Bacaan: Wahyu 20 : 7 – 15 | Pujian: KJ. 370
Nats: “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.” (Ayat 15)
Menunda-nunda pekerjaan nampaknya telah menjadi bagian hidup dari manusia. Manusia cenderung menunda hal-hal tertentu dalam hidup karena menunggu “waktu yang tepat”. Hal-hal yang ditunda itupun beraneka ragam. Ada yang ditunda karena terlalu membosankan atau justru karena terlalu sulit. Ada pula yang ditunda karena dianggap bisa diselesaikan dengan cepat atau justru karena terlalu istimewa. Intinya, penundaan ini dilakukan karena pemikiran bahwa masih ada hari esok, masih ada waktu untuk mengerjakannya kemudian. Namun benarkah demikian? Bukankah waktu manusia adalah misteri? Tiada yang tahu kapan jarum jam kehidupan akan berhenti berdetak.
Bacaan kita pada hari ini merupakan surat yang ditulis oleh Yohanes bagi umat percaya yang mengalami penderitaan dan penindasan waktu itu. Surat ini berisikan penghiburan sekaligus pengingat supaya seluruh umat percaya tetap giat menjalankan iman mereka meskipun didera berbagai kesulitan. Yohanes juga menyatakan bila mereka yang lalai akan mendapatkan ganjaran, sedangkan mereka yang taat akan diperhitungkan oleh Tuhan dan namanya akan dicatat di buku kehidupan sebagai wujud keselamatan. Keadaan yang dimiliki kiranya tidak mengurangi semangat untuk terus beriman dan menyatakan iman itu melalui perbuatan sehari-hari. Tiada alasan untuk menunda niat keimanan seseorang.
Mari kita buka mata dan melihat ke sekeliling. Keadaan kita pada saat ini jauh lebih baik daripada keadaan umat percaya pada masa Kitab Wahyu ini ditulis. Berbagai peluang dan kesempatan terbuka bagi kita untuk bersaksi melalui perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari. Kesaksian melalui perbuatan itu merupakan wujud nyata semangat serta ketaatan kita dalam beriman. Oleh karena itu, mari kita lakukan setiap niat baik di dalam diri kita, tanpa menanti, tanpa menunda, selagi masih ada waktu. Sebab tidak satupun di antara kita yang tahu mengenai misteri waktu Tuhan. Setidaknya, bila hari esok tidak kunjung datang, yang terbaik sudah kita berikan. (xie)
“Kita bisa menunda, tetapi waktu tidak”