Bacaan: Mazmur 30 : 1 – 13 | Pujian: KJ. 378
Nats: “Dalam kesenanganku aku berkata: “Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!” TUHAN, oleh karena Engkau berkenan, Engkau telah menempatkan aku di atas gunung yang kokoh; ketika Engkau menyembunyikan wajah-Mu, aku terkejut.” (Ayat 7-8).
Alkisah, ada seorang raja yang bangga terhadap keberhasilannya. Rakyatnya makmur, kerajaannya tak terkalahkan. Istana megah dan benteng kokoh dibangun mengelilingi wilayah kerajaannya. Musuh tidak bisa menembus pertahanannya. Raja semakin jumawa dan berpikir tidak ada yang dapat menghancurkan kerajaannya. Namun, tiba-tiba gempa bumi dan tsunami meluluhlantakkan hampir seluruh wilayah kerajaan, termasuk istana dan benteng kokohnya. Raja dan sebagian kecil rakyat selamat. Hatinya hancur, kemudian ia menyadari bahwa kemegahan apapun yang dibangun di dunia ternyata tak mampu mengalahkan kehendak Sang Pencipta.
Mulanya, Pemazmur beranggapan bahwa dalam kemakmuran dan keberhasilannya, tidak akan ada yang bisa menghancurkannya. Namun, saat Allah ijinkan penderitaan hebat terjadi, barulah ia menyadari kebutuhan akan kehadiran dan pertolongan Allah secara terus-menerus. Setelah bergumul menantikan pertolongan Allah, ia diselamatkan. Nyatanya Allah berbelas kasih kepada orang yang sungguh berseru dan memohon pertolongan. Betapa sukacita orang yang telah dibebaskan dari penderitaan/ maut yang nyaris menyergap. Pengalaman itu mendorongnya untuk memuliakan Allah dan mengajak umat untuk percaya kepada Allah yang menyelamatkan.
Manusia senantiasa membutuhkan kehadiran dan pertolongan Allah dalam hidupnya. Karena keselamatan dan kehidupan tidak bergantung pada kekayaan, keberhasilan, dan kekuatan manusia, melainkan pada kasih karunia Allah. Kebergantungan total kepada Allah menjadikan kita tidak jumawa akan kemapanan dan kemampuan diri, serta tetap percaya dan tidak kehilangan harapan di saat-saat terberat hidup ini. Kadang Allah mengijinkan terjadinya penderitaan untuk memutus kebergantungan kita pada segala yang fana, agar kita sadar tidak ada satupun yang patut diandalkan, kecuali Allah sendiri. Allah hadir dalam segenap pengalaman hidup umat-Nya, di saat-saat terbaik hingga terburuk sekalipun. Allah dengan setia menopang dan menyertai. Sampai tiba waktu-Nya, ratapan diubah menjadi sukacita, hidup tanpa harapan menjadi penuh pengharapan, dan kehancuran dipulihkan. Hingga kita mampu menyanyikan syukur, karena semakin percaya kepada Allah yang menyelamatkan. Amin. [wdp].
“Tak satu pun dapat diandalkan kecuali Allah, yang pasti hadir dalam suka duka hidup kita.”