanggal 14. Menurut Rasid Rachman, bulan Nisan adalah bulan pertama yang dibuka dengan hari raya Bulan Baru (Rachman 2009, 11). Keterangan tersebut memperjelas keterangan waktu yang ditulis di ayat 2, “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.” Menurut Carol Meyers, keterangan waktu tersebut adalah pengingat identitas baru bangsa Israel yang mengalami perubahan status dari budak menjadi orang merdeka (Meyers 2005, 96). Perubahan identitas tersebut dimaklumatkan kepada segenap jemaah Israel. Dalam teks bahasa Ibrani, frasa “segenap jemaah Israel” menggunakan kata eda. Menurut Meyers, kata eda, pada awalnya sering dipakai untuk menerangkan keterlibatan laki-laki dewasa dalam perayaan, sebagaimana yang sudah biasa dilakukan dalam tradisi Deuteronomi (Ul. 16:1-8, 16). Dalam narasi Keluaran, kata eda diperluas penggunaannya yaitu, menunjuk pada inklusivitas jenis kelamin dan usia anggota bangsa Israel (Meyers 2005, 95). Oleh karena itu, Paskah adalah festival atau perayaan yang harus dirayakan bersama-sama, baik itu laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang dewasa.
Kebersamaan itu diwujudkan dalam perjamuan keluarga di rumah masing-masing yang dilakukan setelah senja. Perjamuan keluarga tersebut disebut seder, yang berarti tata perayaan (Rachman 2009, 12). Praktik dan bentuk perjamuan Seder pertama kali, setidaknya dapat dilihat mulai ayat 4-11. Hidangan utama dalam perjamuan Seder adalah domba Paskah dan ditambah juga roti tak beragi dan sayur pahit. Menurut Meyers, seluruh tata cara dan gestur dalam perjamuan Seder memiliki fungsi commemorative, yaitu mengingat seluruh perlindungan TUHAN yang melewati (pass over) rumah-rumah bangsa Israel yang diolesi tanda darah yang berasal dari sembelihan anak domba (Meyers 2005, 97).
Perlindungan TUHAN itu adalah tanda bahwa harapan kebebasan orang Israel dari tanah perbudakan selalu ada. Meyers mengatakan bahwa gagasan tentang perlindungan TUHAN itu tidak jauh dari makna kata kerja pesakh (bhs. Ibrani) di ayat 13, “Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu.” Kata “akan lewat” dalam teks bahasa Ibrani disebutkan dengan kata kerja pesakh yang berarti untuk melindungi (Meyers 2005, 97). Terkait dengan darah dan pengolesan darah pada pintu rumah, dalam catatannya, Rachman menyebutkan bahwa tradisi tersebut diadopsi dari tradisi suku Keni dan para penjelajah gurun pasir. Mereka memercikkan darah hewan korban pada tiang-tiang tenda sebagai penolak bala (Rachman 2009, 12).
Dengan demikian, perayaan Paskah dalam Perjanjian Lama yang ditandai dengan perjamuan Seder adalah perayaan inklusif (laki-laki, perempuan, anak-anak, orang dewasa) yang harus dirayakan turun-temurun dan selamanya (Ay. 14) untuk mengingat seluruh perlindungan TUHAN yang melewati (pass over) rumah-rumah bangsa Israel, sehingga bangsa Israel terlepas dari perbudakan di tanah Mesir.
1 Korintus 11 : 23 – 26
Joachim Jeremias menduga bahwa perjamuan malam di jemaat Korintus dipengaruhi oleh budaya Yunani (Jeremias 1990, 188). Dugaan serupa juga diungkapkan oleh Dennis E. Smith dan Hal Taussig yang mengatakan bahwa pola perjamuan malam di jemaat Korintus adalah perjamuan makan yang dilakukan di malam hari (deipnon) dan perjamuan minum (symposium) (Smith & Taussig 2012, 23). Dugaan tersebut terbukti dengan penggunaan frasa kuriakon deipnon (κυριακὸν δεῖπνον) yang dipakai di ayat 20 dan diterjemahkan dengan frasa perjamuan Tuhan.
Deipnon dan symposium adalah dua ciri khas utama perjamuan Yunani. Perjamuan Yunani memiliki sebuah ciri khas yaitu berbaring dan atau bersandar. Posisi tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar di atas adalah hasil rekonstruksi ruang makan dengan 11 ruang sofa dari periode klasik Yunani yang digali di tempat kudus Asclepius di Korintus. Gaya ruang makan Yunani menggunakan sofa yang dirancang untuk satu orang, meskipun menurut data yang lain, dua atau lebih mungkin berbagi sofa pada waktu yang sama. Di ruangan yang dirancang untuk ruang makan, sofa-sofa diatur di sepanjang dinding, sehingga setiap pengunjung bisa berbaring siku kiri mereka dan menghadap kelompok makan lainnya ke arah interior ruangan (Smith & Taussig 2012, 27). Orang yang berada di tengah dan berada di belakang sebuah bejana besar disebut symposiarch. Symposiarch adalah petugas khusus yang mengatur jalannya perjamuan, khususnya dalam symposium, agar semua orang yang hadir dalam perjamuan tersebut mendapatkan makanan dan minuman serta perlakukan yang setara (Smith 2013, 134). Penjelasan teks kali ini memang tidak membahas secara detail tentang tata cara deipnon dan symposium, namun secara umum demikianlah gambaran perjamuan malam yang terjadi.
Dalam praktik perjamuan yang terjadi di jemaat Korintus sepertinya terjadi “kemandulan” fungsi symposiarch, sehingga orang-orang di jemaat Korintus berlomba memakan makanannya dahulu, sehingga ada yang kelaparan dan ada yang mabuk. Menurut George May, biasanya setiap orang yang datang – majikan, budak, orang kaya, orang miskin, laki-laki, perempuan, dan anak-anak – membawa makanan dan makanan itu kemudian dimakan bersama-sama. Makanan yang dibawa biasanya diletakkan di meja pertama. Ada pula meja kedua yang makanannya disisihkan dari meja pertama dan diperuntukkan untuk tuan rumah. Praktik perjamuan yang dilakukan meliputi acara makan-makan dan selalu diikuti dengan diskusi sambil minum-minum.
Praktik yang terjadi saat itu, para majikan datang terlebih dahulu dan langsung memakan makanan di meja pertama yang sebenarnya itu diperuntukkan bagi semua orang. Sementara orang-orang berikutnya berdatangan, tuan rumah melihat bahwa makanan di meja pertama sudah habis, lalu menghidangkan makanan yang menjadi miliknya. Makanan itu pun disantap habis. Orang-orang yang datang terakhir tidak mendapatkan bagian karena makan-makan telah selesai dan makanan telah habis (May 2002, 3). Menurut Andrew B. McGowan, hal tersebut terjadi karena dalam masyarakat agraris yang berada di daerah Yunani-Romawi, mereka berjuang untuk mencapai asupan makanan untuk tetap hidup. Sajian yang paling umum dalam sebuah perjamuan digolongkan dalam tiga jenis, yaitu roti (Yun: artos) sebagai makanan sentral, lauk-pauk (Yun: opson), dan anggur (Yun: oinos). Anggur menjadi minuman sentral pada perjamuan Yunani karena alasan nutrisi dan dianggap memiliki makna religius. Bahkan orang miskin pun, seperti budak dan janda, mengharapkan bisa minum anggur. Oleh karena itu, perjamuan makan di jemaat Korintus memiliki masalah yang sangat kompleks karena juga berkaitan dengan bagaimana orang bertahan hidup (McGowan 2014, 23).
Praktik itulah yang ditegur oleh Rasul Paulus, karena orang hanya mengingat perutnya sendiri dan melupakan orang lain. Teguran itu dilontarkan oleh Rasul Paulus, karena mereka melakukan hal tersebut ketika mereka berkumpul sebagai Jemaat (Ay. 18). Oleh karena itu, Rasul Paulus mengingatkan mereka dengan pola perjamuan makan yang diteladankan oleh Tuhan Yesus dan sudah menjadi tradisi (ayat 23, “… yang telah aku terima …”: tradisi, bhs. Yun: tradiche). Dalam makan dan minum (baca: perjamuan) terdapat sebuah pengalaman yang mengikat secara emosional bagi para pengikut Tuhan Yesus dengan Tuhan Yesus sendiri, yaitu mengingat Dia (Ay. 24 dan 25) dan memberitakan kematian-Nya sampai Ia datang (Ay. 26). Makan dan minum (baca: perjamuan) mempersatukan aspek masa lalu, kini, dan masa depan. Smith dan Taussig mengatakan bahwa pernyataan Rasul Paulus terhadap perjamuan makan yang diteladankan oleh Tuhan Yesus ingin menegaskan teologi Paulus bahwa makan dan minum membawa pada kesatuan jemaat, utamanya sebagai satu tubuh Kristus (Smith & Taussig 2012, 30). Hal tersebut tampak di dalam pernyataan Rasul Paulus di 1 Kor. 10: 17, “Karena ada satu roti, kami yang ada banyak adalah satu tubuh, karena kita semua makan dari satu roti.” Melalui roti (baca: perjamuan), jemaat menjadi satu tubuh karena makan dari satu roti. Oleh karena itu, sangat beralasan, bila Rasul Paulus menegur dengan keras praktik perjamuan yang terjadi di jemaat Korintus, karena praktik tersebut tidak membawa pada kesatuan jemaat. Perjamuan makan dan minum adalah sebuah momen untuk mengingat yang lain –ada yang lapar dan bertahan untuk hidup – sebagai satu tubuh Kristus.
Yohanes 13 : 1 – 17; 31 – 35
Dalam bukunya yang berjudul The Eucharist in The New Testament and The Early Church, Eugene La Verdiere mengatakan bahwa penulis Injil Yohanes memuat tiga kisah yang merujuk pada karakter perjamuan Tuhan. Pertama adalah kisah Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang (Yoh. 6:1-15). Kedua adalah kisah Perjamuan Malam Terakhir (Yoh. 13:1-38) dan wacana perpisahan yang mengikutinya dan mencapai puncaknya dalam sintesis besar misi Yesus dalam bentuk doa (Yoh. 14:1-17:26). Ketiga adalah epilog Injil, cerita tentang makan bersama Yesus di pantai (Yoh. 21:1-14) dan diikuti dengan pesan khusus kepada Simon Petrus (Yoh. 21:15-23) (Verdiere 1996, 115).
Catatan penulis Injil Yohanes tentang Perjamuan Malam Terakhir sangat berbeda dari yang ada di dalam Injil Sinoptik. Dalam Injil Yohanes, makanan disebutkan, tetapi yang terutama adalah pengaturan untuk tindakan simbolis, seperti Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh. 13:1-20), pengumuman-Nya tentang pengkhianatan Yudas (Yoh. 13:21-35) dan penyangkalan Petrus terhadap-Nya (Yoh. 13:36-38), serta serangkaian wacana perpisahan (Yoh. 14:1-3; 15:1-17; 15:18-16:4a; 16:4b-33) (Verdiere 1996, 116). Rupanya penulis Injil Yohanes memberikan ruang pada pembasuhan kaki.
Praktik pembasuhan kaki sebenarnya sudah dilakukan sejak Perjanjian Lama, sehingga pembasuhan kaki menjadi sebuah tradisi yang terkait erat dengan keramahtamahan. Pembasuhan kaki biasanya dilakukan oleh tuan rumah yang menerima tamu dari perjalanan jauh. Iklim Palestina yang kering membuat kaki menjadi kotor dan berdebu. Orang-orang yang menempuh perjalanan jauh biasanya menggunakan sejenis sandal atau kasut agar kakinya tidak terlalu kotor. Apabila orang yang melakukan perjalanan jauh itu mengunjungi sanak saudara atau temannya, maka sang tuan rumah akan menyambut mereka dengan terlebih dahulu membasuh kaki mereka. Hal ini dilakukan terkait dengan higienitas, berikutnya mereka bersama-sama makan. Tata letak perjamuan orang Yahudi ketika makan dan minum tidak dipisahkan oleh meja, namun mereka berbaring dengan jarak yang sangat dekat satu dengan yang lain. Oleh karena itu, posisi tersebut mensyaratkan antara satu orang dengan yang lain haruslah benar-benar bersih supaya tidak tertular kuman atau penyakit yang terbawa dalam perjalanan (Kostenberger 2013, 132). Dengan demikian, kondisi ini dapat menolong untuk memahami ucapan Tuhan Yesus secara denotatif ketika Petrus meminta Tuhan Yesus untuk tidak hanya membasuh kaki Petrus, namun juga tangan dan kepala Petrus (Ay. 9). Kebersihan kaki memang menjadi sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab sang tuan rumah, sementara bagian tubuh yang lain menjadi tanggung jawab pribadi. Sementara, secara konotatif, melalui pembasuhan kaki, Tuhan Yesus ingin berpesan bahwa dalam kedekatan emosional mereka (bnd. kedekatan posisi ketika makan minum) harus “bersih” satu dengan yang lain.
