Budaya Iman Dan Hidup Yang Benar Pancaran Air Hidup 24 November 2025

24 November 2025

Bacaan: Yeremia 46 : 18 – 28  |  Pujian: KJ. 356
Nats: “Janganlah engkau takut, hai hamba-Ku Yakub, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku menyertai engkau: Aku akan menghabisi segala bangsa yang ke tengah-tengahnya engkau Kuceraiberaikan, tetapi engkau tidak akan Kuhabisi.” (Ayat 28)

Pernahkah saudara melihat orang yang tampaknya sukses, kuat, dan dihormati, tetapi hidupnya sering kali diliputi dengan kegelisahan? Di balik segala pencapaian diri orang-orang yang demikian, pasti ada budaya hidup yang dibangun di atas keangkuhan dan kebergantungan pada diri sendiri. Seperti Mesir di zaman kuno, bangsa besar dengan kekuatan militer dan kekayaan yang luar biasa, mereka menjadi simbol kekuasaan duniawi. Tetapi di balik itu, mereka mengandalkan ilah-ilah lain dan menolak kehadiran Allah yang sejati. Budaya mengandalkan kekuatan diri sendiri ini yang pada akhirnya membawa kehancuran dan kekacauan, sebab hidup yang tidak berakar pada kebenaran dan kekuatan dari Allah akan mudah runtuh.

Yeremia 46:18–28 memperlihatkan bagaimana Mesir yang sombong akan ditundukkan, dan bagaimana Allah tetap memegang kendali atas sejarah. Bangsa Israel memang berada dalam tekanan dan ketakutan, tetapi kepada mereka Allah berkata: “Jangan takut, hai hamba-Ku Yakub… Aku menyertai engkau.” Di tengah budaya yang rusak dan menyimpang, Allah tetap memelihara umat-Nya. Ia setia pada janji-Nya untuk menyelamatkan, meneduhkan, dan memulihkan. Ini bukan hanya tentang pembebasan secara fisik, tetapi juga pemulihan jati diri dan cara hidup yang benar di hadapan Tuhan.

Kita hidup di zaman yang menawarkan banyak sekali “ilah” modern: kekuasaan, uang, popularitas, teknologi, dll. Budaya yang mengandalkan hal-hal itu tampak hebat, tetapi sesungguhnya sangatlah rapuh. Pada bulan budaya saat ini, kita diajak untuk meninjau kembali fondasi hidup kita. Apakah kita hidup dalam budaya iman yang menempatkan Tuhan di pusat segala hal? Apakah seluruh hidup kita sudah kita percayakan kepada-Nya? Mari kita warisi budaya iman yang benar, yaitu hidup takut akan Tuhan, rendah hati, dan terus mengandalkan Dia. Sebab hanya di dalam Tuhan, hidup kita menemukan damai sejahtera, ketenangan, dan rasa aman yang sejati. Amin. [Prist].

“Di dunia yang terus berubah, warisan paling kuat ialah budaya hidup yang mengandalkan Tuhan.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak