Anarkis Pancaran Air Hidup 6 November 2022

6 November 2022

Bacaan: Lukas 20 : 27 – 40 | Pujian: KJ. 378 : 1,2
Nats:Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.’’ (Ayat 38)

Ada semacam guyonan yang sudah umum, “adanya peraturan itu untuk dilanggar.” Dan ada pula golongan orang tertentu yang dengan sadar dan secara sengaja melakukan perlawanan terhadap peraturan-peraturan yang ada. Golongan semacam ini disebut sebagai golongan anarkis. Bagi mereka, dengan melawan bahkan menyepelekan peraturan akan mendatangkan suatu kesenangan dan kepuasan batin. Orang-orang anarkis menginginkan dunia yang bebas dari aturan yang mengikat satu dengan yang lain. Pertanyaannya, mungkinkah terjadi suatu kondisi dunia tanpa peraturan?

Pertanyaan yang diajukan oleh orang Saduki kepada Tuhan Yesus dalam bacaan hari ini sejatinya hendak menggugat hukum perkawinan bangsa Yahudi yang dinamakan hukum Levirat (Ul. 25:5-10). Sebuah aturan yang dimaksudkan untuk menjaga kehormatan seorang perempuan Yahudi apabila menjanda tanpa mempunyai keturunan. Bukan hanya itu saja, orang-orang Saduki juga meragukan tentang kebangkitan, artinya mereka juga menyepelekan kekuasaan Allah. Pemahaman orang Saduki ini dapatlah disejajarkan sebagai pemahaman anarkisme. Dan terhadap pemahaman orang Saduki ini, Tuhan Yesus memberikan jawaban, “untuk Allah, semua orang hidup.” (Ay. 38, terj. BIMK). Artinya di surga kelak hubungan perkawinan akan dimaknai secara baru, yang tidak mencakup kawin-mengawin melainkan kehidupan yang sejati. Dan kesemuanya itu terjadi dalam bingkai ketaatan pada tatanan Tuhan Allah. Tidak ada ruang bagi anarkisme!

Dalam bulan budaya ini kita diajak untuk senantiasa membudayakan hidup benar dan baik di tengah-tengah dunia yang acap kali mengajak dan menyeret kita pada tindakan anarkis yang melawan peraturan. Mari senantiasa menyadari bahwa kebebasan hidup kita dibatasi dengan hak orang lain, sehingga perlu ada peraturan yang menata kehidupan bersama. Terlebih lagi hidup dalam tatanan Allah yang menuntut ketaatan total. Mari senantiasa percaya bahwa semua peraturan dan tatanan yang ada pasti mendatangkan kebaikan bagi kita. Amin. [ads].

Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.
Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.” (Amsal 29:18)

Renungan Harian

Renungan Harian Anak