Bacaan: Kejadian 6 : 1 – 10 | Pujian: KJ. 309
Nats: “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya dan hidup bergaul dengan Allah.” (Ayat 9b)
Masa Adven adalah masa penantian, bukan hanya sekedar menanti tanggal 25 Desember, namun menanti akan datangnya Sang Jati, yaitu Yesus Kristus, Sang Mesias sejati, yang datang sebagai Raja Kebenaran. Namun pertanyaannya, bagaimana cara kita menanti? Dalam dunia yang penuh dengan segala tipu muslihat, kejahatan, dan kesibukan, dimana kita kerap kali hilang arah dan seolah hidup bagi diri kita sendiri.
Bacaan kita saat ini mengisahkan Nuh yang hidup di dunia yang porak poranda, namun kesetiaan Nuh kepada Tuhan membuahkan kasih karunia Allah. Jika kita membagi teks ini, setidaknya ada tiga bagian yang tergambar, yang patut untuk kita hayati. Pertama, rusaknya dunia (Ay. 1-5). Dunia kala itu penuh kekerasan. Manusia hidup dalam kejahatan. Tanpa kita sadari, dunia saat ini pun juga demikian. Ketidakadilan, kebenaran dimusnahkan, dan orang benar disingkirkan. Apakah kita berkompromi dengan dunia yang demikian? Kedua, Allah bersedih (Ay. 6-7). Teks ini menunjukkan bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh dan tak punya hati. Justru, Ia menunjukkan suatu kesedihan akibat perbuatan ciptaan-Nya yang menyimpang. Allah terluka akibat manusia yang menjauh dari rancangan-Nya. Bukankah hidup kita sepatutnya menghadirkan kedamaian di tengah hidup ini? Mari kita refleksikan! Ketiga, Nuh hidup dalam baktinya (Ay. 8-10). Di tengah dunia yang rusak, Nuh tetap hidup berkenan kepada Tuhan. Ia disebut benar, tak bercela, dan bergaul dengan Tuhan. Nuh menjadi simbol gambaran seorang yang menanti Sang Jati. Mampukah kita meneladani Nuh di masa adven ini?
Dalam masa penantian ini, mari kita mewujudkan bakti kita melalui kesetiaan dan integritas kita sebagaimana Nuh yang hidup dalam kejujuran dan kebenaran. Mari kita berupaya membangun relasi hidup spiritualitas kita bersama Tuhan. Adven bukan hanya waktu menunggu dalam ketermenungan, namun upaya aktif bergaul dengan Allah untuk mengokohkan iman, dalam relasi pribadi kita sebagai umat bersama dengan Sang Pencipta. Menanti Kristus tidak hanya soal waktu, tetapi soal sikap. Mari kita nyatakan kesungguhan hati kita dalam menanti kedatangan Tuhan dengan kesungguhan berbakti dan setia melayani-Nya. Amin. [SWS].
“Ku menanti-Nya dalam bakti.”