Bacaan: Imamat 9 : 22 – 10 : 11 | Pujian: KJ. 222b : 1, 8
Nats: “Kamu harus dapat membedakan antara yang kudus dan yang tidak kudus, antara yang najis dan yang tahir, serta dapat mengajarkan kepada orang Israel segala ketetapan yang telah difirmankan TUHAN kepada mereka dengan perantaraan Musa.” (Ayat 10-11)
Hari ini adalah hari raya Undhuh-undhuh, keluarga Rani hendak mempersembahkan sekeranjang buah Mangga yang terbaik. Pagi itu, sebelum pergi mempersembahkan buah Mangga ke Gereja, ayah Rani tiba-tiba menyeletuk, “Wah, kenaken iki lek digawe persembahan.” Mendengar hal itu, ibu Rani segera memperingatkan suaminya, “Hush, aja ngomong nguno.” Tidak lama berselang, ayah Rani pergi mengasah pisau dan tiba-tiba tangan ayah Rani terkena pisau sehingga harus dijahit.
Kisah di Imamat 10 ini merupakan tragedi bagi keluarga Harun dan juga bagi umat Israel. Belum sempat Harun dan anak-anaknya menyelenggarakan ritual kemah suci secara rutin, kedua anak Harun dihukum oleh Tuhan dengan mengerikan. Hal ini terjadi karena Nadab dan Abihu telah menajiskan kemah suci dan perabotannya dengan membawa api asing untuk membakar ukupan yang akan dipersembahkan kepada Tuhan. Kekudusan-Nya tidak boleh dikompromikan sedikitpun. Hukuman keras ini justru ditujukan kepada keluarga Harun (Ay. 3). Harun dan keluarganya dilarang berdukacita dengan menyesali hukuman Allah atas kedua putranya tersebut. Hukuman itu menyatakan keinginan Allah agar umat menghormati kekudusan Allah dan menjaga hidup mereka dalam kekudusan (Ay. 6-7). Perilaku Nadab dan Abihu ini ternyata ditengarai karena mabuk oleh minuman keras sehingga mereka kehilangan kendali atas diri mereka sendiri dan melakukan kesalahan fatal. Oleh karena itu, ada larangan untuk minum minuman keras (Ay. 9) serta perintah untuk mengajar umat mengenai kekudusan (Ay. 10-11).
Hukuman menjadi peringatan yang diberikan Tuhan untuk umat-Nya agar tidak menganggap remeh Tuhan. Hidup kudus dan benar harus dilakukan sekalipun kita telah mendapat anugerah keselamatan dari Kristus. Saat ini mari kita menjaga hati kita dari keinginan-keinginan jasmani. Kita memperbarui hidup kita, sekiranya hidup kita masih melakukan perbuatan cemar di hadapan Tuhan, mari kita mengaku dosa dan memohon pengampunan pada Tuhan. Mari kita hidup benar, kudus, dan berkenan kepada-Nya dalam hati, pikiran, ucapan dan perbuatan kita. Amin. [DES].
“Jangan pernah menganggap remeh Tuhan, muliakanlah Dia dengan menjaga kekudusan kita di hadapan-Nya.”