Bacaan: Wahyu 21 : 15 – 21 ǀ Pujian: KJ. 266
Nats: “Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama.” (Ayat 16).
Saya senang mendengar lagu KJ. 266 yang berjudul “Ada Kota yang Indah Cerah” karena liriknya dapat mengobarkan kerinduan kita sebagai orang beriman kepada suatu kota yang kudus, yaitu Yerusalem yang baru.
Dalam bacaan kita hari ini menceritakan bagaimana Yohanes mendapat penglihatan tentang sebuah kota yang indah dan megah. Karena begitu indahnya hingga Yohanes menyebutkan berbagai batu berharga untuk menggambarkannya. Kota itu disebutkan penuh dengan kemuliaan Tuhan dan cahayanya seperti cahaya permata yang indah. Temboknya tinggi dan besar, serta pintu gerbangnya bertuliskan nama dua belas suku Israel (ay. 11-13). Terlebih lagi, kota Yerusalem yang baru itu mempunyai tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota itu beserta dengan pintu gerbang dan tembok-temboknya. Kota itu mempunyai bentuk empat persegi dengan memiliki panjang, lebar dan tinggi yang sama.
Dalam tradisi Yahudi, bentuk altar untuk membakar korban dupa, serta bentuk penutup dada seorang imam besar, mempunyai bentuk bujur sangkar yang melambangkan kemuliaan dan kesempurnaan. Karena itu, Yerusalem yang baru dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi yang sama menunjukkan sebuah kota yang sempurna. Sedangkan untuk ukurannya sungguh tak terbayangkan, yaitu 12.000 stadia. Namun, ukuran ini bersifat kiasan yang hendak menunjukkan bahwa Yerusalem yang baru tersebut memiliki ruang yang luas bagi semua orang percaya. Setelah melihat ukuran tembok dari kota tersebut, Yohanes melihat susunan atau dimensi dari temboknya, yang terbuat dari permata Yaspis dan emas tulen. Sedangkan, untuk dasar temboknya dari batu-batu berharga. Ditambah lagi pintunya dari mutiara dan jalan-jalannya dari emas murni. Sungguh, sebuah gambaran kota yang sempurna.
Melihat gambaran yang demikian, maka kita dapat membayangkan betapa indahnya dan damainya kota tersebut. Tidak ada lagi keluh kesah, atau dukacita dan segala hal yang membelenggu kita. Oleh karena itu, kerinduan untuk berada di Yerusalem yang baru akan membuat hidup kita saat ini setia kepada Tuhan Yesus. Amin. [RA].
“Hidup di dunia ini adalah untuk mempersiapkan kehidupan selanjutnya yaitu dalam kekekalan.”