Gagasan “bersih” tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Kostenberger, dimana idea pembasuhan kaki sebenarnya adalah kritik terhadap komunitas Johannin yang memiliki sikap yang tidak mau bersahabat dan merengkuh komunitas non-Johannin. Menurut Kostenberger, pembasuhan kaki adalah sebuah “misi” untuk merengkuh mereka yang ada di luar kita (Kostenberger 2013, 135). Tentu gagasan yang diungkapkan oleh Kostenberger sejalan dengan narasi Injil Yohanes di awal-awal tentang transendensi Sang Firman yang berimanensi dalam daging. Misal, (1). Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita (Yoh. 1:14); (2). Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini (Yoh. 3:16). Allah ingin begitu dekat dengan manusia dan cinta-Nya besar bagi dunia, sekalipun Dia tidak diterima oleh orang-orang kepunyaan-Nya (Yoh. 1:11). Itulah misi Allah, mengajak manusia untuk bergerak keluar, mendekat, tinggal di tengah-tengah mereka, sekalipun mungkin akan ditolak bahkan dikhianati. Oleh karena itu, sepanjang narasi Injil Yohanes, Tuhan Yesus selalu memberikan kesaksian tentang diri-Nya dan meyakinkan mereka bahwa Dia adalah Sang Firman itu.
Oleh karena itu, pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada para murid-Nya memberikan indikasi kuat bahwa sebelum meninggalkan para murid-Nya, Tuhan Yesus ingin berpesan agar mereka tetap dekat dan saling mengasihi. Tuhan Yesus sadar bahwa ini adalah hal yang berat, sehingga setelah Dia menyampaikan makna pembasuhan kaki kepada para murid-Nya dikatakan Ia terharu (Ay. 21). Kata terharu dalam teks Yunani memakai kata tarasso yang berarti diaduk-aduk. Kata tarasso biasanya memang dipakai untuk air (Kostenberger 2013, 135). Perasaan Tuhan Yesus seperti air yang diaduk-aduk karena menyadari pada kondisi bahwa akan selalu ada peluang seseorang untuk berkhianat, namun biarlah yang berkhianat itu tetap direngkuh dan dikasihi, sekalipun yang berkhianat menolak rengkuhan dan kasih itu. Menurut Rene Kieffer, rengkuhan dan kasih itu dijelaskan oleh Tuhan Yesus dengan prinsip a fortiori: seseorang yang memiliki pangkat dan kedudukan lebih tinggi harus mau merendahkan dirinya untuk melayani (Kieffer 2001, 222). Prinsip ini menolong untuk memahami tindakan pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan perkataan Tuhan Yesus di ayat 13-17. Pengkhianatan dan penolakan direngkuh dengan merendahkan diri untuk melayani sebagai wujud mengasihi. Dengan demikian, itulah inti dari perintah baru: jikalau kamu saling mengasihi (Yoh. 13:34-35).
Benang Merah Tiga Bacaan:
Pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Tuhan Yesus mengajak kita untuk dengan rendah hati merengkuh setiap orang yang sudah mengkhianati dan menolak kita. Pengkhianatan dan penolakan direngkuh dengan merendahkan diri untuk melayani sebagai wujud mengasihi. Merengkuh dan mengingat adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Ketika kita merengkuh mereka yang sudah mengkhianati dan menolak, kita pun juga mengingat semua perbuatannya, sehingga membuat hati dan perasaan kita teraduk-aduk.
Rancangan Khoztbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, ada sebuah akun instagram yang menarik dalam mempraktikkan parenting. Jika saudara-saudari memiliki smartphone dan akun instagram, silakan dicari akun instagram yang bernama clay.cliff.hartono. Akun tersebut menceritakan tentang parenting yang dilakukan oleh seorang ibu -yang biasa dipanggil dengan sebutan mommy- kepada kedua anak laki-lakinya, yaitu Clay yang biasa dipanggil dengan sebutan koko, dan Cliff yang biasa dipanggil dengan sebutan adik. Salah satu reels dalam akun tersebut menceritakan tentang pertengkaran antara Clay dan Cliff. Cliff, si adik sedang sakit tenggorokan, sehingga dia harus puasa ngomong. Kebetulan mereka berdua sedang duduk bersama. Si koko Clay membuka sebuah buku cerita. Si adik lalu nimbrung ngomong. Spontan, si koko kemudian menutup mulut adiknya dan bilang: “diam dek.” Rupanya sikap koko membuat adik sakit hati. Si adik lalu pergi meninggalkan koko dan hal itu diketahui oleh mommy. Singkat cerita, mommy bertanya kepada adik dan si adik tidak menjawab. Kemudian mommy bertanya kepada koko. Koko menjawab, “Mommy, adik lagi sakit tenggorokan, jangan banyak bicara.” Mengertilah Mommy. Mommy lalu bertanya kepada adik tentang hal yang dikatakan oleh kokonya. Lalu adik menjawab dengan terbata-bata, “Kalau ga boleh ngomong, jangan tutup mulutku. Bilang dengan baik ya.” Noted! Mommy lalu langsung bilang pada koko, “Koko tahu sekarang kenapa adik ngambek?” Koko menjawab, “Tahu Mommy.” Mommy balik bertanya, “Apa yang harus dilakukan oleh Koko?” Dengan cepat Koko menjawab, “Minta maaf.” Pada awalnya, si adik tidak mau menerima permintaan maaf dari kokonya. Dengan gaya lucu dan polosnya, koko bilang kepada adik, “Hayoo, mau maafin koko gak. Coba nanti kalau adik buat salah sama koko, adik minta maaf, terus koko gak mau maafin, gimana hayoo?” Mommy senyum-senyum dan sempat memberi keterangan dalam reels tersebut: minta maafnya intimidatif. Akhirnya si adik mau menerima permintaan maaf koko dan memeluk kokonya. Tentu cerita itu adalah salah satu sekian cerita yang ada di dalam reels akun tersebut. Banyak netizen yang berpendapat terhadap cerita itu dan cerita-cerita yang lain. Mommy merespons bahwa sejak kecil anak-anak harus diajarkan untuk mengelola emosi, berani mengakui kesalahan, dan meminta maaf. Hal tersebut penting ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil supaya seterusnya mereka merasakan dan mengalami proses untuk mengambil sikap bagaimana menerima dan mencintai saudaranya ketika saudaranya terluka karena kesalahan yang dilakukan.
Isi
Perintah baru yang dipesankan oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 13:34-35 muncul sebagai pesan kasih Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya agar mereka dekat dan tetap saling mengasihi. Tuhan Yesus tahu bahwa Yudas akan menyerahkan-Nya dan tentu itu akan membuat kedekatan di antara para murid menjadi renggang bahkan berpeluang retak. Hal tersebut dapat terjadi karena orang yang berkhianat pasti dipandang rendah dan bermoral buruk. Sesudah dipandang rendah dan bermoral buruk, orang tersebut dikucilkan dan tidak diterima. Tuhan Yesus tidak menghendaki kedekatan para murid menjadi renggang bahkan retak. Dia lalu melakukan pembasuhan kaki kepada semua murid, tidak terkecuali Yudas. Pembasuhan kaki itu dilakukan oleh Tuhan Yesus sebagai sebuah pesan sekaligus simbol untuk mewujudkan kasih Allah yang besar bagi dunia (Yoh. 3:16). Melalui pembasuhan kaki, Tuhan Yesus ingin mengajari para murid tentang makna mengasihi. Pengkhianatan dan penolakan direngkuh dengan merendahkan diri untuk melayani sebagai wujud mengasihi.
Dalam bacaan dari Perjanjian Lama dan dari Surat Rasuli, kita juga belajar tentang mengingat. Merengkuh dan mengingat adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Dalam pembasuhan kaki, ketika kita merengkuh mereka yang sudah menyakiti, kita pun juga mengingat semua perbuatannya. Tentu ini akan membuat hati dan perasaan kita teraduk-aduk. Kita mungkin perlu membayangkan bagaimana perasaan Tuhan Yesus yang teraduk-aduk ketika membasuh kaki Yudas yang akan menyerahkan-Nya, namun kenyataan itulah yang harus di “basuh”, sehingga menjadi bersih. Tuhan Yesus yang adalah Tuhan dan Guru merendahkan diri-Nya untuk memberi sebuah teladan yang tidak hanya berbicara tentang keramahtamahan, namun juga belajar untuk “membasuh” (baca: menerima dan mengasihi) sebuah kepahitan yang menyakitkan.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kamis Putih adalah tradisi liturgi gereja yang berbicara tentang pelayanan dan kemurnian. Dalam bahasa Inggris, tidak dipakai istilah White Thursday dalam menyebut Kamis Putih, namun dipakai istilah Maundy Thursday. Kata Maundy berakar dan diserap dari bahasa latin, yaitu mandatum yang berarti perintah atau mandat. Dengan demikian, pembasuhan kaki adalah sebuah perintah yang harus terus dilakukan dan memiliki ruang yang luas untuk diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari, setiap waktu, masing-masing dari kita pasti dan akan mengalami pengkhianatan dan penolakan. Entah itu dalam keluarga, lingkungan kerja, atau lingkungan masyarakat yang lebih luas. Peluang yang lain, mungkin bisa saja kita yang mengkhianati dan melakukan penolakan. Terlepas dari siapa yang melakukan, pada Kamis Putih ini ada mandat yang harus terus dilakukan. Mandat yang tidak hanya selesai pada ritus liturgis pembasuhan kaki yang melow. Mandat itu menggema dalam hati kita seterusnya. Mandat yang mengajak kita mengingat perbuatan seseorang yang telah mengkhianati dan menolak kita, sekaligus secara lebih luas, mandat untuk mengingat pengkhianatan dan penolakan yang kita lakukan. Rendah hatikah kita untuk membasuh itu semua? Sebuah quote dari Vonny Evelyn Jingga, kiranya menguatkan jiwa kita untuk melakukan mandat itu:
Jika ada seseorang mau menerima bagian terburukmu,
mengerti hatimu,
bahkan sebelum kau mengatakan apa-apa,
dan percaya padamu, sekalipun kau tidak membela dirimu,
Mana mungkin dia bukan seseorang yang dikirim Tuhan?
Sahabat dan siapapun yang mencintaimu
adalah salah satu cara Tuhan menjaga dan menyayangimu.
Aku berdoa semoga setiap orang,
paling tidak memilikinya,
satu saja tidak apa-apa.
Semoga setiap orang pernah merasakan
bagaimana rasanya dipeluk dan disayangi.
@Vonny Evelyn Jingga
Kiranya Tuhan memampukan untuk membasuh kehidupan kita. Amin. [dix3]
Pujian:
- KJ. 366 : 1 – 3 Ya Kasih Yang Merangkulku
- PKJ. 275 Perintah Baru
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Para sadherek ingkang kinasih, menawi para sadherek kagungan smartphone lan akun instagram, wonten salah satunggaling akun instagram ingkang saestu ngremenaken anggenipun ngulas bab parenting. Nami akun instagram punika clay.cliff.hartono. Akun punika nyariyosaken parenting ingkang dipun tindakaken dening salah satunggaling ibu. Biasanipun ing akunipun, ibu punika dipun sebat Mommy. Mommy punika kagungan kalih putra. Putra ingkang mbajeng naminipun Clay, asring dipun timbali ibunipun kanthi sebutan koko. Putra ingkang setunggal malih naminipun Cliff, piyambakipun asring dipun sebut adik kaliyan ibunipun. Wonten ing salah satunggaling reels (Video ing Instagram), kacariyosaken Cliff saweg nesu kalian kokonipun. Jalaranipun, nalika lare kalih kalawau sami maos buku dongeng sesarengan, koko nutup tutukipun Cliff ingkang saweg ngrespons buku dongeng. Koko mungel, “Adek meneng, aja ngomong.” Rupinipun, sikap kalawau ndadosaken Cliff nesu. Mommy ingkang mangertosi bab punika lajeng nyobi nangleti Cliff. Cliff mendel kemawon. Lajeng mommy tanglet dhateng Clay Kokonipun. Koko punika mangsuli, “Mommy, adik punika lak sakit tenggorokan, mila sampun kathah wicantenan.” Lajeng Mommy punika mangertos masalahipun. Lajeng Mommy punika atur pitutur dhateng adik. Adik mangsuli, “Yen boten angsal ngomong, khan saged dipun sanjangi kanthi sae, sampun nutup tutuk kula mekaten.” Mommy lajeng ndhawuhi koko, “Koko saiki ngerti apa a adikmu nesu?” Koko mangsuli, “Inggih Mommy.” Mommy matur malih, “Saiki apa sing kudu Koko lakoni?” Paring wangsulane Koko, “Nyuwun apura.” Cekakipun mekaten. Miturut Mommy, wiwit alit, lare-lare kedhah dipun kulinakaken nata emosi lan nyuwun pangapura supados lare-lare saged ngrumaosi lan nyikapi menawi lare-lare nindakaken prekawis ingkang boten ngremenaken.
Isi
Para sadherek ingkang kinasih, piwucalipun Gusti Yesus ing Yokanan 13: 34-35 katujokaken tumrap para sakabat supados para sakabat boten crah lan tansaya manteb anggenipun tresna-tinresnan. Gusti Yesus mangertos bilih prastawa Yudas ngulungaken dirinipun saged ndadosaken crahipun para sakabat. Bab punika saged kedadosan awit Yudas saged kawastanan durjana lan tamtunipun para sakabat boten wanuh malih kaliyan Yudas. Gusti Yesus boten ngersakaken para sakabat crah. Pramila, Gusti Yesus lajeng mijiki sukunipun para sakabat, kalebet Yudas. Anggenipun mijiki sukunipun para sakabat punika ngemu suraos kangge mujudaken sih katresnanipun Gusti Allah ingkang saestu agung tumraping donya (Yok. 3:16). Lumantar anggenipun mijiki sukunipun para sakabat, Gusti Yesus kepengin ngajak para sakabat ngrengkuh kadurjanan kanthi ngasoraken diri minangka wujuding katresnan.
Wonten ing waosan saking Prajanjian Lami ugi Surat Rasuli kita ugi sinau bab ngenget-enget. Menawi kita ngrengkuh tiyang ingkang nindakaken bab ingkang boten ngremenaken kita, tamtunipun kita ugi enget sedaya tumindakipun. Bab punika ndadosaken manah kita boten sekeca, ananging punika ingkang dados piwulangipun Gusti Yesus. Panjenenganipun ingkang sinebut Gusti lan kersa ngasoraken Sariranipun, ngajak supados para sakabat lan ugi kita kersaa “mijiki” gesang kita.
Panutup
Ing samangke kita mengeti Kamis Putih. Wonten ing tradisi liturgi greja, Kamis Putih punika ugi dipun sebat Maundy Thursday. Tembung “Maundy” saking tembung bahasa Latin inggih punika Mandatum ingkang tegesipun mandat. Pramila, prastawa mijiki suku punika mandat ingkang kedhah kita tindakaken wonten ing pigesangan kita sadinten-dinten. Boten namung mandheg sacara ritus gerejawi, ananging ugi kita tindakaken: ngengeti tiyang-tiyang ingkang sampun nindakaken prekawis-prekawis ingkang boten ngremenaken, ugi mbok bilih tiyang ingkang kawastanan durjana. Mbok bilih ugi ngengetaken kita, ingkang ugi nindakaken prekawis ingkang boten ngremenaken dhateng tiyang sanes. Pitakenan kangge kita, punapa kita purun ngasoraken dhiri kita, “mijiki” gesang kita? Mbok bilih quote saking Vonny Evelyn Jingga punika ngantebaken kita nindakaken mandatipun Gusti Yesus:
Jika ada seseorang mau menerima bagian terburukmu,
Mengerti hatimu,
Bahkan sebelum kau mengatakan apa-apa,
Dan percaya padamu, sekalipun kau tidak membela dirimu,
Mana mungkin dia bukan seseorang yang dikirim Tuhan?
Sahabat dan siapapun yang mencintaimu
adalah salah satu cara Tuhan menjaga dan menyayangimu.
Aku berdoa semoga setiap orang,
Paling tidak memilikinya,
satu saja tidak apa-apa.
Semoga setiap orang pernah merasakan
bagaimana rasanya dipeluk dan disayangi.
@Vonny Evelyn Jingga
Gusti ngantebaken kita. Amin. [dix3].
Pamuji: KPJ. 196 : 1, 4 Kula Pengin Lir Gusti