Membuka Diri Bagi Tuhan Pancaran Air Hidup 30 Mei 2021

30 May 2021

Bacaan: Yohanes 3 : 1 – 17  |  Pujian: KJ. 372
Nats:
“Jawab Yesus: Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?” (Ayat 10)

Tidak menyenangkan memang jika perkataan kita tidak dipercayai atau bahkan tidak diperhatikan. Hal tersebut bisa terjadi karena kita sendiri berbicara sembarangan, tidak sesuai dengan realita, konsep tidak jelas yang terkesan mengada-ada. Di sisi lain sangat susah untuk mempercayai perkataan seseorang jika kita sudah mempunyai persepsi/pandangan terlebih dahulu tanpa mau membuka pikiran dan hati kita untuk melihat lebih jauh apa yang dikatakan orang lain kepada kita.

Nikodemus adalah seorang Farisi, seorang pemimpin agama Yahudi, seorang pengajar di kalangan orang Yahudi. Tentu saja sebagai seorang pengajar Nikodemus memiliki pengetahuan yang baik. Dia sangat tertarik dengan ajaran Yesus dan menganggap Yesus sebagai Mesias. Yesus menjelaskan kepada Nikodemus bahwa untuk memahami kehadiranNya dan penyataan Kerajaan Allah melalui diriNya, manusia perlu dilahirkan kembali. Perkataan Yesus tentang lahir kembali sangat sulit dipahami oleh Nikodemus, sehingga dia bertanya, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Nikodemus berpikir lahir kembali adalah proses lahir secara jasmani. Tentu dalam hal ini, Yesus tidak berbicara tentang lahir secara jasmani. Lahir kembali berarti kelahiran secara rohani. Kehidupan yang penuh pembaharuan oleh karena kasih karunia Allah, baik dalam cara pandang, tingkah laku dan penghayatan iman kepada Allah. Di sini Nikodemus gagal memahami perkataan Yesus karena mengandalkan pemahamannya sendiri.

Setiap pergumulan dan kesibukan yang dialami terkadang membuat manusia tidak dapat memahami karya Allah dengan baik. Karya kasih Allah yang setiap saat terjadi dalam kehidupan gagal dimengerti karena kita larut pada pengertian diri sendiri dan cara pandang dunia memahami kehidupan. Hati dan pikiran kita tertutup terhadap Firman dan KuasaNya. Jika ini yang terjadi, selain gagal menjadi pengikut Kristus, hidup kita tidak akan dapat memberi manfaat bagi sesama dalam menyatakan damai sejahtera. Karena itu agar dapat menghayati kasih karunia Allah, kita harus membuka hati dan pikiran kita serta membiarkan diri kita dipimpin oleh Roh Allah sehingga hidup kita menjadi kesaksian bagi kemuliaan Allah. (RM)

 “Hati yang ikhlas dan pikiran yang terbuka adalah kunci melihat wajah Allah.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak