Bacaan: Kisah Para Rasul 7 : 35– 42 ǀ Pujian: KJ. 344 :1
Nats: “Musa ini, yang telah mereka tolak, dengan mengatakan: Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim?” (Ayat 35a).
Istilah kacang lupa kulitnya memiliki arti seseorang yang lupa akan asal usulnya. Dengan kata lain, setelah seseorang berhasil mencapai keinginan atau tujuannya, maka dengan cepat dia melupakan asal usulnya, orang yang mendukungnya, dan siapapun yang pernah menolongnya, sebelum sampai pada posisi tersebut.
Dalam bacaan kita hari ini, orang Israel melakukan hal yang sama. Mereka menolak Musa, melupakan apa yang sudah dia lakukan selama itu. Dia yang menjadi pemimpin dan hakim mereka. Dia yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir dengan mengadakan banyak mujizat. Dia yang menyampaikan Firman Tuhan kepada mereka, dan masih banyak hal lain lagi yang telah dia lakukan. Namun apakah yang dia dapatkan setelah itu? Penolakan. Tuhan Yesus juga mengalami hal yang sama, Dia melakukan banyak mujizat, menyembuhkan orang sakit, memberi makan lima ribu orang, mengajar tentang kasih dan masih banyak hal yang lain yang telah Dia lakukan. Tetapi apa yang didapatkan-Nya? Apakah penerimaan dan penghargaan? Bukan! Justru sebaliknya: penolakan, penyangkalan, pengkhianatan, dan puncaknya adalah penyaliban–Nya dari orang – orang terdekat–Nya dan mungkin juga dari mereka yang pernah menikmati setiap karya mujizat–Nya.
Sebagai orang Kristen semoga kita tidak menjadi seperti kacang lupa kulitnya. Setelah menikmati berbagai kesuksesan, keberhasilan, dan mencapai apa yang diinginkan, kemudian kita melupakan siapa yang pernah ada di samping kita saat terpuruk, siapa saja yang pernah mendukung kita dalam doa dan materi. Karena sehebat apapun, kita pasti pernah membutuhkan dan menerima bantuan dari orang lain, jangan lupakan itu. Hal lain yang sangat penting adalah jangan pernah melupakan Tuhan yang telah menolong, memberkati, dan menyertai kita hingga kita bisa sampai pada keadaan saat ini. Apa yang kita capai saat ini, itu bukan semata – mata hasil usaha kita sendiri, tetapi semua adalah berkat dan anugerah Tuhan. Mari terus belajar menjadi orang yang berterimakasih kepada sesama, terlebih kepada Tuhan. Amin. [eS].
‘’Jangan jadi kacang lupa kulitnya ’’