Bacaan : Lukas 6 : 1 – 5 | Pujian : KJ 471
Nats : “….. Murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya …” (ayat 1)
Berapa kali kita makan dalam sehari? Bisa jadi bagi yang kondisi tubuhnya tidak fit makannya harus rutin 3 kali, bagi yang puasa mungkin hanya sekali, tetapi bagi yang suka makan bisa jadi lebih dari 3. Apapun itu, pada dasarnya makanan jasmani adalah bagian dari kebutuhan untuk menjalani hidup pemberian Tuhan.
Bacaan kita hari ini sangat menarik, Apa yang dilakukan oleh Yesus dan murid-muridNya selalu menjadi sorotan banyak orang, salah satunya oleh orang-orang Farisi. Ketika Yesus membiarkan murid-muridNya memetik dan memakan gandum, itu dijadikan bahan debat oleh orang Farisi.
Dari peristiwa itu kita bisa melihat ada satu permasalahan yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda yakni sudut pandang orang Farisi dan Yesus. Yang dipermasalahkan oleh orang Farisi adalah mengenai waktu bahwa mereka memetiknya pada hari Sabat dan melanggar hukum Taurat. Tetapi bagi Yesus, Yesus mengetahui kondisi para murid yang pada saat itu mereka kelaparan karena mengikuti perjalanan Yesus dan bisa jadi Yesus mengisi bahan bakar untuk mempersiapkan mereka menjalani serangkaian panjang karya Allah.
Seringkali kita tidak ambil pusing dan mencari aman dengan cara menaati aturan. Tetapi kita lupa bahwa ketika kita berada dalam kenyamanan tersebut, ada banyak orang diluar sana yang jauh dari kenyamanan. Sebenarnya mereka pun membutuhkan bukti nyata dari sikap kita. Seperti ada kisah dalam suatu rumah sakit, di satu ruang rumah sakit disediakan etalase nasi bungkus, siapa yang menyediakan nasi bungkus itu? Semua yang tergerak hatinya untuk mengisi etalase itu dengan nasi bungkus dan siapa yang mengambil? Siapa saja boleh mengambilnya secara gratis. Tentunya kita sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk merefleksikan iman kita secara nyata, seperti yang Yesus lakukan secara nyata ketika lebih mengutamakan kebutuhan jasmani para murid untuk melanjutkan karyaNya, daripada hanya nyaman dengan aturan yang kaku. (dea)
“Logistik menentukan logika”