Bacaan : Amsal 18 : 6 – 12 | Pujian : KJ. 424 : 1, 3
Nats: Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya,bibirnya adalah jerat bagi nyawanya. (Amsal 18:7)
Ada pepatah yang sudah umum kita dengar, yaitu mulutmu-harimau-mu, yang berarti, bahwa segala perkataan yang diucapkan apabila tidak dipikirkan dahulu dapat merugikan diri sendiri. Pepatah tersebut hendak memberikan “peringatan” kepada setiap orang agar berhati-hati dan bijak dalam berbicara dengan orang lain, dan tidak sekedar asal bicara, apabila salah bicara bisa mengakibatkan celaka.
Kita tentu masih ingat kasus “al-maidah” yang membawa Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), mantan Gubernur DKI Jakarta masuk penjara, karena “slip of the tongue” , tentu saja dari kasus tersebut ada pelajaran yang berharga bagi kita, yaitu bila berbicara hendaknya berhati-hati, bijak, memperhatikan nilai sopan santun, tidak menyinggung perasaan orang yang mendengar perkataan kita, agar kita tidak seperti perkataan orang bebal, karena Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya,bibirnya adalah jerat bagi nyawanya. (Amsal 18:7)
Tentu saja kita sebagai orang percaya tidak menghendaki adanya perkataan yang keluar dari mulut kita menjadi cela dan pergunjingan sahabat-sahabat kita, tetangga kita, saudara kita, bahkan keluarga kita, kita hendaknya berupaya agar apa yang kita katakan tidak menjadi jerat yang mencelakakan diri kita, dan sesama, tetapi sebaliknya perkataan kita hendaknya menjadi berkat. Karena itu alangkah bijaknya bila kita memperhatikan apa yang dikatakan rasul Paulus kepada warga jemaat Efesus : “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29).
Atas nasehat tersebut, kita diajak untuk menghindari pembicaraan yang menjadi cela, seperti yang sering dilakukan oleh orang bebal, yang perkataannya bisa menjadi jerat yang membuahkan cela, tetapi sebaliknya kita diajak untuk menjadi orang bijak agar perkataan kita menjadi berkat, sehingga yang mendengarnya beroleh kasih karunia. (YK).
“Orang bijak akan mewarisi kehormatan tetapi orang bebal akan menerima cemooh”