Bacaan: Yeremia 25 : 8 – 14 | Pujian: KJ. 318
Nats: “Oleh karena kamu tidak mendengarkan perkataan-perkataan-Ku, … seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan menjadi sunyi sepi. Bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba raja Babel selama tujuh puluh tahun.” (Ayat 8, 11)
Setiap keluarga tentu ingin kehidupannya dipenuhi dengan kedamaian, ketentraman, kasih, dan berkat dari Tuhan di setiap waktu. Namun, terkadang dalam kenyataan hidup keseharian, keluarga bisa kehilangan pusat rohaninya. Misalnya: orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan dan karirnya, saling menyalahkan tanpa menggali persoalan yang sedang terjadi, adanya letupan ego dari masing-masing anggota keluarga, lupa berdoa dan bersyukur, atau bahkan tidak mau mendengarkan suara Tuhan. Keluarga seperti ini bukan lagi menjadi tempat yang indah, justru menjadi arena panas bagi setiap anggota keluarga yang hidup di dalamnya.
Inilah yang dialami bangsa Yehuda pada masa nabi Yeremia, ketika mereka merasa nyaman dengan keadaan mereka. Mereka tetap beribadah di Bait Allah, namun hati mereka jauh dari Tuhan. Mereka lebih percaya pada sistem, tradisi, dan kekuatan diri mereka sendiri. Bangsa ini tidak mau lagi mendengarkan suara Tuhan walaupun sudah berkali-kali diingatkan. Bahkan banyak nabi Tuhan termasuk Yeremia mengingatkan, tetapi mereka justru menolaknya. Bangsa Yehuda lebih senang dengan kata-kata yang menyenangkan hati mereka. Akibatnya, Tuhan Allah menghukum mereka, bangsa Yehuda mengalami pembuangan ke Babel selama tujuh puluh tahun. Meskipun mereka harus mengalami peristiwa pahit, Tuhan Allah juga berjanji akan memulihkan mereka dari keadaan tersebut. Artinya hukuman yang dialami bangsa Yehuda bukan akhir dari cerita, melainkan awal dari pemulihan.
Keluarga Kristen masa kini hidup di tengah dunia yang penuh perubahan dan tekanan. Tehnologi mengalihkan perhatian, terjadi tekanan ekonomi, serta hubungan yang renggang karena kesibukan. Namun, di tengah semua itu, Tuhan memanggil setiap keluarga untuk kembali kepada-Nya, menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat kehidupan. Keluarga yang berakar pada firman Allah akan tetap teguh, meskipun badai datang. Keluarga yang bersedia membangun komunikasi dalam kasih dan meneladani Kristus akan menjadi garam dan terang dunia. Maka, tantangan bukan alasan untuk menyerah, melainkan kesempatan untuk bertumbuh bersama dalam iman. Tuhan rindu setiap keluarga Kristen menjadi tempat dimana kasih-Nya nyata dan hadirat-Nya dirasakan setiap hari. Amin. [bojes].
“Rumah kita adalah Rumah Tuhan yang harus kita jaga dan rawat dengan baik.”