Ajur-Ajer Pancaran Air Hidup 24 Juni 2021

24 June 2021

Bacaan: 2 Korintus 7 : 2 – 16 | Pujian: KJ. 332
Nats:
“ … namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat.” (Ayat 9)

“Cicak – cicak di dinding diam diam merayap…” sepenggal lirik lagu itu sudah akrab di telinga kita terutama anak kecil. Ajur – ajer adalah istilah untuk binatang cicak yang bisa ditemui di dinding yang megah mewah istana raja tetapi juga mudah ditemui menempel di dinding bambu rumah rakyat jelata. Kemampuan beradaptasi itulah yang melahirkan istilah ajur-ajer dikhususkan untuk binatang cicak. Istilah ajur – ajer ini seharusnya dapat disematkan untuk kehidupan kita pribadi, keluarga, dan persekutuan orang percaya.

 Bacaan kita hari ini memberi kesaksian hidup Paulus sebagia Rasul Tuhan. Di satu sisi ia diperlengkapi Allah dengan berbagai macam mujizat dan pengalaman adikodrati yang menakjubkan. Namun tidak berarti Tuhan membebaskannya dari penderitaan dan depresi batin yang luar biasa. Perjalanan hidup Paulus menarik untuk kita jadikan pedoman agar kehidupan kita tidak timpang.

  1. Penderitaan dan kesengsaraan yang diterima Paulus diyakini sebagai cara Allah untuk mendewasakan pengenalan kepribadian Tuhan Yesus. Karena Allah tidak ingin anak- anakNya menjadi anak –anak gampang (Ibr. 12:8).
  2. Penderitaan dan kesengsaraan juga diyakini sebagai cara Allah untuk menakar seberapa besar kita mempercayakan diri dan hidup kita pada kuasa kehadiranNya. (1 Petrus 4:13).
  3. Allah sengaja memakai penderitaan sebagai cara untuk mempersiapkan dan menguji kita bahwa kehadiranNya tidak sekedar “diam” tetapi juga “bekerja” dan memberikan solusi (Roma 8:28).

 Setiap kita baik secara pribadi, keluarga, dan persekutuan akan mengalami krisis dan goncangan. Renungan di atas memperlengkapi kita untuk dapat menerima dan menyikapi setiap krisis dan goncangan permasalahan yang kita alami. Mari kita bijaksana di dalam menerima perkara tersebut dengan cara tidak selalu dan terburu-buru menghakimi Tuhan dan diri sendiri. Sebab penderitaan dan kesengsaraan hidup itu tidak selalu hasil kesalahan dan hukuman dari Tuhan. (japri).

“Anak–anak Allah yang tangguh adalah bersukacita dan tetap bersyukur menerima segala berkat Tuhan sekaligus berbesar hati ketika berada dalam penderitaan”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak