Kontrak Perjanjian Renungan Harian 29 November 2018

Bacaan : Nehemia 9 : 6 – 15  |  Pujian: KJ 369a : 1 – 3
Nats: “Dan Engkau telah menepati janji-Mu, karena Engkau benar” [ayat 8b]

Apa yang kita rasakan apabila perjanjian dibatalkan sepihak? Tentu kecewa, bukan? Kontrak perjanjian hanya akan terjadi apabila dua belah pihak (atau lebih), menyepakati ketentuan-ketentuan yang berlaku atas kontrak perjanjian itu. Misalnya di bidang perbankan. Pihak bank tidak akan berani memberikan pinjaman apabila nasabahnya tidak memahami ketentuan-ketentuan yang diberlakukan oleh pihak bank. Apalagi jika nasabahnya tidak menyetujui kontrak perjanjian diantara keduanya, pastilah kontrak perjanjian itu tidak mencapai kesepakatan bersama. Kontrak dapat sewaktu-waktu terhenti atau dibatalkan apabila salah satu pihak melanggar.

Hubungan Tuhan Allah dengan umat-Nya juga terikat perjanjian. Ketika Tuhan mengadakan janji dengan umat-Nya, Tuhan tidak serta-merta mengikat perjanjian secara sepihak sebelum umat-Nya mengerti dan menjalankan dengan benar segala “aturan main” yang mendasari kontrak perjanjian diantara keduanya. Janji Tuhan dapat kita pahami sebagai sebuah hadiah atau kado bagi umat kepunyaan-Nya. Apabila kita mau menerima kado itu, maka kita akan mendapatkannya, dengan syarat kita harus mengikuti “aturan main”-Nya.

Dalam bacaan Firman Tuhan hari ini, Nehemia menegaskan bahwa Janji Tuhan itu menjadi sebuah janji yang tergenapi karena Abraham telah berlaku setia kepada Tuhan. Abraham telah memahami dan menjalankan segala “aturan main” yang mendasari kontrak perjanjian antara Tuhan dengan dirinya. Janji Allah terhadap Abraham adalah sebagaimana yang tertulis dalam Kej 22:17: “…Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.” Dan itu semua ditepati oleh Allah atas diri Abraham yang bergelar Bapa orang beriman.

Pada masa raya Adven ini, Tuhan menjanjikan Anugerah keselamatan bagi umat kepunyaan-Nya. Janji Anugerah keselamatan itu  dapat kita terima sebagai kado terindah apabila kita mau mengambil sikap setia terhadap segala “aturan main” yang ditawarkan oleh Tuhan yakni melakukan segala kehendak Tuhan dalam hidup kita. Jika memang belum, marilah kita merenungi diri dan berbalik arah kembali pada jalan-Nya.  [OCEP]

“Janji Akan Menjadi Terasa Manis Apabila Ditepati”

 

Bagikan Entri Ini: