Bapa Polah, Anak Padha Ora Genah! Anak Polah, Bapa Kepradhah! Renungan Harian 8 Juli 2019

8 July 2019

Bacaan :  Yeremia 6 : 10 – 19    I   Pujian : KJ. 318
Nats:
… harus menumpahkannya kepada bayi dijalan, dan kepada kumpulan teruna bersama-sama,  …” (ayat 11)

Setiap kali terjadi hal yang tidak patut, hampir semua orang ribut mencari: “Siapa yang salah?” Suatu kali saya menghadiri acara pembinaan penatua/diaken di suatu jemaat. Pertanyaan tadi juga muncul karena di jemaat tersebut ada banyak anak muda jemaat melakukan hal yang tidak patut. Hampir satu jemaat panik, mencari-cari siapa yang salah? Ada yang menyalahkan orang-tua, ada yang menyalahkan kaum muda tersebut, ada juga yang menyalahkan majelis jemaat (gereja).

Bacaan kita hari ini (ayat 6) menggambarkan umat yang tidak mau mendengarkan firman TUHAN. Bahkan firman TUHAN dicemooh; disepelekan. Akibatnya (ayat 11) TUHAN menjadi murka. Kemurkaan TUHAN ditimpakan kepada seluruh anggota keluarga; bayi, teruna;  laki-laki dan perempuan dewasa, juga orang-tua dan lanjut usia. Tidak hanya berhenti pada manusianya, namun lingkungan pun menerima akibat kemurkaan TUHAN. Sebab (ayat 13-14) telah terjadi kesalahan berjemaah (kejahatan sistemik); yaitu pemuasan egoisme yang terwujud dalam perbuatan hanya mengejar untung, penipuan, praktek hidup bertolak dengan nilai-nilai kebenaran yang diyakini (munafik), budaya tidak tahu malu. Semua ini (ayat 16,19) karena umat TUHAN telah melupakan jalan TUHAN;  dengan meremehkan firman TUHAN.

Jika mencari jawaban terhadap pertanyaan, “Siapakah yang salah?” dalam sistem masyarakat yang seperti itu, perlu kita ingat hal berikut ini. Ada 3 taksonomi (sistem klasifikasi) dalam dunia pendidikan, yakni informal, formal dan non formal. Dilihat dari sasarannya ada; afektif, kognitif, dan psiko – motorik. Sedangkan dari lingkungan ada; keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga dimensi itu saling berkaitan, walaupun konsepnya bisa dipilah, namun praktiknya tetap berkaitan. Pendidikan informal lebih banyak berlaku di dalam keluarga, dengan penekanan penanaman nilai-nilai (afektif), pendidikan formal di sekolah dengan penekanan pengetahuan (kognitif), sedangan di masyarakat bersifat non formal dengan penekanan psiko-motorik (praktek kehidupan). Mengurai masalah kejahatan sistemik bukanlah soal sederhana, namun ada ide jawaban yang sederhana; revolusi pola pikir! Keluarga-keluarga harus kembali ke jalan TUHAN! !(wa-one)

“Jika aku tahu penyebab dari kebodohanku, aku akan menjadi bijak”

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak