Menjadi Jembatan Di Tengah Dunia Pancaran Air Hidup 6 Oktober 2026

6 October 2026


Bacaan: 2 Korintus 5 : 17 – 21  |  Pujian: KJ. 259
Nats: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”  (Ayat 17)

Selama beberapa bulan jembatan di Timur gereja desa Peniwen diperbaiki karena sudah tua. Praktis semua kendaraan harus berjalan memutar lebih dari 3 km dengan jalan yang berbatu. Secara mandiri warga membuat jembatan bambu untuk menolong para pemotor yang melintasi jalan itu dengan membayar Rp. 1.000 atau sukarela. Menariknya, karena cukup lama pembangunan jembatan tersebut, sampai ada yang membuat jembatan kedua, dengan tujuan yang sama, mempercepat warga melintas dan membuat suasana menjadi lebih indah.

Allah telah mendamaikan manusia tanpa memperhitungkan pelanggarannya, dengan mengampuni manusia di dalam Yesus Kristus. Pengampunan adalah jembatan bagi kita menuju suasana baru dalam kedamaian dan semangat persaudaraan. Kita adalah manusia biasa yang sama-sama pernah salah, namun diampuni dan disayangi Tuhan bahkan diberkati dengan kehidupan sampai saat ini. Menjadi “manusia baru” berarti kita belajar melepas “kacamata lama” yang penuh prasangka dan memberi label kepada orang lain sekehendak hati kita. Tugas kita kini adalah menjadi penyambung yang retak, bukan memperlebar jarak. Persaudaraan akan mulai tumbuh tepat saat kita berhenti menghitung kesalahan orang lain.

Saat mendengar kabar miring tentang teman gereja atau pelayan Tuhan, maka jadilah tempat berita itu berakhir. Bukan menjadi pembawa kabar atau “pengeras suara” yang menyebarkannya lebih jauh. Bersikaplah berani meminta maaf telebih dulu, dan jadilah yang pertama mengulurkan tangan setelah ada beda pendapat. Persahabatan lebih baik daripada permusuhan, dan itu adalah tanda kedewasaan iman. Dalam hidup di tengah masyarakat, mari kita peduli tanpa menanyakan agama. Bersahabatlah dan belajar menjadi penyejuk suasana. Hidup ini sudah terlalu riuh, sering kali di media sosial isinya adalah “perang” kata-kata yang membuat orang mudah salah paham. Mari kita gunakan jari kita untuk mengapresiasi, bukan untuk menghakimi orang lain. Kita sudah memiliki identitas yang baru dan hidup di dalam kebenaran Tuhan, maka mari kita menjadi pendamai lebih dari pada menjadi jembatan, yang tidak hanya menghubungkan, namun juga menghidupkan dan membagikan terang sukacita pada dunia yang gelap ini. Amin. [LUV].

“Kita adalah Duta Besar Kristus. Tugas kita membawa pesan perdamaian dari Sang Raja Damai.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak