“Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak…”
(Matius 16:4)
Sabda Tuhan Yesus kepada orang Farisi dan Saduki dalam Matius 16:3 mengajak kita untuk mengenali karya Allah Trinitas dan menanggapi panggilan-Nya. Kini, dalam menanggapi keprihatinan yang melanda keberadaan bangsa Indonesia, kita perlu “membaca tanda-tanda zaman” dengan iman, kepekaan nurani, dan nalar yang bertanggung jawab. Mari mendayagunakan nalar untuk memeriksa fakta, menggunakan hati untuk mendengarkan mereka yang menderita, bertobat dari sikap abai, dan melakukan aksi nyata dalam kasih serta kerendahan hati.
Setelah 81 tahun merdeka, Allah Trinitas tetap memanggil kita untuk merawat rumah bersama Indonesia yang pondasinya rapuh. Penegakan hukum yang adil, pemberantasan korupsi, perlindungan kebebasan menyampaikan kritik, dan kebijakan yang berpihak kepada kaum lemah, miskin, serta rentan harus terus diperjuangkan. Dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan, keselamatan warga dan seluruh ciptaan memerlukan penanganan yang sigap, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kita juga perlu memberi perhatian pada tekanan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan kerentanan ekonomi keluarga. Pertumbuhan ekonomi tidak dengan sendirinya menjamin bahwa manfaatnya dirasakan secara merata. Karena itu, pengalaman warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan keluarga, atau mempertahankan pekerjaan perlu menjadi acuan dasar kebijakan penyusunan program pelayanan gereja. Mari mengingat bahwa Allah Trinitas memanggil GKJW untuk terus menjadi rekan kerja-Nya dalam menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah bagi dunia.
Hal ini secara nyata dapat kita tempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut:
Membangun Persahabatan & Advokasi Publik
- Mari mengecam ketidakadilan struktural yang menormalisasi kemiskinan dan melanggengkan ketergantungan pada sistem ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Mari menyampaikan masukan kepada pemerintah supaya hadir kebijakan publik yang baik, dan benar yang didasari keberpihakan terhadap rakyat miskin serta kelompok rentan.
- Mari mendorong penegakan hukum yang adil, mengampanyekan antikorupsi, juga menerapkan integritas, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan gerejawi.
- Mari mendengar keluh kesah dan keprihatinan umat dengan menggalakkan forum jagongan atau curah pendapat warga, pendampingan pengaduan, dan penyampaian aspirasi melalui saluran yang sah. Kepedulian ini juga perlu dilakukan dengan terus menyuarakan secara kritis kepada pemerintah menyoal penanganan karhutla secara benar dan bertanggungjawab.
- Dengan berpegang pada patunggilan kang nyawiji, mari bergerak bersama masyarakat untuk menyuarakan keadilan bagi mereka yang tanpa suara atau yang suaranya dilemahkan atau yang suaranya dibungkam dan diberangus. Prinsip misi yang berangkat dari tepian (mission from the margin) mengajak kita untuk mendengarkan secara mendalam keprihatinan mereka yang terpinggirkan, dan melibatkan mereka dalam menentukan, merencanakan, dan mewujudkan kebutuhan pelayanan.
- Mari memperkuat pilinan relasi sosial dengan menyahabati/ngancani sesama umat dan masyarakat, merengkuh liyan, serta bekerja bersama lintas iman. Mari bersama-sama saling menguatkan dan saling mendampingi di tengah pelbagai kecemasan tanpa mengecilkan penderitaan yang dialami para korban.
- Dalam menggunakan media sosial, marilah memeriksa informasi dan menghindari hoaks, ancaman, kebencian, serta perundungan digital. Perjuangkanlah hak untuk menyampaikan pendapat sembari menghidupi keberanian untuk melawan ketidakadilan tanpa kekerasan, dan bertanggung jawab.
Memperkuat Diakonia & Ketahanan Ekonomi Jemaat
- Dengan mengingat karya penyelamatan Allah Trinitas bagi seluruh makhluk, marilah terus berdoa dan terlibat dalam aksi sesuai kemampuan masing-masing untuk menyelamatkan hutan serta segala makhluk yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.
- Mari memperkuat diakonia baik di lingkungan gereja maupun di tengah masyarakat sebagai wujud solidaritas bagi korban.
- Melalui koordinasi gereja dan sesuai kebutuhan mari memberi dukungan bantuan kebutuhan dasar, pendampingan bagi warga terdampak, dan mengupayakan pemulihan lingkungan.
- Bantuan darurat yang bersifat karitatif dan pemberdayaan jangka panjang yang bersifat transformatif-liberatif perlu berjalan bersama. Mereka yang lapar atau kehilangan penghasilan membutuhkan pertolongan segera. Bantuan kepada mereka tidak boleh ditunda.
- Pelayanan diakonia harus diberikan dengan menghormati martabat penerima, menjaga kerahasiaan pribadi, dan merengkuh masyarakat sekitar sesuai kemampuan gereja.
- Bersama Pokja Pemberdayaan Ekonomi Warga, gereja dapat mengembangkan pelatihan kewirausahaan, pendampingan UMKM, serta dukungan bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan sesuai kebutuhan. Sekiranya terdapat dana bergulir, maka harus dikelola transparan dengan memperhatikan kemampuan penerima agar tidak menambah beban. Tujuannya ialah demi memastikan bahwa tidak ada seorang pun warga jemaat yang kelaparan atau berjalan sendirian dalam menghadapi kesulitan hidup.
Memperkuat Edukasi dan Pembinaan Gerejawi
- Persekutuan, mimbar, liturgi, dan ruang pembinaan gerejawi perlu digunakan untuk membekali warga jemaat agar berani dan bersikap bijak dalam menyuarakan suara kenabian di tengah pusaran krisis dan ketidakadilan saat ini.
- Edukasi dan pembinaan gerejawi penting guna membantu warga untuk memahami persoalan sosial, politik, ekonomi, dan ekologis melalui sumber yang dapat diperiksa serta melalui percakapan dua arah. Warga perlu belajar membedakan fakta, opini, dugaan, dan penilaian moral demi terhindar dari hoaks. Ruang belajar bersama dan pembinaan gerejawi harus memberi tempat bagi perbedaan pandangan dan pengalaman korban, serta menghubungkan pemahaman dengan aksi nyata sesuai kebutuhan serta kemampuan warga.
- Mari mengingat juga mandat pranata GKJW yang menempatkan uang dan harta kekayaan menurut fungsi dan motif mesianik, yaitu sebagai sarana kasih, pelayanan, dan misi penyelamatan Allah Trinitas bagi dunia. Hal ini secara konkret dapat diwujudkan melalui pembinaan literasi keuangan keluarga demi membantu warga memahami kebutuhan ekonomi secara sehat, menghindari jerat utang konsumtif/pinjaman online, dan menyiapkan dana darurat sesuai kemampuan.
- Mari mendampingi dan membantu keluarga yang belum mampu memenuhi kebutuhan harian, dan bukan sekadar dipersalahkan karena tidak dapat menabung.
- Gaya hidup bersahaja (urip prasaja/samadya) yang tidak bersifat konsumtif harus diwujudkan dalam kebaktian rukun warga dan kebaktian kategorial.
- Mari menguatkan upaya bersama melalui koperasi atau jejaring ekonomi internal atau antarjemaat untuk distribusi pangan murah, dan optimalisasi lahan atau pemanfaatan aset gereja yang menganggur untuk kegiatan produktif berwawasan ekologis.
Akhirnya, sobat Kristus yang setia, sekalipun kita harus berhadapan dengan beragam krisis, ketidakpastian hidup dan misteri yang terbentang di depan, marilah tetap beriman, serta berpegang pada janji-Nya yang mengungkapkan bahwa: “Baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rom 8:38-39). Amin.
Seruan Pastoral bagi seluruh warga GKJW: Bijak Membaca Tanda-Tanda Zaman dapat dibaca di bawah ini dan diunduh di sini.