Bacaan: Markus 6 : 1 – 13 | Pujian: KJ. 416
Nats: “Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, …” (Ayat 7).
Darimanakah kita tahu jika ada lubang yang dalam sehingga kita melompatinya atau memutarinya? Atau darimanakah kita tahu bahwa jatuh itu sakit sehingga kita akan berhati-hati jika bersepeda? Atau darimanakah kita tahu bahwa daun pepaya itu rasanya pahit? Ya… semua itu dari pengalaman. Pengalaman mengajarkan kepada kita apa yang baik untuk dilakukan dan apa yang harus dihindari agar kita tidak celaka. Lalu, darimanakah pengalaman itu? Pengalaman itu bisa dari dhiri sendhiri atau dari orang lain. Yang jelas, pengalaman itu muncul karena interaksi kita dengan lingkungan. Semakin banyak kita berinteraksi dengan lingkungan, semakin banyak punya pengalaman yang kita dapatkan. Sebaliknya, jika kita hanya berdiam dhiri saja di rumah maka makin sedikit pengalaman yang kita dapatkan.
Itulah yang diajarkan Yesus pada ke-12 murid-Nya. Yesus ingin para murid-Nya mempunyai pengalaman memberitakan Injil. Jika sebelumnya para murid hanya ‘mengekor’, melihat, dan mengamati Yesus memberitakan Injil pada banyak orang melalui pengajaran dan penyembuhan, maka sekarang saatnya para murid mempunyai pengalaman untuk memberitakan Injil pada orang banyak. Yesus mengutus mereka pergi berdua-dua dan diperlengkapi dengan kuasa untuk mengusir roh-roh jahat. Para murid tidak diijinkan untuk membawa bekal dalam perjalanan. Mereka diajari untuk benar-benar bergantung pada kemurahan Tuhan, bukan pada kekuatan dhiri sendhiri.
Demikian juga orang tua perlu memberikan pengalaman sebanyak-banyaknya pada anak-anak agar anak-anak makin tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Orang tua harus “tegel” melihat anak merasa sakit dan terluka karena itulah cara terbaik anak-anak belajar melihat kenyataan dan mengatasinya. Jika orang tua selalu ikut campur dan selalu mengambil keputusan atas hidup anak-anaknya, maka anak tidak akan pernah belajar untuk mandhiri dan bertanggungjawab atas hidupnya. (pipin).
“Pengalaman yang menyakitkan akan membawa pada kedewasaan dalam menghadapi kehidupan.”