Bacaan : Kisah Para Rasul 17 : 10 – 15 | Pujian : KJ. 426
Nats: “… mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci …” (Ay. 11b)
Seorang murid mengeluh kepada Gurunya, “Bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami.” Jawab Sang Guru, “Bagaimana pendapatmu nak, andaikata seseorang menawarkan buah kepadamu, namun mengunyahkannya dahulu kepadamu?” – (Burung Berkicau, Anthony de Mello). Jika pertanyaan ini diberikan kepada kita, tentu kita memiliki jawaban yang beragam. Tetapi bayangkan saja, bagaimana rasanya memakan makanan yang sudah dikunyah oleh orang lain? Membayangkannya saja rasanya jijik.
Meski demikian, inilah yang sedang dilakukan oleh beberapa orang Yahudi. Karena iri hati kepada Paulus, mereka berusaha “mengunyahkan” ajaran Paulus dan memberikannya (menghasut) pada pemuda pasar dan juga para pembesar. Akhirnya terjadilah kekacauan. Belum puas dengan hal itu, mereka mengikuti Rasul Paulus dan Silas ke Berea. Tetapi menariknya, di Berea banyak orang yang lebih senang menikmati sendiri buah pengajaran Rasul Paulus ini. Orang-orang di Berea menyediakan diri untuk menerima dan memahami dengan lebih jernih. Mereka juga berinisiatif, untuk menyelidiki pengajaran Rasul Paulus dengan membaca Kitab Suci. Pada akhirnya, banyak dari mereka yang percaya dan mengikut Tuhan Yesus.
Tidak jauh dari cerita ini, terkadang dalam kehidupan ini, kita sering menemui banyak orang yang reaktif dan mudah terprovokasi oleh cerita dari orang lain. Sebab memang lebih praktis mendengar pemahaman kesimpulan orang lain daripada berusaha memahaminya sendiri. Lihat saja group whatsapp di gawai kita. Tidak satu dua anggota grup yang aktif mengirim berita hoax tanpa menyelidiki kebenarannya. Kemudian, ujaran-ujaran dan tindakan kebencian pun terjadi. Sebagai persekutuan kita diajak untuk menjadi penolong bagi satu sama lain. Kita mengusahakannya dimulai dari diri kita sendiri. Menolong keutuhan gereja dengan meminimalisir tumbuhnya embrio kebencian. Mengurangi kegiatan nggosip misalnya. Atau, lebih baik kita berusaha memahami dan mencari kebenaran, berita-berita Firman Tuhan. Dengan ini, gereja kita akan menjadi gereja yang hidup dan menjadi berkat. Sebab semua orang didalamnya berupaya menciptakan kebaikan. (agns).
“Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.” (Amsal 17:27)