Bacaan : Yohanes 6 : 41 – 51 | Pujian : KJ. 451 : 1, 2
Nats: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup untuk selama-lamanya, dan roti yang telah Kuberikan itu adalah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (ayat 51)
Hari itu Ani berangkat sekolah pagi benar. Ia berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu. Maka seusai sekolah, Ani pulang dengan kondisi perut yang sangat lapar. Sesampainya di rumah, tanpa sempat ganti baju, Ani langsung menuju meja makan, dan membuka tudung saji. Alangkah senangnya Ani, karena ternyata di atas meja makan, Ibu sudah menyiapkan sayur asem, tempe dan ikan goreng kesukaannya. Tanpa menunda, Ani langsung mengambil piring, dan mengambil makanan yang tersedia di meja makan selanjutnya berdoa sebelum makan. Maka kenyanglah perutnya.
Manusia membutuhkan makanan sebagai sumber energi dalam tubuhnya. Ketika energi dalam tubuh terkuras dan kondisi lambung kosong, maka otak secara otomatis memberikan sinyal bahwa manusia dalam kondisi lapar. Rasa lapar akan terobati manakala ia makan. Dan makan itu bisa terjadi ketika manusia bersedia secara aktif mengambil, mengunyah dan menelan makanan itu. Sebanyak apapun makanan yang tersedia di depan kita, jika hanya dilihat saja dengan mata, tidak akan membuat kita kenyang.
Tuhan Yesus memberikan ilustrasi tentang roti. Seperti halnya roti yang dapat membuat perut menjadi kenyang, maka penerimaan terhadap kehadiran Yesus membuat manusia selamat. Namun demikian dalam ayat 51 dikatakan “Jika seorang makan dari roti ini, ia akan hidup untuk selama-lamanya”. Kata kuncinya adalah “jika makan”. Hal itu berarti, kalau manusia memilih untuk tidak mau makan dari roti itu, maka manusia tidak akan hidup.
Di tengah penghayatan bulan keluarga yang sedang kita lakukan saat ini, sudahkah keluarga kita juga makan ‘roti hidup’ itu? Atau jangan-jangan hanya dilihat saja? Bahkan dibuang? Sudahkah kita menghadirkan Tuhan Yesus dalam setiap rencana, kesuksesan, kegagalan, kebahagiaan dan permasalahan rumah tangga kita. Mari ‘makanlah’ roti hidup, secara aktif kita menerima kehadiran Dia di tengah keluarga kita. Mari menikmatinya. Amin. (ANS)
Aku menerima Tuhan, maka aku tak kan bimbang.