Hidupku Untuk Apa? Pancaran Air Hidup 22 September 2021

22 September 2021

Bacaan: Yeremia 1 : 4 – 10 | Pujian: KJ. 441
Nats:
“Maka aku menjawab: ‘Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku masih muda.” (Ayat 6).

Dalam pikiran manusia terkadang muncul pertanyaan, “Mengapa saya dilahirkan di Indonesia, bangsa yang sering bertengkar karena masalah agama padahal ada masalah pandemi yang harus dipikirkan bersama? Mengapa saya ditempatkan di GKJW, gereja yang sering dianggap lamban dalam menanggapi perkembangan? Mengapa saya dilahirkan keluarga ini, keluarga yang sering bertengkar dan tidak kaya?” Pemikiran yang demikian membimbing manusia pada dua pilihan: 1. Protes atas keadaan dan mencari sosok yang disalahkan. 2. Berpikir jernih untuk melihat maksud Allah menempatkan kita dalam posisi yang demikian. Tentunya pilihan yang kedua adalah pilihan yang ideal! Akan tetapi pilihan ideal itu membawa konsekuensi, salah satunya adalah kita harus meninggalkan zona nyaman.

Yeremia pun demikian, ketika awal dipanggil untuk menerima pengutusan dari Allah, dia secara halus menolak pengutusan itu karena dia merasa dhirinya tidak mampu dan merasa masih muda. Muda (Ibr. Na’ar) bermakna remaja usia belasan tahun. Kata ini menunjukkan bahwa umur Yeremia saat itu belum mencapai rata-rata seorang nabi. Usia nabi saat itu minimal lebih dari 20 tahun. Karena itu, saya membayangkan bahwa Yeremia saat itu kisaran umur anak SMA. Penolakan Yeremia ini memang bisa dikatakan ‘lumrah’ sebagai manusia karena di usia yang masih belia, Yeremia harus diperhadapkan dengan keadaan Israel yang tidak setia kepada Allah (Yer. 2). Namun di tengah kegamangan Yeremia, Allah memberikan pesan berharga kepadanya (Yer. 1:8-10). Pesan inilah yang akhirnya menjadi kekuatan bagi Yeremia untuk melangkah dan meninggalkan zona nyamannya, memilih untuk menuruti apa yang menjadi kehendak Allah atas dhirinya.

Saat ini, Tuhan Allah juga menyelipkan pesan berharga di masing-masing hidup kita untuk direspon dengan bijak. Namun, sadarilah bahwa merespon pesan Allah itu mengandung resiko, siapkah kita untuk menerima konsekuensi itu? Mari kita memiliki keyakinan, jika Tuhan memanggil dan mengutus kita, pastilah Tuhan akan menolong dan memperlengkapi kita melakukan kehendak-Nya. (gus).

 “Salah satu sebab zona nyaman itu sangat berbahaya karena dia ‘tidak berbahaya’”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak