Bacaan : Markus 10 : 46 – 52 | Pujian: KJ 402
Nats: “Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: Anak Daud, kasihanilah aku!” [ayat 48]
Pokok ajaran kekristenan itu sederhana, tidak ndakik-ndakik, tidak menakut-nakuti dan juga tidak ribet. Ajaran utamanya adalah KASIH. Ya…hanya satu itu, tapi harus disadari bahwa yang satu itu hanya mudah untuk dibicarakan, dikhotbahkan atau dijadikan motto. Tapi jika untuk dilakukan, beda lagi. Ah, harapan dan kenyataan memang selalu ada senjangnya.
Kesenjangan inilah yang ditunjukkan oleh orang banyak yang mengikuti Yesus saat keluar dari Yerikho. Orang banyak yang disebut dalam narasi Markus ini mestilah sudah pernah mendengar dan melihat sendiri bagaimana Yesus mengajarkan sekaligus melakukan tindakan kasih. Namun saat Bartimeus, seorang buta yang tinggal di luar tembok kotaYerikho itu berseru-seru memanggil Yesus, mereka justru tak bertindak ramah. Orang buta (penyandang disabilitas) saat itu memang disisihkan baik secara sosial dan ekonomi. Hal ini karena pandangan teologis Yudaisme kala itu mengenai disabilitas. Disabilitas dianggap sebagai hukuman Tuhan terhadap dosa yang dilakukannya. Oleh sebab itu para penyandang disabilitas tidak memiliki akses terhadap ekonomi dan dikeluarkan dari sistem sosial, karena dianggap pendosa. Jadi, Bartimeus sebenarnya sudah melalui banyak sekali kesulitan dan kesedihan dalam hidupnya. Sayangnya, orang-orang di sekitar Yesus justru marah saat ia ingin datang pada Kristus. Tapi tanggapan Yesus sungguh berbeda. Setelah bertanya tentang apa yang dikehendaki Bartimeus, Yesus memulihkan matanya. Dengan itu, Bartimeus tidak hanya menerima pemulihan secara medis, namun ia juga dikembalikan ke dalam sistem sosiologis dan dipulihkan secara teologis. Yesus menampilkan wajahNya yang ramah, bahkan bagi mereka yang terpinggirkan.
Ada banyak Bartimeus lain dalam hidup kita. Mereka yang terpinggirkan, entah karena kondisi ekonomi, karena disabilitas atau karena preferensi seksualnya. Penghakiman bukanlah hak kita, tugas kita hanya untuk mengasihi, mengasihi dan mengasihi. Karena itu, mari tunjukkan wajahNya yang ramah melalui penerimaan kita pada tiap yang yang dipinggirkan. [Rhe]
“Marah itu mudah, tapi keramahan tak bisa diremehkan.”