Bacaan: Matius 25 : 1 – 13 | Pujian: KJ. 424
Nats: “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya.” (Ayat 13)
Pepatah mengatakan “sedia payung sebelum hujan.” Ini bukan sekadar pepatah, melainkan sebuah gaya hidup atau budaya yang kita miliki, yang mengajarkan supaya kita selalu siap sedia. Hari ini hujan atau tidak, tetap siap sedia membawa payung. Sepertinya makna dari pepatah ini sangat baik untuk kita terapkan dalam hidup kita dengan selalu siap sedia. Hidup beriman dengan kesiapan iman untuk berjaga-jaga menghadapi tantangan setiap hari.
Matius 25:1-13 mengisahkan perumpamaan tentang sepuluh gadis yang menanti datangnya mempelai laki-laki, namun hanya lima gadis yang berjaga-jaga, membawa minyak cadangan. Bagi lima gadis yang bijaksana, menyediakan minyak adalah sebuah kebiasaan yang tidak bisa ditawar. Berjaga-jaga berarti tetap siap dengan situasi apapun. Sedangkan lima gadis bodoh, mereka gagal karena mereka tidak menjaga minyak dalam pelita mereka. Mereka meremehkan pentingnya menjaga cadangan minyak dalam pelita mereka.
Yesus melalui perumpamaan ini ingin menyampaikan bahwa kita perlu “berjaga-jaga” dengan selalu siap siaga. Siap untuk apa? Kita perlu bersiap menjaga pikiran kita setiap hari. Hal terberat menghadapi masalah, bukanlah permasalahan itu sendiri, tetapi justru pikiran dan hati kita. Bagaimana cara kita menjaga hati dan pikiran kita? Kita menjaga hati kita dengan berdoa dan merenungkan firman Tuhan setiap hari agar iman kita mendapatkan cadangan kekuatan dan tidak kering saat kita menghadapi situasi sulit. Kita perlu menjaga pelita kita agar tetap menyala, dengan memberikan kesaksian hidup di tengah masyarakat. Minyak kita tidak bisa dipinjam atau diberikan kepada orang lain, karena itu adalah tanggung jawab pribadi kita kepada Tuhan. Renungan hari ini mengingatkan kita untuk meninggalkan budaya abai dan malas. Mari kita membangun budaya yang dikehendaki Tuhan, yaitu budaya siap siaga menjaga pelita kita tetap menyala dengan minyak iman yang melimpah, sehingga kapan pun Sang Mempelai itu datang, kita didapati siap sedia menyambut-Nya. Amin. [DY].
“Menjaga pelita hati dan iman hanya bisa dilakukan dengan melekat kepada Tuhan.”