Bacaan: Matius 10 : 40 – 42 | Pujian: KJ. 451
Nats: “Siapa saja yang menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan siapa yang menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.” (Ayat 40)
Ada sebuah keluarga kecil dan sederhana. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak. Keluarga ini memiliki suatu kebiasaan dalam kehidupannya sehari- hari. Sang ibu terbiasa memastikan ada segelas air hangat di samping tempat tidur suaminya. Anak-anak terbiasa saling mengucapkan, “Tuhan memberkati,” saat menjelang tidur. Serta sang ayah, yang selalu mengajak anak-anak dan istrinya berdoa bersama, sebelum berangkat kerja dan sekolah. Kebiasan keluarga ini memang terlihat sederhana tetapi dilakukan secara konsisten. bahkan ketika kasih mereka diuji hari demi hari. Dari tindakan yang demikianlah, mereka berusaha untuk saling membentuk hati yang taat dan selalu menghadirkan Sang Kristus di tengah-tengah keluarga mereka.
Dalam bacaan kita hari ini disebutkan bahwa, “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku… barangsiapa memberi secangkir air sejuk sekalipun… ia tidak akan kehilangan upahnya.” (Ay. 40). Ayat ini bukan hanya berbicara soal pelayanan kepada hamba Tuhan tetapi juga sikap hati dalam menyambut, menghargai, dan menghormati kehadiran Kristus di dalam diri sesama kita. Pertanyaannya siapakah sesama kita? Tentu kita bisa menjawab: sesama kita adalah semua orang di sekitar kita. Lalu siapakah lingkup pertama yang disebut sesama kita? Jawabannya adalah keluarga. Sering kali kita lebih mudah bersikap sopan, lembut, dan hormat kepada orang asing tetapi kita lupa untuk memperlakukan anggota keluarga kita dengan hormat, kasih, dan tanpa kekerasan. Rumah seharusnya menjadi tempat pertama di mana pelayanan itu dimulai. Seperti halnya bagaimana cara suami berbicara kepada istri, cara orang tua bersabar dalam mendidik anaknya, cara anak menunjukkan rasa hormatnya kepada orang tua mereka, dlsb.
Renungan kita saat ini mengajak kita untuk melihat ulang bagaimana ritme keluarga kita. Sang Kristus haruslah menjadi yang utama dan fondasi penting dalam kehidupan keluarga kita. Mari kita saling memperhatikan, saling menghormati, dan saling mengasah hati supaya keluarga kita dapat terus bertumbuh menjadi keluarga yang takut akan Tuhan. Sebab keluarga bukanlah sekadar tempat tinggal, tetapi sebuah tempat pertama dimana nama Tuhan selalu dimuliakan. Amin. [YAH].
“Keluarga yang hidup dengan takut akan Tuhan, akan mampu bertahan dalam badai kehidupan bersama Tuhan.”