Bacaan : Yakobus 5 : 1 – 6 | Pujian : KJ. 462 : 1
Nats: “Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!” (Ay. 1)
Pernah dengar lagu berjudul “Bento” yang dinyanyikan oleh Iwan Fals? Lagu ini merupakan kritik terhadap penguasa waktu itu dan peringatan keras tentang kekayaan. Demikian juga dengan surat Yakobus 5:1-6 kali ini, yang memberikan peringatan khusus kepada orang kaya. Tampaknya hal ini berkaitan dengan jurang kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin yang sangat kontras. Lalu apakah menjadi kaya merupakan kesalahan? Lalu muncul pernyataan apakah kaya itu tidak kristiani? Sehingga seringkali orang Kristen jadi nanggung. Kaya tidak, miskin jangan. Ah jangan dulu berbicara salah dan benar.
Tentu memiliki uang dengan usaha yang benar tidaklah salah. Menduduki jabatan dengan usaha dan kerja keras bukan dengan suap dan didasari dengan komitmen dan kejujuran tentu juga merupakan hal yang baik. Lalu apa yang membuat Yakobus geram dengan hal ihwal kekayaan? Kekayaan menjadi duka bagi hati Allah ketika kita meraihnya dengan cara dan tujuan yang salah. Seperti yang disoroti oleh Yakobus, orang kaya menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri (ayat 2-3), bahkan dengan cara menindas pekerjanya (ayat 4), lalu hidup dalam kemewahan yang sia-sia (ayat 5), terlebih menghancurkan hidup orang benar (ayat 6).
Oleh karena itu bagaimana kita memperlakukan kekayaan? Apakah kita menganggap harta kita yang paling utama dalam hidup kita? Apakah kita mampu mempergunakan harta benda yang Tuhan percayakan kepada kita untuk menolong orang lain dan memuliakan Allah? Apakah hati kita melekat kepada harta benda kita? Siapapun bisa terkena virus kemelekatan pada harta benda, sehingga berhati-hatilah. Ketika yang menjadi pusat dalam ibadah bukanlah Allah Sang Sumber Hidup melainkan lebih berfokus kepada berkat-berkat-Nya daripada Tuhan. Ketika keserakahan timbul maka kehidupan seseorang akan berpusat pada diri sendiri. Karena sesungguhnya Tuhan melimpahkan berkatNya supaya kita menjadi berkat bukan untuk kepentingan diri kita sendiri. Mari kita sadari bukanlah kaya harta menjadi segalanya dalam hidup, tetapi jiwa yang senantiasa kaya dengan kemurahan. Amin. (ANS).
“Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini; suatu karunia alam. Dan yang terpenting diatas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhanaan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan.” (Pramoedya Ananta Toer)