Bacaan : Lukas 10 : 25 – 37 | Pujian: KJ 434
Nats: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” [ayat 37]
Mencari perbedaan nampaknya telah menjadi sebuah kebiasaan. Sejak kecil kita sudah dibiasakan untuk mencari perbedaan. Misalnya dengan kuis bergambar di majalah dengan perintah “Temukan dan lingkari perbedaan dari dua gambar berikut!”Mencari perbedaan menjadi menyenangkan, sebab dari perbedaan itulah kita bisa mengidentifikasi diri kita yang unik.
Di sisi lain, kita juga suka mencari persamaan. Dari persamaan biasanya timbul kepercayaan dan rasa ingin berteman. Dari persamaan, kita tahu bahwa kita tidak sendirian.
Hidup ditengah kebiasaan (sekaligus ketegangan) untuk mencari persamaan dan perbedaan inilah yang menghasilkan kebiasaan untuk membentuk batasan, kelompok, dan golongan. Dan pada akhirnya, mencari tolak ukur penilaian. Menilai yang mana yang lebih baik dari yang lain.
Dalam ayat 29, ahli Taurat yang ingin mencobai Yesus bertanya mengenai siapa sesamanya. Pertanyaan yang menjebak. Sebab secara umum, ketika ditanya pertanyaan semacam ini, kita akan memberikan jawaban yang menjelaskan objek pertanyaan. Sesama itu yang begini. Lalu jatuh pada kesimpulan : berarti, yang begitu bukan sesama. Kita terjebak untuk mengkotak-kotakkan. Mencari persamaan dan perbedaan sekaligus.
Namun yang dilakukan Yesus sama sekali berbeda. Ia mengubah cara berpikir dan respon yang demikian. Ia membelokkan pertanyaan yang menuntut jawaban yang jelas namun sekaligus terbatas. Ia menjawab pertanyakan jebakan itu dengan sebuah cerita. Dan sampailah ahli Taurat tersebut menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri, dalam ayat 37. Bahwa sesama adalah mereka yang menunjukkan belas kasihannya.
Belas kasihan mengandung energi yang besar untuk menembus segala batasan. Sebab belas kasihan selalu menyirnakan keengganan kita untuk berbagi. Tidak lagi penting bertanya “kamu siapa” atau “apakah kita sesama”. Sebab kita meneladani Kristus dalam semangat menjawab pertanyaan : Apa yang bisa aku bagi? [vin]
“Yang penting bukan siapa sesama, tetapi bagaimana menjadi sesama”