Allah Yang Hidup Pancaran Air Hidup 24 Juni 2025

24 June 2025

Bacaan: Ayub 19 : 1 – 29  |  Pujian: KJ. 374
Nats: “Tetapi, aku tahu Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit membelaku di atas bumi.” (Ayat 25)

Tidak ada manusia di dunia ini yang ingin menderita. Ketika penderitaan itu datang seringkali hal itu menjadikan kita putus asa. Dalam keputusasaan itu muncul pertanyaan, “Masih adakah Tuhan? Benarkah Tuhan meninggalkan umat-Nya? Atau apakah ini hukuman Tuhan?” Tentu saja pertanyaan dalam keputusasaan ini akan mempengaruhi relasi kita dengan Tuhan. Renungan hari ini mengajak kita belajar dari kisah Ayub yang bergumul dengan Tuhan Allah di tengah penderitaan yang dia alami.

Tentu kita tahu kisah Ayub yang tiba-tiba mengalami banyak musibah dalam hidupnya. Kehilangan harta benda dan ternak, anak-anak, sekaligus kehilangan kesehatannya. Ayub yang dulu dapat berdiri tegak dengan semua kejayaannya, kini harus tertunduk untuk menggaruk tubuhnya yang penuh borok, serta untuk mendengarkan umpatan istrinya dan tuduhan kawan-kawannya. Bagaimana reaksi Ayub terhadap kondisi tersebut? Pada saat ia kehilangan semua harta benda, ternak, dan anak-anaknya, ia berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21b). Dan ketika Ayub sempat risau karena tuduhan para sahabatnya yang mengatakan bahwa ia adalah orang fasik dan karena itu ia pasti akan binasa, Ayub justru berkata, “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.” (Ayub 19:25).

Iman inilah yang membuat Ayub dapat bertahan menghadapi segala situasi yang sangat sulit dalam hidupnya. Ia percaya bahwa Allah yang selama ini ia sembah, sungguh-sungguh Allah yang hidup, Allah yang Mahakuasa, yang sanggup menebus hidupnya dari segala dosa dan celaka. Dialah Allah yang sangat peduli dan mengasihinya. Tanpa iman semacam ini, kita akan cenderung bersikap negatif dalam menghadapi persoalan hidup. Mengapa? Sebab kita akan merasa berjalan sendiri tanpa pertolongan dan tanpa belas kasih. Hanya dengan memandang kepada Allah yang hiduplah maka kita dapat tetap semangat, penuh harapan, selalu bersyukur, tetap mampu mengasihi dan berkarya, walaupun sedang berjalan dalam lembah kekelaman. Allah seperti apa yang saudara percayai? Allah yang hidup ataukah allah yang mati? Mari kita renungkan! Amin. [MTS].

”Tetaplah bersyukur meskipun kehilangan!”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak