Bacaan: Yakobus 4 : 11 – 16 | Pujian: KJ. 467
Nats: “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang mampu menyelamatkan dan membinasakan. Namun, siapakah engkau, sehingga engkau menghakimi sesamamu?” (Ayat 12)
Belakangan ini kita akrab dengan istilah playing victim. Merasa diri paling dirugikan, paling tidak salah, paling pantas dimengerti. Kesalahan selalu punya alamat: orang lain, keadaan, sistem, zaman. Kita sibuk menunjuk, tetapi jarang bercermin. Menariknya, sikap ini tidak hanya muncul dalam relasi antar manusia, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan alam. Kita mengeluh tentang bumi yang rusak, cuaca yang tidak menentu, lingkungan yang tercemar, sambil tetap menjalani hidup seolah-olah kita tidak ikut andil di dalamnya.
Yakobus dengan jujur menegur kecenderungan manusia untuk menghakimi. “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim… namun, siapakah engkau, sehingga engkau menghakimi sesamamu manusia?” (Ay. 12). Teguran ini mengingatkan bahwa manusia tidak berada di posisi Allah. Menghakimi berarti mengambil alih peran yang bukan milik kita. Menghakimi bukan sekadar berkata-kata, tetapi sikap hati yang menempatkan diri seolah-olah paling benar, paling tahu, dan paling berkuasa.
Terkadang, kita pun tidak menyadari bahwa dalam masalah, kita juga ikut ambil bagian. Alih-alih mengakui dan bertobat, kita cenderung menyalahkan dan menganggap orang lain sebagai pelaku kejahatan atas masalah, sakit hati, dan rasa kecewa dalam hidup kita. Sikap yang sama juga tampak dalam krisis ekologis. Manusia hidup seakan bumi ini miliknya. Alam dieksploitasi, diperas, dan dilupakan batasnya. Padahal Yakobus mengingatkan, “Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” (Ay. 14). Kita yang fana memperlakukan bumi seolah-olah tidak akan pernah habis. Maka dari itu kita perlu bertobat, manusia berhenti bersikap sok berdaulat. Mengakui bahwa kita bukan hakim atas sesama, bukan pula atasan ciptaan Tuhan yang lain. Firman Tuhan menuntun kita untuk kembali pada posisi semula: manusia sebagai ciptaan yang diberi kepercayaan, bukan kuasa tanpa batas. Pertanyaannya, “Siapakah kita, hingga berani menghakimi, sambil menolak bertobat? Mari kita mengubah arah dan cara hidup kita, cara memilih, dan cara kita memperlakukan ciptaan. Karena iman yang dewasa tidak lahir dari menghakimi, namun dari kesadaran akan keterbatasan diri dan kesediaan berjalan seturut kehendak Allah. Amin. [MEA].
“Krisis lingkungan bukan hanya krisis alam, tetapi juga krisis relasi antara manusia dengan Allah, sesama, dan ciptaan.”